
"Hei, berhenti kalian?"Seorang pria dewasa mengejar seorang wanita dan anak laki-laki.
"Berhenti atau aku tembak?"Seketika keduanya terhenti karena teriakan pria itu.
Pria itu mendekat ke arah keduanya yang sedang gemetar karena ketakutan.
"Bagus, ya.Kalian sudah berani melawanku, heh?"di cengkraman'nya leher keduanya oleh pria itu dengan erat sampai mereka mendongakkan kepala.
"Karena kalian sudah berani melawanku, maka aku tidak akan segan lagi kepada kalian!"Bentak pria itu kepada keduanya.
"Maafin aku, mas.kamu boleh menghukum ku, tapi lepaskan anak kita!"Wanita itu memohon dengan menyatukan kedua tangan.
"Cih, memaafkan mu?Kamu pikir setiap kalian berbuat salah aku tak memaafkannya?" Bentaknya lagi.
"Selama ini aku selalu memaafkan kalian. Tapi, kalian tak pernah menghiraukan teguran ku!"Lanjutnya dengan berteriak.
"Mas, aku mohon.Lepaskan kami!"Wanita itu bersujud di kaki suaminya.
"Aku akan memaafkanmu.Tapi, berikan nyawa anakmu kepadaku!"Pintanya sambil berjongkok dan mengelus kepala istrinya.
Istrinya pun mendongakkan kepala menatap suaminya. Tega sekali dia berkata seperti itu.
"Mas, apa yang kamu pikirkan?Dia itu anak kita, darah daging kita.Mengapa kamu menginginkan nyawanya?"
"Justru karena dia anakku, darah daging ku, aku berhak atas nyawanya.Kau mengerti!" Bentaknya lagi.
Di tariknya tangan kecil putranya untuk mengikuti langkahnya.
"Jangan mas, aku mohon!"Wanita itu memukul tangan suaminya supaya melepaskan genggamannya.
"Berani kau membantah perintahku, heh?"Di tendangnya tubuh istrinya sampai tersungkur ke tanah.
"Aku harus mempersembahkan tumbal untuk sang penguasa.Jika tidak, malam ini aku tak bisa tidur dengan nyenyak.Kau tahu itu?"Ia pun melangkah dengan menyeret putranya.
"Tidak, papa... Jangan berikan aku pada hantu menyeramkan itu pa.Aku takut!"Anak itu meronta ingin melepaskan diri.
"Bisa diam tidak?Kalau kau tak mau diam, papa akan melempar mu sekarang dari atas jembatan.Supaya tubuhmu hancur berkeping!" Seketika anaknya diam karena ancaman ayahnya.
Saat pria itu menyeret putranya untuk ikut dengannya, tiba-tiba tubuhnya di tendang oleh seseorang.
"Apa yang ingin kau lakukan dengan menarik tangannya secara paksa, heh?"Hardik si penendang.
"Jangan ikut campur dengan urusanku, bocah nakal."Tatapan tajam terlempar ke arahnya.
"Kakak, aku takut.Papa ingin menumbalkan aku kepada hantu menyeramkan itu, kak!" Ia menangis dengan tubuh gemetaran.
Diliriknya pria yang dia tendang itu.
"Dia itu anakmu, kenapa kau tega melakukan itu kepadanya?"Ia menarik tangan kecil anak itu.
"Aku lebih berhak atas putraku. Apa urusannya denganmu, bocah nakal?"Ia terus berteriak.
"Aku juga berhak atas dia.Dia juga adik sepupuku."Tuturnya.
"Tapi aku adalah ayahnya.Aku lebih berhak atas dia."Di dekatinya anak itu namun anak itu langsung bersembunyi di balik tubuh jangkung kakak sepupunya.
Ia pun menatap tajam pada putranya."Kau berani melawan ayah kandungmu, heh?"
"Selama ada aku, kau tak kan pernah bisa melakukan apapun kepadanya."Ucapnya sambil berlalu pergi dengan menuntun anak itu.
"Seharusnya aku menumbalkanmu juga saat kau masih kecil.Seharusnya kau mati bersama kedua orang tuamu.Dasar anak sialan!"Ia berteriak seperti orang gila.
"Suatu saat nanti, akan ku pastikan kau mati."Lanjutnya lagi.
