Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Menemukan keberadaan


__ADS_3

"Ssstttt," Geri mengangguk mendengar desisan orang di belakangnya.


Bekapan tangan di mulut Geri di lepaskan. Kemudian dia berkata, "Jangan banyak bergerak karena luka di lenganmu mulai terbuka lagi." Geri langsung menoleh ke arah lengannya yang terluka.


"Ya tuhan. A-aku harus gimana?" Dia jadi gugup karena darah mulai merembes di kain yang dililitkannya tadi.


"Pakailah jaketku ini supaya darahmu tak tercium makhluk halus!" Pintanya yang langsung diangguki Geri.


Geri pun langsung memakai jaket yang di lepas oleh pemiliknya yang kemudian diberikan kepada Geri. "Terima kasih!"


"Oh iya. Kenapa kamu tahu jika aku berada disini?" Tanya Geri kepada pria yang sedang fokus memperhatikan kedalam ruangan.


"Karena dia." Tunjuknya tanpa menoleh.


Geri langsung melirik arah yang ditunjuk pria dingin tersebut dan ia sangat terkejut di buatnya sampai mundur ke belakang. "Whoaa!"


"Hai, Geri. Senang rasanya kamu bisa lihat aku sekarang. Selama bertahun-tahun aku di dekat kalian, kamu tak pernah bisa melihat atau menyapaku. Tapi sekarang, aku senang sekali karena kamu bisa lihat aku."


Nania berceloteh panjang kali lebar dan untungnya tak pakai kali tinggi.


Geri menatap hantu wanita ini dengan seksama. "Jadi, kamu itu hantu wanita yang selalu di dekat Zidane dan Sherly?" Nania mengangguk dengan pertanyaan Geri tersebut. "Ooh, jadi kamu yang sering menjahili aku kalau sedang di basecamp sendirian ya?"


Nania hanya nyengir mendengar perkataan Geri yang satu ini. "Hehehe. Abis kamu paling lucu deh. Maaf ya!"


"Hufft, ternyata rupamu tak menyeramkan seperti hantu yang lain. Baiklah, karena kamu cantik, aku akan memaafkanmu." Nania begitu senang mendengar pujian dari Geri yang mengatakan bahwa dirinya cantik.


"Uuuhhh, maacih Geri. Jadi gumush deh ama kamu. Boleh peyuuuuukkk?" Nania merentangkan kedua tangannya kesamping.


Geri menggelengkan kepala pertanda dia tidak mau. "Gak boleh! Aku takut pas kamu peluk kamu malah menggigit leherku. Bisa-bisa aku mati muda dan menjadi zombie, hiiii." Dia bergidik takut.


Nania malah terkekeh mendengar ucapan Geri. "Kamu kira aku vampir yang suka minum darah? Aku memang hantu, tapi bukan hantu seperti mereka yang suka minum darah manusia. Aku ini hantu berkelas. Makanan pun aku pilih-pilih. Kalau bukan pizza hut, ayam goreng si mail pun boleh saja!"


"Si ipin kali ah, sukanya makan ayam goreng." Mereka berdua tertawa dan langsung menjadi akrab.


"Oh iya, kenapa kamu bisa tahu jika aku berada disini? Aku belum menghubungi siapapun dan memberitahu kepada yang lain." Geri bertanya dengan penasaran.


"Itu mudah bagiku. Darahmu tercium sangat menggoda bagi makhluk halus. Aku mengikuti mereka kesini dan ingin mengetahui manusia mana yang dengan bodohnya bisa terluka di tempat ini." Geri membulatkan mata mendengar Nania bilang manusia bodoh.


"Namun saat kesini, aku tak melihat siapapun dan tak mencium darah lagi selain di dekat jendela. Tapi, aku penasaran dengan itu. Makanya, aku bersembunyi di dekat pintu dan melihatmu bergerak mengendap. Jadi, aku langsung laporan deh sama pak komandan kalau sahabat istrinya ada disini dan menemukan istrinya."


