Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kecelakaan Geri


__ADS_3

Ritualnya gengs, sertakan like, komen, dan vote.jangan lupa favoritkan serta follow akun otor ya.


Happy reading...


Empat jam sebelum kejadian😲😲


"Gengs, ada cafe baru dekat Grand mall, kata orang tempatnya cukup nyaman lho. kita nongkrong sana, yuk!"Ajak Sherly pada semua sahabatnya.


"Tapi, gue kan belum gajian, gue sekarang in the kost.so, gue harus menghemat lah beib"Tutur Iren dengan sedih.


"Kan ada aku yank, kamu mah aku yang traktir!"Kata Indra yang melingkarkan lengannya di leher Iren.


"Kalau gue, siapa yang traktir?"Tanya Dika dan Geri berbarengan.


"Dia!"Tunjuk Indra dan Iren kompak ke arah Sherly.


"Oh, bagus ya.nih dua sejoli kompakkan?" Cibir Sherly pada keduanya.


"Iya lah, kan kita satu hati ya?"Indra dan Iren saling menepukkan telapak tangannya.


"Eh Ndra, sebelum kita pergi nongkrong, sebaiknya kita nganterin mobil pelanggan yang kemaren di betulin deh!tadi pagi kan orangnya telpon lagi pesen gitu, kalau udah beres minta buru-buru dianterin"Kata Geri pada Indra.


"Emang sudah beres?"Indra bertanya.


"Sudah, yuk anterin!"Ajak Geri pada Indra.


"Elu saja ya yang anterin, gue kasih bonus deh!"Indra membujuk Geri.


"Wah kampret lu, masa gue sendiri yang nganterin kesana?temenin dong.gue takut ke sasar nih!"Geri merengek layaknya anak kecil.


"Idih, elu mah.manja bener sih?gak bakal nyasar, gue yakin tuh.kan ada mbak google. cari saja alamatnya!"Indra keukeuh gak mau nganter.


"Ah, elu mah tega nih sama gue!"Kata Geri.


"Ger, kalau menurut gue sih lebih baik besok saja nganterinnya.soalnya gue khawatir sama elu.biarin orangnya ngomong apa, yang penting lu gak kenapa-napa!"Kata Sherly yang merasa khawatir dengan keselamatan Geri.


Ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi sama temannya itu.


"Ah, dia kan cowok.lagi pula ini masih siang kali beib, tuh lihat, masih jam 4 sore."Kata Iren.


"Ya sudah, sana temenin sama Indra.Dia jangan pergi sendirian dong!kan kasihan" Kata Sherly yang di cemberutin Iren.


"Gue mau pergi sama Indra, mau beli kebutuhan buat di kost gue.jadi, sorry ya Ger, Indra gak bisa nemenin lo?"Kata Iren dan Indra pun mengedip-ngedipkan matanya.


"Cih, pacaran mulu.yang punya bengkel siapa, yang sibuk siapa?"Cibir Geri.


"Gue kan bosnya.hahaha"Indra malah tertawa dengan cibiran Geri.


"Asli, gue jadi gedeg bener dah kalo sama orang pacaran, gak tahu waktu"Geri semakin mencibir Indra.


"Eh, kok elu diem aja sih Dik, tumben amat. Biasanya kan elu paling rame?"Pertanyaan Geri mengalihkan pandangan mereka ke pojokkan yang terlihat Dika sedang duduk di sana.


"Iya sih, apa elu ada masalah?atau ada yang ganggu pikiran lu saat ini?cerita dong!"Indra mendekati Dika, namun ia berdiri dan melangkah.


"Gue balik dulu deh, bye!"Ia pun melangkah pergi dengan motor sportnya.


"Dika, elu mau kemana?bukannya kita mau hang out, kok elu pergi sih?"Teriak Indra memanggilnya.


Namun Dika tak memperdulikan panggilan sahabatnya, ia cuma melambaikan tangan ke arah mereka dan pergi begitu saja.


"Ada apa dengan si Dika?kok dia jadi aneh gitu?"Indra menatap heran.


"Iya ih, tumben dia jadi pendiam, biasanya dia paling rame?"Geri menimpalinya.


"Hooh, apa ada masalah?bukannya masalah duit kontrakan enyak sudah beres, kok dia masih murung saja?"Kata Iren bertanya pada mereka.


"Apa dia masih marah sama gue tentang itu?kenapa Dik, kenapa jadi begini?"Batin Sherly menatap diam dengan kepergian Dika.

__ADS_1


"Apa benar yang dikatakan enyak, kalau dia frustasi karena di tolak cewek?"Tanya Iren pada mereka.


"Haish, cewek bodoh mana yang menolak sahabat kita yang baik dan gokil itu?"Kata Indra sambil duduk di kursi depan.


"Dia salah paham sama gue, dia menyangka kalau gue jadian sama......"Andai Sherly bisa mengatakan itu pada sahabatnya.


"Sher, kok elu ikutan ngelamun sih?"Iren menggoyangkan badan Sherly.


