Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kematian mbok Iyem


__ADS_3

"Ibu..ibu..hiks..huhuuu..tolong aku bu!"Anak lelaki menangis karena ketakutan.


"Tolong jangan lakukan itu, tuan.kumohon!" Seorang ibu berteriak menghentikan pria yang sedang menodongkan pistol ke kepala anaknya.


Seorang pria dewasa memakai pakaian serba hitam serta wajahnya di tutupi masker dan topi.membuat ia sulit di kenali.


Dia pun melirik ibu yang sedang bersimpuh memohon pengampunan atas nyawa anaknya.


"Kau ingin aku mengampuni nyawa anakmu, hehh?"Ia berjalan mendekati sang ibu.


"Kenapa kau tak melakukan apa yang ku minta kemarin?Apa kau ingin menguji kesabaranku?"Di tekankan pistol di kening ibu itu."Untuk itu, aku akan mengabulkan keinginanmu!"Lanjutnya sambil menarik pelatuk.


"Aku akan melakukannya, aku janji!"Ucap sang ibu dengan cepat sambil terus menunduk.


"Terlambat..kau sudah terlambat.karena dia ternyata semakin mencintainya.Kau tahu itu!" Teriak si pria dewasa.


"Tuan, beri aku kesempatan sekali lagi!"Pinta si ibu dengan bersujud di kaki pria itu.


"Apa yang bisa kau lakukan lagi?mereka sudah mau bertunangan"Kata pria itu.


"Itu sangat menyakiti hatiku, kau tahu itu!" Ia menekan pistol di kepala si ibu dan....


Dorr..


Sebuah tembakan ia lepaskan di kepala ibu si anak itu.Hanya dengan satu tembakkan saja, si ibu sudah terkapar dan darah mengucur dengan deras dari lubang di kepala sampingnya membanjiri lantai rumah kayu.


"Ibuuu!"Teriak histeris anaknya.


"Mbok Iyem!"Sherly melepaskan pegangan tangannya saat melihat wajah si ibu yang di tembak.


Sherly mundur dan terduduk seketika.Wajah cantiknya sangat tegang dan keluarlah keringat dingin dengan tangan gemetaran.


"Hei, Machan.ada apa?"Zidane menyentuh bahu Sherly.


"Siapa mbok Iyem?"Nania bertanya.


"Kamu kenapa tegang begitu sih?"Alea ikut penasaran.


Namun, orang yang ditanya malah termenung dengan menggelengkan kepalanya.


Zidane duduk di hadapannya."Hei, lihat mataku!"Ucapnya lembut.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?" Lanjutnya lagi.


Dengan suara yang bergetar, Sherly mencoba berkata."Mbok Iyem..mbok Iyem..hiks..hiks" Tak kuasa menahan kesedihannya, ia pun menangis tersedu."Huhuhuuu"


Di peluknya tubuh Sherly yang sedang gemetar."Tenangkan dirimu, sayang!"


Sherly menangis di pelukan Zidane dan mereka yang menyaksikan cuma diam tak bersuara sampai Sherly mengatakannya.


"A..apa kamu anaknya mbok Iyem?"Mencoba bertanya dengan suara yang masih lirih.


Anak itu mengangguk."Iya, kak.Aku anaknya mbok Iyem.Kakak mengenal ibuku?"Anak itu balik bertanya.


"Mbok Iyem adalah asisten rumah tangga di rumahku.sudah tiga hari dia tak datang.Dia bilang mau pamit untuk menjemput anaknya di kampung."Tutur Sherly.


"Apa kalian baru datang ke kota?"Tanya Sherly namun anak itu menggelengkan kepala.


"Aku sudah tinggal disini sejak dua tahun karena aku di tahan di rumah orang jahat itu.Dia meminta ibuku melakukan sesuatu yang tak aku ketahui apa itu."Jelas anak itu.


Mereka saling pandang dengan penjelasan anak itu.


"Hiks..mbok Iyem kenapa gak mau bilang apapun padaku?"Sherly menunduk sedih.


Zidane mengelus punggung Sherly."Mungkin dia punya alasan menyembunyikan ini semua darimu.Bisa jadi itu menyangkut dirimu juga"Sherly menoleh dengan perkataan Zidane barusan.


"Maksud lu?"Tanya nya tak mengerti.


"Nanti juga kamu tahu.Lanjutin lagi dong penyelidikan tentang kematian anak ini!" Kata Zidane lembut.


Aku ingin kamu mengetahui semuanya sendiri.Walaupun aku sudah tahu siapa itu, tapi aku ingin kamu yang mengungkapkan faktanya.Karena semua ini berhubungan denganmu, Machan.


Sherly, Nania, dan Alea tampak bingung dengan perkataan Zidane.


"Gue gak bisa kalau sudah kek begini.Soalnya tenagaku hampir habis terkuras."Ucap Sherly lirih.