Penjelasan Nania yang panjang dan cepat seperti kereta patas. Geri pun mengangguk mengerti dengan penjelasan hantu wanita di depannya.


"Baiklah, hantu cantik. Aku sudah paham dengan penjelasanmu. Tapi, aku tak mengerti apa yang di lakukan Hendri di dalam." Kata Geri.

__ADS_1


"Dia akan melakukan pengorbanan dengan mengorbankan janin di rahim istriku." Ucap Zidane datar.


Geri terkejut mendengar perkataan Zidane. "Apa maksudnya itu?"


"Nanti saja di jelasinnya. Aku siap kok menjelaskan semuanya sama kamu. Sekarang, kita tolongin dulu si galak dari penjahat itu!" Kata Nania.


Geri pun hanya bisa pasrah mengikuti arahan Nania untuk menolong Sherly walaupun hatinya sangat penasaran.


"Kamu akan melepaskan ikatan si galak, sementara kami bertarung dengan si penjahat Hendri." Geri mengangguk mengerti.


"Tapi awas, jangan melukai walau hanya luka kecil saja. Darah si galak sangat berbahaya jika menetes di lingkaran yang ada di bawah meja tersebut." Lanjut Nania memperingatkan. "Bukan begitu, ganteng?" Zidane hanya mengangguk sekali saja.


"Tapi, aku kan gak mungkin nyakitin Sherly." Geri tak terima.


"Kamu gak bakal nyakitin dia. Tapi, ikatan yang ada di tangan dan kakinya lah yang akan menyakiti sampai membuat luka yang akan mengeluarkan darah dari tubuhnya." Jelas Nania lagi.


"Baiklah. Aku akan mengingatnya!"


Mereka pun mulai bergerak dengan bersiap untuk menghadapi Hendri. Sementara Geri bersiap untuk melepaskan ikatan Sherly.


"Ganteng. Apa yang harus kita lakukan dahulu? Apa harus menyerangnya langsung atau ...?"


"Ikuti saja aku, Nania!" Ucap Zidane singkat.


Pintu perlahan di dorong oleh Zidane dan Nania hanya mengikutinya di belakang. Sementara Geri, dia mengendap dan bersembunyi di pojokan untuk bersiap menyelamatkan Sherly.


Sayang, aku datang. Aku tidak akan membiarkanmu celaka oleh orang jahat ini. Maafkan keterlambatanku, sayang.


Zidane merasa sangat bersalah kepada istrinya. Dia terus menatap ke arah meja yang terdapat Sherly di atasnya.


Hendri terlihat sedang menundukkan kepala berulang seperti memberi hormat di depan patung dan gambar seorang raja dengan dupa di tangannya. Sebuah mantra ia alunkan bersamaan degan penghormatannya kepada patung dan gambar raja di depannya tersebut.


Zidane dan Nania berjalan perlahan supaya tak terdengar olehnya. Namun sialnya, langkah kakinya ternyata di rasakan oleh jin peliharaan Hendri.


"Huhuhahahaaa. Manusia bodoh, kau mengantarkan nyawamu kemari dengan suka rela!" Jin itu menghadang langkah kaki Zidane dan Nania yang akan mendekat ke arah Sherly.


"Ganteng, gimana ini?" Nania ketakutan dengan jin besar di hadapannya.


"Tenang, Nania. Fokus pada pikiran dan kekuatanmu. Jika kamu takut, dia akan menguasai pikiranmu dan kamu akan kalah olehnya!" Jelas Zidane.


Nania pun mengangguk dan memusatkan pikirannya pada keberanian dan kekuatannya. "Oke, aku siap!" Ucapnya kemudian.


