Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kamar 108


__ADS_3

"Dimana sih ruangan kapten Hendri? Perasaan dari tadi kagak nemu-nemu, deh!" Kata Iren yang udah capek muter buat nyariin ruangan Hendri.


"Coba tanya suster itu aja, Ndra!" Kata Sherly menunjuk seorang suster yang lewat di depannya membuat Indra dan Iren mengerutkan dahinya. "Permisi sus mau tanya, ruangan pasien yang bernama Hendri seorang kapten polisi sebelah mana ya?" Tanya Sherly sopan kepada suster itu.


Tapi suster itu tak bicara sepatah kata pun, ia malah diam membisu seperti jam dinding yang terpajang di lorong Rumah Sakit.


"Elu ngomong ama siapa sih, Sher?" Tanya Indra bingung, karena ia tidak melihat satu orang pun disitu.


"Gue ngomong ama suster ini dong, emang lu gak liat apa?"Jawab Sherly.


"Suster yang mana ih?" Tanya Iren mulai ketakutan.


"Ini, kalian gak liatin? Namanya suster Meri," Sherly membaca nametag suster itu.


"Tapi.."Ucapan Iren menggantung karena kedatangan seorang suster yang menghampiri mereka.


"Sedang apa kalian disini?"Tanya suster itu.


"Oh ini sus, kami mau nyari ruangan Kapten Hendri. Tadi udah nanya sama suster Meri, tapi kayaknya dia gak tau deh! Soalnya diem mulu dari tadi, cuma senyum aja." Tutur Sherly menjelaskan.


"Ruang perawatan Kapten Hendri ke lorong sebelah kiri terus belok kanan, nah disitu kamar nomer 107." Jelas suster itu. "Eh maaf, tadi mbak bilang suster Meri? Emang mbak kapan ketemu dia?" Tanya suster heran.


"Barusan, dan ini orang ... eh mana dia?" Sherly bingung dengan menengok kiri-kanan tapi tak menemukan siapa pun.


"Emh, maaf sebelumnya! Bukannya saya mau nakutin kalian, tapi..suster Meri udah meninggal dua tahun yang lalu."Jelas Suster yang diketahui bernama Amel itu kepada mereka, membuat Indra dan Iren merinding.


"Tuh kan Sher, gue bilang apa. Dari tadi kita gak liatin siapa-siapa, elu nya aja keukeuh." Kata Iren bergidik takut memeluk lengan Indra dengan erat dan disambut hangat.


"Ish, elu berdua. Masih sempatnya pelukan, huuuuuhhh." Ketus Sherly sebal melihat mereka berdua.


"Jomblo di larang ngiri!" Ledek Indra terkekeh.


"Au ah. Makasih sus, udah nunjukin ruangan Kak Hendri." Ucap Sherly sopan.


"Sama-sama. Ya sudah, saya permisi." Kata Suster Amel berpamitan pada mereka.


Sepeninggalan suster Amel, mereka berjalan sesuai petunjuknya. Kamar 107, terletak diujung lorong sebelah kanan tepat berhadapan dengan kamar 108 yang katanya angker. Ruangan itu sudah tak terpakai, kadang saat waktu tengah malam suka ada yang melihat seorang dokter beserta suster membawa pasien ke dalam kamar itu.


"Ini Sher tempatnya!" Seru Iren. "Tadi suster bilang nomer 107 apa 108 ya?"Lanjutnya.


"107 Ren," Kata Sherly. "Tapi kok sepi ya, malah rame di kamar 108. Apa susternya salah bilang?" Tanya Sherly kebingungan.


"Masa sih, coba kita ketuk dulu buat mastiin bener apa enggaknya." Usul Indra.


"Heemh, ya udah sono gih ketuk." Kata Iren yang langsung mendapat protes darinya.


"Kok aku sih, yank! Malu dong aku nanti kalo salah," Protes Indra.


