Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Pagi yang bikin tegang


__ADS_3

Tok tok tok


Pintu kamar Sherly di ketuk berkali-kali oleh Dika.namun, si pemilik kamar tidak terganggu oleh ketukan itu.


Dika tak kehabisan akal, ia memutar jalan dan naik ke balkon kamar Sherly dengan cara memanjat.karena, ia merasa ada kejanggalan di dalam kamar Sherly.


Setelah tiba di kamar Sherly, ia terkejut dengan keadaan kamar yang berantakan.


"Ada apa ini?kenapa kamar dia berantakan kaya gini?"Dika masuk perlahan ke kamar.


"Waduh, pecahan kaca semua ini"Ia menyingkirkan beling yang di lantai.


Dika di buat terkejut lagi dengan tetesan darah yang menetes di lantai.


"Ya ampun, ada darah di sini!apa dia terluka atau kah dia melukai dirinya sendiri?"Dika langsung mencari keberadaan Sherly.


"Sherly..Sherly...dimana dia?"Ia celingukan kesana kemari. namun, ia terhenti saat mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


Sherly yang sudah bangun dari tadi pagi, ia pun langsung mandi karena ingin menengok keadaan Zidane di rumah sakit lagi.


Ia keluar dengan cuma berbalut handuk yang melilit di sekitar pertengahan tubuhnya.dan dengan santainya, ia berjalan dengan terpincang ke arah lemari tanpa mengetahui keberadaan seseorang.


Dika yang melihat itu pun jadi menunduk dengan wajah yang sudah memerah.


"Gadis bodoh, apa dia tidak melihat keberadaan gue yang sedang berdiri dan memperhatikannya?"Dika memalingkan wajah ke belakang.namun, ia malah melihat Sherly di pantulan layar televisi yang mati.


"Ya ampun"Ia langsung berpaling lagi dan menghadap Sherly.


Merasa seperti ada yang memperhatikan, Sherly pun berbalik dan ternyata...


"Astaga, elu lagi ngapin disini?"Sherly terkejut dengan kehadiran Dika.


"Gu..gue.."Dika menjadi gugup saat Sherly berjalan ke arahnya.pasalnya, ia masih mengenakan handuknya.


"Gue..gue kenapa?"Sherly semakin mendekat dan membuat Dika tak karuan.


"Ke..kenapa elu mendekat?"Dika semakin gugup.


"Gue kan nanya duluan, elu ngapain disini?" Tanya Sherly lagi.


"Gu..gue udah ngetuk pintu kamar. tapi, gak ada jawaban.ya..ya..sudah, gue manjat balkon deh!" Ucapnya masih dengan gugup menahan sesuatu.


"Hemh, gue lagi mandi.makanya gak kedengeran."Ucap Sherly santai.


Sherly pun mengambil pakaian dan akan mengenakannya.


"Elu mau ngapain?"Dika terkejut dengan tingkah laku Sherly.


"Pake baju lah, elu kira mau ngapain?"Dia dengan santainya berbicara seperti itu.


"Jangan depan gue juga kali"Dika berteriak.


"Gini-gini, adek gue suka belangsatan."Ucap Dika yang tak di mengerti Sherly.


"Adek lu?emang elu punya adek?"Sherly bertanya.


"Emh, i..iya a..adek gue."Dika bingung.


"Kok, elu mau pake baju depan gue sih?"


"Kenapa?biasanya juga gitu!"Dengan santainya Sherly memakai dalaman dan Dika langsung memalingkan wajah dengan memejamkan mata.


"I..itu dulu dodol, sekarang kan kita udah gede.emang elu gak malu sama gue?"Dika masih menutup matanya.


"Kenapa mesti malu, elu kan sahabat gue!" Ucap Sherly santai.


*Wasyem, masa pagi-pagi udah di suguhin pemandangan gini.bikin deg-degan saja si*h!tegang kan ini jadinya.


"Udah belum beib?gue pegel nih!"Dika menghentakkan kakinya.


"Kok Sepi sih?"Gumamnya.dia tak mendengar suara apapun.


"Beib, udah belum sih?"Ia bertanya lagi.


Saat Dika membuka mata, tiba-tiba....


"Bbboooo"Sherly mengejutkannya dengan berdiri di depan Dika.


"Whoooaaa"Dika terkejut sampai mundur.


Namun, ia terpeleset karena kondisi kamar Sherly yang berantakan.tapi, beruntung karena Sherly menariknya ke depan sehingga membuat mereka terjatuh ke atas kasur tempat tidur Sherly.


Posisi ini sangat membuat Dika semakin tak karuan, ia menjadi gugup dan bingung.

__ADS_1


Sial, kenapa gue di siksa seperti ini sih?gue kan gak tahan.tadi lihat tubuh seksinya, sekarang lihat wajah cantik dan manis tepat di depan wajah gue.hadeuh..


"Kenapa elu tegang Dik?apa ada yang salah?"Sherly bertanya di saat posisinya masih tertindih Dika.


