
Lama sekali Zidane terduduk di pojokkan dengan berdiam diri. Entah apa yang dia pikirkan, karena saat ini matanya terpejam seperti sedang menerawang sesuatu dan bergumam seperti membacakan sesuatu juga.
Sherly tertunduk di hadapan Zidane dengan beruaraian air mata. "Maafkan aku, Zidane! Aku ... hiks ...aku gak bisa menjaga amanah darimu. Ternyata aku wanita lemah yang tak mampu mempertahankan apa yang sudah kumiliki. Jika kamu ingin marah dan membenciku, maka lakukanlah. Itu hakmu untuk memarahi dan membenciku!"
Zidane menatap istrinya, kemudian tangannya mengusap air mata yang berjatuhan di pipi dengan menuntunnya untuk berdiri. "Tidak, sayang. Kita tidak kehilangan dia. Anak kita ada dalam kandunganmu!"
Tangan Zidane mengusap lembut perut Sherly. Seketika, sesuatu bergerak dalam perut Sherly. "Aww!" Ringisan istrinya membuat Zidane tersenyum. "Kau merasakannya?" Sherly mengangguk.
"Iya. Ada sesuatu yang bergerak dalam perutku. Tapi, apa itu?" Pertanyaan polosnya membuat Zidane terkekeh.
"Itu anak kita, sayang!"
"Tapi, dokter menyatakan kalau aku mengalami pendarahan sewaktu di bawa kemari. Aku kehilangan calon bayi kita, sayang!" Ucap Sherly lirih.
Zidane memeluk istrinya dengan mesra sambil mengecup keningnya. "Mereka hanya menyimpulkan berdasarkan apa yang di lihat dari luar. Mana mungkin anakku selemah itu!"
"Maksudmu, kamu meragukan ilmu kedokteran, Zidane?" Tanya Rian kesal. "Kami bekerja dengan profesional, dan tidak mungkin ...!"
Ucapan Rian harus di potong Zidane. "Apa seorang dokter tak mungkin melakukan kesalahan? Mereka tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut, bukan? Hanya karena melihat kondisi istriku yang seperti itu kalian menyimpulkan bahwa dia keguguran!"
Rian tak bisa menjawab. Dia ingat dengan apa yang dikatakan dokter yang waktu itu memeriksa Sherly saat istri tuan muda dingin itu di bawa ke rumah sakit.
"Dia mengalami pendarahan hebat, kemungkinan bayinya tak bisa terselamatkan!"
Ucapan dokter terngiang di telinga Rian dengan jelas. Saat itu juga Rian kebingungan dengan apa yang harus di jelaskan kepada Zidane.
Tapi kini, Zidane bilang Sherly tak keguguran. Apa yang salah dengan pemeriksaan dokter waktu itu? Apa Zidane sampai setres dan mengada-ada karena kehilangan anak pertamanya?
"Jika kamu tak percaya,ayo kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk istriku. Lakukan USG supaya kau percaya dengan perkataanku!" Rian menoleh ke arah Sherly dengan tatapan ragu. "Tapi ingat, ini hanya antara kita dan dokter itu. Aku gak mau ada yang tahu jika anakku masih hidup. Karena itu akan mengundang bahaya untuk istri dan anakku!"
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Rian.
"Maka carilah dokter terpercaya yang bisa membantu kita, bodoh. Masa gitu aja kamu gak ngerti!"
Rian berdecak sebal karena Zidane selalu mengatainya bodoh. "Ckkk, baiklah tuan muda yang pintar. Aku akan mencarikan dokter yang bisa kita andalkan. Kamu puas?"
Zidane pun mengacungkan jempolnya ke arah Rian yang sedang memutar bola matanya.
"Tapi, aku masih penasaran denganmu. Bagaimana kamu yakin jika anak kalian masih hidup? Gimana caranya kamu mengetahui anak itu masih hidup di dalam rahim istrimu?" Tanya Rian penasaran.
Sherly pun menyimak apa yang akan di jawab oleh suaminya atas pertanyaan Rian. Dia sama halnya sangat penasaranseperti Rian saat ini.
Sherly yang mengandung, dan otomatis dia lebih tahu di banding orang lain. Karena, selama ini dia tak merasakanapapun dalam perutnya. Bahkan pergerakan kecil saja. Hanya rasa sakit di bagian perut bawah yang terasa menusuk dan mengganggunya.
"Aku bisa melihat jagoanku tumbuh di rahim istriku dengan sehat. Hanya saja saat ini dia terjepit dan turun ke bawah. posisinya sedang tak baik saat ini, karena ibuya selalu ceroboh dan bergerak sesuka hati." Sherly menyipitkan matanya mendengar perkataan suaminya.
"Kamu bisa melihat keadaan anak kita di dalam perutku?" Zidane hanya mengangguk. "Lalu, kamu juga tahu jika di dalam kandunganku itu seorang bayi laki-laki?" Lagi-lagi Zidane mengangguk pasti.