"Heleh, elu ya. Minggir, gue aja." Kata Sherly mendorong tubuh Indra.


"Samson wati, kalo dorong orang pelan dikit napa? Sakit ini," Rengek Indra memegang lengannya.


Rengekan Indra membuat Sherly jengah, "Elu nya aja cengeng and lebay." Ketusnya.


"Elu tenaganya kekencengan, bilangin orang lebay lagi!" Tutur Indra tak terima.


"Ya elu nya yang..."


"Stop!kita itu mau nengokin orang sakit, bukan mau berantem depan kamar pasien ya?" Iren menghentikan mereka berdua. "Iya,"Ucap Sherly dan Indra menurut. "Ya udah ayo masuk, biar gue yang ngetuk pintunya." Ucap Iren kemudian.


Saat Iren akan mengetuk pintu kamar 107, keluarlah seorang dokter dari kamar 108 dan itu membuat Indra berbalik badan menghadap dokter itu.


"Yank, ini ada dokter! Kita tanya aja," Kata Indra. "Maaf dok, apa bener ini kamar pasien yang bernama Hendri?" Tanya Indra. Dokter itu menggeleng dan tersenyum menunjuk arah kamar depannya Indra, yaitu kamar 108. "Oh gitu ya, makasih dok!" Ucapnya pada dokter itu yang tersenyum sambil mengangguk lalu pergi. "Di sini guys, ruangan kapten Hendri!" Seru Indra.


"Si Indra ngomong ama siapa sih?" Batin Sherly kebingungan melihat Indra seperti sedang bergumam dan memejamkan mata nya. "Elu ngapain Ndra? Kok diem di pojokan sih?" Tanya Sherly yang penasaran melihat temannya itu, ia pun menepuk pundak Indra membuat tubuhnya jatuh ke lantai. "Astaga Ndra, elu kok pingsan sih? Padahal kan gue nepuknya pelan," Sherly terkejut karena Indra yang tersungkur ke lantai.


"Ya Ampun Sherly, Indra kenapa? Kok pingsan Sih!" Seru Iren yang sama terkejut dengan Sherly.


"Gue gak Tau, tadi gue liat dia di pojokan merem sambil bergumam gitu. Saat gue tepuk pundaknya, eh dia jatoh!" Jawab Sherly.

__ADS_1


"Aduh gimana ini? Ay, kamu kenapa sih? Kok bisa pingsan gini?" Tanya Iren khawatir dengan memangku kepala Indra.


"Gue panggilin dokter apa suster deh ya," Kata Sherly sambil berdiri dan berlari.


Suara gaduh mereka terdengar dari dalam ruangan kapten Hendri, "Kenapa berisik sekali sih di luar?" Kata Hendri yang baru bangun dari tidurnya selama lima hari di RS ini dan terganggu dengan suara bising itu.


"Tau tuh, aku cek dulu deh mas!" Kata seorang wanita yang menunggui Hendri.


Pintu kamar perawatan Hendri pun terbuka, nampak seorang wanita bertubuh tinggi semampai dengan rambut sebahu, menatap Iren yang sedang memangku kepala Indra di depan pintu kamar.


"Sedang apa kamu?" Tanya dia ketus.


"Maaf mbak, ini pacarku tiba-tiba pingsan


disini dan tem..." Belum sempat Iren melanjutkan ucapannya, wanita langsung menyela.


"Aku gak perduli dengan pacar kamu. Kalian gangguin ketenangan orang aja. Sudah bawa sana gih, berisik depan kamar orang." Ketus wanita itu sambil melipat kedua tangan di dadanya.


"Tapi tunggu temanku dulu mbak, dia lagi.." Kata-kata Iren tak terselesaikan lagi karena kedatangan Sherly.


"Ren, Dokter sedang menuju kemari!" Seru Sherly berlari kearah Iren. "Gimana, Indra masih belum sadar?" Tanya nya kemudian.


