Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Dokter Steven Riandi


__ADS_3

"Zidane kurang asyem, masa dia bilang jodohku itu dokter kandungan yang mau meriksa istrinya! Dokter Reni kan usianya sudah tua, seumuran almarhum mama. Huuh, dasar sok tahu!"


Baru saja dia ingin bertemu dengan dokter kandungan yang di mintai Zidane untuk memeriksa kandungan istrinya. Dia pun meminta dokter terpercaya yang bisa menjaga rahasianya supaya tak membocorkan soal kandungan Sherly kepada orang lain. Dengan alasan takut musuhnya mengetahui jika kandungan Sherly selamat.


Dokter Reni sudah berusia sekitar lima puluh dua tahun. Karena kepikiran tentang ucapan Zidane, ia pun khusus menemui dokter kandungan yang akan di tugaskan Zidane.


Rian berjalan dengan menggerutu sampai tak melihat jalan sekitar. Tiba-tiba, dirinya menabrak seseorang yang sedang berjalan berlawanan.


Brukk


"Aduh!" Suara ringisan wanita mengaduh karena tertabrak oleh Rian.


"Maaf, aku gak senga ...!" Tatapan mata Rian tak lepas dari wanita yang ada di hadapannya kini.


Seorang wanita berhijab dengan memakai pakaian serba putih ciri khas seorang dokter.


Mata Rian menyapu seluruh wajah wanita cantik yang ada di hadapannya sampai jatuh di dada kanan yang ada tag name dokter Karmila.


"Gak apa-apa. Permisi!"


Senyum wanita ini membuat Rian terpaku di tempat sampai tak mengedipkan matanya.


Dokter Karmila melangkah pergi meninggalkan Rian yang masih terpaku di tempat dan hanya memandang lurus kedepan sampai bayangan dokter cantik itu hilang.


"Ya tuhan. Dia cantik banget!" Senyum Rian masih tak menghilang dan terus memuji kecantikan dokter muda tadi.


*


Tok tok tok


"Masuk!" Suara seseorang mempersilahkan.


Dengan segera Rian mendorong pintu supaya dirinya masuk kedalam ruangan tersebut.


Rian membungkuk dengan senyuman di bibir seksinya. "Permisi, dokter Reni. Saya dokter Steven yang sudah membuat janji temu dengan anda!"


Dokter Reni mendongak menatap Rian dan menyambutnya dengan senyuman.


"Oh, ini toh dokter Steven. Dokter paling tampan di rumah sakit ini, sekaligus dokter pribadi keluarga Prasetyo. Silahkan duduk, dok!" Puji dokter Reni sambil membenahi kacamatanya.


"Terima kasih, dok! Anda terlalu memuji."


Rian tersenyum, kemudian duduk bersebrangan dengan wanita paruh baya di hadapannya.


"Begini, dok. Kedatangan saya kemari karena ...!" Sebelum Rian melanjutkan ucapannya, dokter Reni langsung berbicara.


"Tuan muda Prasetyo sudah membicarakannya dengan saya tentang masalah ini." Potong dokter Reni.


Lah bocah, udah minta dokter Reni masih nyuruh aku nemuin dia.

__ADS_1


Rian kesal karena ternyata Zidane sudah mempermainkannya.


"Iya, dokter. Lalu bagaimana?"


"Saya setuju dengan permitaan tuan muda ini, hanya saja ... maaf, saya tidak bisa menanganinya secara langsung. Jadi ...!"


Rian yang sudah tahu kalau dokter Reni akan menolak untuk menangani kesehatan kandungan istri sahabatnya itu pun langsung kecewa.


"Jadi, anda menolaknya ya dok. Baiklah, saya permisi!"


Yaelah, belum juga aku ngomong dia udah nolak aja. Tahu lah dokter spesialis, bawaannya sibuk mulu dan tak mau menangani masalah kecil ini.


Rian berdiri dan bersiap melangkah. Daripada harus mendengar penolakan yang menyakitkan dan membuang waktu, lebih baik dia segera pergi dan mencari dokter kandungan yang baru. Karena Zidane memberinya waktu sampai siang, jadi dia harus segera mencari pengganti.


"Dokter Steven, saya belum menyelesaikan ucapan saya lho! Kenapa anda terlihat kecewa?" Dokter Reni menghentikan langkah Rian.


Rian pun berbalik menatap dokter Reni kemudian membungkuk sebelum pergi.


"Saya tahu yang akan anda katakan, dokter. Tapi, saya harus secepatnya mencari dokter lain supaya Zidane tak marah!" Dokter Reni hanya tersenyum menanggapi perkataan Rian.


"Kenapa harus mencari pengganti? Apa anda sudah punya pilihan makanya anda tak setuju dengan saya?"


"Maksud dokter?" Rian tak paham.


Dokter Reni tersenyum kemudian berdiri, "Saya bilang maaf karena saya tak bisa menjalankan apa yang diminta tuan muda. Tapi ... dokter yang saya pilihkan bisa melakukannya!" Jelas dokter Reni.