Namun, pemuda itu tak menghiraukan teriakan pamannya itu.Ia memilih pergi membawa istri dan anak pamannya yang gila itu.
Seminggu telah berlalu, pria itu tak pernah muncul di hadapan mereka.Sampai suatu hari, ia datang lagi dengan bersikap baik.
Waktu itu, keponakannya sedang pergi untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar negri. Tepatnya ke Jerman selama dua minggu.
Padahal, rumah yang mereka tempati itu tak di ketahui siapapun.Namun, bagi si pria kejam itu sangat lah mudah mencari keberadaan istri dan anaknya.Dia meminta bantuan jin peliharaannya untuk mencari tahu.
Awalnya, istrinya ragu dengan ajakan suaminya.Namun, karena melihat sikap suaminya yang berubah, mereka pun luluh dan mengikuti ajakannya untuk kembali ke rumah mereka.
Di perjalanan, suaminya melihat anaknya yang tertidur di jok belakang.Ia merasa ini kesempatan bagus.Dengan menciptakan kecelakaan, ia menghilangkan bukti pembunuhan untuk anaknya.
Mobil berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Ia mengajak istrinya untuk berbelanja keperluan rumah tangga.
Entah kenapa, istrinya menjadi lupa jika anaknya masih di dalam mobil dan tertidur di sana.Ia melangkah dan meninggalkan anaknya tanpa membangunkannya.
Di kuncinya pintu mobil dan mereka melangkah masuk menuju pusat perbelanjaan.
Anaknya terbangun karena sudah merasa puas tertidur."Papa sama mama kemana?" Ia mencoba membuka pintu mobil namun terkunci.
"Papa...mama...!"Di gedornya kaca mobil namun tak di dengarkan orang tuanya karena mereka sedang berbelanja di dalam.
Tanpa di ketahui, ayahnya itu mengirim pesan kepada seseorang dan menyuruh menabrak mobil miliknya.
Saat anaknya sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil, tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil truk melaju dengan kencang ke arahnya dan menggulingkan mobil itu hingga terbalik dan meledak seketika.
__ADS_1
"Aaaaaaa...!"Jeritan anak itu melengking tanpa di dengar siapapun.
Semua orang menjauh saat mobil itu terbakar. Dan si pemilik di beritahu jika mobilnya terbakar.
Betapa sedihnya ibu si anak saat menyadari jika anaknya masih di dalam mobil yang sekarang terbakar.
Suaminya pura-pura ikut bersedih dengan menangis histeris di depan mobil yang sudah hangus terbakar.
"Putraku...hiks..huhuuu!"Keduanya menangis berpelukan.
Suaminya menyeringai menampakkan kemenangannya.
"Kak Hendri?"Sherly membuka matanya dan mundur saat melihat wajah sang ayah dari anak malang itu.
"Kakak mengenal papaku?Apa kak Zidane yang mengatakannya?"Tanya Agam.
"Zidane?"Ia melirik pria di sampingnya.
"Jadi, kamu beneran anaknya kak Hendri?" Sherly bertanya lagi.
"Iya, aku anaknya papa Hendri Prakoso." Jawab Agam.
"Kenapa kamu gak bilang bahwa kak Hendri sudah pernah menikah dan punya anak?" Sherly bertanya kepada suaminya.
"Aku kira kamu sudah tahu kalau pria jahat itu sudah menikah dan punya anak!"Jawab Zidane.
Sherly meggelengkan kepala."Selama ini, dia tak pernah menyinggung masalah istri dan anaknya.Malahan waktu itu, dia menyatakan cintanya padaku.Untungnya saja aku tak menerimanya!"Tutur Sherly.
"Dari pertama aku kan sudah bilang.Jauhi orang itu.Dia pria jahat dan kejam!"Zidane berkata lagi.
"Jadi, itu sebabnya kamu membenci kak Hendri?Dia yang menyebabkan kematian orang tua kamu dan juga yang berusaha mencelakaimu juga?"Sherly mulai mengerti.
"Bukan cuma itu, dia yang membunuh pembantumu dan anaknya juga!"Jelas Zidane.
"Apa?Maksudmu mbok Iyem dan putranya itu?"Sherly menutup mulutnya tak percaya.