"Belum Sher, gue udah gosok-gosok tangan dan kakinya, tapi dia tetep gak sadar. Gimana dong!" Ucap Iren dengan nada takut dan khawatir.


"Kita angkat aja ke kursi, yuk!" Usul Sherly.


"Ya udah, yuk!"Ucap Iren setuju. "Eh, kalo boleh kita numpang di kamar perawatan kapten Hendri aja, gimana? Boleh ya, mbak?" Tanya Iren kepada wanita yang tadi ketus.


"Eh, beneran ini kamar perawatan kak Hen?" Tanya Sherly yang mendapat protes dari wanita tadi.


"Apa?kak Hen! Kamu manggil calon suami saya dengan sebutan kakak? Apa kalian sedekat itu, sampai kamu berani manggil dia kakak. Heh," Wanita itu berkata dengan mata melotot, kayaknya minta di congkel.


"Maaf, calon suami? Apa mbak ini tunangan kak Hen, eh kapten Hendri?" Tanya Sherly.


"Sebentar lagi kami akan bertunangan! Jadi saya harap kalian menjaga jarak dengan dia, saya gak suka cewek centil penggoda." Ucapnya ketus.


"Huuhh..dia bilang cewek centil!apa dia ngatain dirinya sendiri"Batin Sherly yang menilai penampilan wanita itu dengan pakaian seksinya.


"Eh mas Deni! Ini lho mas, mereka itu berisik sekali di depan kamar mas Hendri. Ganggu kan jadinya." Kata wanita itu dengan gaya centilnya.


Deni melirik Sherly dan bertanya tanpa memperdulikan ucapan wanita itu. "Kenapa dengan teman kamu, Sher?"


"Ini kak, dia tiba-tiba pingsan. Kita juga gak tau kenapa." Tutur Sherly menjawab pertanyaan Deni.


"Udah panggil dokter?" Tanya Deni lagi.


"Udah kak, tapi mereka belum kesini."Jawab Sherly lagi.


"Ya sudah, kita bopong ke kamar kapten Hendri yuk! Kasihan kalo disini." Kata Deni.


"Tapi ..." Iren dan Sherly saling pandang.


"Kenapa? Gak mau?" Tanya Deni.


"Bukan gak mau, tapi.." Sherly melirik wanita tadi yang sedang pura-pura tak mendengar.


"Ya sudah, bantu saya mengangkatnya." Kata Deni yang mengerti tatapan Sherly.


"Baik, kak!" Ucap Sherly dan Iren bersamaan.


"Deni mengenali mereka"Batin Wanita itu."Huhh, gadis tak tahu diri."Gumamnya sambil melangkah masuk mendahului mereka.


"Ih sumpah ya, kalo bukan karena kapten Deni, tadi udah gue cakar tuh cewek." Bisik Iren kepada Sherly, yang masih bisa di dengar Deni membuat ia tersenyum.


"Kenapa anak-anak?" Tanya Deni dengan sengaja, membuat mereka mendongak.


Sherly dan Iren terkejut. "Eh, gak kenapa-napa pak guru." Jawab mereka menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, ayo masuk!"Kata Deni.

__ADS_1


"Baik, pak guru!" Ucap mereka lagi.


"Anak baik," Ucap Deni terkekeh melihat tingkah lucu mereka.


Mereka pun masuk dengan membopong tubuh jangkung Indra yang lumayan berat.


"Ada apa sih diluar?" Tanya Hendri kepada wanita ketus tadi.


"Itu cuma gadis nakal, katanya pacarnya pingsan tiba-tiba. Gak masuk akal kan tuh cewek!" Kata wanita itu.


"Jangan gitu, mungkin aja dia beneran pingsan karena sakit." Ucap Hendri yang masih lemah terbaring.


"Dia memang masih sakit Hen,"Ucap Deni yang masuk dengan membopong tubuh Indra dan di baringkan ke sofa, diikuti Sherly dan Iren dari belakang.


