
Sebulan telah berlalu. Rasa sakit hati yang di rasakan Diana sangatlah dalam, mungkin sedalam lautan!
Karena perlakuan Zyan yang cuek kepadanya, membuat Diana merasakan sakit sesakit-sakitnya. Walaupun sebenarnya, Zyan tidak ingat kepada dirinya.
Memang apa salahnya jika Zyan tak mengenalnya? Tapi, apa salahnya jika sekali saja Zyan memperhatikan orang tak penting seperti Diana?
Ah, aku juga gak tahu! Itu terserah mereka saja lah.
Rencana pembalasan dendam disusun dengan rapi. Diana di bantu orangtuanya mulai membuat strategi untuk mencelakai si tampan. Mungkin juga termasuk kedua orangtua si tampan yang akan di celakai.
"Sayang, ada yang mengirimkan surat. Dari siapanya, mami gak tahu. Tapi, surat ini tertuju kepadamu deh!" Zyan menerima amplop berisikan surat itu dari tangan Sherly.
"Hari gini masih surat-suratan. Dah gak zaman kali!" Membolak-balikan kertas itu tanpa berniat membacanya. "Mami yang baca saja, aku malas!" Diserahkannya lagi surat itu kepada sang ibu.
Sherly mengernyitkan dahi mendengar perkataan putranya sambil menerima kembali kertas itu. "Hei sayang, kenapa mami yang harus membacanya? Ini kan surat untukmu." Wajahnya mendongak menatap putranya. "Bagaimana kalo ini surat dari seorang gadis? Apa kamu yakin jika mami yang harus membacanya?" Ledek Sherly kemudian dengan terkekeh.
"Aku gak minat membaca surat. Lebih baik aku ke kantor ikut papi, lumayan kan dapet ilmu!" Ucap Zyan sambil mencium punggung tangan ibunya. "Daaahh mam, Assalamuala'ikum!" Ia pun berlalu pergi meninggalkan sang ibu yang termenung sambil memegangi kertas di tangannya.
"Waala'ikumsalam!"
Sherly tak percaya, putranya ternyata memang betul-betul keturunan si King Ice. Dingin, angkuh, dan tak perduli kepada apapun, kecuali keluarga dan sahabatnya. "King ice junior. Huuuhh!"
"Kamu memanggilku, honey?" Zidane tiba-tiba berada di samping Sherly dengan senyum manisnya.
"Huaaa, astaga papi!"
Plakkk
"Aawww, kenapa memukul pipiku? Sakit tahu!" Di elusnya pipi mulus itu oleh tangan lembut Sherly sambil nyengir.
"Hehehe ... maaf! Habis, mami kaget sih kalo papi muncul tiba-tiba seperti itu!" Zidane memutar bola mata malas mendengar alibi istrinya ini.
"Tadi mami kenapa manggil aku? Kangen ya!"
Sherly melongo tak percaya. "Kamu kok jadi seperti itu sih, pap?" Zidane mengerutkan dahinya sebelum mendengar kelanjutan dari ucapan istrinya. "Genit!" Lanjut Sherly berucap dengan menekannya.
"Hahaha ... genit sama istri sendiri kan boleh dong, mam!" Di coleknya dagu Sherly oleh Zidane.
"Hish papi, aku jadi ngeri liatin papi yang seperti itu!" Bukan Sherly yang bicara, melainkan putra tampannya.
Keduanya pun menoleh ke arah sumber suara.
"Yuk kita berangkat, pap! Sebelum aku muntah liat tingkah papi yang lebay ke mami." Kaki jenjang itu berbalik kembali ke luar melewati pintu utama.
Sherly terkekeh mendengar ucapan Zyan kepada papinya. Sedangkan Zidane menatap tak percaya sambil menunjuk ke arah putranya yang sudah tak terlihat. "Dia siapa sih? Putraku atau musuhku? Kenapa dia terlihat seperti sainganku yang cemburu karena pacarnya direbut?"
"Itu dia ... king ice junior, sudah tahu kan!" Kata Sherly terkekeh.
