
Zidane melajukan mobilnya menuju rumah sakit setelah Rian menghubunginya.
"Ini pasti ulahnya lagi, sebenarnya apa yang di inginkan dia dari si gadis berisik itu?kenapa dia selalu mengincarnya terus?" Gumam Zidane .ia berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.
"Dia siapa yang di maksud si ganteng?Kenapa dia berbicara seperti itu?"Nania diam dan duduk anteng di samping Zidane.
Apa yang di maksud Zidane, otor juga gak tahu.soalnya dia belum bilang sama otor maksud dari ucapannya itu.hihihii..
Mobil membelah jalanan yang sepi, karena ini sudah tengah malam.
Ia memarkirkan mobil dan berlari sekencang mungkin sambil menelpon ke ponsel Rian.
Suara deringan ponsel Rian mengalihkan pandangan sosok cantik namun seram itu.
"Mati lah gue, sekarang dia ngelirik ke arah sini!"Rian mundur dan berusaha keluar dari kamar perawatan Geri.
"Hihihiiiii..hai dokter tampan.apa kamu iri sama dia karena aku tak mengajakmu bersenang-senang?"Makhluk itu mendekati Rian dengan perlahan.
"Glek"Rian menjadi takut sampai ia menelan salivanya dengan cepat.
"Ti..tidak, tolong jangan de..dekati aku!"Ia memohon dengan menyatukan kedua tangannya.
"Itu tidak adil dokter, kalau kamu cuma menjadi penonton saja. Lebih baik, aku sekarang bersenang-senang sama kamu dulu, oke!"Makhluk itu semakin mendekat ke arah Rian.
"Tidak..tidak.."Rian terus mundur sampai tubuhnya membentur tembok.
Makhluk itu terus mendekat dan Rian terus mundur.
Sedangkan di luar sana, Zidane berlari dan bertanya pada seorang suster jaga.
"Ruangan tempat dokter Rian merawat pasiennya?"Tanya Zidane cepat tanpa tahu siapa pasien yang di rawat Rian.
"Hahh, maksud anda tuan?"Suster tak mengerti.ia malah terus menatap wajah tampan Zidane.
Zidane tak sabar dengan jawaban suster itu, ia pun berlari sambil menekan panggilan di ponselnya, namun tak ada jawaban dari Rian.
Suster-suster itu malah termenung di tempat mereka menatap ke arah Zidane yang berlari meninggalkan mereka.
"Nania, tolong cari si dokter gila itu. Cepat!" Perintah Zidane pada Nania yang terus melayang mengikutinya.
Tanpa di minta dua kali, Nania melayang ke sana kemari mencari keberadaan Rian.
Saat di lantai tiga rumah sakit ini, di sebuah kamar terlihat cahaya merah menyala. Ia pun mendekat ke lamar itu.
Terlihat Rian terus mundur dengan seorang wanita yang maju terus ke arahnya.
Nania pun mencoba menembus tembok untuk menyelamatkan Rian. Namun saat ia mencobanya, ia malah terpental jauh dan menabrak bangku yang berada di lorong rumah sakit.
"Aduh, sakit!"Ia mengelus kepalanya.
"Kenapa gak bisa tembus?apa makhluk itu lebih hebat dari aku?"Nania berdiri lagi.
"Lebih baik aku memberitahukan pada si ganteng!"Ia pun melayang kembali ke tempat Zidane.
Zidane yang terus berlarian tak tentu arah, mencari keberadaan Rian untuk menolongnya.Karena ia yakin bahwa nyawa temannya dalam bahaya.
Ponsel Zidane pun terjatuh entah dimana, saat ia berlari ke sana kemari dan tangan Nania menarik tangannya.
"Ganteng..ganteng..itu..disana!"Tunjuk Nania pada Zidane, ia menarik tangan Zidane dan membawanya ke lantai tiga.
"Disana, cepat!"Nania terus menarik tangan Zidane sampai ke kamar perawatan Geri.
"Jangaaaaaaaaannn"Teriakan Rian menggema di seluruh kamar.
Brugh..prankkk...
Zidane menendang pintu kemudian memukulkan nampan aluminium yang ada di meja samping ranjang Geri dengan cepat ke arah makhluk itu.
"Aaaakkkhhhh"Sosok itu memegang punggungnya.
"Jauhi dia!"Zidane masih memegang nampan itu sambil mengangkatnya.
"Siapa kamu?kenapa mengganggu kesenanganku?"Suara serak sosok wanita itu terdengar menakutkan.
"Lepaskan mereka, lalu hadapi aku!"Zidane semakin menantangnya.
__ADS_1
"Hahahahaaaaa..."Suara tawanya menggema di kamar perawatan sekecil itu.
