Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Tempat Baru


__ADS_3


Tepukan tangan di bahu membuat keduanya terhenyak. Mereka sampai meregangkan tubuhnya.


Perlahan keduanya pun menoleh ke belakang yang ternyata ...


"Hai!" Kedua hantu cantik tersenyum ke arah mereka.


"Astaga, jantung gue mau copot." Sherly sampai mengelus dadanya dengan bersandar di tembok lorong.


"Hehehe, maaf!" Alea dan Nania tersenyum dengan mengangkat dua jari di depan.


"Ganteng, paman jahatmu lagi nyari kalian disana. Kita harus gimana?" Kata Nania.


"Aku tahu, makanya aku ngajak si Machan kesini untuk bersembunyi." Jelas Zidane.


Keduanya mengangguk. "Ooohhh!"


Dua orang melintas di hadapan mereka dengan raut wajah kesedihan. Mereka tampak kebingungan seperti kehilangan sesuatu.


"Bagaimana ini, sayang? Pesawat sebentar lagi berangkat, tapi kita belum menemukan paspor kita." Ucap si wanita.


"Sabar, sayang. Kita cari di sebelah sana, siapa tahu ketemu!" Si pria menenangkan.


Keduanya terus menunduk mencari untuk bisa menemukan barangnya yang hilang.


Zidane mendapatkan ide. "Permisi, maaf sebelumnya. Kalian mencari apa?" Tanya Zidane kepada mereka.


"Kami mencari paspor kami yang hilang. Tadi gak sengaja ada yang nyenggol istri saya sampai semua barang terjatuh." Jelas pria itu.


"Dan paspor kami ...!"


Zidane langsung memotong ucapan istri dari pria tersebut. "Kemana tujuan kalian?"


Keduanya saling pandang.


"Kemana?" Tanya Zidane lagi membuat mereka terkejut.


"Ke Prancis." Jawab mereka dengan cepat.


"Bagus." Zidane menjentikan jarinya.


Mereka kembali saling bertatapan.


Haish, kenapa orang ini membuat kita terkejut terus.


"Ambil ini dan berangkat sekarang juga!" Zidane memnerikan paspor kepada mereka.


Mereka lagi-lagi saling menatap sambil menerima paspor dari tangan Zidane.


Zidane menuliskan sesuatu di kertas yang dilipatnya kemudian di berikan pada kedua orang itu.


"Berikan ini kepada temanku setelah kalian naik pesawat. Ini orangnya." Di perlihatkan fhoto Indra kepada keduanya.


"Ingat, harus orang ini. Jangan istrinya!" Zidane memperingatkan.


Mereka pun mengangguk. "Baiklah, tuan." Ucap keduanya.


"Tapi, kami harus mengganti berapa?"


"Tidak perlu. Kalian cukup menggantikan kami untuk pergi saja!" Tukas Zidane membuat keduanya senang.


"Terima kasih, tuan." Ucap keduanya sopan.


Akhirnya, mereka lah yang menggatikan Zidane dan Sherly untuk berangkat ke Prancis.


Hendri terlihat berlari menaiki pesawat saat pengumuman keberangkatan pesawat yang hanya tinggal beberapa menit lagi.


Dia melihat daftar nama penumpang yang entah darimana dia dapat.

__ADS_1


Tertulis nama Sherly Prasetyo dan Zidane Prasetyo, juga nama Indra dan Andin.


Hendri pun tersenyum sambil duduk di kursi penumpangnya di kelas eksekutif.


Pesawat pun lepas landas di langit bandara internasional jakarta.


"Dadah!" Sherly melambaikan tangan ke arah pesawat yang sudah terlihat di langit.


"Jadi, sekarang kita mau kemana?" Tanya Sherly kepada suaminya.


"Ikut dia!" Tunjuk Zidane pada seseorang yang baru saja datang.


Sherly pun menoleh kearah belakangnya.


"Geri?" Dia menoleh ke arah Zidane yang tersenyum manis.


"Ini maksudnya apa?" Sherly tak mengerti.


"Kita akan pergi bersama dan pindah ke tempat dimana orang gak akan mudah menebaknya." Jelas Geri.


"Jadi, elu udah tahu Ger kalau kita ...?" Geri mengangguk dengan perkataan Sherly.


"Astaga. Sejak kapan?" Tanya Sherly lagi.


"Sejak elu berubah malam itu. Kak Al menjelaskan semuanya. Gue gak nyangka jika Hendri ngelakuin itu hanya untuk kepentingannya semata." Ucap Geri.


"Berubah gimana sih? Gue gak ngerti deh!" Sherly yang penasaran tak bisa mendengar penjelasan dari sahabatnya karena Zidane melerainya.


"Yuk, kita berangkat sekarang!" Ajaknya pada keduanya.


"Tapi-tapi, aku harus tahu apa yang terjadi malam itu?" Sherly bertanya terus.


"Ayo ah, pesawatnya akan segera berangkat!" Zidane terus menarik tangan istrinya untuk menaiki pesawat lain dengan tujuan lain tentunya.


"Tapi, kita akan pergi kemana?" Sherly terus bertanya namun kedua pria di sampingnya tak menghiraukan pertanyaan Sherly.


Ketiganya pergi ke tempat yang tak mungkin Hendri perkirakan.


Sekitar jam sebelas malam, mereka tiba di bandara internasional Yogyakarta.



"Selamat datang di kampung halaman eyang kakung!" Geri merentangkan tangannya saat menuruni pesawat.


Sherly mengedarkan pandangannya. "Jogja?" Geri mengangguk.