"Ya ampun, kok aku jadi kesel ya mam dengerin perkataannya! Kita bikin anak satu lagi yuk, biar ada yang mendukungku!" Ucap Zidane.
"Sudah tua, gak usah banyak gaya. Bukan waktunya papi punya anak lagi, tapi waktunya papi gendong cucu."
Terdengar seseorang berkata dari balik pintu utama membuat keduanya menoleh ke arahnya. Ternyata itu si tampan yang dari tadi menunggu sang ayah di depan pintu.
"Haish, anak ini ... benar-benar ya!"
∆∆∆∆∆
Hutan yang sangat lebat, dengan pohon rindang yang memenuhi hampir seluruh lahan. Suara cicitan dan raungan binatang hutan terdengar nyaring.
Dengan kaki yang terus melangkah lurus ke depan, mereka masuk semakin dalam ke hutan tersebut.
Dari kejauhan terlihat sebuah gubuk dengan pintu kayu yang sudah keropos. Rasa penasaran pun menghampiri mereka yang melihat gubuk tua tersebut.
Terdengar bunyi decitan saat pintu kayu di dorong perlahan oleh tangan seseorang.
Kreekeeetttt
"Apa ada orang di dalam?" Bisik Andra.
"Tentu tak ada lah, Ndra. Ini kan rumah kosong!" Rena ikut berbisik.
"Kira-kira, siapa ya orang yang berani tinggal di tengah hutan seperti ini?" Pertanyaan yang membuat mereka berpikir sejenak.
"Ah siapapun dia, pasti dia orang sakti."
Pandangan mereka mengedar ke seluruh ruangan di gubuk tua tersebut.
Terlihat tempat tidur yang terbuat dari bambu dengan beralaskan tikar yang sudah lusuh. peralatan dapur kumplit dengan tungku untuk memasak.
"Tak ada yang aneh disini!" Zyan membenarkan ucapan Ash.
"Lu bener Ash, disini tak ada yang ... eh tunggu!" Semuanya menoleh ke arah Zyan.
Zyan melangkah mendekati tempat tidur. Ada sesuatu di bawah tempat tidur tersebut yang menarik perhatian Zyan.
Sesuatu itu mirip dengan pintu rahasia namun cukup satu badan saja, dan terbuat dari besi.
"Ada pintu juga disini, gaes!" Ketiganya menghampiri Zyan.
Andra menunduk ke kolong tempat tidur, berusaha mengangkat pintu besi itu. "Berat banget ini gaes!"
__ADS_1
"Elu pinter banget sih jadi orang, Ndra. Singkirin dulu dong bale-balenya. Gimana sih!" Zyan mendorong tubuh Andra yang merunduk dengan tangan terulur ke depan sampai dia tersungkur.
"Wadidaw, sakit dodol. Elu itu gak punya perasaan banget sih, Zy. Tangan gue kan sakit nih kepelitek!"
Zyan hanya bersikap cuek menanggapi ocehan sepupunya sekaligus sahabatnya itu.
Tangan Zyan langsung mengangkat bale-bale untuk menyingkirkannya. "Minggir!" Nada ketus selalu keluar dari mulut si tampan.
Dengan memakluminya, ketiganya menyingkir supaya tidak terkena lemparan bale-bale tersebut. Karena jika mereka masih tak memberikan jalan bagi Zyan, maka bisa di pastikan bale-bale tersebut di lempar Zyan walaupun mengenai mereka.
Sadis kan dia.
Setelah menyingkirkan bale-bale tersebut, Zyan langsung membuka pintu besi itu yang ternyata harus di geser untuk membukanya.
"Seperti itu cara membukanya!" Andra menggelengkan kepala tak percaya.
Rena dan Ashanti tersenyum menyindir. "Cih, elu aja yang dodol Ndra." Ledek keduanya.
"Asyem Nih pintunya ngerjain gue ini, asli dah!" Elak Andra dengan menginjak sesuatu yang tergeletak dibawah kakinya dengan kencang.
Tiba-tiba ...
