Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Makhluk kamar 108


__ADS_3

Suara gaduh yang terdengar kencang dari dalam kamar nomor 108, membuat mereka terkejut dan saling berpandangan.


"Bunyi apaan itu Sher?"Iren yang bergidik ketakutan sambil memeluk tubuh Sherly.


"Saya permisi"Kata Dokter itu sambil melangkah pergi dengan terburu buru.


"Hei dok, gimana temanku ini?"Teriak Sherly kepada dokter itu, namun tak di dengar.


"Gimana ini?"Tanyanya kepada semua yang ada diruangan itu.


"Gimana kalo kita minta suster buat bawa Indra ke kamar bekas perawatannya saja"Kata Hendri memberi usul.


"Hooh bener, mending dibawa kesana aja.dari pada disini"Kata Iren setuju."Lagi pula kalo dia di rawat di kamar sekitaran sini, gue takut.soalnya perasaan gue gak enak ini!"Tutur Iren yang merasakan hawa mencekam disana."Gue merinding"Bisiknya pada Sherly.


"Ya sudah, biar saya yang pergi memanggil perawat untuk membantu kita membawa Indra dan memindahkan ke kamarnya" Ucap Deni dan melangkah keluar.


"Terima kasih kak"Ucap Iren dan Sherly yang di sambut senyuman Deni.


Dini yang melihat interaksi mereka menjadi iri, kenapa mereka bisa sedekat itu padahal baru kenal."Kenapa sih kalian memanggil Mas Deni dan Mas Hendri dengan sebutan kakak?padahal kalian baru saja kenal" Tanya Dini dengan nada tak suka.


"Karena usia mereka kan diatas kita!lagian, mereka yang meminta kami memanggilnya dengan sebutan kakak"Kata Iren dengan sengaja sambil melirik ke arah Hendri, meminta persetujuan darinya."Apa itu masalah?"Dia bertanya balik pada Dini.


"Masa sih mas kamu ngizinin mereka manggil kamu kakak?"Dini bertanya pada Hendri.


"Kenapa memangnya?lagian itu bagus kan! tandanya mereka punya sopan santun, manggil orang yang lebih dewasa dengan sebutan kakak."Tutur Hendri menjawab pertanyaan Dini, membuat ia cemberut.


"Kalo mbak Dini gak ngebolehin kita manggil kapten Hendri dengan sebutan kakak, kita gak bakal manggil kakak lagi deh!beneran" Kata Sherly dan Iren yang tak enak.


"Kok gitu sih, apa hubungannya dengan Dini bolehin apa enggak.lagian kita kan cuma temenan, jadi dia gak ada hak dong buat ngelarang kalian panggil saya kakak"Jelas Hendri membuat Dini menahan amarah dan rasa malunya.


"Jleb" Perkataan Hendri menusuk hati dan perasaan Dini, pasalnya selama ini Dini menyukai Hendri tapi cuma dianggap seperti teman biasa saja.ia sangat berharap lebih dari kapten muda dan tampan itu.


Dia juga terlanjur mengatakan kalo Hendri adalah calon suaminya.


Kedua gadis itu bersorak dalam hati, melihat tingkah malu dan geramnya Dini membuat mereka menahan tawanya.keduanya melipat bibirnya kedalam mulut dan berpaling ke arah Indra yang tergeletak di sofa kamar, takut terlihat oleh Dini.si wanita ketus itu.


"Ekhem..gimana keadaan kak Hen, apa sudah membaik?"Tanya Sherly berdehem menghilangkan kecanggungannya.


"Alhamdulillah sudah kok, kalo kamu sendiri gimana?"Tanya Hendri balik.


"Seperti yang kakak lihat, aku udah sehat nih!"Jawab Sherly sambil gersenyum.


"Syukur lah!eh, kalo Dika gimana?dari tadi saya gak lihat dia, apa dia sudah pulih?" Tanya Hendri lagi.


"Dika udah baik, cuman ya gitu kak.kata dokter gak boleh banyak gerak dulu"Jelas Sherly lagi.


Interaksi mereka lagi lagi mengundang kekesalan Dini, ia tidak rela jika Hendri harus lebih akrab dengan gadis di depannya itu.maka dari itu, jalan satu satunya yaitu membuat Sherly tersingkir dan pergi untuk selamanya.

__ADS_1


"Dokter kemana sih?kok lama banget mau jemput ni anak, entar keburu dia gak bangun lagi gimana?bukannya repot kalo..." Gerutu Dini sambil melirik ke arah Sherly dan Iren yang mengelus kepala Indra.