Rian tersenyum kikuk. Dia malu karena sudah berprasangka buruk pada dokter paruh baya di hadapannya ini.


"Tidak. Dokter rekomendasi saya." Ulang dokter Reni.


"Ah iya, maksud saya dokter pilihan anda." Rian terlampau senang melihat dokter Reni mengangguk. Dia berjingkrak-jingkrakan karena sudah merasa berhasil.


Yes. Akhirnya selesai sudah tugas dari si tuan muda dingin itu. Huuuh, si sombong itu gak bakalan nyuruh aku pergi karena aku berhasil mencarikan dokter spesialis untuk istri tercintanya. Ahhhh, senengnya!


Tanpa sadar, seseorang yang baru saja masuk ke ruangan dokter Reni pun harus melihat aksi kocak Rian yang sedang kegirangan.


Dokter Reni hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Rian yang lucu dan kekanak-kanakkan.


"Ekhem." Deheman seseorang sukses menghentikan aksi konyol Rian.


Rian berhenti kemudian menoleh ke belakang. Saat dirinya berbalik, betapa terkejutnya ia karena wanita cantik yang tadi bertemu dengannya di lorong rumah sakit, harus melihat aksi konyolnya itu.


"Dokter memanggil saya?" Dokter muda itu masuk ke ruangan dokter Reni sambil tersenyum dan megangguk kepada Rian.


Rian menggaruk kepalanya tak gatal. Dia terlanjur malu saat ini.


"Silahkan duduk, dokter Mila!"


Si pemilik nama langsung mendaratkan bokongnya di kursi.

__ADS_1


"Apa anda sudah mengetahui tugasnya, dokter Mila? Saya harap anda profesional dalam melaksanakan tugas apapun yang harus di kerjakan." Dokter Reni berkata dengan ketus dan tegas.


"Ah iya, saya sudah ...!"


"Jangan bilang sudah mengerti tapi ternyata kamu tak paham!" Ketus dokter Reni.


"Maaf, dokter. Mungkin saya ...!"


Mendengar nada bicara dokter Reni kepada dokter muda ini, Rian menjadi tak tega.


Rian secepat kilat langsung memotong ucapan Mila sebelum ia menyelesaikannya.


"Tidak apa-apa, dok. Saya yang akan memberitahu semuanya tentang tugas yang di berikan Zidane. Kami akan mendiskusikannya di ruangan saya."


Tangan Rian mendarat di bahu Mila dengan maksud supaya dokter Reni tak membentak Mila lagi.


Mata dokter Reni melirik tangan Rian yang mendarat di bahu Mila. Dia pun tersenyum sinis. Sedangkan Mila berusaha meyingkirkan tangan Rian di bahunya karena melihat tatapan sinis dokter Reni. Tapi, lagi-lagi Rian malah dengan sengaja menekannya.


"Oh, gitu ya. Tapi ngomong-ngomong, apa dokter Steven sudah mengenal dokter Mila sebelumnya? Sepertinya kalian terlihat akrab?" Tanya dokter Reni tak percaya.


"Sudah kok, dok. Kami berteman sudah lama, iya kan dokter Mila!" Rian mengedipkan sebelah mata meminta persetujuan Mila.


"Oh, sejak kapan itu? Saya baru tahu kalau kalian saling mengenal. Jika kalian saling mengenal, kenapa dokter Steven meminta saya menangani kasus ini?" Tanya dokter Reni lagi.


Rian jadi bingung. Harus jawab apa dia sekarang dengan pertanyaan dokter Reni.


"Saya hanya di suruh Zidane saja untuk menemui anda. Saya tidak tahu kalau anda akan meminta dokter Karmila untuk menggantikan anda."


"Jadi, kalian memang benar-benar sudah saling kenal ya?" Ledek dokter Reni.


Mila tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dokter Reni.


"Iya, kami sudah saling kenal sebelumnya kok ... mama!"


"Iya, mam ... eh, mama?" Rian menoleh ke arah dokter Reni kemudian menatap Mila dengan rasa malu.


"Mammmaa!" Keduanya tersenyum membuat Rian semakin malu.


Ingin sekali Rian menyusup ke balik selimut atau menenggelamkan diri kedasar bumi. Rasa malunya teramat sangat sampai dia tak mampu menatap keduanya.


"Baiklah dokter Steven, dokter Mila akan menemui anda di ruangan anda!" Ucap dokter Reni terkekeh.


"Ba-baik dokter Reni. Saya akan tunggu dokter Mila di ruangan saya. Permisi!"


Rian membungkuk kemudian melangkah keluar dari ruangan dokter Reni dengan terburu-buru.


Sialan. Maksud hati ingin membuat dokter Mila terkesan karena menolongnya, eh malah jadi memalukan. Haish, Rian ... Rian. Dodol banget sih!


Setelah pintu tertutup, kedua ibu dan anak itu tertawa terbahak menertawakan tingkah Rian yang lucu.

__ADS_1


"pfffttt ... hahaha. Dokter Steven sangat lucu."


__ADS_2