Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kesalah pahaman Geri


__ADS_3

Zidane terlihat sudah rapi pagi ini. Dia bergegas untuk pergi menjemput penumpang langganannya.


"Sayang. Hari ini aku harus berangkat lebih pagi ya. Soalnya, ada yang memesan taksi kemarin sore untuk menjemput di bandara." Kata Zidane kepada istrinya.


"Iya, kamu hati-hati kalau lagi narik. Kalau ada apa-apa, jangan lupa telpon!" Sherly mengingatkan suaminya.


"Iya sayangku." Dia pun berbalik kearah istrinya.


"Eh, kenapa wajahmu pucat sekali? Apa kamu sakit, sayang?" Di tempelkannya punggung tangan di kening istrinya.


"Tidak apa-apa, jangan khawatir. Aku cuma agak pusing saja." Ucap Sherly menenangkan hati suaminya.


"Aku akan batalkan saja pesanan pelanggan. Kita ke dokter saja ya!" Ajak Zidane yang melihat istrinya seperti menahan sakit.


"Tidak usah, sayang. Kau kan harus menjemput penumpang ke bandara sekarang. Biar aku nanti minum obat lalu tidur sebentar, pasti bakal sembuh." Tolak Sherly.


"Tapi aku ...,"


Tok tok tok


"Sherly ... Zidane!" Terdengar suara Geri memanggil.


"Itu sepertinya Geri." Zidane melirik arah pintu.


"Aha, dia datang di waktu yang tepat." Sherly memekik kegirangan.


"Hei sayang, kenapa kau terlihat senang dengan kedatangan Geri?" Tanya Zidane yang melihat istrinya tersenyum lebar.


"Dia memecahkan masalah kita, sayang. Kau kan mau berangkat kerja, dan aku akan pergi ke dokter bersama dengannya. Bagaimana?"


Memang ide bagus yang di usulkan Sherly.


"Baiklah. Buka pintunya dan biarkan dia masuk untuk sarapan bersama kita!" Kata Zidane seraya mengambil jaketnya.


Sherly melangkah membukakan pintu untuk Geri.


"Hai Ger. Kebetulan elu dateng!" Ucapnya senang.


"Gue kan orang yang bisa diandalkan." Ucap Geri sedikit menyombongkan diri.


"Eh bentar, kok wajah elu pucet banget sih Sher?" Geri menarik tangan Sherly dan menghentikan langkahnya.


"Dia lagi sakit, Ger. Tapi, dia gak mau diajak ke dokter!" Zidane yang sudah berdiri di belakang istrinya.


"Ya ampun, kok elu gitu sih? Ayolah beib, kita ke dokter!" Sherly mengernyitkan dahinya mendengar panggilan Geri seperti Dika biasa memanggilnya.


"Beib? Astaga. Gue jadi kangen sama si Dika juga and the genk." Ucapnya dengan tersenyum.


"Gue juga kangen sama mereka. Kapan ya kita ngumpul lagi?" Perkataan Geri membuat Sherly langsung menutup mulutnya menyadari ucapannya yang salah.


Zidane melirik istrinya lalu mengecup kepala Sherly sambil berbisik. "Maafkan aku, sayang!"


Sherly menggelengkan kepala. "Tidak, aku yang minta maaf karena aku terlalu rindu mereka."


"Tidak, sayang. Wajar jika kamu merindukan para sahabatmu itu. Oh ya, apa kamu yakin jika aku tak usah mengantarkanmu ke dokter?" Tanya Zidane mengalihkan pembicaraan karena melihat mimik wajah sedih istrinya.


"Tidak usah. Aku akan pergi sama Geri saja. Kamu bisa kerja dengan tenang." Tolak Sherly.


"Baiklah. Aku akan menelponmu nanti. Hati-hati saat bepergian dan kabari aku apa kata dokter!" Ucap Zidane lalu berpamitan kepada istrinya.


"Aku pergi dulu, ya?" Sherly mencium punggung tangan suaminya.


"Kamu juga hati-hati di jalan. Jangan ngebut jika bawa mobil." Zidane mengangguk dan mencium kening Sherly sebelum pergi.


"Eh sayang, kamu bukannya mau sarapan dulu?" Cegah Sherly saat suaminya akan pergi.


"Nanti saja deh dijalan. Aku sudah terlambat." Ujar Zidane.


"Jagain istriku, Ger!" Pesan Zidane kepada sahabat istrinya.


"Oke, bos!" Dia memberi hormat seperti bawahan kepada atasannya.


"Aku pergi ya, sayang." Tangan Zidane melambai dan ia pun masuk kedalam mobil.


Mobilnya meluncur di jalanan menuju bandara untuk menjemput menumpang langganannya.


"Ger, kita sarapan dulu!" Ajak Sherly kepada sahabatnya.

__ADS_1


"Gak usah. Yuk, gue anterin ke dokter biar Zidane tenang!" Tolak Geri sambil menarik tangan Sherly keluar.