"Hush..kamu kok ngomongnya gitu sih!kita do'ain aja supaya Indra gak kenapa-napa" Kata Hendri menghentikan omongan Dini.


"Ya aku kan cuma khawatir aja mas!"Kata Dini sambil memutar bola matanya.


"Ya tapi ngomongnya jangan..."


Ucapan Hendri terhenti, saat Deni dan Dokter yang lain serta dua suster masuk ke ruangannya untuk mengangkat tubuh Indra dan membawanya ke ruang bekas perawatan diikuti Iren dan Sherly yang buru buru pergi.


"Kak, kami pergi dulu ya?maaf gak bisa nungguin kakak disini."Kata Sherly sebelum pergi, ia melirik Dini yang sedang tersenyum senang karena kepergian mereka.


"Gak apa apa, semoga Indra cepet sadar ya"Ucap Hendri sebelum mereka keluar.


Dan akhirnya Indra dibawa ke ruangannya lagi, Iren pun hanya bisa mengikuti langkah mwereka dengan gontai.rasa kekhawatiran Iren tak bisa di gambarkan dengan kata kata, pasalnya ia di amanatin langsung oleh emak si jalu buat jagain dia dengan baik.


"Gimana ini Sher?gue takut terjadi apa apa sama dia"Kata Sherly dengan mata berkaca.


"Elu tenangi diri ya Ren, gak akan ada yang terjadi sama Indra.percaya deh!"Ucap Sherly menenangkan Iren yang cemas.


"Maaf, kalian dilarang masuk.kami akan memeriksanya lebih lanjut"Ucap salah satu suster yang menghentikan mereka untuk masuk mengikutinya.


"Tapi sus, kami ingin..."Ucap Iren yang terpotong Sherly."Baik sus,kami akan menunggu disini"Ucap Sherly seraya menarik tangan Iren.


"Udah sih, elu tenang aja oke!"Kata Sherly sambil mengelus lengan Iren.


"Bener kata Sherly Ren, kamu harus tenang. Dia pasti gak mau lihat kamu seperti ini!" Kata Deni ikut menenangkan.


"Makasih ya kak"Ucap mereka berdua.


Setelah beberapa menit, keluarlah dokter dari ruang perawatan Indra.dia nampak bingung dan heran melihat kondisi pasien yang satu ini.


"Maaf, siapa keluarga pasien?"Tanya dokter


"Kami dok,"Jawab mereka.


"Begini adik-adik, saya merasa heran juga dengan kondisinya"Kata dokter membuat mereka ikut bingung.


"Kenapa dok, apa ada yang salah sama dia?"Tanya mereka.


"Kondisi fisik, luar dan dalam pasien tidak ada yang terluka parah.namun saya merasa ada keanehan, dia seperti mati tapi hidup. Soalnya detak jantungnya tak karuan, kadang ada kadang tidak.mengakibatkan dia sulit untuk bangun dan sadar kembali. seperti ada sesuatu yang menahan" Jelas sang dokter.


"Jadi maksud dokter, dia koma gitu?"Tanya Iren dengan cepat dan rasa khawatirnya.


"Ya bisa di bilang seperti itu"Kata dokter membuat Iren gontai dan hampir jatuh jika Sherly tak menahannya.


"Kalau boleh, saya saranin agar kalian mengajak ngobrol dia.bagaimana pun, interaksi dari kalian sangat membantu bagi pasien seperti dia ini"Jelas dokter.

__ADS_1


"Baik dok, terima kasih"Ucap Sherly dan Deni yang masih setia menunggu disitu.


Dokter pun pergi disusul kedua suster yang memeriksa keadaan Indra dan membawa nya kemari. dokter juga tak lupa mempersilahkan mereka berdua masuk untuk melihat kondisi Indra.karena kapten Deni harus undur diri untuk laporan kasus yang ditanganinya, ia pun berpamitan kepada kedua gadis itu.


"Ay, kamu kenapa sih.kok bisa jadi gini? padahal tadi kamu baik baik aja kok!" Kata Iren sambil menggenggam tangan Indra.


Sherly yang memperhatikan kondisi Indra ini, memang ada keanehan.ia memegang tangan Indra dan menekan denyut nadi. Indra seperti mati, seperti yang dikatakan dokter tadi.


Sherly pun menarik nafasnya pelan dan memejamkan matanya.ia melihat bayangan Indra yang tadi bersama mereka waktu ke tempat Hendri, terlihat Indra mengobrol bersama seorang dokter yang baru keluar dari kamar nomor 108.


