Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Penyelidikan kasus.


__ADS_3

Keempat sahabat Geri terus menjaganya dengan baik.Mereka bergantian menunggu di dalam dan di luar.karena dokter melarang mereka masuk bersamaan.


Sedangkan ibunya Geri sendiri setiap hari tak henti-henti menungguinya.


Sudah seminggu Geri belum sadarkan diri, semua keluarga dan sahabatnya menjadi sangat khawatir.


Setelah dokter memperbolehkan mereka masuk semua ke dalam kamar perawatan Geri, karena kondisi Geri yang sudah membaik dan sudah melewati masa kritisnya.mereka pun masuk dengan senangnya.


Indra dan Dika yang berdiri di dekat jendela, sedangkan Sherly dan Iren duduk di samping ranjang perawatan Geri.


"Kok elu belum sadar-sadar sih Ger?apa elu marah sama kita?"Sherly menggenggam tangan Geri yag kanan, sedangkan tangan yang kiri di pegang Iren.


Indra dan Dika yang berdiri di dekat jendela sambil bersidekap dan memperhatikan mereka.


"Hahh, kenapa dia belum bangun-bangun sih?gue kangen sama dia"Indra menghela napas panjang ia tak memandang ke arah siapa pun, cuma memandang ke luar kaca.


"Katanya ada dokter ahli syaraf dan tulang yang di datangkan ke sini, khusus buat menangani dan merawat Geri."Kata Dika pada mereka.


"Oh ya?dokter siapa?"Tanya mereka.


"Dokter muda lulusan Jerman, dia dari rumah sakit pusat, kalau gak salah namanya...Dokter Steven Riandi."Kata Dika yang mengingat-ngingat nama dokter itu.


"Steven Riandi?kok gue gak asing sih?" Sherly seperti mengenal nama itu.


"Apa elu kenal sama dokter itu?"Tanya Iren menyelidik.


"Gue gak yakin sih, tapi sepertinya..." Ucapannya Sherly tak tersampaikan karena kedatangan seseorang yang masuk ke ruangan itu.


"Permisi, selamat siang!"Ucap seseorang yang baru masuk.


Seorang dokter muda dan tampan, memakai pakaian lengkap dan tersenyum ke arah mereka.


Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.


"Eh, elu kan..?"Sherly berdiri dan menunjuk dokter muda itu.


"Hai kakak ipar, apa kabar?"Ia menyapa Sherly.


"Hahh?kakak ipar?"Mereka menatap dokter itu lalu beralih pada Sherly.


"Ngapain kamu di sini?"Tanya Sherly pada dokter itu.


"Saya di tugaskan untuk memeriksa keadaan pasien yang bernama Geriyanto, apa ini ruangannya?"Tanya dokter itu.


"Iya, emang kamu siapa?"Tanya ketiga sahabat Sherly padanya.


"Bukan kah kamu itu temannya si raja bisnis?"Tanya mereka lagi yang belum tahu identitas asli orang di hadapannya.


"Kenalin, dokter Steven Riandi dari rumah sakit pusat, ahli syaraf dan tulang.panggil saja dokter Rian."Ia mengulurkan tangan ke arah Dika dan Indra yang sudah mendekat ke arahnya.


"Ooh, jadi kamu itu seorang dokter?tapi, penampilan kamu gak meyakinkan ya?"Cibir Indra yang menilik penampilan Rian dari atas ke bawah.


Rian tersenyum kecut, ia memalingkan wajahnya ke arah lain lalu membalikkannya lagi ke arah mereka.


"Terserah kalian percaya atau tidak?tapi, ini sudah pekerjaan ku"Ia tersenyum lalu berjalan menghampiri Geri yang terbaring tak sadarkan diri.


"Apa yang terjadi sama temanmu, kakak ipar?"Tanya Rian pada Sherly sambil memeriksa keadaan Geri.


"Hahh?Emh..di..dia kecelakaan dok.sudah seminggu yang lalu!"Jelas Sherly gugup. Pasalnya Rian selalu memanggilnya kakak ipar.


"Tulang kakinya retak, matanya juga cedera akibat benturan keras di kepalanya. hemh,,"Rian memperhatikan laporan CT SCAN kesehatan Geri.Terlihat ada retakan di bagian betis kanan dan gumpalan darah di kepala bagian kanan.sehingga menarik urat syaraf penglihatannya.

__ADS_1


"Apa dia bisa kembali normal lagi, dok?" Tanya mereka.