"Hei, gue kunci dulu pintunya." Tangannya pun di lepaskan Geri untuk mengunci pintu.


Dengan menggunakan motor, Geri mengantarkan Sherly ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.


"Kalian itu menyebalkan, selalu memaksakan kehendak. Udah gue bilang kalau gue baik-baik saja. Kenapa kalian gak percaya sih?" Sherly cemberut karena Geri tetap memaksa untuk mengantarkan ke dokter.


"Protes mulu gue tinggal nih!" Ancam Geri bercanda.


"Cih, ngancem gue! Kalau elu ninggalin gue disini, ya gue tinggal balik lah." Sherly terkekeh.


"Dah lah gak usah protes mulu. Buruan kita temui dokter!" Di tarik terus tangan Sherly ke tempat dokter setelah mereka mendaftar.


Mereka masuk ke ruangan dokter dan Sherly langsung di periksa.


Setelah beberapa saat kemudian, Geri menemui dokter dan Sherly keluar karena tak tahan dengan bau obat. Ia meminta izin untuk menunggu di lorong rumah sakit sekalian menebus resep obat yang di tulis dokter untuknya.


"Gimana, dok? Apa penyakit yang di deritanya?" Geri bertanya dengan cemas.


"Tidak ada penyakit serius, mas. Namun ...!" Ucapan dokter langsung di sambar Geri.


"Namun apa dok? Apa penyakitnya serius atau ...!" Ucapan Geri langsung di potong dokter.


Kalau itu potongan harga buat barang di tokosih mending, lha ini ucapan di potong.


"Apa kalian sudah menikah?" Pertanyaan aneh macam apa yang di tanyakan dokter kepada Geri.


Tentu Sherly sudah menikah. Tapi, kenapa dia bertanya kalian. Apa maksud dari pertanyaan bodoh si dokter.


"Tidak, aku belum menikah." Jawaban yang jujur namun benar-benar lebih bodoh karena itu membuat dokter berpikir yang tidak-tidak.


"Jadi, kalian belum menikah?" Pertanyaan dokter membuat Geri semakin bingung.


"Iya dok. Tapi, eh ...tidak dok. Maksudku, aku belum menikah tapi dia sudah menikah." Geri mencoba menjelaskan kepada dokter.


"Ya tuhan, mas. Apa kalian punya hubungan gelap tanpa di ketahui suaminya?" Lagi-lagi dokter bertanya dan Geri semakin mengerutkan dahinya.


Hubungan gelap apa maksudnya dokter ini? Gue gak pernah main gelap-gelapan sama Sherly.


"Maksud saya hubungan diantara kalian bertiga." Perkataan dokter tanggapi lain oleh Geri.


"Oh hubungan seperti itu. Ya, kami bertiga memang berhubungan baik. Sering berbagi satu sama lain dan dalam keadaan apapun." Ucapnya bangga.


"Ya tuhan, kalian benar-benar melakukan yang seharusnya tidak boleh dilakukan?" Dokter ini semakin membuat Geri bingung sampai dahinya berkerut.


"Mas, saya bilangin ya. Nikah itu sekali dan pasangan pun harus satu. Tapi kalian, berbagi satu istri? Apa kalian itu tidak sadar kalau itu salah."


Setelah mencerna ucapan dokter, baru dia mengerti. Mungkin dokter mengira jika mereka itu pasangan selingkuh.


"Bu-bukan itu maksudku, dok. Aku ini hanya sahabat mereka. Dia teman masa kecilku dan aku juga mengenal suaminya. Kami bukan pasangan seperti itu!" Geri mencoba menjelaskan namun dokter tetap tak percaya.


"Ya, saya tahu jelas dengan keadaan kalian ini. Akan tumbuh benih-benih cinta diantara sahabat masa kecil. Dan itu kalian tunjukan setelah wanitamu menikah dengan orang lain, bukan?" Semakin gak jelas saja ucapan dokter itu.


"Maksud dokter apa sih? Aku ini tak berbuat apa-apa dengannya. Dia benar-benar sahabatku." Geri terus protes.


"Kalau kalian tidak berbuat apa-apa, bagaimana dia bisa hamil?" Nada bicara dokter meninggi karena lelaki di hadapannya ini mengelak terus.


"Ya pasti sama suaminya lah. Dokter ini aneh sekali. Masa gue yang buat dia ...!" Geri mendorong kursi dan berdiri seketika.


Namun ia berbalik seketika setelah mencerna ucapan dokter. "Eh, hamil? Ta-tadi, katamu dia hamil?" Tanya Geri.


Dokter tersenyum miring dengan mencibir Geri. "Mas. Jika memang kalian merasa melakukannya, akui saja. Kau akan tau akibat dari perbuatanmu itu."


Geri tak memperdulikan cibiran dokter. Wajahnya sumringah mendengar kabar itu. Ia sangat senang mendengar kabar yang mengejutkan ini.


"Berapa bulan, dok?" Tanya Geri bersemangat.