Dreeeeegggggdegdegdegggghhh ... Sreeekkk ... Prraaakkk ...
Gubuk tua itu terguncang hebat hingga mau rubuh.
"I-ini sepertinya sudah berbahaya!" Rasanya pasti sakit jika tertimpa reruntuhan gubuk tua ini.
"Kita harus cepat keluar!"
Sebelum mereka menyelamatkan diri, satu persatu tiang gubuk sudah berjatuhan.
"Sudah gak sempat!" Zyan menarik tangan Rena dan menyuruhnya turun.
"Gu-gue takut!"
"Turun cepet!" Terdengar nada dingin.
"Ta-tapi Zy, a-apa di bawah bakal aman?" Kedua gadis itu ragu.
Tak ada pilihan lain, Andra bertindak lebih dulu untuk membuktikan jika mereka akan baik-baik saja.
"Elu yakin, Ndra?"
"Kita perlu membuktikannya bukan!"
Tubuh jangkung Andra perlahan masuk dan tenggelam di lubang yang berukuran pas itu.
Namun Rena dan Ashanti tetap ragu dan takut.
"Kalau kalian gak mau turun, biar gue aja yang nyusul Andra!" Zyan bersiap turun untuk menakut-nakuti keduanya supaya mengikuti turun.
Tapi, keduanya tetap tak bergerak dari tempatnya berdiri sampai sesuatu membuat kedua gadis itu berteriak.
"Aaaaaaaakkkkkhhh!"
Sebuah tiang penyangga jatuh tepat ke arah mereka. Keduanya menunduk dengan ketakutan dan juga tangisan.
Bayangan terluka, cedera, atau bahkan mati tertimpa reruntuhan gubuk tua. Keduanya menangis meringkuk sampai kemudian terdengar suara bernada dingin.
"Kalau gue bilang turun ya turun. Kalian mau gue begini terus, hehh!"
Rena dan Ash mengangkat wajahnya menatap sumber suara yang ternyata Zyan sedang menahan tiang penyangga tersebut.
"Zy-Zyan!"
Tanpa berkata lagi, Rena dan Ash langsung turun mengikuti Andra untuk masuk ke lubang rahasia di susul Zyan setelah menyingkirkan reruntuhan tadi.
Brrruuuugghhhh
Terdengar benda jatuh sangat keras. Keempatnya yakin jika gubuk tua tadi sudah rubuh dan rata dengan tanah. Namun mereka tak tahu, jika gubuk itu kembali berdiri seperti semula.
Kejanggalan itu belum di rasakan mereka karena tak terlihat oleh mata mereka secara langsung.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya kepada And the genk junior.
Sreekkk
Pintu besi ditutup dengan di geser kembali oleh Zyan setelah ia masuk ke lubang itu.
Keadaan di bawah sangat gelap dan bau, membuat kedua gadis ketakutan.
Tangan Rena mendekap lengan Zyan dan Ashanti mendekap lengan Andra.
"Gue takut!" Ucapnya berbarengan.
"Tenang aja, ada gue dan Zyan kan!" Kata Andra untuk menenangkan keduanya.
"Disini gelap banget. Apa ada pintu keluar dari tempat ini?" Tanya kedua gadis.
"Entahlah, kita harus cari tahu dulu supaya tahu!"
__ADS_1
"Gue nyalain senter dari hp gue dah!"
Cahaya terang pun keluar memancar dari handphone yang di pegang Andra, membuat penglihatan mereka menajam.
Suasana dibawah ini terlihat seperti sebuah lorong dengan berdinding tanah. Bau amis tercium menyeruak menusuk indra penciuman mereka.
Mereka berjalan dengan cepat menyusuri lorong tanah tersebut sambil menutup hidung dan berpegangan satu sama lain.
"Gue gak tahan!" Rena menarik tangan Zyan dengan kencang mengikuti langkah kakinya yang berlari lebih cepat.
"Whooaa, gadis bodoh. Emangnya elu tahu jalan keluar apa!" Protes Zyan yang di tanggapi gelengan kepala saja.