"Kemungkinan teman kalian ini akan lumpuh dan buta sementara.kalau dia mau bergerak dan melatih ototnya kembali, dia akan bisa jalan.tapi, kalau dia tidak mau berusaha berjalan, maka bisa di pastikan dia bakal lumpuh total."Jelas Rian lagi.


Mereka pun terlihat syok dengan penuturan dokter Rian, mereka tak percaya akan hal yang di alami Geri ini.


"Jadi, apa yang harus dilakukan supaya dia sembuh seperti biasa.dok?"Tanya mereka.


"Kalian harus selalu mensuport dia, jangan biarkan dia sedih sehingga memutus semangat dia dalam perawatan.dukung dengan do'a juga supaya tuhan memberikan ke ajaiban."Tutur Rian.


"Baiklah, saya permisi dulu.mari!"Ia berpamitan setelah menyuntikan obat dan vitamin di labu infusan Geri.


"Terima kasih, dok!"Ucap mereka semua.


"Gue gak nyangka jika dia seorang dokter?" Indra berbicara setelah Rian pergi.


"Iya, waktu pertama kali ketemu dia kan kusut banget penampilannya.saat dia memakai pakaian kerjanya, dia kaya dokter beneran"Kata Dika menimpali ucapan Indra.


Plak


"Woi, dia memang beneran dokter, dikira bohongan kali ya?"Sherly memukul bahu Dika.


"Aduh, lu kebiasaan banget sih suka mukulin gue, be....Sher!"Dika terduduk kembali, dan ia memalingkan wajahnya.


"Kenapa?biasanya elu manggil dia beib, kenapa sekarang Sherly?"Tanya Indra.


"Enggak kenapa-napa, emang nama dia Sherly bukan?"Elak Dika.


"Tapi kan, elu biasanya manggil di gitu, kenapa sekarang namanya?kan jadi aneh. Kita saja jadi berpikir yang tidak-tidak nih?" Kata Iren pada Dika yang kebingunan untuk menjawabnya.


"Sudah-sudah, jangan ribut.minggir, gue mau lihatin apa yang sebenarnya terjadi sama Geri sebelumnya?"Sherly menggeser tubuh Dika dan Indra.ia pun menggenggam tangan Geri dan membacakan sesuatu sambil memejamkan matanya.


"Sudah seminggu dia berbaring di sini, elu baru kepikiran untuk memeriksa kejadian itu?gak salah, kemana saja kemaren?"Cibir Dika padanya.


Terlihat Geri yang pergi ke komplek perumahan dengan mengendarai mobil pelanggan, sampai di rumahnya dan pulang dengan motor pinjaman dari pemilik mobil.


Ditengah jalan, motor yang di tumpangi Geri tiba-tiba mati dan Geri pun menuntunnya.


Sherly melihat Geri seperti kesusahan menuntun motor itu karena di tumpangi makhluk halus yang berpakaian serba merah dan wajahnya pun merah.


Saat di depan rumah kosong, makhluk itu turun dari motor Geri dan menampakkan wujudnya sehingga Geri terkejut dan takut.


Karena saking takutnya, Geri pun membanting motor dan ia pun lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu dan motor yang tergeletak di tengah jalan.


Geri yang berlari ke jalan raya dengan tak memperhatikan sekitar.sampai sebuah mobil menghantam tubuhnya dan ia pun terjatuh dengan berguling di jalan beraspal dan kepalanya terbentur pembatas jalan.Geri pun tak sadarkan diri dengan darah bercucuran di kepala, tangan, serta kakinya yang terhantam bamper depan mobil.


Tanpa terasa Sherly menitikkan air mata, ia tak kuasa melihat kejadian yang menimpa Geri.ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Geri dan mengusap air matanya.


Sherly sebenarnya selalu mencoba melihat kejadian sesungguhnya yang menimpa Geri. Namun, kekuatannya seperti tak bereaksi saat itu.entah apa yang membuat ia tak bisa melihat kejadian sesungguhnya, tapi ia terus mencoba.Sampai sekarang, ia baru bisa melihatnya.


"Kenapa Sher?apa yang elu lihat?"Tanya Indra.


"Apa dia di celakai seseorang?"Lanjutnya.


"Dia memang di celakai, tapi bukan oleh manusia," Kata Sherly dan mereka pun menatapnya.


"Maksudnya?"Tanya mereka.


"Setan, ia di ganggu setan merah.sejenis kuntilanak, dan setan itu membuat teror di komplek perumahan itu!"Jelas Sherly membuar mereka bergidig takut.


"Gue gak tahu kenapa dari kemaren gak bisa lihat kejadian itu dari Geri?setiap gue sentuh tangannya, sesuatu menghalangi pandangan gue sampai gue sendiri pusing di buatnya!"Lanjut Sherly.