"Elu cantik bangat Sher!"Dika berkata dengan menatap wajah Sherly.


"Apa gue secantik itu?"Pertanyaan Sherly cuma di angguki Dika dan wajahnya mendekat terus ke arah Sherly dan semakin dekat sambil memejamkan mata.


Saat bibir Dika tinggal beberapa senti lagi, Sherly mendorong tubuh Dika.


"Elu berat tahu!malah merem lagi.kalau masih ngantuk, tidur lagi sana.kenapa tidur di atas tubuh gue sih"Sherly mengira Dika memejamkan matanya karena mengantuk.


"Hahh, ngantuk.gu..gue..gue.."Dika terkejut dengan perkataan Sherly.


"Dia gak tahu apa kalau gue mau nyium dia, dasar gadis bodoh yang polos.walaupun gue sahabatnya, kan gue juga gak tahan lihat dia kaya gini"Batin Dika yang terus menatap Sherly dengan kebingungan.


"Yuk ah, kita pergi ke rumah sakit lagi.buat jengukin si king ice!kasihan dia sedirian" Sherly merapikan pakaiannya dan mengajak Dika untuk pergi.


"Huuuucchh"Helaan nafas berat penuh kekesalan di hati Dika.


"Dulu si Hendri yang bikin elu perhatian, sekarang keponakannya?apa gak ada sedikit saja buat gue beib"Dika masih duduk di atas ranjang dengan melamun.


"Woi, ayo buruan!"Sherly berteriak membuat Dika terhenyak.


"Rese lu, bikin gue kaget saja!"


"Lagian, elu malah ngelamun disini.yuk ah, ajak yang lain"Sherly melangkah keluar kamar dengan terpicang dan Dika lupa akan perihal darah yang ia lihat tadi.


"Dia gak tahu apa, kalau penampilan dia tadi bikin siapa saja tak karuan?"


"Aaahhh, gue bisa gila"Dika menjambak rambutnya dengan kasar, ia pun berdiri dan mengekor di belakang Sherly.


(Hihihiii...rasain elu ntong, elu menduakan cinta otor sih!otor juga akan berpaling ah, sekarang mau ke babang Zidane yang gantengnya gak ketulungan.heheheee)


"Gak setia lu thor?dasar"Dika kesel sama otor yang padahal dari tadi diem dan duduk anteng.


"Dika buruan, kita nanti kejebak macet" Teriak Sherly pada sahabatnya itu.


"Iya..iya tahu.ah elah.."Walaupun malas, Dika tetap mengekor.


"Selamat pagi semuanya"Sapa Sherly yang baru turun dan bergabung di meja makan.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?"Tanya nyonya Fransinca.


"Semalam kamu...."


"Oh iya mom, dad, pagi ini aku mau nengok si king ice di rumah sakit.boleh kan?"Sherly mengalihkan pembicaraan mommy nya.


"King ice, siapa tuh?"Bukan mommy bukan juga daddy.melainkan kak Aisyah yang bertanya padanya.


"Pemuda yang nolongin Sherly kemaren itu. namanya Zidane Prasetyo, pemilik Diomond Emperor Grup"Kak Al yang menjelaskan.


"Apa?jadi, dia yang di juluki si raja bisnis itu?"Kini tuan Hadi yang bertanya dengan histerisnya dan Aldrian cuma mengangguk.


"Dia pengusaha kak?"Sherly bertanya dengan kak Al yang mengangguk dan Sherly cuma membentuk huruf O dengan bibirnya.


"Elu kesini kapan Ren?"Sherly yang melihat Iren sudah duduk nangkring di meja makan.


(Entah kapan tuh anak nongkrong disana?otor gak liat dia masuk rumah deh!)


"Saat elu turun, gue baru saja nyampe"Iren dengan santai menjawab pertanyaan Sherly dan ia memakan roti bakar buatan mommy.


"Kalau kamu mau pergi, sebaiknya sarapan dulu sayang"Ibu negara mengolesi roti dengan selai coklat kesukaan putri bungsunya dan ia pun menyodorkan segelas susu ke arah putrinya itu.


"Cepat habiskan, kamu sekarang terlihat lebih kurus tahu!"Ucap si mommy.


"Kaya gitu di bilang kurus, gendutnya kaya apa?"Bisik Geri pada Indra.


"Ssttt, elu mau di tampol sama dia"Indra ikut berbisik.


"Tetangga sebelah berbisik mulu nih?gak capek?"Sherly menatap mereka berdua.


"Eh, kita..."


"Sudah...sudah, cepat habiskan sarapannya biar kalian gak kena macet.sana, buruan gih"Mommy menyuruh mereka memakan sarapan dengan cepat.


"Mommy ngusir kita?"Bukan Sherly atau keempat sahabatnya yang bertanya, melainkan daddy dan kak Al yang berkata.


"Bukan gitu dad, kalau kesingan kan nanti kena macet"Mommy menjelaskan.


"Bener kata mommy, dad.nanti kita kena macet.ayo gengs, kita let's go!"Ajak Sherly.