Zidane mengangguk dengan menatap istrinya.
"Astaga, aku gak percaya dia bisa melakukannya?"Seketika Sherly mengingat semua kejadian bersama Hendri saat mereka mengungkap semua kasus pembunuhan.
Hendri terlihat wajar dan ia bertanggung jawab dengan pekerjaannya.Ia juga pria yang baik yang suka menolong siapa pun.
"Jangan menilai orang dari luarnya saja, sayang.Penampilan bisa menipumu!"Tutur Zidane lembut.
Sherly mengangguk dengan penuturan suaminya."Tapi aku masih gak ngerti, keapa dia melakukan itu?"Di tatapnya wajah Zidane dengan lekat.
"Apapun alasannya, biarkan dia yang menanggung semua dosanya."Kata Zidane.
"Tapi aku belum ketemu mama, kak!"Kata Agam.
"Dimana mama kamu sekarang, Gam?"Tanya Zidane.
"Aku sendiri gak tahu, kak Zidane.Mungkin papa mengurungnya."Tutur Agam.
"Kira-kira, dimana kak Hendri menyembunyikan istrinya?"Mereka pun tampak berpikir.
"Kami yang akan mencarinya!"Nania dan Alea muncul di sana.
"Bagus, gue lupa jika masih ada kalian. Baiklah, bantuin anak ini bertemu dengan ibunya ya!"Pinta Sherly pada kedua hantu teman mereka itu.
"Baik bos!"Keduanya memberi hormat kepada Sherly sambil terkekeh.
"Yuk, anak manis.Ikut kakak!"Ajak kedua hantu cantik itu.
"Iya tante."Agam mengikuti keduanya.
"Apa?tante?Hei nak, kita belum setua itu." Protes keduanya.
"Woi, kalian sudah tua.Sama gue aja tuaan kalian,"Kata Sherly menahan tawanya.
"Ah, sialan nih bocah.Ya sudah lah, terserah kamu saja.Yuk, pergi!"Mereka pun menghilang dari kamar Zidane.
"Mereka sudah pergi, yuk kita lakuin hal yang penting!"Ajakan Zidane membuat Sherly tak mengerti.
"Hal penting apa?"Dia tak mengerti.
Zidane mendekat dan menarik tubuh istrinya ke pelukannya sambil berbisik."Memproduksi anak!"Di peluknya erat tubuh istrinya dan tak mau melepaskannya.
"Kyaaa...aku kira apaan.Dasar mesum!"Ia meronta melepaskan diri.
"Mesum sama istri sendiri kan gak apa-apa, sayang!"Zidane mendorong tubuh istrinya ke atas kasur dan menindihnya.
"Hei, mau apa kamu?"Sherly berusaha mendorong tubuh suaminya.
"Jangan menolak lagi, sayang!"Di ciumnya bibir Sherly dengan rakus dan tangannya mulai melepaskan pakaian mereka.
"Apa kamu sudah siap, sayang?"Suaranya semakin lirih.
Dengan mengangguk, Sherly menyetujui permintaan suaminya.Karena tidak di pungkiri, ia pun menginginkannya saat ini.
__ADS_1
"Ini akan menyakitkan, sayang.Jadi, kamu harus menahannya."Tutur Zidane masih dengan napas yang memburu.
Sherly mengangguk pasti."Aku siap!"
Zidane mulai mengeluarkan kuasa boboyboi nya ke dalam markas untuk menerobos pertahanan Sherly.
"Hiks...sakit banget!"Air mata Sherly meluncur seketika saat boboyboi menerobos pertahanan markasnya.
"Apa sesakit itu, sayang?kalau begitu, kita sudahi saja permainan ini!"Zidane tak tega melihat Sherly yang kesakitan.
Tangan Sherly menahan tubuhZidane dan mendekapnya sambil menggelengkan kepala.
"Aku sudah siap, sayang.Lakukanlah!"Pinta Sherly memelas.
Dengan panggilan sayang dari Sherly, si boboyboi semakin terpancing dan menjadi tegang kembali.Ia mulai bergerak secara perlahan.
"Emmhhh...Zidane!"Ini pertama kalinya Sherly memanggil nama suaminya dengan benar.Bukan King Ice lagi.
