
Iren melihat Sherly sedang memejamkan mata sambil menggenggam tangan Indra.
"Sherly ... Sherly ... elu kenapa?" Tanya Iren yang takut terjadi sesuatu pada temennya.
Helaan nafas Sherly terasa berat. "Tadi gue lihat, kalau Indra..." Ucapan Sherly menggantung.
"Kalo apa? Lu lihat Indra kenapa? Ngomong yang jelas dong, Sher!" Tanya Iren tak sabaran.
Sherly menatap Iren. "Tapi elu janji gak boleh panik, gue minta lu juga merahasiakan ini dari keluarganya Indra. Oke!" Pinta Sherly kepadanya.
"Oke, gue janji. Tapi, elu harus jujur sama gue!" Pinta Iren balik.
"Sebenarnya, roh Indra di tahan di kamar 108. Kamar yang tadi depan ruang perawatan Kak Hendri!" Tutur Sherly. "Dia tak dapat keluar, jika kita tak membantunya"Kata Sherly lagi.
Perkataan Sherly seketika membuat Iren terkejut. "Apa? Ya sudah ayo kita kesana! Kita tolongin dia sekarang juga." Ucap Iren seraya berdiri.
Sherly menarik tangan Iren cepat sambil bertanya. "Elu mau kemana?"
"Bukannya kita mau nolongin Indra? Ayo cepetan, sekarang juga kita kesana!" Kata Iren yang berantusias.
"Elu pikir dia di tahan disitu dengan biasa dan tinggal di buka saja kunci pintunya? Gue tadi bilang, Rohnya Indra di tahan dan elu itu tahu gak sih kalo namanya roh itu gak kelihatan sama manusia!" Tutur Sherly menahan Iren yang akan bersiap lari. "Gue bilang elu jangan panik, kita atasi ini bersama dengan kepala dingin, oke!" Kata Sherly memegang bahu Iren.
"Gimana caranya dong?"Tanya Iren.
"Gue minta elu sama yang lain mengaji dan minta pak ustadz untuk ikut mengaji disini,. Berdo'a lah untuk keselamatannya dan supaya roh Indra bisa kembali. Adakan Syukuran jika Indra udah kembali," Tutur Sherly. "Walopun gue gak ngerti cara ibadah orang muslim, tapi gue sering lihat Daddy sama kak Al suka melakukan Sholat yang tengah malam itu lho! Apa namanya ya?" Sherly nampak berfikir.
"Shalat Tahajud," Sahut Iren langsung.
"Iya itu, gue gak tahu lah. Kata Daddy, kalo kita sedang di landa musibah atau sedang dalam keadaan susah, jangan lah meninggal kan Sholat lima waktu, ditambah dengan Sholat Tahajud. Supaya kita di permudahkan dalam segala urusan, lalu rajin membaca Al-Qur'an, gitu sih kalo kata Daddy gue!" Jelas Sherly.
"Ya Sher, bokap lo bener. Kita memang harus memperbanyak ibadah supaya di permudah dalam segala urusan. Thanks ya, walaupun elu bukan muslim, tapi elu mengingatkan gue tentang ibadah yang seharusnya gue lakukan." Ucap Iren tersenyum pada temannya itu.
"Iya untung juga sih bokap sama kakak gue muslim, walaupun gue non muslim, tapi kita bisa saling mengingatkan." Ucap Sherly lagi. "Ya sudah, gue telpon Geri deh supaya dia kesini." Kata Sherly yang diangguki Iren.
Tuuuutttt...tuuuutttt..
"Hallo"Suara Geri dari sebrang.
"Hallo Ger, gue butuh bantuan lo!" Ucap Sherly to the point.
"Bantuan? Bantu apaan nih? tumben lu minta bantuan dari gue," Tanya Geri.
"Bisa gak elu nyariin ustadz yang biasa ngeruqiah atau yang biasa ngajar ngaji gitu?" Tanya Sherly pada Geri.
"Ustadz!buat apa?oh gue tahu, elu mau jadi mualaf ya?cihuyyy...jadi nih Dik," Tanya Geri kegirangan di ujung telpon.
"Elu mikir kejauhan, gue ada perlu aja sama pak Ustadz"Jawab Sherly ketus."Kita ada masalah"Lanjutnya.
"Masalah apaan nih?ngomong yang jelas dong!otak gue rada jongkok kalau disuruh maen tebak-tebakan."Tanya Geri lagi.
"Pokoknya elu cariin gue Ustadz, kalau perlu kiai, oke!" Kata Sherly sebelum menutup sambungan telponnya.
Di tempat Geri berada
"Kenapa Ger?" Tanya Dika setelah sambungan telpon dengan Sherly terputus.
"Gak tahu juga Dik, Sherly minta dicariin pak Ustadz tuh!"Kata Geri sambil ngotak ngatik Handphonenya.