"Di sinilah kita akan tinggal dan memulai hidup baru kita menjadi orang biasa." Sherly menoleh ke arah suaminya.


"Kamu siap kan kalau kita hidup sederhana?" Pertanyaan yang sulit di jawab Sherly.


"Maksud kamu gimana?"


"Aku sudah mengalihkan semua aset perusahaan DIAMON EMPEROR GRUP yang ada di Indo dan di Belanda kepada kak Aldrian untuk dia kelola. Yang di Prancis dan di China, aku alihkan atas nama Andin. Biarkan Indra belajar bertanggung jawab atas semuanya. Sedangkan yang ada di Jerman, aku alihkan atas nama Rian." Jelas Zidane.


Sherly menatap tak percaya pada suaminya itu. "Jadi, kamu melepas semua demi menjauhkan aku dari bahaya dan kejahatan kak Hendri?"


Zidane melangkah meninggalkan istrinya dengan pertanyaannya.


"Hei King Ice! Kamu belum jawab pertanyaanku." Sherly mengejar suaminya yang sudah berjalan jauh.


"Sudah lah, Sher. Ikutin aja kata suami lu." Geri merangkul bahu Sherly yang berjalan dengan cemberut.


"Harta bisa di cari, tapi kebahagian sulit untuk di dapat lagi. Yang penting kalian hidup tentram!" Nasihat Geri pada sahabatnya.


Mereka berjalan keluar untuk mencari taksi yang akan mengantar ke tempat tujuan.


Hidup baru, identitas baru, usaha baru, dan pengalaman baru. Semua di mulai dari nol kembali.


Sedangkan di pesawat lain. Indra yang mendapat surat dari Zidane pun membaca dalam diam. Dia mengerti akan keputusan kakak iparnya itu.

__ADS_1


"Semoga kalian bahagia di sana. Terima kasih untuk segalanya, tuan muda. Semoga kita bertemu lagi suatu saat nanti." Dia pun menyimpan kembali surat dari Zidane ke kantong jaketnya.


🍁🍁🍁🍁


"Sayang, kemarilah! Tolong bantuin aku dong!" Sherly berteriak memanggil suaminya.



Dia tampak sibuk di dapur dengan semua bahan untuk membuat sesuatu sampai suaminya terheran dengan dapur yang berantakan karena ulah istrinya ini.


Di meja pantry tampak bertebaran roti tawar yang entah buat apa karena Zidane sendiri tak tahu. Semua piring dan mangkok kecil tersusun di meja.


Dia sebenarnya lagi ngapain sih? Dapur sampai berantakan seperti ini?


Namun Zidane tak mengatakan apapun. Dia memilih bersikap manis sambil merangkul bahu istrinya.


Zidane menghampiri istri tercintanya yang sedang berjibaku dengan semua aktifitasnya. "Ada apa sih, cintaku?"


"Tolong cicipi ini. Apa ada yang kurang?" Tanya Sherly dengan menaruh potongan kue di piring kecil untuk di cicipi suaminya.


Zidane langsung mengambil potongan kue itu dan memakannya. "Emm, ada sedikit yang kurang. Tapi, selebihnya enak kok!" Kata Zidane dengan mengangkat jarinya di depan.



"Apa itu?" Sherly menatap suaminya.


"Yang kurang adalah cinta dari istri tercantikku. Cup." Pipi Sherly di cium suaminya


"King Ice. Aku serius tahu!" Rengekan Sherly hanya di tanggapi gelak tawa oleh suaminya.


"Kue buatanmu enak kok, Machan. Tanya aja sama mereka." Kedua hantu wanita temannya pun menghampiri karena merasa terpanggil.


"Kita akan beri penilaian. Ayo, kue mana yang akan kami cicipi?"


"Nih, cicipin yang ini. Harus jujur dan tak boleh berbohong. Jika kalian berbohong, gue tentang kalian berdua dari rumah gue!" Ancaman Sherly hanya di tertawakan keduanya.


"Baiklah nyonya muda. Kami akan jujur mengatakan apapun itu. Tapi kau harus berjanji, tak akan marah jika mendengar penilaian kami." Mereka pun sepakat dengan mengaitkan jari kelingking.


Potongan kue pun masuk kedalam mulut Nania dan Alea. Mereka sampai mengernyitkan dahinya.


"Kok rasanya kek gini sih, Chan?" Tanya kedua hantu cantik itu.


Sherly menatap serius pada keduanya yang terlihat menyipitkan mata setelah memakan potongan kue buatannya.


"Gimana sih rasanya? Ayo dong, jangan bikin gue penasaran!"


"Kue ini rasanya seperti ...?" Sherly harap-harap cemas dengan jawaban keduanya sampai dia tak bisa menunggu.


Diambilnya kue dari piring kecil itu dan dia pun memakannya. Dia terdiam merasakan kue buatannya itu sebelum melepehkannya kembali. "Asin."


"Hahaha. Aku sampai tak tega ngucapinnya." Kata Alea dengan melirik Zidane.


"Iiih, kalian bohongin gue. Kamu juga, kenapa kamu bilang kalau kue buatan aku enak?" Cerca Sherly pada suaminya.


"Apapun buatan istriku, selama dia berusaha menyenangkan dan melayani suaminya, aku akan memakannya walaupun rasanya aneh!" Kata Zidane terkekeh.


"Hahaha! Di telen semua ya, ganteng."


β–ͺβ–ͺβ–ͺ


Beli ikan di pasar baru,


Ikan di masak pake sambel terasi.


Semua yang baca ceritaku,


Kuucapkan terima kasih.


Salam semangat dari author manis yang manisnya tak kalah dari permen gulali.πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2