Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Malam ini begitu sepi. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh disini.


Si Machan seperti menghindar dariku. Ada apa ya?


Perasaan Zidane tak karuan. Dia terus mondar mandir di ruang tengah rumahnya.


"Ya Allah, perasaanku tak enak gini. Ada apa sebenarnya?" Dia pun melangkah menuju mushola kecil di rumahnya.


Diambilnya air wudu dan dia pun memakai sarung serta kopiah setelah berwudu.


Dia mulai melakukan gerakan-gerakan sholat berharap mendapat ketenangan hati.


Brakkk ... praaaang ... blugh.


Suara gaduh dari kamar terdengar nyaring di telinga Zidane. Namun, semua itu tak mengalihkan pada khusuk ibadahnya.


Zidane tetap melakukan sholat sampai wiridh tanpa memperdulikan kebisingan di kamarnya.


Sementara di dalam kamar.


Sherly yang merasakan hawa tubuhnya panas dan keluar garis hitam di sekujur tubuhnya. Cahaya putih yang keluar dari tanda bintang di puggungnya bersinar sangat terang.


"Ada apa sama tubuh gue? Kenapa ini panas sekali?" Ia terus menggelinjang dan menabrak kesana kemari sampai barang-barang berjatuhan.


"Aaaakkkhhh!" Erangan rasa sakit dari dalam tubuhnya tak bisa di tahan.


Zidane yang mendengar istrinya berteriak kesakitan seketika menjadi panik.


Selesai menuntaskan kewajibannya, Zidane langsung mendobrak kamarnya dengan kencang.


Brakk


Pintu terbuka dengan lebar karena di dobrak Zidane.


"Astagfirullahhaladzim!" Ia menutup mulutnya karena tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Berusaha menyentuh tubuh istrinya namun di tepis dengan keras oleh Sherly.


"Jangan sentuh!" Suaranya berubah serak.


Zidane menatap ke arah tangannya yang di tepis.


Dia gak pernah kaya gini sebelumnya.


"Siapa kamu?" Tanya Zidane singkat.


Sherly berdiri di atas meja dengan membusungkan dadanya. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku lah sang penguasa"


Kenapa dia jadi seperti ini? Sebelumnya ini tidak pernah terjadi.


"Siapa pun kamu, aku minta keluar dari tubuh istriku!" Kata Zidane namun hanya di tanggapi dengan tawa yang menggelegar darinya.


HAHAHAHA. Istrimu? Aku bukan istrimu. Aku adalah sang penguasa, kau tahu itu!"


Zidane menatap lurus mata Sherly. Tatapan matanya kosong, dan dia juga seperti bukan dirinya.


Ya Allah, berikan aku petunjukmu. Papa, mama, tolong kasih tahu aku cara untuk mengembalikan dia.


Di ambil ponselnya dan dia menghubungi ayah mertuanya. "Assalamualaikum, dad. Tolong dateng kerumah kami sekarang!"


"Ada apa nak? Kenapa kamu terdengar cemas?" Tanya tuan Hadi.


"Dad, tak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku minta daddy datang secepatnya!" Kata Zidane lagi.


Dan tuan Hadi pun langsung menutup panggilan setelah mengatakan. "Baiklah."


Zidane berusaha mencegah Sherly yang akan pergi dari rumah. Dia terus menahan kekuatan besar yang keluar dari istrinya.


"Sayang, sadar lah!" Bingung juga sebenarnya jadi Zidane. Mereka yang berbeda agama membuat Zidane kesulitan untuk berinteraksi.


"Astagfirullahhaladzim." Wajah frustasi terlihat jelas.


Tok tok tok!

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar kencang.


Zidane berlari untuk membuka pintu.


"Dad, kak Al, ayo cepat!" Di ajaknya ayah mertua dan kakak ipar menuju kamarnya.


Tuan Hadi terus mengikuti langkah menantunya ke arah kamar dengan cepat dan diikuti Aldrian dari belakang.