"Buat apa pak Ustadz?" Tanya Dika yang penasaran.
"Buat ngeruqiah elu kali, hahaha..." Jawab Geri asal.
"Huuuuuchh..!elu yang harus diruqiah mah Ger," Cibir Dika yang ditanggapi tawa Geri. "Emmm..kira-kira, Sherly butuh bantuan apa ya dari pak Ustadz?" Tanya Dika.
"Gak tahu Dik, gue nurut aja lah apa kata big bos. Minta di cariin ustadz ya gue cariin, bos minta di nikahin ya gue nikahin,"Jawab Geri bergurau.
"Sialan lo, sebelum lu iyain, gue kubur lu duluan." Ketus Dika melempar bantal ke arah Geri.
__ADS_1
"Hahahaa..lagian elu itu jadi cowok gimana sih Dik, gentle dikit napa? Ungkapin dong perasaan lu sama Sherly. Jangan diem-diem bae," Kata Geri sambil tertawa.
"Gue masih takut Ger," Ungkap Dika.
"Takut apaan sih, Dik? Kita kan temenan udah dari kecil, dari orok malah. Udah tahu seluk beluk kehidupan atau kepribadian satu sama lain, sifat dan sikapnya juga, elu sudah tahu kan?" Tutur Geri pada Dika.
"Justru itu Ger yang gue takutin," Ucap Dika.
"Apa sih yang elu takutin, Dik? Si Indra aja lulus kok jadian sama si Iren, emak abahnya setuju malah!" Timpal Geri.
"Tau lah, tar kalau waktunya sudah tepat, mungkin gue ungkapin perasaan gue ke dia," Kata Dika. "Eh, elu lagi ngapain?sibuk bener!" Tanya Dika yang melihat temannya sedang sibuk mengotak ngatik Hpnya.
"Gue mau telpon ma'e, buat minta tolong ke Ustadz yang biasa ngajar ngaji anak-anak di mesjid"Kata Geri yang panggilannya langsung tersambung sama ibunya.
"Hallo ma'e, tolong bawa Ustadz Ikin kesini sekarang dong!"Kata Geri yang lupa mengucap salam dan berakhir dengan semprotan ibunya.
"Kalau telpon itu ucapin salam dulu dong Le', jangan maen asal cerocos aja!"Ketus ibunya.
"Eh iya lupa, hehehe...!ya sudah, aku ulangi..Assalamualaikum ma'e!"Kata Geri mengulang ucapannya sambil cengengesan.
"Wa'alaikumsalam le', ada apa sih telpon ma'e?opo ono masalah serius?"Tanya ibunya setelah menjawab salam anaknya.
"Nganu ma'e, Sherly minta dibawain pak ustadz ke sini sekarang!"Tutur Geri.
"Arep di kon ngopo sih?bukane Sherly non muslim ya, le'?kok njaluk goleti Ustadz" (Mau di suruh ngapain sih?bukannya Sherly non muslim ya, nak?kok minta cariin pak Ustadz)"Tanya ibunya yang bingung.
"Embuh, aku bae ora ngerti!arep ngopo ya ngonoh, sing penting wes tak goleti bae lah" (gak tahu, aku aja enggak ngerti!mau ngapain ya sana, yang penting sudah di cariin aja lah)"Kata Geri pasrah.
"Yo wes, ma'e arep merono saiki.engko sekalian karo gowo pak Ustadz'e"(Ya sudah, ibu mau kesana sekarang.nanti sekalian sama bawa pak Ustadznya)"Kata ibunya sebelum mengakhiri panggilan itu dengan mengucap salam"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam," Jawab Geri sebelum panggilan benar-benar diputus.
"Gimana Ger, ada orangnya?"Tanya Dika yang sedang bersandar di alasi bantal.
"Ada, katanya sekarang juga mau kesini!"Jawab Geri.
"Bagus lah kalo gitu!lu tahu sendiri kan, kalau keinginan Sherly gak langsung kita turutin.bisa-bisa kita.. kkeeekk." Kata Dika sembari memperagakan menyayat leher dan berakhir dengan ledekan Geri.
"Tertawalah sepuas anda sebelum tawa itu hilang dari wajah anda," Kata Dika dengan wajah yang serius.
"Kok elu gitu epertasinya, Dik?"Tanya Geri.
"Ekspresi bedul, bukan epertasi!" Ralat Dika.
"Sama aja," Geri keukeuh.
"Beda," Ucap Dika tak mau kalah.
"Terserah elu lah, gue mah nurut aja." kata Geri mengalah sambil duduk di samping ranjang pasien.
"Bantu gue berdiri dong, Ger!" Seru Dika mengulurkan tangan.
"Elu mau kemana?udah sih diem aja.lagian kan kata dokter elu di larang banyak gerak, lah ini mau berdiri segala!" Nasihat Geri.