"Kau menantangku, hehh?"Sosok itu melotot ke arah Zidane.
"Kau lebih tampan dari mereka, baiklah.Aku akan bersenang-senang bersama mu dulu, lalu kemudian dokter itu, dan terakhir dia!" Menunjuk mereka bergantian lalu ke arah Geri yang terbaring belum sadarkan diri.
"Baiklah, tunjukkan pesonamu setan terkutuk!"Zidane langsung menyerang sosok wanita itu dengan hati-hati.
Pertarungan pun di mulai oleh keduanya di dalam ruang perawatan Geri, membuat seluruh isi kamar berantakan.
Rian dan Nania yang berada di sana pun berteriak histeris saat keduanya saling baku hantam. Zidane pun sadar jika pertarungan antara dirinya dan iblis wanita merah ini membahayakan Rian dan Geri, ia pun berlari ke luar ruangan menuju luar rumah sakit.
Zidane berlari sekencang mungkin mencari tempat yang sepi untuk mereka melanjutkan pertarungannya.
Iblis wanita itu pun mengejarnya sampai ke luar rumah sakit yaitu tempat sepi yang jauh dari keramaian.
"Cari keberadaannya, pastikan dia menjaga temannya dengan baik.cepat!"Zidane menyuruh Nania mencari Sherly untuk datang kemari dan menjaga Geri.
"Dia mengincar temannya, jadi kamu harus menemukan dan membawa dia secepatnya" Perintah Zidane lagi sebelum Nania pergi.
Tanpa di minta dua kali, Nania melayang kemudian menghilang dari tempat itu untuk mencari dimanakah keberadaan Sherly.
Kedua makhluk beda alam itu sedang bertarung demi mempertahankan diriny.
Dokter Rian yang syok dengan itu pun terduduk lemas di dalam kamar perawatan Geri.Dia takut akan kedatangan sosok lain ke kamar perawatan itu, sampai dirinya terduduk di dekat Geri.
Sedangkan Nania yang menghilang entah kemana untuk mencari keberadaan Sherly yang entah dimana.Sekian lama Nania mencari keberadaan gadis galak itu, sampai ia mendengar sebuah nama panggilannya dari Sherly.otomatis itu membuat dirinya bisa hadir di tempat Sherly berada.
"Si genit"Suara panggilan Sherly menarik dirinya ke tempat yang dia tuju, yaitu menemukan gadis galak untuk menyampaikan pesan dari si ganteng pujaan hati otor.heheheee..
Sesampainya di sana, Nania malah lupa dengan pesan yang harus ia sampaikan pada Sherly dari si babang tampan pujaan setuja umat wanita.kalo pujaan otor lagi, takutnya para readers gak terima.
Mereka berempat di temani Nania si hantu pelupa, pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat karena sudah kelelahan.
π·π·π·
"Dek, bangun.ada tamu yang nyariin kamu sayang!"Mommy mengguncangkan tubuh anak bungsunya.
"heeemmmh, apa sih mom?gangguin saja. Aku masih ngantuk"Suara serak ciri khas bangun tidur.
"Siapa?aku gak ada janji dengan opa-opa korea mom!"Sherly berbicara tanpa membuka mata dan tak mengubah posisi tidurnya.
"Ini lebih dari opa korea, ayo buruan bangun, ih!"Mommy terus memaksa anaknya untuk bangun.
"Hoooaaaammmh, ini masih pagi mom, aku masih ngantuk.bilangin nanti aja nemuin aku nya kalau aku sudah mandi dan cantik. Nanti aku tanda tangan deh!"Ia tetap tak mengubah posisi tidurnya, masih memeluk guling.
"Masih pagi katanya, woi, ini sudah jam sebeles siang tahu!"Keluarlah suara ciri khas mommy.
"Ooouuucchhh..berisik sekali sih mommy kamu, galak.cepetan bangun sana."Nania menutup telinganya dengan keduan tangannya dan mendorong kaki Sherly dengan kakinya dan sedikit menendang.
"Lagian, siapa yang mau tanda tangan kamu?dikira dirinya artis kali ya?"Mommy bertolak pinggang sambil berteriak.
"Bangun cepetan, kasihan dia nya nungguin"Teriak si mommy sambil memukul pant*t si bungsu.
"Aaaawww..sakit tahu"Sherly mengusap bokongnya yang di pukul emaknya.
"Makanya cepetan bangun!anak gadis bangunnya siang, pamali kalau kata daddy mah."Teriak mommy lagi.
"I know mom...i know, please, five minutes again, oke!aku masih ngantuk" Kekeuhnya sambil menutup kepalanya pake bantal.