"Terus, gimana caranya kita mengetahui kematian anak ini?"Tanya Alea dan Nania.


Sherly bersandar di sandaran sofa."Nanti kita selidiki lagi deh.Gue lagi sedih!"Ucapnya.


Sherly termenung sedih."Mbok Iyem sudah menemani kita selama tujuh tahun.Kita sudah seperti keluarga.Namun, ia orang yang tertutup.Waktu itu, ia pulang kampung karena anak pertamanya sakit.Tapi, si mbok gak pernah bilang tentang penyakit anaknya sampai kami dapat kabar kalau anaknya meninggal.dan sekarang...!"Sherly melirik hantu anak kecil di sampingnya.

__ADS_1


Ia pun menangis tersedu."Padahal si mbok orang yang baik.kenapa ada orang yang memanfaatkannya?Huhuhuuu"


"Sabar, gadis berisik.ini sudah takdirnya." Alea menyentuh punggung Sherly dan mengelusnya perlahan.


"Iya, kamu harus kuat!"Nania ikut menenangkan.


Sherly tetap menangis dan merasa bersalah.


Mereka saling pandang kebingungan untuk menenangkan hati si gadis berisik.


"Oh iya sayang, apa teman-temanmu sudah di temukan?"Tanya Zidane mengalihkan pembicaraannya.


Sherly menoleh ke arahnya."Sudah!"Ucapnya singkat.


"terus, kenapa mereka gak ikut kesini?"Nania bertanya.


Dengan malas Sherly menjawab pertanyaan mereka."Mereka pulang.bajunya pada basah semua"


"Kenapa?"Semuanya bertanya.


"Ckk, kompak bener nanya nya!"Sherly berdecak.


"Kan penasaran!"Lagi-lagi mereka kompak.


"Huuhh, sehati nih yee!"Sherly pun menghapus sisa air matanya.


▪▪▪▪▪


Sherly melangkah meninggalkan mereka yang sedang makan.


Di bukanya kunci ponsel dan ia pun mencari nomor kontak kemudian memanggil seseorang.


Tuuuuuttt...tuuuuuttt..


Nada panggilan tunggu terdengar dari ponselnya.


"Hallo, mereka udah setuju!"Ucapnya cepat saat panggilan itu dijawab oleh seseorang di sebrang.


"Secepat itu kah mereka menyetujuinya?" Tanya Zidane di sebrang sana.


"Mereka kan teman baikku, kenapa pada gak mau!"Kata Sherly sombong dengan membanggakan sahabatnya.


"Hemh, aku gak perduli.Baiklah kalau begitu, aku tutup ya.Soalnya aku sedang sibuk"Kata Zidane.


"Cih, itu saja yang kau ingat!"Zidane berdecih kesal karena Sherly cuma mengingat pasal hadiah saja."Baiklah..baiklah..Aku akan menuruti semua permintaanmu, sayang."


Sherly terkekeh dengan jawaban Zidane. "Awas ya kalau bohong!"


"Iya sayangku.Tapi, kamu harus memberikan bayaran yang pantas untukku!"Pinta Zidane.


"Oke, Deal ya?"Sherly pun mematikan ponselnya.Ia tersenyum menatap layar ponsel yang sudah di matikannya.


Ia mengingat setiap perkataan yang diucapkan Zidane yang ditulis lewat pesan whatsapp.


"Jika kamu membantunya, aku akan memberikanmu hadiah apapun yang kamu pinta!"Pesan Zidane yang masuk ke ponselnya.


"Aaaaahhh, kalau mereka gak mau ya tinggal gue paksa aja.Masa iya And the genk gak nurut sama gue.Hahahaaa"Sherly tertawa devil.


Ternyata, And the genk mengikuti dan menguping Sherly yang sedang menelpon seseorang.


"Dia ngobrol ama siapa?"Kepala Geri nongol dari balik jendela.


"Gak tahu juga sih.Tapi, terlihat mesra ya?" Ucap Indra di balik jendela diatas kepala Dika.


"Hooh, gue jadi cembokur nih!"Kepala Dika nongol di balik jendela diatas kepala Geri.


"Hish, kok kalian pada kepo sih?biarin lah si Sherly mau telponan sama siapa saja.Kenapa kalian jadi marah."Iren menegur mereka.


"Bukan marah, tapi iri saja.Kalau ngobrol sama orang lain, dia selalu sopan, ramah tamah, dan lembut.Giliran sama kita...dia kek gitu!"Tutur ketiganya.


"Hemh"Iren terlihat cuek dia pun ikut mengintip dari balik jendela.


"Siapa ya orang yang bikin Sherly biar maksa kita?"Mereka bertanya dengan saling pandang.


"Eeeh, dia udahan telponnya.buruan cabut dari sini!"Mereka berlarian kesana kemari tak jelas setelah melihat Sherly melangkah.


"Woi, berhenti!"Iren berseru.