Zidane yang mendengar panggilan namanya di telinga menjadi semakin bersemangat.
Zidane merasakan cairan hangat keluar dari area sensitif istrinya yang ternyata darah.
"Terima kasih, Machan ku.Kamu menjaga semuanya untukku!"Di ciumnya kening si Machan dengan sedikit lama.
"Terima kasih karena kamu juga melakukan yang pertama denganku,"Ucap Sherly.
Mereka pun melepaskan hasrat keduanya secara bersama.Menyatulah si King Ice dan si Machan menjadi satu. Dan juga tanda bulan di kening Zidane dan tanda bintang di punggung Sherly perlahan memudar dan entah kemana hilangnya tanda itu.
Mereka melakukannya berkali-kali sampai kelelahan.
"Aku sudah lelah, sayang."Napas Sherly tak beraturan.
"Ah, kalau tahu ini enak, kenapa gak kita lakuin ini dari kemarin saja!"Sherly terkekeh dengan perkataan suaminya.
"Hei, waktu itu kamu keburu pingsan, sayang. Boboyboi kalah sebelum berperang!"Ledek Sherly.
"Itu gara-gara kamu juga, sayang.Kenapa kau minum minuman kaleng?"Protes Zidane.
"Karena haus, ya aku minum lah"
"Tapi kan bisa minum air hangat atau air mineral saja."Kata Zidane.
"Aku suka minum yang dingin-dingin."
"Tak baik tahu minum air dingin di malam hari!"Nasihat suaminya.
"Iya lah...iya lah, besok aku gak akan minum yang dingin lagi.Suamiku saja cukup dingin!" Candaannya membuat Zidane melotot.
"Hei sayang, siapa bilang kalau aku dingin. Aku ini sangat hangat.Buktinya, sekarang kamu menempel di dekatku!"Di kedipkannya mata sebelah bermaksud menggoda istrinya.
"Apa?"
Zidane malah tertawa dengan teriakan istrinya.
πππ
Malam itu, Zidane dan Sherly berpamitan kepada keluarga Sherly.Mereka pulang menuju rumah pribadi Zidane yang berada di area perbukitan.
Namun, saat di jalan.Tanpa sengaja Sherly melihat seorang anak kecil yang sepertinya ia kenali.
Anak itu termenung sendiri di pinggir jalan dekat taman kota.
"King ice, disitu ada anak kecil yang lagi duduk sendirian.Kasihan dia."Di tunjuknya anak yang sedang menunduk di pinggir jalan itu.
"Kamu mengenalnya, sayang?"Zidane menoleh ke arah anak yang sedang menunduk."Dia bukan manusia, sayang!" Lanjut Zidane.
"Emang, dia anak yang menemaniku saat di rumah sakit waktu aku koma dulu."Tutur Sherly.
"Baiklah, kita dekati dan ajak dia pulang, ya!"Di tepikannya mobil Zidane di pinggir jalan dekat dengan anak itu.
Shely turun dan mendekat ke arah anak itu.
"Hei, Agam!"Di tepuknya bahu anak itu oleh Sherly.
Pemilik nama pun mendongakkan kepalanya.
"Kak Sherly!"Ia sangat senang dengan kehadiran gadis cantik di hadapannya.
Zidane seperti mengenal suara itu.Ia langsung menghampiri mereka."Agam?"Ia terkejut dengan anak yang di kenal istrinya.
"Kak Zidane!"Agam langsung melompat ke pelukan kakak sepupunya itu.
"Aku kangen kakak.Kenapa kakak pergi waktu itu?"Ia menangis di pelukan Zidane.
"Kenapa kamu seperti ini, Gam?Siapa yang melakukan ini padamu?"Zidane mengelus kepala dan wajah yang sudah gosong.
"Nanti saja ceritanya di rumah.Banyak orang lewat jalan sini.Nanti mereka mengira kalau kita gila."Tutur Sherly.
"Yuk, kita pulang!"Ajak Sherly kepada keduanya.
__ADS_1
Mereka pun pulang menuju rumah Zidane.
Sesampainya di rumah, Agam menceritakan semua yang dia ingat di bantu penglihatan Sherly sampai terkuaklah rahasia tentang seorang kapten Hendri.