Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kekhawatiran


__ADS_3

Harimau putih terpental dan berguling di tanah membuat Sherly dan yang lainnya khawatir.


"Hei, little cat.kamu gak kenapa-napa sayang?"Di elusnya kepala harimau putih itu dan berkata dengan lembut.


Namun si little cat itu tak bergerak sehingga Sherly terus menggoyangkan badannya.


"Hei, bangun.kamu kenapa sayang?"Ia terus mengelus little catnya.


"Dia kenapa Sher?"Ketiga temannya menghampiri.


"Gue gak tahu.dia gak bergerak lagi."Sherly menoleh kearah mereka.


Zidane mendekat dan menyentuh harimau putih itu.


"Kembalikan dia ke alamnya.cepat, sebelum terlambat!"Perintahnya pada Sherly.


Sherly menatap Zidane yang terlihat serius. Dengan memejamkan matanya, ia menggumamkan sebuah bacaan yang tidak di ketahui siapa pun.Dan little cat pun hilang dari hadapan mereka.


"Hahahaaa...Menyerah lah, anak-anak. Dengan begitu aku akan mengampuni kalian dan membawa kalian ke tempat tuanku untuk di persembahkan kepada penguasa kegelapan" Siluman kerbau mengejeknya.


"Enak saja menyerah kepadamu.Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melawanmu." Sherly berdiri dan mengepalkan tangannya.


"Tapi, gimana caranya supaya kita bisa mengalahkannya?"Ketiga sahabat Sherly bertanya.


"Aku akan menghadapinya"Ujar Zidane dengan memegang erat bambu wulung untuk melawannya kemudian berdiri dan bersiap.


"Baiklah, ayo gue siap!"Sherly melirik Zidane dan memberi kode kepadanya.


"Satu, dua, tiga, serang"Mereka berdua langsung melompat dan menerjang ke arah siluman itu dan terjadi lah perkelahian lagi.


Bagh..bugh..ping..srek..ding..cress..trik..sriing


Semua jurus di keluarkan mereka untuk mempertahankan diri dari siluman itu sampai kelelahan.


Blugh


Sherly terjatuh karena tendangan siluman kerbau sampai dia mengeluarkan darah.


"Akh..ukhuk"Darah segar keluar dari mulutnya.


"Sherly"Ketiga sahabatnya berhamburan menghampiri namun secepat kilat siluman itu menghadang mereka.


"Whooaaa"Ketiganya mengerem mendadak saat siluman itu berdiri tepat di hadapannya.


"Mau kemana kalian?"Suara siluman itu serak dan datar dengan mata yang merah.


"Ka..kami..kami..mau ngapain ya?kita lupa tuh!"Dika menoleh kepada kedua sahabatnya.


"Jangan berlaga bodoh kalian.Aku tahu kalian mau menyelamatkan gadis itu kan?" Siluman itu menunjuk Sherly yang terduduk dengan memegangi perutnya.


"Kalau sudah tahu kenapa bertanya lagi, dasar siluman!"Cibir Indra.


"Jadi benar kalian ingin menyelamatkan gadis itu?"Tanya siluman lagi.


"Iya....mungkin!"Kata Geri yang menjeda ucapannya karena takut melihat tatapan siluman itu.


Mereka yang sedang memancing siluman itu untuk mengalihkan pandangannya.Namun Zidane beraksi dan berlari ke arah Sherly.


"Kamu tidak apa-apa?"Zidane membantu Sherly berdiri dan ia merangkul pundaknya.


Sherly menggelengkan kepalanya."Tidak, gue kuat kok!"Ia memegangi lengan Zidane dengan gemetaran.


"Apa itu sakit?"Ia menatap wajah Sherly yang pucat.


"Aah, gue kuat kok."Sherly berusaha berdiri dengan kedua kakinya namun tidak sampai sempurna karena ia harus terjatuh kembali dengan menahan rasa sakit di perutnya.


"Aaakkhh"Sherly terjatuh namun dengan cepat tubuhnya di tangkap oleh Zidane.


"Machan, are you oke?"Zidane memegangi tubuh Sherly supaya tak jatuh ke tanah.


"Gue..gu..gue..ku..atthh kkook"Sherly tetap berusaha berdiri dengan berpegangan. Tangannya melingkar di leher Zidane dan tangan Zidane melingkar di perut Sherly.


"Gu..guueee"Ucapannya tak tersampaikan karena ia langsung pingsan seketika jatuh di dada bidang Zidane.


"Hei, bangun...bangun!"Zidane menggoyangkan tubuh Sherly namun ia tetap tak membuka matanya.