Namun mereka tak memperdulikan seruan Iren dan terus mencari tempat bersembunyi.


Akhirnya, mereka bersembunyi di balik gorden ruang tengah.Namun karena saling berdesak-desakan, mereka lupa kalau jendelanya terbuka sehingga tubuh orang yang di belakang terdorong keluar.Mereka pun serempak berteriak."Haaaaaaaa"

__ADS_1


Setelah memutuskan panggilannya, Sherly melangkah ke dalam kembali.Namun saat berbalik, ia di kejutkan dengan teriakan keempat sahabatnya."Haaaaaaaaaa"


Sherly berlari masuk dengan terburu-buru untuk melihat apa yang terjadi kepada And the genk.Namun mereka tak terlihat di manapun membuat Sherly bingung.


Sedangkan And the genk sendiri sudah pada nyunseb di parit samping basecamp.


Geri yang di belakang menarik tangan Indra, sedangkan Indra menarik tangan Dika, lalu Dika menarik tangan Iren untuk meminta bantuan karena Iren mengikuti mereka untuk menghentikannya.


Alhasil, tubuh mereka semua terjatuh ke luar jendela dengan posisi tumpang tindih.


Karena Geri paling belakang, ia nyunseb di parit kecil samping basecamp dengan tertindih tubuh Indra.Sedangkan Iren, ia terjatuh di atas tubuh Dika dengan posisi memeluknya.


Sherly yang cemas berlarian kesana kemari mencari And the genk yang tak di temukan dimana pun.Ia tidak melihat ke luar jendela samping yang tertutup gorden karena tak mungkin jika mereka disana.Pikir Sherly.


Wajah Dika tepat di depan wajah Iren sehingga mereka pun menjadi canggung. Sedangkan Geri mengaduh karena tubuhnya di tindih tubuh tiga orang sahabatnya.


"Aduh guys, cepetan berdiri.Gue gak kuat menahan beban dosa kalian lagi!"Suara Geri lirih menyadarkan mereka yang berada diatas tubuhnya.


"Eh, sorry Ger, kita bangun kok.Dik, bangun buruan, kasihan si Geri!"Indra menepuk bahu Dika.


Dika tersadar dari lamunannya."Oh, eh, ya nih gue berdiri kok.Ren lu bisa kan?"Bertanya pada Iren.


"Kamu ikut jatuh juga, yank?"Indra bertanya pada Iren.


Dengan cepat Iren bangun setelah melihat wajah Indra di balik wajah Dika karena posisinya menghadap ke mereka.


Iren berdiri dan mengulurkan tangan ke arah Dika."Sini, gue bantu!"Ucapnya setelah berdiri tegak.


Dika pun menerima uluran tangan Iren dan ia pun nerdiri."Thanks"Ucapnya singkat.


"Ayo, Ndra!"Iren mengulurkan tangannya ke arah Indra yang tersenyum kecut."Makasih"


Nasib lu, Ndra.hadoh!


"Ayo Ger!"Ketiganya mengulurkan tangan ke arahnya namun ia bingung.Akhirnya, tangan Indra dan Dika yang di pilih.


"Terima kasih, Iren!"Ucapnya kepada Iren.


"Kok Iren?yang nolongin elu kan gue sama Dika?"Protes Indra.


"Yang pertama berdiri dan nolongin si Dika siapa?Iren kan!"Kata Geri dan mereka pun cengengesan."Hehehee"


"Geri, Dika, Indra, Iren, kalian dimana?" Teriakan Sherly menyadarkan mereka.


"Wah, si bos nyari kita.yuk, naik!"Mereka pun memutar jalan untuk kembali masuk kedalam rumah yang dijadikan basecamp itu.


Sesampainya di teras depan, Keempatnya pun menghampiri Sherly yang sedang celingukan kebingungan.


"Bos, kita disini!"Geri menepuk punggung Sherly dari belakang membuat si bos terkejut.


"Whoaa"Sherly berteriak.


"Astaga, gue kira hantu..asyem kalian nih!"


"Dari mana sih kalian?ada teriakan tapi gak ada orangnya?"Tegur Sherly.


"Kita jatoh dari jendela samping dan nyungseb di selokan.Hadeuh!"Mereka berseru dengan sedih.


"Pfffttt...gue kira kalian hilang di umpetin hantu.taunya malah nyungseb di selokan samping rumah.Hahahaaa"Sherly tertawa terbahak-bahak.


"Dasar lu, bos durjana!"Teriak keempatnya.


Sedangkan si bos cuma menertawakan And the genk dengan puasnya.


☆☆☆


Hadoh, ada-ada saja and the genk ini..


**Semoga kalian suka ya, gengs.


Salam manis dari King ice dan Machan**




Kakak terjeleknya Sherly.Kak Aldrian dan kak Aisyah.kakak ipar durjana



Cinta dan sayang dari And the geng.

__ADS_1



Say good bye😘😘😘😘😘


__ADS_2