"Hah, emmhh..gue..gue"Sherly menjadi gugup dengan pertanyaan Iren.


"Ya sudah lah, kita pergi dulu.yuk, yank!"Ajak Indra pada Iren, ia pun menggenggam tangan pacarnya dan melangkah pergi.


"Bye"Keduanya melambaikan tangan kearah Sherly dan Geri sebelum pergi dengan motor sportnya Indra.


"Haish, nasib gue jadi karyawan.gue harus nganterin mobil ke tempat pelanggan.huh, si Indra emang kurang asem,"Geri mengeluhkan tingkah sahabatnya itu.


"Ngertiin lah Ger, namanya orang pacaran ya kaya gitu!"Tutur Sherly pada Geri.


"Oh iya Ger, elu jangan pergi ya.mending besok saja nganterinnya, perasaan gue gak enak nih!"Kata Sherly memegang pundak Geri.


"Gimana dong Sher, orangnya minta dianter sekarang.kalau enggak di kirim, duitnya gak di bayar dong.gue kan lagi butuh duit buat nambahin bayaran sekolah adek gue."Kata Geri dengan tertunduk lesu.


"Kenapa elu gak ngomong ke gue kalau lagi butuh duit?gue kan bisa bantu elu,"Sherly menatap Geri.


"Gue ya gak mau ngerepotin elu lah Sher, ini kan urusan keluarga gue, jadi biar gue yang urus ini semua"Tutur Geri.


"Elu kaya sama siapa saja Ger, kita kan sudah seperti keluarga.kok jadi canggung gitu?"Kata Sherly.


Geri tersenyum dan menepuk pundak Sherly.


"Thank you so much, tapi ini tanggung jawab gue.selama gue mampu, gue akan berusaha mengurusi semua kebutuhan keluarga gue. Nanti ada saatnya gue minta tolong sama kalian, di saat gue sangat kesusahan."


"Hemh, terserah elu deh.mau berangkat ke sana kapan?"Tanya Sherly.


"Sekarang kayaknya.anterin gue ke bengkel ya, mau ngambil dulu mobilnya"Pinta Geri.


Setelah mengantar Geri ke bengkel untuk mengambil mobil pelanggan, Sherly pun melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


"Hati-hati di jalan Ger, kalau ada apa-apa segera telpon gue!"Kata Sherly sebelum ia pergi.


Geri pun membawa mobil pelanggan yang sudah ia betulkan dan mengantarkannya ke komplek perumahan dekat danau.


Ia tidak tahu kalau di area komplek perumahan itu sedang terjadi kerusuhan akibat teror kuntilanak merah.


"Apa ini alamatnya?"Geri melihat kertas yang sudah di tulis alamat si pelanggan.ia pun membuka aplikasi google maps dengan handphone nya dan ternyata memang benar alamatnya.


"Beneran kok di sini, tapi kenapa sepi ya?" Ia terus memperhatikan keadaan sekitar area perumahan itu yang sepi bagaikan di kburan.


Sampailah Geri di rumah pemilik mobil.


"Permisi pak, bu, "Geri mengetuk pintu namun si pemilik rumah tidak ada yang membukakan pintu.


Karena kesal, ia pun menelpon ke nomer telpon si pemilik.ternyata terhubung dan ada di rumah.


Pemilik pun mengintip dari balik gorden dan ia pun bertanya pada Geri apa dia memang asli orang atau makhluk halus.


Geri yang kesal dan tak terima dengan perkataan pelanggan pun langsung menggedor dan menendang pintu rumah sampai si pemilik terkaget dan ia buru-buru membukakan pintu untuk Geri.


"Maaf mas, kami takut orang jahat."Kata si pemilik rumah.


"Orang jahat apanya, kan saya barusan menelpon bapak kalau saya sudah di depan rumah bapak.ini kunci mobilnya, semuanya sudah beres tinggal sisa pembayaran saja" Kata Geri lagsung ke intinya.


"Iya mas, silahkan masuk dulu.saya akan ambilkan uangnya.


"Didalam rumah pelanggan itu, Geri seperti di awasi oleh istri dan anak pemilik rumah. Ia merasa terus di perhatikan gerak geriknya oleh mereka.


"Gila, bukannya di kasih minum sama cemilan, gue malah di awasi kaya penjahat. Apa di sini terjadi sesuatu sampai mereka seperti itu ya?"Piki Geri yang melihat keadaan seperti ada yang aneh baginya.

__ADS_1


"Mas, ini sisa uang pembayarannya dan ini tips buat mas karena sudah mengantarkan mobil saya kemari.terima kasih ya mas!" Ucap pelanggan itu.


"Iya pak, sama-sama.kalau begitu, saya permisi dulu pak.kalau ada apa-apa dengan mobilnya, silahkan hubungi saya atau langsung ke bengkel lagi!"Kata Geri sopan.


"Oh iya pak, apa taksi suka lewat kesini?" Tanya Geri.