"Kok bisa?" Kini giliran Rian yang bertanya.
Zidane mendekati Rian. "Apa kamu percaya bahwa jodohmu nanti adalah dokter yang akan memeriksa istriku?"
Rian tak mudah percaya dengan perkataan Zidane. Bagaimana bisa sahabatnya itu memprediksi wanita yang akan menjadi jodohnya nanti.
"Kita lihat saja nanti. Aku gak mau percaya kepadamu. Musyrik namanya!"
Zidane malah mengacungkan kedua jempolnya. "Bagus. Berarti kamu masih waras!"
"Cih, kurang asyem. Aku kira kau akan marah karena aku meragukanmu dan tak mempercayaimu."
__ADS_1
"Hahaha!"
"Jadi, kita tidak boleh memberitahu siapapun kalau kakak ipar masih mengandung?" Tanya Rian lagi.
"Biarkan mereka mengira jika anakku sudah gak ada. Aku ingin memastikan sesuatu yang selalu mengganggu pikiranku setiap hari!" Wajah sendu Zidane terlihat.
"Apa itu tentang Hendri?" Zidane pun menoleh ke arah istrinya.
"Apa kamu merasakan sesuatu?"
Sherly menggelengkan kepala perlahan. Ia menghela nafas sebelum bercerita kepada suami dan sahabat suaminya itu.
"Malam kemarin aku ...!
▪▪▪
Sherly berjalan-jalan di taman rumahnya. Sekelebat dia melihat sesuatu yang bergerak dengan cepat. Bayangan yang terlihat dari ujung matanya perlahan mendekat ke arahnya.
"Sayang, apa kamu merindukan saya?"
Suara yang masih bisa di kenali Sherly dengan jelas Walaupun sudah lama dia tak mendengarnya.
Sherly memutar tubuhnya menghadap sumber suara. "Hendri!"
Pria itu tersenyum dengan tangan yang terulur namun dengan cepat Sherly menepisnya.
"Jangan menyentuhku!"
"Sayang, saya merindukan dirimu." Sherly sangat jijik mendengar suara manja Hendri. "Apa kabar bayi jagoan keponakan nakal?"Tangannya terulur ingin menyentuh perut Sherly dan lagi-lagi di tepis olehnya. "Ah, seharusnya dirimu itu menjadi perisai saya waktu itu juga. Jika ayahmu tak mengacaukannya, mungkin saya akan menjadi manusia paling sakti!" Lanjut Hendri.
"Pergilah dari hadapanku, Hendri. Kau itu sudah mati, dan karena ulahmu, anakku juga pergi!" Teriak Sherly.
"Hahaha ... apa kau mau menipu saya, sayang? Seonggok daging itu masih hidup di dalam rahimmu. Jika saja saya bisa menyentuhnya, mungkin saya akan menyenangkannya dengan mencekik leher mungil itu."
"Kau memang bukan manusia, Hendri. Bayi yang belum lahir pun kau ingin habisi. Pantas saja kau tak segan membunuh istri dan anakmu sendiri." Ucap Sherly kesal.
"Hahaha. Saya akan melenyapkan siapapun yang menghalangi keinginan saya. Termasuk, istri dan anak yang tak berguna itu!"
Tawa Hendri menggelegar dan perkataannya membuat siapapun takut. Tatapan mata yang tajam tersirat banyak keinginan dan obsesi yang sangat besar.
Dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.
"Kau memang bajingan, Hendri."
"Terima kasih atas pujianmu, sayang!"
"Aku tidak sedang memujimu."
"Itu lebih dari cukup!"
"Pergi kau dari hadapanku!"
Bukannya pergi, Hendri malah semakin mendekat. "Dengan senang hati."
"Gue bilang pergi!"
Buka Hendri namanya jika langsung menuruti perkataan Sherly. Gadis bintang yang selalu diincarnya.
Hendri semakin mendekat dan mengulurkan tangan yang kemudian langsung mendekap tubuh kecil Sherly. "Sesuai permintaanmu, sayang!"
__ADS_1
Sherly meronta ingin melepaskan dekapan Hendri dari tubuhnya. Dia sangat jijik dan tak mau tubuhnya di sentuh oleh penjahat itu.
Namun apalah daya, kekuatannya seakan menghilang dan dia pun tak bisa melepaskan dekapan Hendri. Sia-sia saja usahanya untuk melepaskan diri dari si penjahat itu.
"Hendri, lepaskan aku!"
"Sayang, saya selalu senang dengan panggilan kak Hen seperti dulu. Mengapa sekarang kau tidak menyebutkannya. Bahkan, sekarang kau memanggil nama saya langsung seperti itu. Gak sopan!" Kata Hendri dengan nada di buat-buat.