"Nurut aja, buruan!" Kata Dika dengan wajah yang serius."Kalo kita disini terus, bisa mati." Lanjutnya kemudian.
"Mati, kenapa?" Tanya Geri bingung.
"Bantuin gue dulu, baru gue jelasin" Kata Dika yang terus mengulurkan tangannya.
"Oke!" Geri menyambut uluran tangan Dika dan menarik perlahan membantu berdiri. "Sekarang, apa coba?" Tanya nya setelah Dika berdiri.
"Bantu gue duduk di kursi roda!" Perintah Dika yang dituruti Geri langsung.
"Terus?"
"Dorong gue ke luar kamar, kita pergi dari sini dan jangan lupa ambil handphone gue!" Pinta Dika pada Geri yang terus di turuti.
__ADS_1
Gelagat Dika terlihat aneh bagi Geri, tapi ia tak mau bertanya lagi selain menurutinya.
Sampai sebuah suara mengejutkannya.
Blugh...prraanngg..
Suara benda terjatuh tepat di belakang Geri, membuat bulu kuduk mereka meremang dengan hati yang tak karuan.
"Aa-apaan itu, Dik?" Ucap Geri terbata dan akan menoleh ke belakang.
"Jangan Tengok!" Larang Dika. "Gue bilang juga apa, cepetan dorong gue keluar dari sini!" Pinta Dika yang sudah tak mau berlama-lama.
Saat Geri akan mendorong kursi roda Dika, tiba-tiba sebuah tangan terulur ke bahu Geri dan menahannya untuk pergi.
"Tangan siapa nih? Bukannya di ruangan ini gak ada orang selain kita!" Ucap Geri yang mulai panik dan ketakutan.
"Geriiii...Dikaaaa....mau kemana?" Tanya seseorang yang di belakang itu, membuat mereka makin gemeteran.
"Gue merinding nih, Dik!" Seru Geri gemetar.
"Gu-gue juga, dodol! Eh, ke-kenapa dia tahu nama kita ya?" Tanya Dika terbata.
"Mana gue tahu! Mungkin dia searching di mbak google, kali" Jawab Geri asal.
"Dikira kita artis papan nama," Ucapan Dika yang mendapat protes Geri.
"Papan atas Dik, bukan papan nama!" Ralat Geri.
"Sama aja, udah ah buruan kita keluar, Ger!" Ajak Dika dengan menarik tangan sahabatnya itu.
"Tapi ini tangan gimana dong, Dik?"
"Turunin aja napa sih, susah amat!" Suruh Dika pada Geri yang sama takutnya.
"Tapi kalau...?"
"Ah elu banyak kalau nya, gue tinggal juga lu!" Kata Dika dengan menggerakan kursi rodanya ke arah pintu.
Dengan rasa takut dan masih gemetaran, Geri berusaha menyingkirkan tangan yang memegang bahunya itu, membuat si pemilik tangan mencengkram bahu Geri lebih kuat.
"Ta-tambah ke-kenceng megangnya, Dik. Gi-gimana ini?" Tanya Geri ketakutan.
"Hempasin aja yang kenceng, mesti lepas deh!" Ucap Dika pelan karena takut. Tapi, perkataannya di turuti Geri dengan menghempaskan Tangan itu sangat kencang, sampai terhempas ke nakas dan membuat suara jeritan memekik telinga.
"Aaaaakkkhhhh....." Jeritan itu bagaikan petir di siang bolong, membuat orang yang berada di dekat kamar Dika berlari ke kamarnya.
"Ada apa bang?" Tanya seseorang yang masuk ke kamar perawatan Dika. Tapi saat dia melihat sosok di belakang Dika dan Geri, ia pun berteriak. "Hantu," Teriaknya sambil menunjuk sosok itu dan berlari keluar lagi.
"Hantu?? Rumah sakit ini banyak hantunya," Guman Dika dengan gemetaran.
Karena penasaran, Dika dan Geri pun ikut menoleh ke belakang mereka. Begitu mereka menoleh, "Aaaaaa ... Hantu hitam," Mereka pun berteriak histeris, sama seperti orang yang masuk tadi.
Sosok dengan kepala yang sedikit agak besar tanpa rambut terlihat, baju robek sana sini, mata merah, seluruh tubuh termasuk wajah menghitam dipenuhi cairan yang bau dan masih menetes, tangan terulur ke atas dan ia meminta tolong dengan suara yang lirih.
"Tooolloooongg...!" Ucap sosok itu dengan memelas sambil menahan sakitnya karena hempasan Geri yang membuatnya terjatuh.
β§β§β§β§
Hantu hitam? Hemh, otor jadi penasaran.
Apa benar ada hantu hitam itu?π€π€
Lanjut gak nih?
Harus lanjut dong biar gak bikin penasaran.
Selalu biasakan rutinitasnya gaess, biar Afdolππ
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan semuanya.
πππ