__ADS_1


"Jadi, dari kemaren elu sudah mencobanya, tapi tak tetap bisa?"Tanya Iren yang di angguki Sherly.


"Gue salah paham dong sama dia!"Batin Dika, ia merasa bersalah dengan perkataannya pada Sherly.


"Sorry, Sher.gue gak tahu kalau elu...."


Sherly tersenyum ke arak Dika dan ia pun melangkah maju.


"Apa elu masih marah sama gue?sampai elu sekarang gak mau menatap mata gue?" Bisiknya kepada Dika.


"Hahh, apa maksud lo?"Dika menatap wajah cantik Sherly, ada sebuah beban dan rasa penyesalan di hati dan pikiran Dika.ia pun langsung memalingkan wajahnya.


"Kita ke sana, yuk!"Ajak Indra pada semua sahabatnya.


"Ayo, lagi pula gue pengen nangkep tuh setan!Sialan banget tuh setan, sudah meresahkan warga dan mencelakai Geri.Gue harus kasih pelajaran sama tuh setan"Kata Sherly dengan antusias.


Setelah pamit sama ibunya Geri, mereka berempat pergi ke komplek perumahan yang katanya di teror kuntilanak merah.


Setibanya disana, keadaan saat siang sih biasa saja.tak ada yang aneh dari tempat itu.mereka pun menjadi terheran.


Tak ada yang membuat mereka curiga, mereka pun mendatangi pelanggan yang telah meminjamkan motor kepada Geri.


"Permisi pak, kami sahabat pemuda yang waktu itu mengantarkan mobil bapak"Sherly berkata dengan sopan.


"Oh iya mbak, saya mendengar tentang kejadian yang menimpa pemuda itu. Saya ikut prihatin saat mendengar beritanya, apalagi dia kecelakaan sehabis pulang dari sini"Kata bapak pelanggan.


"Iya pak, dan kedatangan kami ini ingin menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan kejadian dimana sahabat kami kecelakaan.!"Tutur Sherly.namun si bapak dan keluarganya terlihat cemas dan takut.


"Apa itu mbak, kita tidak mencelakai teman kalian itu kok!"Kata si bapak dengan sedikit marah.


"Bukan itu pak, kami tidak pernah menuduh kalian mencelakai kami. saya cuma mau bertanya tentang kejadian aneh di komplek perumahan ini?apa....disini sering terjadi sesuatu?"Tanya Sherly lagi yang menjeda ucapannya.


Mereka saling pandang, kemudian mereka pun menatap ke arah keempat orang tamu yang ada di hadapannya.


"Disini sebenarnya lagi genting mbak, mas." Kata bapak itu dengan berbisik.


"Genting kenapa pak?"Tanya mereka.


"Disini lagi di teror kuntilanak merah!" Tutur si bapak lagi.


"Apa?kuntilanak merah?"Mereka terkejut dan saling pandang.


"Iya, banyak sekali orang yang di ganggu oleh setan itu.penculikan bayi, mengganggu orang di tengah malam, dan semua yang terjadi karena ulah makhluk itu!"Tutur bapak.


"Kemungkinan, teman kalian juga di ganggu setan itu!"Bisik bapaknya lagi.


"Apa?"Dika menggebrak meja sampai mereka semua terkaget.


"Haish, elu ngagetin saja sih?"Sherly dan Iren memukul lengan Dika.


"Habisnya gue kaget denger cerita si bapaknya, kalau si Geri juga di ganggu setan itu"Kata Dika mendramatis.


"Elu kan sudah tahu kalau tuh setan yang ganggu Geri."Tutur Iren.


"Tapi gue heran deh!"Dika yang berpikir dengan memegang dagunya.


"Apa?"Tanya mereka kompak.


"Tuh setan kuntilanak biasanya kan pake baju putih-putih, kenapa dia sekarang pake baju merah?dapet nyolong dimana tuh kain?"Perkataan Dika di iyakan oleh Indra.


"Bener tuh Dik, gue juga heran, sejak kapan tuh setan ganti baju?terus, di jahit baju dimana sih?"Indra malah sama halnya dengan Dika..dodolnya minta ampun.

__ADS_1


"Hadeuh, elu berdua ada-ada saja sih?mana ada penjahit yang buat baju setan. Bukannya dia jahitin, di datengin setan juga dia lari duluan, kali!"Cibir Iren.


"Dasar lu berdua, aneh!"Cibir keduanya.


__ADS_2