Dokter itu menarik tangan Indra kemudian tubuh Indra terjatuh, sedangkan rohnya terbawa oleh dokter itu dan masuk ke kamar perawatan nomor 108 yang tepat di depan kamar perawatan Hendri.Sherly mengikuti mereka masuk ke kamar itu, dan betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di kamar itu.banyak sekali sosok makhluk astral dan manusia yang jadi tawanannya.


Sesosok makhluk menyeramkan yang jadi pemimpin mereka sedang duduk di kursi kebesarannya, dengan wajah seram, kulitnya hitam legam, gigi taring panjang, mata merah menyala, bertanduk dan berbadan besar tapi bagian bawah seperti kambing.


Sosok lain dari mereka yaitu perempuan yang berwajah seram, dengan mata dan bibir yang mengeluarkan darah, bagian dada bolong sampai ke belakang dengan usus terburai, dan kuku hitam yang panjang menambah kecantikan makhluk itu.hiiiiiiiii..


Terlihat beberapa dokter dan suster serta pasien yang sudah meninggal karena suatu hal, berkumpul disana.mereka yang membawa pasien yang masih hidup untuk masuk ke tempat itu dan di persembahkan kepada pemimpin yang berupa siluman kambing itu.


Saat Sherly melihat roh Indra yang di seret kesana, ia berusaha untuk menarik tangan Indra tapi tak bisa.roh Indra ditundukkan dihadapan makhluk itu dengan cara kedua tangannya di pegang dan kakinya di tendang bagian tengkuk sehingga ia berlutut di hadapan makhluk itu.


"Wahai pengikutku yang baru, lepaskanlah jiwamu untuk mengabdi kepadaku"Kata makhluk itu dengan mengulurkan tangannya ke kepala Indra.


"Gue gak sudi mengabdi kepada iblis seperti mu, dasar siluman"Indra melawan dengan cara meronta namun tetap tak bisa, karena dia di pegangi beberapa roh jahat.


"Berani kau menentangku hehh"Makhluk itu menjambak kasar rambut Indra."Jika kau tidak mau menurutiku, aku akan memaksamu dengan cara mengambil semua keluargamu dan orang yang kau sayangi satu persatu.bagaimana?"Kata makhluk itu menyeringai menampakan gigi runcingnya.


"Tidak, kau tak bisa melakukan itu.kami orang yang beriman, tidak akan mengabdikan hidup kami pada iblis sepertimu dan menuju ke jalan sesat"Tutur Indra dengan lantang.


"Hahahaha...kau pikir mereka bukan orang yang beriman sepertimu"Tunjuknya kepada beberapa roh disana."Mereka suka mengerjakan ibadah, tapi di saat kehidupan mempermainkan dan ekonomi yang sulit membuatnya terhimpit.akhirnya mereka menyerahkan dirinya kepadaku"Ucapnya bangga."Kau tahu anak muda, aku bisa mengabulkan semua keinginanmu asalkan kau bisa memberiku tumbal atau menyerahkan jiwamu seperti mereka" Kata makhluk itu lagi.


"Aku tidak akan memenuhi permintaanmu dan aku juga tidak mau mengabdi kepadamu seperti mereka walaupun hidupku dalam keadaan susah atau terpuruk sekali pun.aku memilik Tuhan yang ku sembah, bukan iblis macam kamu"Ucap Indra.


"Baiklah anak muda, karena kau yakin dengan pedirianmu itu.ku beri kau kesempatan dalam waktu tujuh hari.jika kau bisa selamat dari sini dan kembali kepada mereka, kau akan bebas.tapi jika kau tak bisa keluar dari duniaku ini,maka selamanya kau harus bersamaku dan mengabdikan jiwamu kepadaku"Kata makhluk itu denga nada meremehkan.


Tangan Indra pun di lepaskan sesuai instruksi pemimpin mereka, Ia bisa berdiri namun tak bisa melangkah pergi dari tempat itu.seperti terpenjara di dalam sangkar besi.


"Sherly...Sherly..."Iren mengguncangkan tubuh temannya yang sedang menggenggam erat tangan Indra sambil memejamkan matanya"Haaahhhh...."Helaan nafas Sherly membuat Iren terhenyak."Lu kenapa?" Tanya Iren.


"Gue...gue liat..."Sherly bingung harus bicara apa tentang apa yang dilihatnya.antara khawatir dan bingung.


***Bersambung


Ikutin terus cerita otor ya,dengan cara:


Like, komen, vote, favorit and follow juga.


Terima kasih😘😘***

__ADS_1


__ADS_2