Mereka diam dan tak bertanya apapun kepada si pemilik rumah.


Zidane langsung membuka pintu kamarnya namun ia harus di buat terkejut karena Sherly tak ada di kamar mereka.


"Hah, dimana dia?" Zidane melangkah masuk dan langsung mencari istrinya.


"Sayang, dimana kamu?" Matanya dengan jeli melirik kesana kemari yang pasti bukan mencari alamat, melainkan mencari keberadaan istrinya.


Kak Al dan daddy terus mengikuti Zidane untuk masuk ke dalam kamar dan mencari Sherly.


"Dek, kamu dimana?" Keduanya berteriak memanggil.


Seluruh kamar sudah di telusuri bahkan ke balkon kamar pun tak terlihat keberadaan Sherly.


"Sherly, kamu dimana?" Teriak kak Al terus memanggil sambil menyusuri rumah Zidane di bagian atas.


"Dek, ini daddy sayang. Kamu dimana, nak?" Tuan Hadi mencari di bagian lantai bawah rumah menatunya.


"Machan, kamu dimana sayang?" Zidane yang mencari di bagian halaman rumahnya.


"Sudah ketemu?" Mereka menggelengkan kepala saat bertemu dan saling bertanya.


"Sebenarnya ada apa sih, Zidane?" Tanya kak Aldrian kepada adik iparnya.


"Aku juga tidak tahu, kak. Semenjak pulang, dia jadi aneh. Tadi dia mengurung diri di kamar dan saat aku shalat, aku mendengar jerit kesakitan darinya." Tutur Zidane.


Mereka pun termenung sejenak sampai mendengar auman. "Harrrghmm."


"Apa itu?" Mereka saling berpandangan mendengar suara itu.


"Itu pasti si Machan!" Mertua dan kakak iparnya saling bertatapan karena perkataan Zidane.


"Maksudnya Sherly." Mereka semakin terkejut lagi mendengar perkataan Zidane.


"Apa?" Ucapnya serempak.


"Ayo, dad, kak Al. Kita harus cepat menemukan dia!" Langkah Zidane di ikuti daddy dan lak Al.


Mereka terus mencari sumber suara dan ternyata, suara itu berasal dari atas rumah Zidane.


"Itu dia!" Tunjuk kak Al ke atas dan diikuti pandangan ayah serta adik iparnya.


"Kenapa dia seperti itu? Dia lebih terlihat seperti siluman." Lanjut kak Al.


"Kita harus membuat dia turun dad, kak." Kata Zidane serius.


"Tapi, bagaimana cara kita membuatnya turun?" Mereka pun berpikir.


"Sherly, turun sayang!" Daddy mencoba berinteraksi dengan putrinya namun dia tampak tak teralihkan.


Zidane mencari cara lain. Dia naik ke atas balkon kemudian menaiki atap rumah menggunakan tangga.


Sesampainya di atap, dia perlahan mendekat ke arah istrinya yang sedang diam tak melihat kedatangannya.


Greepp


Tangan Sherly di cengkram Zidane dengan kencang sampai dia menoleh ke arahnya.


"Mau apa kau?" Tatapan tajam mata Sherly sangat menakutkan.


"Sayang, lihat aku!" Zidane tetap menggenggam tangan Sherly sambil membacakan sesuatu.


"Akkkkhhh!" Tiba-tiba dia berteriak histeris dan meronta berusaha melepaskan genggaman tangan Zidane.


"Machan, kembalilah padaku. Kembalilah ke kehidupanku. Lepaskan semua yang ada dalam dirimu yang mengganggu." Zidane terus memegang tangan Sherly dengan hati-hati.

__ADS_1


"Akkhh, siapa aku? siapa kamu? Dimana kita?" Dia terlihat seperti kebingungan.


Kenapa dia jadi seperti ini? Ada apa sebenarnya?


Zidane tak banyak berkata. Dia terus melantunkan ayat-ayat Al-qur'an dalam hatinya.


