Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Usaha pencarian


__ADS_3

Zidane kebingungan dengan keadaan di sekitar tempat ini.


"Dimana kamu, sayang?" Dia terus mengedarkan pandangannya kesegala penjuru tempat ini.


Tiba-tiba ia mendengar sesuatu.


"Ganteng. Aku disini." Nania melayang dan menghampiri Zidane.


Ah, betapa senangnya dia bisa bertemu lagi dengan si babang tamvan pujaan hati otor.


"Nania? Dimana Alea?" Zidane menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan hantu genit satu lagi.


"Dia terkurung bersama istri kamu." Tutur Nania.


"Apa?" Zidane terkejut bukan main.


"Terkurung dimana mereka?" Zidane menjadi cemas sekali.


"Di salah satu bangunan tua ini."


"Siapa yang bernyali besar mengurung istriku?" Nada bicara Zidane meninggi.


"Paman kamu." Jawab Nania.


"Hendri. Kurang ajar. Dia gak pernah menyerah untuk mendapatkan istriku. Awas kau, Hendri!" Amarahnya sudah tak terbendung lagi.


"Tadi kami hampir keluar dari tempat itu. Namun, tangan si jahat menyentuh punggung si galak dan dia langsung pingsan seketika. Nania melemparku keluar biar bisa nyari kamu. Sedangkan dia menemani istrimu." Jelas Nania lagi.


"Terima kasih karena kalian masih perduli kepadaku dan istriku." Ucap Zidane tulus.


"Kalian baik. Makanya kami harus membantu kalian."


Zidane tersenyum sambil memperhatikan setiap bangunan di area ini.


Dimana kamu, sayang? Kasih aku petunjuk untuk menemukan kamu dan Alea.


Ia berharap menemukan suatu petunjuk dengan menilik setiap bangunan yang ada.


Langkah Zidane terhenti setelah mendengar perkataan Nania.


"Ganteng. Kamu harus segera menemukan istrimu! Hendri bukan mengincar nyawanya sekarang, melainkan anak kalian."


Zidane berhenti dan menoleh ke arah Nania. "Anak kami? Tapi ...!"


"Istrimu sedang hamil tiga bulan." Jelas Nania lagi.


"Hamil? Tiga bulan?" Nania mengangguk.


"Tapi, dia terlihat baik-baik saja dan tak menunjukan gejala seperti wanita hamil pada umumnya?" Zidane tak mengerti akan hal seperti itu.


"Dia tidak merasakan apapun. Karena itu anak kalian. Cuma, anak itu menahan pergerakan ibunya sehingga ibunya menjadi kesulitan dan lemah." Jelas Nania.


Zidane tak mengerti dengan yang diucapkan Nania. Jelas itu anak kami. Tapi, apa yang salah dengan itu. "Maksudnya?"

__ADS_1


"Maksudnya, karena itu anak kalian. Pria dan wanita yang memiliki tanda khusus, jika mereka bersatu dan memiliki anak, si wanita tak akan merasakan ngidam yang berlebihan. Paling muntah dan kepala merasa pusing sedikit, tidak berlebihan seperti yang lain. Tapi, perkembangan janin itu memperlambat gerakan ibunya untuk melakukan aktivitas karena energi yang ibunya keluarkan akan terserap olehnya. Sehingga, anak kalian nanti akan lebih kuat dari kalian. Makanya, paman kamu menginginkan anak kalian untuk menuntaskan hasratnya." Jelas Nania lagi.


"Jadi, kemungkinanapa yang akan Hendri lakukan dengan janin yang ada di perut istriku?"


"Dia akan mengeluarkan paksa janin yang ada di rahim istrimu. Bagaimana pun caranya, pasti akan dia lakukan." Penuturan Nania membuat Zidane semakin marah.


"Aku melihat di sana banyak makhluk yang mengerikan. Hantu dokter, hantu nenek, jin peliharaan si jahat, siluman-siluman, dan banyak lagi lah. Mungkin mereka yang bertugas melakukan pengeluaran janin di rahim istri kamu." Lanjutnya.


"Kurang ajar kau Hendri. Jika sampai terjadi apa-apa kepada istri dan calon anakku, akan kupastikan kau menderita sampai ke akhirat."


"Kita harus menyusun rencana yang bagus, ganteng. Sebab, aky yakin jika pamanmu akan lebih waspada kepada kita karena dia tahu aku pasti akan memberitahukanmu segalanya."


Zidane mengangguk mengerti. "Ayo, kita akan cari mereka dari sekarang."


"Disini tempatnya berdebu. Kau harus menutup indra penciumanmu karena kemungkinan mereka akan membuat kau sulit bernafas." Kata Nania.


Zidane mengambil kain dari jaketnya dan memakainya di wajah untuk menutupi hidungnya.


"Bagaimana jika seperti ini?"



Nania mengacungkan jempol dan tersenyum senang. "Lets go!"


Mereka berdua berjalan menyusuri setiap bangunan di sini. Satu persatu mereka teliti dan cermati.


"Apa kamu tidak ingat rumah yang mana?" Tanya Zidane.


"Tadi aku melayang keluar dari rumah bagus. Namun saat aku berbalik, rumahnya jadi berubah seperti ini. Aku bingung karena tak ada siapapun disini. Teman si galak saja sudah pergi karena ketakutan."


