Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Siapa hantu itu?


__ADS_3

Seorang pria paruh baya sedang duduk di bangku panjang taman rumahnya. Dia terlihat termenung menatap langit malam yang penuh dengan kerlipan cahaya bintang.


Entah apa yang di pikirkan pria paruh baya tersebut. Karena, walaupun wajahnya menengadah ke atas, namun matanya terpejam rapat.


Sampai sebuah tepukan di bahu membuat ia membuka matanya.


"Hah, siapa?" Ia pun menoleh ke arah sampingnya.


Bukannya menjawab, si penepuk langsung memeluk tubuh si pria paruh baya tersebut dengan erat sambil terisak. "Maafin aku, daddy!"


Sang daddy yang mengenali si pemilik suara langsung membalas pelukannya. "Daddy kangen kamu!"


"Aku juga kangen daddy!"


Kecupan mendarat di keningnya dengan lembut. Rasa rindu yang selama ini tertahan, kini ia lepaskan dengan uraian air mata.


Cukup lama mereka berpelukan. Sampai keduanya melepaskan diri masing-masing, menatap mata satu sama lain.


Telapak tangan terulur mengusap air mata. "Jangan menangis lagi, sayang! Sudah cukup kamu mengeluarkan air mata. Sekarang, tersenyumlah untuk daddy-mu ini."


Sherly pun tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahu sang ayah. "Apa daddy memaafkanku?"


Tuan Hadi hanya tersenyum. "Kesalahan apa yang harus daddy maafkan darimu? Kamu tak memiliki kesalahan apapun sama daddy!"


"Aku bersalah sama daddy karena tak memberi kabar selama ini. Aku pergi jauh meninggalkan daddy di sini. Apa daddy tidak marah kepadaku?" Tanya Sherly.


Tuan Hadi mengelus kepala putrinya dengan lembut, sambil sesekali mengecup kepala putrinya. "Kewajiban dan hak daddy sudah berpindah kepada suamimu saat kamu menikah dan berkeluarga. Jadi, daddy tak berhak atas dirimu lagi, sayang."


"Jika Zidane mengizinkanmu berkunjung ke rumah daddy, maka itu keberuntungan bagi kami. Namun, jika suamimu tak mengizinkanmu kemari, kamu berdosa." Jelas tuan Hadi. "Pasti suamimu punya alasan untuk semua yang di lakukannya, kan. Daddy yakin jika Zidane sudah memikirkan semuanya." Lanjutnya lagi.


"Daddy benar. Dia memiliki alasan yang kuat untuk melakukan itu semua. Maka dari itu, ayo kita masuk untuk melihat alasan suamiku!" Ajak Sherly.


Tuan Hadi tak mengerti dengan ucapan putrinya. Alasan yang harus di lihat? Bukankah sebuah alasan itu harus di jelaskan!


Walaupun tak mengerti, ia tetap mengikuti tarikan tangan putri bungsunya dengan senang hati tanpa protes .


Sesampainya di dalam, dahinya mengerut melihat sesuatu yang di bilang sebuah alasan Zidane tak mengabarinya selama ini.


"Inilah alasan Zidane membawaku pergi dan tak mengabari siapapun!"


Tuan Hadi tak mengerti dengan perkataan putrinya itu.


Aldrian dan Aisyah hanya tersenyum melihat ayahnya yang kebingungan. Sampai Reihan yang membuatnya mengerti.


"Opa, adik Zyan tampan ya. Wajahnya mirip Rei." Seketika tuan Hadi menoleh ke arah putrinya.


"Apa dia putramu?" Sherly hanya tersenyum dengan pertanyaan ayahnya. "Dia cucu daddy?" Pertanyaan di alihkan kepada menantunya.


Dengan tersenyum, Zidane mengangguk dan menjawab pertanyaan mertuanya. "Iya dad, dia cucumu. Keturunan keluarga ini." Tutur Zidane membuat tuan Hadi senang.


"Cucu opa!"