"Gak ada alesan, buruan bangun terus mandi.nanti mommy kesini lagi harus sudah cantik dan rapih."Kata si mommy sambil menarik bantal yang di pake buat tutupan lalu melangkah ke luar setelah lihatin anaknya duduk di ranjangnya.
"Oke, mom!"Sherly berkata tanpa membuka mata.
"Siapa tamu yang datang nemuin kamu?" Nania bertanya.
"Hooaaammmhhh...aku gak tahu.aku masih ngantuk, genit.lihatin sana gih!"Dia menguap terus tanpa menutupnya.
"Idiiih, jorok ih.kamu tuh kalau nguap ya di tutup.kecium bau naga tahu!"Nania menutup kupingnya..eehh salah, hidungnya.
"Bodo amat ah, sana lihatin.gue masih ngantuk"Sherly berbiara tanpa membuka mata, ia malah menggaruk kepalanya sehingga rambutnya berantakan.
"Masih belum bangun?"Suara serak-serak garong seorang pria terdengar di kamarnya.
"Sudah kok mom,"Sherly berkata tanpa melihat siapa orannya.ia cuma mendengar samar-samar suaranya dan masih belum sadar.
__ADS_1
"Hehh, ternyata kalau gadis baru bangun tidur kaya gitu ya?berantakan!"Cibirnya sambil mendekat ke arah Sherly.
"Hahh?"Seketika matanya terbuka saat mendengar suara seorang lelaki di kamarnya.
"Haaaaaaa"Sherly berteriak karena syok saat melihat seorang pria sudah berdiri tepat di depannya.
Ia pun menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karena Sherly tidur cuma memakai celana pendek se paha dan kaos lekton saja.
Teriakannya membuat Nania dan pria itu menutup rapat kedua telinga mereka.
Sedangkan si mommy kegirangan, ia menemukan ide yang briliant untuk membangunkan anak gadisnya dan ternyata itu berhasil.
"Syukurin, di bangunin susah sih, kalau kaya gini kan dia melek sendiri, hahaha..."
"Kenapa elu disini?"Sherly menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
"Aku di suruh mommy kamu buat bangunin kamu!"Dengan santainya ia melangkah dan dia membuka seluruh jendela kamar Sherly.
"Kamar gadis tapi kaya kamar anak kecil. Ckk, berantakan!"Ia menyusun buku dan barang-barang yang berjatuhan di lantai kemudian menyusun kembali ke tempatnya.
"Terus, ada perlu apa lu kesini?"Tanya Sherly masih menutup tubuhnya dengan selimut.
"Aku menunggu kamu semalaman, tapi kamu gak datang-datang.apa kamu tak perduli?" Ucap pria tampan itu.
"Untuk apa, gak ada urusan kali!"Sherly turun dari ranjang dan berdiri masih dengan selimutnya.
Pria itu berbalik ke arah Sherly, ia menatap dengan tatapan tajam.
"Kamu tidak perduli?"
"Iya, kenapa memangnya?elu mau nungguin mau enggak kek, bodo amat.bukan urusan gue"Sherly ketus.
"Lagian, bukannya sudah ada cewek yang nemenin elu semalaman."Lanjutnya.
Pria itu memicingkan matanya.
"Kamu cemburu sama wanita seperti itu?" Tanya dia.
"Kenapa cemburu, gue bersyukur jika elu sudah punya cewek"Kata Sherly dengan tak memandangnya.
"Tapi aku semalaman menunggu kamu!" Kata si pria.
"Buat apa?"Sherly terlihat cuek-cuek jaim.
"Apa dia tidak bilang sama kamu?"Tanya si pria tampan.
"Apa urusannya dengan si genit?"Tanya Sherly bingung.
Pria itu mendekat sehingga Sherly mundur ke belakang.
"Dia ku suruh mencari kamu dan meminta mu datang segera ke rumah sakit karena temanmu di serang saat berada di kamar dan tentunya si dokter gila juga!"Jelas pria tampan pujaan hati semua.
"Oh ya ampun, aku lupa tentang itu. ganteng.Sorry!" Nania menepuk keningnya kemudian dia nyengir sebagai tanda minta maaf."Heheheeeee"
"Jadi, semalam elu nemuin gue itu buat bilang kalau ada apa-apa dengan Geri?" Pertanyaan Sherly di angguki Nania.
"Oh ya ampun, dasar si hantu pikun!"Cibir Sherly kepada si hantu pelupa yang sedang nyengir terus."Hehehee"
βββββ
***Pagi hari pergi ke kota,
Pulangnya membawa biji selasih,
Hai, buat para pembaca,
Ku ucapkan banyak terima kasih.
Buah salak, buah kedondong.
Yang sudah like, komen dong***.
Pantun otor yang tak berkualitas, hahaha..
Maaf kalau kagak nyambung.
__ADS_1