"Eh Sherly, Iren, sedang apa kalian disini?" Tanya Hendri sambil mencoba duduk tapi tetap tak bisa, membuat ia meringis. "Akkhh,"


"Jangan bergerak kak, udah tiduran aja." Kata Sherly menghampiri Hendri dan mencegah dia bangun.


"Hei, lepasin tangan kamu darinya!"Kata wanita itu menepis tangan Sherly dengan keras sehingga menimbulkan suara.


Plak


"Aw, maaf!" Ucap Sherly kemudian mundur.


"Apa-apaan sih kamu, Din? Dia cuma khawatir keadaanku, kali." Kata Hendri. "Maaf ya Sher, tangan kamu sakit ya?" Tanya Hendri dengan lembut.


"Enggak apa-apa kok kak!"Ucap Sherly tersenyum ke arahnya.


"Minta maaf sama Sherly, Din!" Perintah Hendri pada wanita itu. "Hehh," Dia memalingkan wajahnya membuat Hendri geram. "Dini!" Seru Hendri.


"Baiklah, saya minta maaf!"Ucapnya sambil melipat kedua tangannya dan menatap Sherly dengan penuh benci.


"Ya gak apa-apa mbak!"Kata Sherly dengan tersenyum. "Huhh, wanita yang tidak tahu sopan santun. Baru jadi calon aja udah belagu, gimana kalo dia jadi istrinya kak Hen, ya!" Batin Sherly.


"Permisi, apa tadi ada yang memanggil dokter untuk memeriksa pasien yang pingsan?"Tanya seorang Dokter yang masuk ke ruangan Hendri.


"Oh iya dok, saya tadi yang manggil dokter." Jawab Sherly menghampiri dokter itu. "Ini dok teman saya yang tiba-tiba pingsan itu."Tunjuk Sherly kepada Indra yang berbaring di sofa kamar perawatan Hendri.


"Baik, saya periksa dulu ya." Kata Dokter itu dan langsung memeriksa denyut nadi serta menekan dadanya Indra menggunakan stetoskop. Tampak raut wajah khawatir dari dokter itu, "Emh, maaf sebelumnya. Apa sebelum dia kesini sudah ada gejala atau tanda-tanda dia kesakitan atau yang lainnya gitu?" Tanya dokter membuat mereka bingung.


"Maksud dokter gimana? Kita kurang mengerti." Jawab Sherly dan Iren.


"Sepertinya dia terkena serangan jantung dan ia menjadi koma!" Penjelasan Dokter membuat mereka tercengang. Pasalnya tidak ada yang aneh dengan Indra sebelum kemari, cuma dia yang diam di pojokan kamar depan.


"Ada yang tak beres ini!" Gumam Sherly membuat mereka menoleh kepadanya.


"Ada apa, Sher?" Tanya kapten Deni.


"Hemh, enggak kok!" Ucapnya kaget. "Oh iya dok, kamar di depan itu masih berfungsi dengan baik atau tidak?"Tanya Sherly kepada Dokter, membuat dokter terkejut.


"Ka-kamar itu sudah tak terpakai, itu sudah rusak."Jawab Dokter dengan sedikit gemetar.


"Tapi tadi aku liat disana rame, banyak orang malah." Jelas Sherly membuat dokter menjadi berkeringat dingin.


"Saya minta kalian jangan masuk kesana ya," Kata dokter dengan berbisik.


"Kenapa?" Tanya mereka kompak.


"Karena ..." Belum juga dokter itu bicara, suara benda jatuh mengagetkan mereka.


Praaaaannggg


"Aaaaaaaaaaaaa," Teriak mereka terkejut.


Jangan lupa ritualnya..


Like, komen, vote, favorit, and follow.


kalo boleh Share juga ya!!

__ADS_1


Hatur tengkiyuhhh?😘😘😘


__ADS_2