"Anu mas, sekarang sudah gak ada taksi yang lewat kesini.pada gak mau mas!"Kata pelanggan itu.


"Kenapa pak?apa ada sesuatu yang terjadi disini?seperti begal atau perampokan gitu?" Tanya Geri.karena ia merasa di curigai oleh pemilik rumah saat pertama dirinya datang.


Si pemilik rumah pun tak menceritakan kejadian sebenarnya pada Geri, ia cuma bilang kalau Geri harus berhati-hati dan pulang secepatnya.


Si pemilik nampak berpikir cukup lama, akhirnya ia pun berkata.


"Tidak akan ada taksi yang lewat kesini mas, setelah lewat jam tujuh malam.jadi, saya pinjamkan motor anak saya saja ya untuk mas nya pulang.besok saya bisa ambil di bengkel"Tutur si pelanggan.


"Kalau pulang jalan kaki, gue gempor.secara rumahnya jauh dari jalan raya.gue pakek saja lah motornya, toh dia ambil sendiri besok di bengkel."Pikir Geri.


"Ya sudah pak, saya pinjam dulu motornya, nanti bapak ambil ke bengkel.saya pasti di sana kok!"Kata Geri ramah.


"Baik pak, saya pamit pulang.terima kasih untuk semuanya.mari?"Geri pun mengangguk sopan pada mereka dan pulang dengan motor si bapak itu.


Saat Geri masih di luar, samar-samar anak si pemilik rumah berkata sama bapaknya.


"Kok bapak minjemin motor aku sih?kalau dia penjahat atau wshkgrtdabnmkd gimana?" Kata anaknya yang samar-samar di dengar Geri.


"Apa?penjahat atau apa, gue gak denger jelas?"Geri berusaha menajamkan telinganya saat itu karena ia tidak mendengar bahwa anaknya pemilik mobil mengatakan pas bagian kuntilanak merah.


"Bodo amat lah, dia mau ngomong apa.gue mending balik deh, terus nongkrong deh di cafe sama anak-anak.cihuy, bonusnya lumayan banyak nih!"Ia pun pulang dengan hati senang.ia tidak mencurigai apapun.


Di sepanjang jalan komplek perumahan itu, Geri tak melihat satu orang pun melintas atau sekedar nongkrong di pinggir jalan atau di teras depan rumahnya.


Suasana terasa sepi dan mencekam, hawa dingin menusuk tulang.


Malam itu seakan perjalanan yang panjang bagi Geri.ia merasakan sesuatu akan terjadi pada dirinya.Entah apa itu, tapi Geri merasa ada sesuatu yang mengikutinya.


Sampai saat ia melewati pohon besar dekat danau di ujung komplek.Motornya tiba-tiba saja mati.entah apa yang membuat mesinnya tak mau menyala, walaupun Geri sudah mengecek kondisi motor, tapi tak ada satupun kerusakan pada motor itu.


Tak ada satupun kunci yang bisa ia pergunakan untuk memperbaiki di tambah keadaan komlpek yang begitu sepi, membuat bulu kuduk Geri meremang.


Geri pun akhirnya mendorong motor itu.


"Kalau masih deket, gue balikin lagi tuh ke yang punya nya.sialan, dia gak ikhlas minjemin gue motornya.huuh"Geri menggerutu sepanjang jalan.


"Sepi banget nih jalan, baru jam delapan lewat sepuluh.sudah kaya di kuburan saja"


"Kok berat banget sih nih motor?gak kaya biasanya dah?"Ia yang merasa beban motor ini semakin berat namun Geri terus berjalan dan mendorongnya.


"Wah asyem nih motor, berat banget sih.apa yang punya kebanyakan dosa?sampai motornya kagak mau jalan?"Ia menggerutu karena semakin berat di rasanya.


"Coba kalau gue tadi nurut kata si Sherly.kagak apes kaya gini kali!"


Sampai di sebuah rumah kosong di area perumahan itu.motornya kembali normal.


"Wah, bener-bener nih motor.nguji kesabaran gue banget!"Ia pun mencoba menyalakan kembali motor itu dan ternyata nyala."Weh, nyala juga dia"


Namun saat Geri akan menaiki motor itu, ia di kejutkan suara perempuan dari belakang.


Tampak sosok makhluk menyeramkan sambil menggendong bayi-bayi di dekapannya. Makhluk itu menyeringai menatap wajah Geri dan tertawa cekikikan setelah melihat ketakutan di wajah Geri.


Geri pun lari terbirit-birit setelah melihat penampakan di depannya.


Ia tak memperdulikan apapun, yang penting ia kabur dari tempat itu dan berlari ke jalan raya.sampai sebuah mobil menabrak tubuhnya dan ia tergeletak di jalan dengan darah di sekujur tubuhnya.


Ia segera di larikan ke rumah sakit oleh orang-orang yang menolongnya.


Polisi pun berdatangan dan menyelidiki kasus kecelakaan Geri.

__ADS_1


__ADS_2