Ashanti dan Andra berlari mengikuti langkah keduanya sambil mengoceh dan terengah.
"Hah ... hah ... hahh!"
"Kira-kira dong kalo mo lari, bilang dulu kek supaya kita ngikutin!" Beristirahat mengatur nafas.
"Lari tiba-tiba, sekarang berhenti juga dadakan. Tahu bulat enak di goreng dadakan, lah kalo yang ini kan bikin esmosi!" Gerutu kesal terluapkan.
"Lu berdua bisa diem gak sih!" Bentak Rena. "Gue pengen secepatnya keluar dari tempat serem ini!" Lanjutnya kesal.
"Emang lu doang, Ren? Kita juga pengen keluar, kali!"
"Kali mana?"
Ketiganya menoleh ke arah Zyan. "Hahh?? Maksud lu?"
"Iya tadi kan lu bilang kita juga mau keluar kali, ya kali mana?"
Rena dan Ash mengerutkan dahi, sedangkan Andra mengangkat sebelah alisnya menanggapi pertanyaan sodara sepupunya.
"Maksudnya, kita juga pengen keluar ... kali, bukan keluar kali. Ah elah lu Zy, tumben jadi dodol!"
"Gue kira ... keluar kali. Hahahaaa!" Dia malah tergelak sendiri.
Ketiganya hanya berdecih sebal. "Cih, stop lu ketawanya. Sekarang, kita harus pilih jalan yang mana? Kiri atau kanan?"
Sebuah jalan bercabang di depan, membuat mereka berhenti untuk memilih jalan mana yang harus mereka lalui. Keputusan ada di tangan.
Jika bernasib baik, mereka akan menemukan jalan keluar. Namun jika nasib mereka kurang baik, maka mereka akan terjebak di lorong bawah tanah itu.
Setelah berpikir dan setuju untuk memilih jalan yang berada di sebelah kiri, akhirnya mereka pergi ke arah ...
"Kanan saja!" Zyan melangkah lebih dulu.
What?
"Zy, tadi kan kita setuju untuk pilih jalan kiri, kenapa sekarang milih jalan kanan?" Tak percaya dengan keputusan yang diambil.
"Setelah gue pikir-pikir, jalan kanan adalah jalan yang benar!" Ucapan yang sangat yakin.
"Tapi ... !"
"Ayolah, percaya deh sama tuhan!"
"Woi dodol, gue kira lu bakal ngomong ... ayolah, percaya deh sama gue!" Menirukan gaya bicara Zyan. "Tahunya malah ngomong percaya sama tuhan." Ucap Ash kesal.
"Ya iyalah kalian harus percaya sama tuhan, kalo percaya sama gue kan musyrik namanya!" Tak mau mengalah.
"Ya lah, terserah lu! ya sudah, jadi kita jalan ke kanan aja?" Mereka pun mengalah. Percuma ngomong sama si tampan, dia pinter bermain kata.
"Kata siapa ke kanan? Kita akan berjalan ke kiri!" Perkataannya sudah berubah lagi.
Ketiga temannya hanya menatap tak percaya. "Apa maksud lu, Zy? Sebenarnya, kiri atau kanan yang kita pilih?"
Dengan berbolak-balik menggunakan kepalanya, Zyan berkata, "Kiri ... kanan ... kiri ... kanan ...!" Begitu seterusnya membuat ketiganya bingung.
Tiba-tiba ...
"Hahahaha!" Zyan tertawa terpingkal-pingkal.
Mereka hanya menatap heran.
"Dia kenapa sih?"
"Aneh banget deh si Zyan ini!"
"Sepertinya, hari ini dia sangat senang tertawa!"
Di saat mereka bingung, terdengar suara diantara jalan bercabang tadi.
"Tinggalkan dia!"
Ketiganya tersentak mendengar suara keras seseorang. "Siapa itu?"
"Cepat kemari dan tinggalkan dia!" Suara seseorang terdengar lagi.
"Maksudnya apa?"
Bersambung gaesss
__ADS_1