(Keenakan atau beneran pingsan?otor jadi iri tahu.padahal, tukeran aja ama otor.ahihiii)


Mereka yang menyaksikan itu pun menjadi sedih.Ketiganya menerobos penjagaan siluman kerbau dan menghampiri Sherly yang terkulai lemah dengan wajah pucat serta mulut yang mengeluarkan darah.


"Sherly..Sherly, bangun.please, gue mohon sama lu"Tubuh lemah Sherly di tarik ke pangkuan Indra.


"Beib, jangan tinggalin gue.Elu kan kuat" Dika mengelus kepala Sherly.


"Iya Sher, kalau elu sakit, kita gimana?"Geri pun ikut sedih.


"Hahahahaaa...kalian sekelompok manusia lemah.tapi kalian ingin melawanku yang kuat, sakti mandra guna"Ledek siluman kerbau.


"Wah, dia menghina kita.ternyata dia barengan sama yang lain gaess, udah mah si sakti, si mandra dan siguna.Apa-apaan lu, curang itu namanya!"Ucap Dika.


"Haish, Dika.elu serius napa.dia bukannya barengan sama si sakti, mandra, guna.Tapi di satuin semuanya, dia kuat sakti mandra guna"Tutur Geri.


"Gue kira dia bareng bang mandra."Keukeuh Dika.


"Ckk, pantas saja gadis bintang itu tidak bisa mengasah kemampuannya.ternyata dia di kelilingi orang yang tak berguna di sampingnya"Siluman itu mengejek mereka.


Mendengar ucapan siluman itu, membuat mereka marah.emosinya melupa tak terbendung.


Ketiganya berdiri dan membaringkan Sherly di tanah.


"Beraninya menghina kita."Indra mengepalkan tangannya.


"Dasar siluman tak berguna, bisanya cuma menghina."Cibir Dika.

__ADS_1


"Kau tak tahu siapa kita?"Geri dengan emosi yang meluap.


"Memangnya siapa kalian?Aku tidak tahu" Jawab siluman kerbau.


"Siapa kalian?"Ia mengulang pertanyaannya.


"Justru itu kita nanya.Kau tak tahu siapa kita?kita aja gak tahu diri kita sebenarnya" Dengan santainya Geri menjawab.


Plak..


Tangan Dika mendarat di kepala Geri"Woi, gue kira elu mau ngomongin kalau kita itu pelindung Sherly"


"Aduh, kebiasaan lu"Geri mengelus kepalanya."Ya sudah, ulang!"Pinta Geri.


"Kalau kau ingin tahu siapa kita, bisa tanya sama dia."Tangan Geri menunjuk ke arah Indra.


"Kok gue sih, kan si Dika yang ngomong."Elak si jalu."Tanya dia saja"Tangan Indra menunjuk Dika.


Dika yang di tunjuk pun menjadi ciut nyalinya saat tatapan mata merah menyala itu tertuju ke arahnya.


"Gue..gue.."Dia jadi gugup.


(Yaelah, babang pujaan otor yang satu ini gak keren.masa gitu aja takut)


"Aku akan menghabisi kalian semua dan menjadikan tumbal untuk tuanku menghadap sang penguasa kegelapan. Hahahaaa.."Tawanya menggema di hutan itu.


Zidane yang tak suka basa basi seperti mereka pun bertindak karena melihat gadis berisiknya terkulai lemah dengan wajah yang pucat.


"Kau akan merasakan akibat dari perbuatanmu.Ciyaaatt"Ia berlari dan melompat ke arah siluman kerbau dan menancapkan bambu wulung tepat di atas kepalanya si kerbau membuat siluman itu kesakitan.


Siluman kerbau yang tak siap mendapatkan serangan mendadak itu pun terkena tikaman bambu kuning milik Zidane.Ia pun berteriak kesakitan.


"Huaaaaa...kau curang.kenapa kau menikam ku dari belakang saat mereka berusaha mengalihkan pandanganku?"Ia meronta memegangi kepalanya.


"Salahmu sendiri, kenapa kau teralihkan oleh perkataan mereka!"Cibir Zidane yang tak mau berbasa-basi.


"Haaaaaaaaa"Siluman kerbau itu hancur lebur dan menghilang seketika meninggalkan abu sisa tubuhnya saja.


Zidane langsung mengambil kembali senjata keramat peninggalan orang tuanya itu.Di simpannya kembali tongkat bambu haur wulung di balik jaketnya kembali.


"Waaah, dia hebat bisa mengalahkan siluman itu sendirian"Puji Geri dan Indra.


"Ckk, gue juga bisa kali"Dika tak suka dengan pujian kedua sahabatnya.