Tuan Hadi langsung memeluk bayi tampan yang sedang di gendong Aisyah menantu pertamanya. Matanya berkaca menatap bayi mungil di tangan Aisyah.


"Lengkap sudah kebahagiaan daddy sekarang. Daddy sangat bahagia sampai tak bisa berkata apapun lagi."


Air mata yang sedari tadi di tahannya pun meluncur begitu saja. Ia terus menciumi pipi si bayi mungil cucu keduanya itu.


"Dad, jangan nangis gitu ah. Malu sama Reihan!" Ledek Aldrian terkekeh.


"Iya. Sekarang opa jadi cengeng kaya anak kecil." Timpal Reihan membuat semua orang tertawa.


"Hahaha. Opa kayak anak kecil ... opa kayak anak kecil!"

__ADS_1


Semuanya meledek tuan Hadi yang tertawa sambil mengelap air matanya. "Hahaha!"


□□□□


Malam semakin larut. Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat.


Setelah cukup lama bermain dengan si bayi mungil yang tampan, akhirnya mereka pun kelelahan.


Begitu juga dengan Sherly dan Zidane. Lelah rasanya seharian dalam perjalanan, membuat pasangan ibu dan ayah baru itu mengantuk. Mereka pun memutuskan masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan semua ototnya.


Jam dinding berdetak pertanda tengah malam. Semua orang sudah terlelap dalam mimpinya.


Namun, suara decitan jendela yang terbuka perlahan membuat Sherly terganggu.


Kreeettt ... kreeettt


Jendela terus bergerak perlahan dan semakin terbuka lebar.


Karena penasaran, Sherly pun berjalan menghampiri sumber suara yang mengganggu tidurnya.


Sudah setengah bagian jendela terbuka. Angin dingin menyeruak masuk kedalam kamar, menerpa ke seluruh ruangan.


Brrrrr


Dinginnya angin malam menusuk ke tulang bagian dalam.


Rasanya ada yang aneh malam ini. Angin malam ini berhembus tak seperti malam-malam sebelumnya.


Bulu kuduk Sherly meremang seketika merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.


"Dingin banget malam ini. Anginnya kenceng sampai bisa buka jendela." Ia pun bergegas menutup jendela kamar dengan mengulurkan tangannya ke depan.


Sebelum jendela tertutup rapat, sebuah tangan terulur memegangi tangan Sherly dan mencengkramnya dengan kuat.


Ia berusaha melepaskan potongan tangan itu dengan tenang dan tak membuat kegaduhan. Supaya suami dan putranya tidak terganggu.


Namun, bukannya lepas. Potongan tangan itu malah semakin erat mencengkram pergelangan tangan Sherly dengan kuat. Membuat Sherly meringis kesakitan.


"Akh. Setan mana sih yang berani bermain-main denganku?"


Tangannya terus berusaha melepaskan cengkraman kuku yang menancap di pergelangan tangannya yang sudah mengeluarkan sedikit darah.


"Sayang, tolong aku!" Ingin rasanya Sherly berteriak namun ia tak melakukannya. "Kalau aku memanggil Zidane untuk menolongku, mungkin setan ini akan mengambil kesempatan untuk mencelakai putraku!" Pikir Sherly.


Ia terus berusaha sendiri untuk melepaskan tangan hantu yang terus mengganggunya itu.


Di saat Sherly sedang berusaha melepas cengkraman kuku panjang itu, tiba-tiba jendela semakin terbuka lebar dan menampakkan sosok hantu perempuan dengan wajah menyeramkan. Hihihiiiii


"Ya ampun!" Sontak Sherly menghempaskannya dengan kencang membuat luka di tangan semakin terbuka lebar.


Seringai wajah seram itu sekilas nampak seperti ...


"Kembalikan dia padaku!" seru makhluk itu dengan suara seraknya.


Sherly termenung seketika mencerna ucapan makhluk halus tersebut.


Apa maksudnya?


Ia tak mengerti dengan apa yag di inginkan hantu wanita di hadapannya.