Karena merasa terganggu, Hendri pun berbalik menoleh ke belakang dan melihat Zidane bersama hantu wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Hmph, bocah nakal. Ternyata kamu itu sangat pintar dan ahli dalam mencari jejak ya." Dia terkekeh mengatakannya. "Tapi, kamu itu tak sepandai yang saya duga. Kamu masuk kesini dan disini sudah ada istrimu. Tentu itu sangat memudahkan untuk saya mendapatkan kekuatan semesta. Karena, saya bisa mendapatkan dua kekuatan sekaligus," Seringai jahat Hendri. "Oh tidak, tiga sekaligus."


Hendri berjalan mendekat ke arah Sherly dan mengelus perutnya dengan tangan.


"Berhenti kamu. Jangan pernah menyentuhnya walau hanya seujung kuku saja. Karena, aku akan menebas tangan yang berani menyentuh bagian tubuhnya!" Peringat Zidane dengan amarah yang membara.


"Oh ya. Bagaimana jika bukan cuma menyentuhnya saja? Tapi, saya sudah melakukan yang lebih dari itu. Misalnya, menengok bayimu di dalam rahimnya?" Ucap Hendri memancing amarah Zidane.


Sherly hanya menggelengkan kepala sambil meneteskan air mata. Mulutnya di sumpal oleh kain yang diikat melingkar di kepala.


Zidane yang melihat kondisi istrinya yang begitu menyedihkan menjadi sangat geram. Dalam keadaan hamil, Sherly terlihat kurus karena mungkin saja dia tak makan apapun yang di berikan Hendri kepadanya. Makanan bergizi yang seharusnya di konsumsi seorang ibu hamil, namun Sherly tak mengkonsumsinya.


"Kurang ajar! Kau memperlakukan menantu keluarga Prasetyo dengan begitu kejam. Aku gak akan memaafkanmu yang telah memperlakukan istri seorang Zidane seperti itu." Tangannya terkepal sampai urat di tangannya terlihat dan juga deru napas yang memburu.


"Hahaha. Apa yang akan kau lakukan kepada pamanmu ini, nak? Apa kau akan membunuh pamanmu? Atau ... kau akan membiarkan pamanmu memiliki istri cantikmu?"


"Hiyaaa." Zidane sudah sangat geram mendengar perkataan Hendri. Dia menerjang ke arah Hendri dan melayangkan pukulan ke wajah pamannya. "Jangan pernah menguji kesabaranku, bajing*n!"


Hendri yang tak siap menangkis pukulan dari keponakannya sampai wajahnya terkena pukulan keras dari Zidane. Tanpa ampun, Zidane terus menghajar pamannya yang jahat itu.


Bak ... buk ... brakkk


Pukulan demi pukulan terus dilayangkan ke arah Hendri oleh Zidane dengan sangat brutal. Dia sudah tak bisa menahan dirinya lagi di tambah mendengar ucapan Hendri yang terkesan meremehkannya.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Hendri." Teriak Zidane dengan amarah yang tak terbendung lagi.


Hendri tersungkur ke lantai dengan darah yang menetes di sudut bibir, "Cuih, bocah sialan. Kau belum tahu dengan siapa kau berhadapan. Seorang Hendri telah lahir saat kau belum di lahirkan. Jadi, aku tahu apa yang menjadi kelemahanmu!"


Dia memejamkan mata dan membacakan sebuah mantra dan tiba-tiba angin kencang berhembus di ruangan tersebut.


Wuuuusshhh


Angin kencang meniup segalanya membuat Zidane juga yang lain menghalangi pandangan dengan tangannya. Tak lama kemudian, terlihat dua orang yang sudah lama Zidane rindukan hadir di tempat ini menatapnya dengan rasa rindu yang teramat sangat.


"Zidane!"


Si pemilik nama mendongakkan wajahnya mendengar panggilan dari suara yang sangat ia hapal dan juga rindukan.


"Mama!"


**Dukung author dengan like, komen, dan juga votenya. Eits, jangan lupa bunga mawar atau kopinya.


Terima kasih banyak gengs๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜**

__ADS_1


__ADS_2