Zidane terlihat cuek dengan perkataan mereka.Ia pun bergegas menghampiri Sherly yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Hei, gadis berisik.kenapa kamu diam saja?ayo bangun, kita pulang!"Ucapnya pada Sherly namun gadis itu tak bergeming dan tetap memejamkan matanya.


Melihat gadis itu tak bergerak sedikit pun membuat Zidane khawatir.Diangkatnya tubuh kecil Sherly dan ia pun melangkahkan kaki.


Ketiga pemuda sahabat Sherly yang melihat ke khawatiran di raut wajah Zidane pun menjadi kagum kepada pemuda itu.


Dia dingin kepada siapa saja.Namun, hatinya sangat baik dan ia pun begitu perhatian kepada semua orang terutama Sherly.



Terlihat hari sudah mulai senja, mereka mempercepat langkah kakinya.


Menyusuri hutan sampai mereka menemukan sebuah pemukiman penduduk.



Zidane tak sedikitpun terlihat lelah saat menggendong tubuh Sherly.Yang ada di dalam hati dan pikirannya cuma rasa khawatir terhadap keselamatan gadis itu.


"Lihat, disana ada pemukiman warga.Kita harus cepat sampai kesana dan segera membawa dia ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya!"Jelas Zidane dengan sedikit berlari membawa tubuh Sherly.


Sebuah pemukiman warga terlihat oleh mereka.Namun terhalang oleh sungai yang cukup lebar dan tak mungkin bisa di lewati begitu saja.


"Gak ada jalan kesana, kita lewat jalan raya saja"Zidane berlari lagi memutar sambil menggendong tubuh Sherly.


Ketiga sahabat Sherly mengikuti langkah Zidane dengan diam.Mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun saat mengekor di belakang Zidane.


Mereka keluar dari hutan dengan selamat walaupun Sherly terluka, tapi mereka bersyukur bisa keluar dari hutan ghaib itu.


Sampailah mereka di jalan raya yang entah di daerah mana itu yang pasti mereka pun tak tahu.


"Cari taksi, cepat!"Perintah Zidane tanpa memalingkan pandangannya.


"Oke!"Mereka langsung mencegat semua mobil yang berlalu lalang di jalan raya.


Semua kendaraan tidak mau berhenti karena melihat penampilan mereka yang sedikit acak-acakan.Mereka mengira jika ketiga pemuda itu orang gila atau para penjahat yang berpura-pura menumpang dan setelah itu mereka akan menjarah harta benda.


Memang tidak di pungkiri, penampilan mereka yang sedikit berantakan membuat mereka tak di percayai orang-orang.


Apalagi, mereka keluar dari sebuah hutan yang katanya angker.


Kondisi Sherly makin memburuk.Ia bahkan tak bergerak sedikit pun walau guncangan yang di lakukan Zidane saat membawanya berlari.


"Yaa Allah, hamba mohon bantu kami. Kondisinya sangat parah, dia harus segera di tolong.aku tidak mau kehilangan dia."


Zidane terus mendekap tubuh kecil yang wajahnya sudah pucat pasi.


"Shit, kenapa semua orang tak mau berhenti?"Dika marah ketika semua kendaraan berlalu begitu saja.


"Sabar Dik, kita coba terus ya"Geri menepuk bahu Dika.


Mereka pun mencoba lagi dan lagi.Namun semua sia-sia.


Seluruh tubuh Sherly sudah terasa dingin membuat keempat pemuda itu menjadi khawatir dan cemas dengan keadaannya.


"Ya tuhan, apa yang harus kita lakukan?" Mereka menatap tubuh lemah itu dengan perasaan masing-masing.


Zidane menjadi geram, ia berlari ke tengah jalan dan menelentangkan kedua tangannya untuk menghentikan kendaraan.

__ADS_1


"Hei tuan muda, apa yang kau lakukan?" Tanya ketiganya yang melihat Zidane berdiri di tengah jalan untuk menghentikan kendaraan.


Tapi Zidane tak memperdulikan teriakan mereka.Ia terus berdiri tanpa rasa takut dan saat mobil Pick-up melintas di jalan itu dan melaju kencang ke arahnya, Zidane tak bergeming sedikit pun.Ia malah dengan sengaja menelentangkan kedua tangannya tanpa memejamkan matanya.


"Haaaaaaa"Bukan Zidane yang berteriak, melainkan ketiga sahabat Sherly yang melihat mobil pick-up melaju dengan kencang ke arah Zidane.


Cekkiiiiitttt..


Gesekan ban di jalan beraspal itu terdengar memekik telinga.


Dengan marahnya sang supir turun dan menegur Zidane sambil marah-marah.