"Pasangan suami istri itu."


"Dika dan Iren?"


"Ya. Tapi, mereka lupa kalau anak mereka masih di tahan di dalam untuk mengancam istrimu." Kata Nania.


"Eh, ganteng. Aku heran deh sama istrimu. Kenapa dia tak bilang sama kedua temannya itu kalau Hendri ingin mencelakai mereka semua? Padahal jika dia bilang, mungkin saja temannya itu bisa membantunya dari masalah ini."


"Dia tidak akan membahayakan nyawa orang lain, apalagi itu sahabatnya." Tutur Zidane.


"Kenapa?" Nania bertanya dengan penasaran.


"Karena, teman-temannya itu tidak bisa melihat hantu gentayangan seperti kalian. Jika dia membocorkan rahasia dan membuat Hendri marah, apa yang akan dilakukan orang jahat itu kepada mereka? Pasti mereka gak bisa melawan makhluk tak kasat mata seperti bangsamu."


Nania mengangguk mengerti. Benar juga yang di katakan Zidane. Bagaimana jika si jahat marah dan melampiskan kepada mereka yang tak bisa melawannya? Oh ya tuhan, ini benar-benar masalah yang sulit.


"Tidak ada yang sulit jika kita berusaha dan bersatu untuk melawannya." Nania langsung menoleh ke arah Zidane.


"Bagaimana kau tahu apa yang hatiku ucapkan?"


Zidane hanya mengedikkan kedua bahu dan ia berjalan terus tanpa berhenti.


"Hei ganteng. Aku makin penasaran deh sama kamu. Kamu itu orang seperti apa sih? Kenapa kamu bisa memdengar perkataanku dalam hati?"

__ADS_1


"Suaramu terdengar sampe halte bis, Nania. Bagaimana aku gak bisa mendengarnya?" Jawab Zidane asal.


"Masa sih?" Sejenak ia berpikir. Sedangkan Zidane hanya tersenyum.


Mereka melanjutkan berjalan lagi sambil mengobrol dan sedikit bercanda.


Aku harus setenang mungkin mencari Machan kesayanganku itu. Kalau tidak, dia tak akan bisa di temukan dimanapun.


Hendri. Kau salah memilih lawan kali ini. Jika terjadi sesuatu sama istriku itu, kau akan menderita di sisa hidupmu. Dulu aku masih kecil saat kau membunuh kedua orang tuaku. Tapi sekarang, aku mampu melawanmu bahkan semua makhluk peliharaanmu sekalipun.


"Eh ganteng. Kenapa kamu terlihat tenang sih mencari si galak?" Nania bertanya dengan penasaran.


"Bukankah kamu bilang jika Alea bersamanya?" Nania pun mengangguk.


"Ya sudah. Dia pasti melindungi istri dan calon bayi kami." Ucapnya tenang.


"Tapi ... iya juga sih. Ya sudah lah, kita lanjut lagi pencariannya." Nania tetap melayang mengekor di belakang Zidane.


Namun seketika langkahnya terhenti karena mendengar sesuatu.


"Berhenti Nania. Ada sesuatu yang mengawasi kita diantara bangunan itu. Berhati-hatilah!" Peringat Zidane.


"Mana ... mana?" Nania malah panik.


"Jangan panik, Nania. Mereka akan sadar jika kita sudah mengetahuinya. Kita berjalan saja dengan santai dan biarkan mereka menganggap kita tak mengetahui keberadaan mereka." Jelas Zidane.


"Baiklah." Ucap Nania singkat dan menurut langsung kepada perkataan Zidane.


"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Nania.


"Bersikap seperti biasa dan berpura-pura tak tahu saja. Biarkan mereka yang menunjukkan wujudnya di depan kita."


Nania pun tetap melayang mengikuti Zidane setelah mendengar penjelasan darinya.


Benar kata Zidane, karena keduanya berjalan dengan santai, para makhluk terkutuk itu turun dan menampakkan wujud aslinya di depan Zidane dan Nania.


Wussshhhh


Angin kencang menerpa keduanya dan seketika munculah sesosok makhluk berbadan besar.


"HUHAHAHAAAAA ... MANUSIA LEMAH YANG BERTEMAN DENGAN HANTU KECIL." Dia mengejek Zidane sambil melirik Nania.


"Hei, siapa yang kau bilang manusia lemah dan hantu kecil? Dasar makhluk besar yang berotak jongkok." Nania tak mau kalah.


"Nania. Berhenti berteriak! Biarkan saja dia mau berkata apa. Kita harus susun rencana untuk mengalahkan makhluk besar ini." Bisik Zidane.


"Tapi ...!" Nania pun tak bisa melanjutkan aksi protes karena kedipan mata Zidane untuk menyuruhnya diam.


"Baiklah." Dia pun diam seketika.


Kedipan matanya itu lho! Auto klepek-klepek nih.


Sedangkan Zidane memikirkan cara agar bisa memancing makhluk ini untuk menunjukan keberadaan istrinya dan teman hantu mereka.

__ADS_1


Aku harus menggunakan otak untuk bertarung dengan makhluk ini. Jika aku menggunakan otot, sudah pasti nanti kelelahan saat menemukan si Machan.


__ADS_2