"Baru dua minggu, dan itu masih kecil sekali. Jadi, kalian bisa mengatakan pada suaminya tentang kabar ini dan saya sarankan untuk jujur kepadanya." Jelas dokter.


"Terima kasih, dok. Aku sangat senang hari ini. Yeeeeeaaaahhh!" Ia melompat kegirangan setelah menjabat tangan dokter.


Ia berlari tanpa memperdulikan tatapan dari orang-orang dan menghampiri Sherly yang sedang duduk di bangku lorong rumah sakit dan menunggunya disana.


Geri langsung mengangkat tubuh Sherly dan membawanya berputar putar.


"Sherly ... Sherly ... Sherly. Gue seneng banget hari ini." Ucap Geri dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

__ADS_1


"Hei bodoh. Apa yang elu lakuin? Kepala gue pusing malah di ajak puter-puteran." Rengek Sherly membuat Geri tersadar.


Geri langsung menurunkan Sherly setelah menyadari kebodohannya.


"Sorry ... sorry, saking senengnya gue jadi lupa!" Ia pun meminta maaf dengan menunduk di hadapan Sherly dan mengelus perut Sherly yang rata.


"Maafin gue ya."


Semua orang melihat perlakuan manis Geri dan mengira jika keduanya pasangan suami istri.


Termasuk dokter yang memeriksa Sherly tadi. Dia bahkan terus mencibirnya.


"Dasar pasangan selingkuhan. Tadi bilangnya dia hanya sahabatnya, tapi mendengar kehamilan pacarnya dia sangat kegirangan. Huuuhh."


Sherly yang merasa risih karena semua mata tertuju pada mereka. Dia pun menepis tangan Geri yang mengelus perutnya.


"Ish, apaan sih lu? Ayo balik, gue gak suka bau disini. Bikin gue pengen muntah!" Geri mengangguk dengan ajakan Sherly.


"Oke, kita balik! Tapi, apa resep dokter sudah lu tebus?" Sherly pun mengangguk.


"Baiklah, ayo kita pulang dan beritahu kabar baik ini sama suami lu!"


Mereka melangkah keluar dari rumah sakit untuk pulang ke rumah.


"Sebenarnya, apa kata dokter?" Tanya Sherly saat mereka diatas motor Geri.


"Nanti saja. Kita bicarakan saat suami lu sampai di rumah, oke! Pasti dia seneng banget." Kata Geri yang masih merahasiakan kabar gembira itu.


Sedangkan Sherly yang tak mengerti maksud Geri hanya pasrah mengikuti perkataan sahabatnya.


"Terserah lu deh, Ger. Gue mah ikut aja lah!" Ucap Sherly malas.


Malam pun tiba.


Sherly mondar-mandir di teras depan rumah kontrakannya. Ia terlihat cemas karena suaminya tak kunjung pulang.


Matanya terus melirik jam dinding yang diam tak bergerak atau berpindah dari tempatnya. Mungkin jika jam itu berpindah tempat, dia akan melompat kegirangan karena bisa bebas berkeliaran.


"Kenapa dia belum pulang? Padahal ini sudah jam sepuluh malam. Gue takut dia kenapa-napa, ya tuhan. Gak biasanya dia pulang sampai malam begini?"


Perasaan Sherly yang bercampur aduk antara cemas, panik, dan bingung sangat terlihat di wajah cantiknya.


Tiba-tiba Geri datang dengan menahan amarahnya.


"Ngapain lu di luar? Masuk." Ucapannya membuat Sherly tak mengerti.


Gak biasanya si jawir kek gini. Ada apa sih?


"Lu kenapa Ger? Kesambet?" Sherly terkekeh.


Geri menatap wajah sahabatnya dengan penuh rasa simpati. Ia menarik tangan Sherly sedikit kasar dan membawanya masuk kedalam rumah.


Setelah di dalam, ia langsung memegang kedua pundak Sherly sambil berkata.


"Kita balik ke jakarta saja, yuk! Biar lu ada yang ngurusin." Ucapnya tiba-tiba sambil memeluk tubuh Sherly.


"Ish, apaan sih lu Ger?" Dia mendorong tubuh sahabatnya.


"Jika kita harus pulang ke jakarta, itu juga atas izin si King Ice. Lagi pula, kita kan sengaja bersembunyi disini supaya kita terhindar dari Hendri." Sherly mengingatkan tujuan mereka.


Seketika Geri diam dengan perkataan Sherly. Ya, tujuan mereka bersembunyi disini memang itu.


Tapi, Geri mengingat apa yang barusan dilihatnya. Wajahnya memerah karena menahan amarah yang sangat besar.


Kalau sampai dia melakukan itu lagi, gue pastiin dia gak akan bisa menemukan lu lagi selamanya.


**Bersambung gaess ...


Berakit-rakit ke hulu,


Berenang-renang ke tepian.


Baca-baca dahulu,


Ayo like dan vote kemudian.


Terima kasih😘😘**

__ADS_1


__ADS_2