"Kamu sudah gila apa?kenapa berdiri di tengah jalan?apa kamu ingin mati, hahh?" Sang supir meluapkan amarahnya.


Tanpa rasa takut, Zidane maju ke arah sang supir pick-up itu.


"Pak, tolong kami."Ucapnya lirih.


"Kenapa aku harus menolongmu, hahh?"Supir itu tak sedikitpun menurunkan nada bicaranya.


"Nyawanya dalam bahaya, dia harus segera di tolong."Geri menghampiri supir itu.


Sang supir melirik ke pinggir jalan.Terlihat seorang gadis dengan wajah yang sudah pucat pasi dan bekas darah di ujung bibir.


"Kenapa dia?"Tanya nya.


"Dia terluka, kalau di ceritain gak bakal cukup waktunya.tolong lah pak.aku mohon!" Dika memegang tangan supir itu.


Supir itu pun menjadi tak tega melihat mereka di tambah lagi keadaan gadis yang terlihat lemah itu.


"Haish, ayo cepat angkat dia.aku akan mengantarkan kalian kerumah sakit!"Dia pun akhirnya setuju.


"Terima kasih pak!"Ucap mereka tulus.


Dengan perasaan gembira, mereka mengangkat tubuh lemah Sherly ke atas mobil pick-up.


Perjalanan membutuhkan waktu dua jam untuk sampai ke rumah sakit kota.


Sesampainya di rumah sakit, Zidane langsung turun dan menggendong tubuh lemah itu.


"Berikan dia uang secukupnya untuk menggantikan ongkosnya"Kata Zidane sambil berlari.


"Tapi tuan muda, kita tak bawa uang!"Teriak Dika.


"Haish, dia lari begitu saja.dompet gue kan tertinggal di mobilnya."Dika menatap Zidane kesal.


"Biar gue aja."Indra mengeluarkan dompetnya dan memberikan lembaran uang kertas berwarna merah kepada supir itu.


"Wah, banyak sekali tuan, apa kalian ikhlas memberikannya?"Tanya supir itu.


"Kami ikhlas, makanya kami berikan pada bapak."Tutur Indra.


"Kalau begitu, saya pun ikhlas menolong kalian"Di kembalikannya uang itu pada Indra.


"Kalian memang anak-anak yang baik.Saya suka"Ucapnya.


"Kalau begitu saya permisi ya?semoga teman kalian tidak kenapa-napa ya?"Ia pun melangkah pergi dari sana setelah berpamitan kepada mereka.


"Terima kasih pak!"Ucap mereka tulus.


Mereka pun berlari masuk ke rumah sakit dan mengikuti Zidane untuk memberikan pertolongan kepada Sherly.


Tampak Zidane duduk di lantai dengan lesu dan sangat sedih.


Mereka pun menghampiri Zidane dan bertanya kepadanya.


"Hei tuan muda, kenapa kau terlihat sedih?" Tanya Indra.


Namun Zidane tak menjawab pertanyaan Indra.Dia terlihat memejamkan matanya sambil mendongakkan kepala ke atas dengan butiran air mata membasahi pipinya.


"Apa yang terjadi?"Mereka pun penasaran.


"Apa mungkin Sherly....hahh, gak mungkin?" Dika menutup mulutnya tak percaya.


"Hei tuan muda, apa yang terjadi kepadanya?jawab lah pertanyaan kami!" Teriak Geri padanya.


Lagi-lagi Zidane tak menjawab pertanyaan Geri membuat mereka mengira-ngira sendiri.


Saat suasana terasa tegang, keluarlah seorang dokter yang memeriksa kondisi Sherly.


"Dokter, bagaimana keadaannya?"Tanya ketiganya menatap dengan harap-harap cemas.


"Maaf, dia sudah tidak...."


"Gak mungkin..gak mungkin!"Dika menggelengkan kepalanya.Ia tak sanggup menerima kenyataan itu.


"Tidak dokter, aku mohon jangan katakan itu!"Geri ikut menggelengkan kepalanya.


Indra menatap Zidane yang terduduk lesu di lantai.Ia pun menunduk sambil menutup wajahnya.


"Sherly!"Teriakan Indra mengundang semua orang untuk menoleh ke arah mereka.


"Hiks..hiks..huuaaa...huhuuuu"Ketiganya saling berpelukkan dan menangis tersedu.


**Bersambung..


Ikutin terus cerita otor supaya tak penasaran.


Like, komen, dan vote nya di tunggu selalu.


Biasakan memberikan like setelah kalian membacanya ya, reader.


Terima gajih..eh, terima kasih😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2