Sherly yang terus meronta, tiba-tiba meluluh seketika. Tatapan matanya meneduh kembali dan kesadarannya berangsur kembali.


Wajah Sherly kembali normal. Dia menatap suaminya dengan lembut.


"King ice!" Zidane tersenyum saat istrinya memanggil nama kesukaannya.


"Iya, Machan. Ayo, kita turun!" Mereka berusaha turun dengan hati-hati dari atas genteng rumah itu.


"Kenapa kita ada disini?" Sherly terlihat bingung.


"Kita lagi lihatin bintang. Indah bukan?" Sherly mengerutkan dahinya saat suaminya menunjuk ke atas langit.


"Ayo, kita turun. Sudah selesai acara lihat bintangnya." Lanjut Zidane.


"Ini licin sekali, aku takut." Rengekan Sherly hanya di tanggapi senyuman.


"Kamu sendiri bisa kesini tadi. Kenapa sekarang gak bisa turun?" Kata Zidane terkekeh.


"Ish, kamu ini. Aku serius tahu!" Sherly yang cemberut membuat Zidane gemash.


"Makanya, kalau naik ke atas itu ajakin orang lain. Jangan sendirian! Kan susah kaya gini?" Candaan Zidane membuat Sherly tambah kesal.


Di tonjoknya pelan dada Zidane tanpa sadar oleh Sherly sehingga kaki Zidane tergelincir menginjak genteng.


Mungkin kalau mereka di tempat yang rata tidak akan seperti ini. Namun, ini tempat berbeda.


"Hati-hati Zidane, kalian bisa terjatuh." Teriak daddy dan kak Al.


Belum juga mulut kak Al diam, namun keduanya terlihat seperti akan terjatuh.


Slaraaakkk ... Prakkk prakkk


Genteng berjatuhan ke bawah satu persatu.


"King Ice!" Sherly menangkap tangan Zidane saat suaminya terjengkang ke belakang.


Tapi, kekuatan Sherly tak sebanding dengan berat tubuh Zidane karena posisinya di bawah. Sehingga, mereka Sherly tertarik oleh tangan Zidane dan mereka meluncur bersama genteng yang berjatuhan.


"Aaaaa!" Teriak daddy dan kak Al saat melihat mereka akan terjatuh.


Saat keduanya terjun bebas dari atap tingkat dua, tiba-tiba ...


Grep


Tangan keduanya di tangkap oleh dua hantu sahabat mereka, yaitu Nania dan Alea.


Mereka terlihat seperti melayang di udara karena pegangan dari kedua hantu tersebut.


Daddy dan kak Al melongo seketika melihat kejadian itu.


"Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa mereka bisa melayang?" Keduanya saling bertatapan tak mengerti.


Zidane dan Sherly turun dengan perlahan di tanah. Mereka langsung memeluk si gadis berisik putri bungsu Grisheld itu.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" Daddy langsung mencium kepala putrinya saat mereka mendarat dengan selamat.


"Aku tidak apa-apa, dad. Jangan khawatir ya!" Senyuman itu yang selalu ayahnya rindukan.


"Kamu kok bisa naik ke atas sih, dek?" Tanya kak Al kepada adik tercintanya.


"Aku juga gak tahu. Kata Zidane, kita sedang lihatin bintang!" Keduanya langsung menoleh ke arah Zidane yang terlihat cuek.


Mereka pun mengerti dan tak bertanya tentang itu lagi.


"Terus, kok kalian bisa melayang di udara sih?" Tatapan penasaran dari keduanya hanya di sambut senyuman dari keduanya.


"Pasti teman hantu kamu itu ya, dek?" Sherly dan Zidane mengangguk dengan perkataan kak Aldrian.

__ADS_1


"Hemh, hantu lagi hantu lagi. Dasar kalian itu, ya." Mereka tertawa dengan keluhan daddy pada keduanya.


__ADS_2