"Gue gak akan manggil lu dengan sebutan itu lagi. Karena, lu bukan orang yang gue kenal seperti dulu. Gue udah tahu semua kebusukan lu mulai dari lu yang sudah membunuh kedua mertua gue!" Teriak Sherly dalam dekapan Hendri.
"Itu karena kedua mertuamu itu menghalangi jalan saya untuk mencapai kesuksesan. Dan juga, dia yang membuat saya menikah dengan gadis yang saya tak suka. Mereka bilang kalau saya akan bahagia jika menikahi gadis pesantren itu. Tapi ternyata, gadis itu malah selalu melarang saya dan menasehati saya supaya meninggalkan jalan yang sudah saya tempuh."
"Gadis itu selalu mengganggu tidur saya dengan suara cemprengnya. Supaya saya bangun dan melaksanakan shalat."
Dasar gila. Seorang istri seperti itu dia bilang mengganggunya. Memang dia tidak tak tahu diri. Istri sholehah dia tolak.
"Saya tidak suka kepadanya saat dia melarang saya menumbalkan anaknya supaya saya kuat dan awet muda. Makanya, saya membunuh anak itu dengan cara menyewa orang untuk menabrak mobil saya yang terparkir."
Memang dia tidak waras. Masa iya ada seorang ibu yang setuju menumbalkan anaknya untuk di jadikan tumbal oleh suaminya yang bersekutu dengan setan?
"Kau ini kan non muslim. Jadi, kau tak akan pernah mengganggu saya untuk melakukan ibadah. Dan kau pun tak akan mengganggu tidur saya dengan membaca qur'an seperti dia."
Ckk, walaupun gue non muslim, tapi kalau suami gue seorang muslim, gue akan tetap membangunkan dan mengingatkan dirinya setiap waktu untuk melaksanakan ibadah. Untung suami gue itu si king ice yang sholeh. Dia ingat kewajibannya sendiri walaupun gue sering lupa untuk membangunkannya. Dia selalu menjalankan ibadah saat mendengar suara adzan, sama seperti daddy dan kak Al.
"Apa yang kau pikirkan, sayang. Sampai wajahmu terlihat serius seperti itu!"
Sherly tak mau menjawab apapun yang di tanyakan Hendri. Dia memilih diam sambil berusaha melepaskan dekapan Hendri.
"Diamlah, sayang. Kau membangunkan sesuatu!"
Mendengar perkataan Hendri, Sherly mengerti apa yang di maksud Hendri karena Zidane selalu menggodanya seperti itu. "Brengs*k kau, Hendri. Lepasin gue!"
Hendri yang terpancing dengan pergerakkan Sherly pun langsung menjatuhkan tubuh kecil Sherly di atas rumput taman, kemudian dengan cepat dia menindihnya.
"Kau memancing saya untuk melakukan sesuatu yang lebih. Zidane sekarang tak bisa memuaskanmu, bukan! Maka dari itu, biarkan saya menggantikannya untuk menengok bayi mungil itu!"
Kedua tangan Sherly di kunci ke atas oleh satu tangan Hendri. Tangan satunya dia gunakan untuk menekan kedua pipi Sherly dan menahannya untuk bisa di gapai olehnya.
Melihat tatapan buas Hendri membuat Sherly ketakutan. Dia berusaha meronta melepaskan diri namun tak bisa melakukannya.
Tenaganya seperti telah habis terkuras dan dia tak bisa melawan bahkan hanya bergerak saja.
Wajah Hendri semakin dekat untuk menyentuh bibirnya. Sherly juga tak bisa berteriak untuk meminta tolong kepada siapapun.
Suaranya seperti tertahan di tenggorokan saat tangan Hendri menekan kedua pipinya. Hanya isak tangis yang keluar dari mulutnya.
"Tolong ... tolongin aku, king ice ... daddy ... kak Al!"
Teriakannya tak pernah bisa keluar untuk di dengar oleh orang lain. Entah apa yang membuatnya tak bisa mengeluarkan suara atau melakukan pergerakkan saja.
Gue gak sudi dia menyentuh tubuh gue barang sedikitpun. Gue gak ikhlas, gak ridho jika iblis ini melakukan itu. Tuhan, tolong aku supaya selamat dari iblis jahat ini. Kirimkan seseorang untuk menyelamatkanku dari iblis bernama Hendri.
Kini Sherly kebingungan sekaligus sangat ketakutan. Apapun tak bisa di lakukannya selain berdo'a, berharap ada yang datang menolongnya.
Apakah Sherly harus pasrah untuk hal yang menjijikan ini? Ataukah, dia tetap berusaha melawan kekuatan Hendri yang tak bisa di kalahkan olehnya?
"Akan ada orang yang mengincar nyawa anak ini walaupun bukan saya orangnya."
Sherly mendengar jelas plerkataan Hendri. Dia saat ini sangat ketakutan, di tambah ucapan Hendri yang membuat dirinya menjadi cemas dan gelisah.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu, kumohon!"