Sherly mundur menjauhi makhluk halus yang sedang terlihat marah dan kesal padanya.


Takut? Tidak! Sherly tak merasa takut sedikitpun. Dia hanya tak mengerti maksud hantu wanita itu.

__ADS_1


"Apa kau sekarang takut kepadaku? Hihihiii ... dulu kau sombong dan bangga terhadap dirimu sendiri. Sekarang, bahkan nyalimu menciut karena aku mendekatimu." Ucap hantu itu meremehkan.


Sherly hanya tersenyum menanggapi ucapan hantu wanita tersebut. "Aku bahkan tak gemetar saat kau menyentuhku. Bagaimana kau bisa berpikir bahwa aku takut padamu? Bahkan, aku tak mengenalmu sama sekali." Jelas Sherly.


"Kau tak mengingatku? Dasar wanita sombong! Aku bahkan selalu terngiang ucapan aroganmu yang selalu menyombongkan diri sendiri. Cuma karena dia lebih mencintaimu, kau bahkan tak memandang siapa pun!"


Emosi hantu wanita itu meledak seketika. Mungkin dia sangat marah kepada Sherly.


Tapi, apa masalahnya? Sherly pun tetap tak mengerti.


"Sebenarnya, kamu itu siapa? Kenapa kamu menggangguku? Apa kita ada masalah?" Tanya Sherly.


"Masalah? Hihihiii ... tentu kau bermasalah denganku. Selamanya akan bermasalah denganku jika kau tak melepaskannya!" Tutur hantu wanita itu lagi.


Apa sih maksudnya dengan melepaskannya? Tapi, melepaskan siapa?


**Tiba-tiba ...


Srekkkk ... Aaaakkhhh**


"Menjauhlah dari istriku!"


Senjata Zidane mengayun dan menembus hantu wanita itu.


"Kaaauuu!" Rintihan kesakitan terdengar dari mulut si hantu.


"Segera pergi dari sini, kalau tidak kau akan hancur oleh senjataku!"


Tatapan mata Zidane menajam dengan suara tak kalah dingin.


Rasa takut menghinggapi hantu wanita itu saat melihat Zidane mengacungkan senjata miliknya. Bambu kawung wuluh yang di takuti para jin dan makhluk halus lainnya.


"Zidane. Apa kau tega melakukan itu kepadaku?" Lirihnya suara hantu wanita itu terdengar pilu.


Namun yang di tanyai hanya menatap sinis ke arahnya.


Sherly tampak terkejut karena ternyata hantu wanita itu mengenal Zidane.


"Ku peringatkan agar kau menjauh dari keluargaku. Aku tak ingin menyakitimu lagi. Jadi, jangan memaksaku untuk melakukan hal yang tak ingin ku lakukan!" Jelas Zidane.


Air mata turun dari pipi si hantu wanita. Dia menangis tersedu mendengar ucapan Zidane.


"Huhuhuuuu, apakah masih ada sedikit kasih sayang untukku, Zidane?"


Zidane memalingkan wajahnya ke arah lain. "Pergi dari sini jika kau tak ingin terluka. Waktunya kau untuk kembali ke alammu!"


"Zidane. Katakan jika kau masih mencintaiku!" Pinta hantu wanita itu.


"Kau terlalu berlebihan. Pergilah!" Ucapnya dingin.


Rasanya sangat sedih jika harus di usir oleh orang yang kita cintai. Tapi, inilah takdir yang harus di hadapinya karena mereka sudah berbeda alam.


"Jika kau tak mengatakannya, jangan harap kalian akan bersatu selamanya!"


Si hantu wanita itu melayang ke arah Sherly dan mencekik lehernya dengan sangat kuat.


"Aaakkkkk!" Suara Sherly tercekat di tenggorokan karena cekikan tangan si hantu wanita.


"Sayang!"


Zidane berlari menghampiri namun tangan si hantu wanita terulur ke depan pertanda tak boleh di hampiri.


"Berhenti atau kau akan melihatnya mati!"

__ADS_1


__ADS_2