Mereka pun berpamitan kepada kedua orang tua Sherly dan juga kak Al serta istrinya itu.

__ADS_1


Rumah sakit menjadi tujuan mereka. karena, mereka harus menengok Zidane yang masib terbaring di sana.


Mereka berangkat menggunakan mobil Dika, karena mobilnya lah yang terbilang paling besar diantara kendaraan mereka.


🌷🌷🌷🌷


Sherly and the gengs berangkat ke rumah sakit untuk menengok yang pasti bukan nenek disana.tapi, mereka menengok si king ice ya.bukan king size juga.hehehe..


Sesampainya di sana, mereka harus di buat terkejut.karena, Zidane sudah tidak ada di ruangannya.


"Apa-apaan dia?Kita mau nengokin, dia malah ngilang."Dika menyilangkan tangan di dadanya bersidekap.


"Tahu tuh orang?bikin kita susah payah kesini saja"Indra menanggapi ucapan Dika dengan bersandar di tembok.


"Coba tanya suster deh,biar kita jelas!"Usul Iren.


"Oke"Sherly melangkah mencari suster di luar.


Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki, tiba-tiba....


Gubrak...


Sebuah tiang imfusan terjatuh tepat di depan mereka dan membuat Sherly berhenti di pintu.


"Whhoooaaaaa.."Jerit mereka saling berpelukan


Sherly menengok ke belekang.nampak, seorang suster sedang memajukan badannya dengan cara mengesot dan membawa suntikan.wajah yang seram dengan menyeringai menampakan senyum sebuah luka.ia terus ngesot mendekat ke arah mereka.


"Oh, astaga"Sherly menutup mulutnya tak percaya.


"Guys, kita pergi dari sini.cepa!"Ajak Sherly.


"A..a..ada apa Sher?"Mereka terbata masih berpelukan karena terkejut.


"Pokoknya, ayo jalan!"Seru Sherly menarik tangan Iren dan melangkah mundur.


"Buruan"Ucapnya lagi saat melihat suster ngesot terus mendekat ke arahnya.


Tanpa diminta lagi, ketiga pria tampan itu mengikuti Sherly yang berjalan dengan menarik tangan Renita.


Mereka tahu jika Sherly berkata seperti itu, maka harus dituruti.karena, pasti ada alasannya.


"Lari"Instruksi Sherly lagi dan mereka pun berlarian ke luar.


Suster ngesot itu pun cuma bisa menatap mereka dan menyeringai dengan wajah seramnya.ia pun cekikikan membuat Sherly bergidik karena mendengar tawanya, hihihiiiiiiiiii....


Semua orang yang berada di sana, cuma menatap mereka dengan heran.


"Hah..hah...Tadi ada apaan sih Sher?kok elu nyuruh kita lari?hah..hah.."Indra bertanya setelah mereka masuk ke mobil dengan napas terengah.


"Tadi ada suster ngesot yang mendekati kita dan dia bawa suntikan gitu,hiiiiiyy"Sherly menjelaskan dengan bergidik.


"Suster ngesot?"Teriaknya serempak.


"Woi, gak bisa lebih kenceng lagi teriaknya?" Sherly menutup telinganya.


"Kita kaget dodol, saat elu bilang suster ngesot, iya kan gengs?"Iren meminta dukungan ketiga pria tampan sahabatnya yang mengangguk dengan cepat.


"Iya, gak usah kaya gitu juga kali?kaget kok teriak bareng-bareng!"Ucapan Sherly mendapat protes dari mereka.


"Masa, kita mau nyicilin satu satu?udah kaya tukang kredit aja kali!"Mereka tak terima.


"Pagi ini, bikin gue tegang mulu"Ucapan Dika berhasil membuat mereka menatapnya.


"Tegang mulu?bukannya, kejadian menegangkan itu baru sekali, dan itu juga sekarang?"Mereka terus menatap Dika.


"Gue ngalamin hal yang menegangkan dari sebelum kesini"Ucap Dika sambil anteng menyetir.


"Apaan tuh?"Mereka bertanya lagi tapi tidak sambil nutup mata sebelah kaya bang Jaja Miharja ya.


"Itu saat gue di kam.."Dika menghentikan ucapannya karena tatapan keingin tahuan mereka dengan memajukan wajah mereka ke arah Dika.membuat ia sadar.


"Saat di kam..apa Dik?"Mereka terus menatapnya.


"Sa..saat di kam..kam..apa ya?gue lupa, Hehe.."Dika tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Huh, elu ya"Mereka pun memundurkan kembali dan duduk anteng di kursi masing-masing.


Gak mungkin kan gue bilang kalau gue tegang gara-gara lihat body si Sherly, bisa mati di ledekin mereka nanti.huhh..nasib.


Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang dengan santai.


β˜†β˜†β˜†

__ADS_1


Hahaha...rasain lu Dika, otor bikin tegang terus kan. mangkanya, jangan macem-macem sama otor.cukup satu macem aja dech.hihii


__ADS_2