Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Jum'at keliwon


__ADS_3

"Hai kakak ipar, apa kabar?"Dokter Rian melangkahkan kakinya menuju ke arah dua orang yang saling terdiam.


"Hehh?"Keduanya saling berpandangan setelah mendongakkan kepala.


"Siapa kakak iparmu hehh?"Zidane langsung menarik kerah baju dokter Rian.


"Whoa..whoa..santai bro, maksud gue itu ya dia!"Tunjuk Rian pada Sherly.


"Memangnya kamu punya kakak?" Zidane terus maju sehingga Rian terus mundur.


"Kau jangan mematahkan semangatku lah tuan muda?aku kan sudah mendampingimu selama lima belas tahun, yang otomatis aku ini saudaramu.iya kan?"Rian tak mau kalah.


"Gak sudi aku punya saudara seperti kamu yang pecicilan!"Zidane melangkahkan kakinya menuju sofa. Ia pun duduk di sana sambil menyalakan televisi.


"Hai kakak ipar,"Rian menyapa Sherly yang diam sambil memperhatikan mereka.


"Apa dia kasar padamu?kalau dia kasar, bilang saja pada keluargamu!"Ia terus mengoceh.


"Hah, bukannya kalau nanya gitu, jawabannya bilang saja sama aku, bukan keluargamu"Cibir Sherly.


"Iya itu kan orang lain.masalahnya, aku juga takut sama dia.heheheee" Ia berbisik sambil cengengesan.


"Cih, dasar."Sherly pun melangkahkan kakinya mengikuti Zidane yang sedang duduk di ruang tengah.


"Mana si genit?apa dia gak ikut?" Tanya Sherly saat ia duduk di sofa.


"Dia diatas, lagi main game"Jawab Zidane santai.


"Owh"Cuma itu yang keluar.


"siapa si genit?apa di rumah ini ada orang lain selain kita?bukannya semua pelayan dan penjaga kamu suruh ke rumah utama?" Rian yang terus bertanya penasaran.


"Bukan urusan mu"Singkat Zidane.


"Cih, kebiasaan.nanya panjang lebar, cuma di jawab gitu doang!"Gumam Rian.


"Apa ada masalah, dokter Rian?"Zidane bertanya tanpa menoleh ke arahnya.


"ah, enggak kok.hehe.."Ia jadi takut.


"Eh kakak ipar, apa kita bisa mengobrol sesuatu?aku penasaran deh dengan ceritamu!"Rian terus mendekati Sherly dan duduk di sampingnya, membuat Zidane kesal dan melempar bantal sofa ke arahnya.


"Berhenti memanggilnya kakak ipar bodoh, dan satu lagi, jangan mendekatinya terus" Lemparan Zidane tepat mengenai kepala Rian.


"Aduh"Rian pun mengelus kepalanya yang tak sakit.


"Posesif sekali sih dia ini, bucin akut" Rian menggerutu dalam hati.karena, dia itu gak sanggup mengutarakan kekesalannya pada Zidane.


"Jangan menggerutu terus, itu bisa tumbuh jadi penyakit hati"Zidane berkata tanpa menoleh.


"Hahh?"Sherly dan Rian saling pandang.


"Aduh, dia tahu kalau aku merutukinya!" Rian menatap Zidane dengan takut.


"Gue kan dari tadi cuma diem, gak ngomong apa-apa"Sherly menatapnya heran.


"Hemhh"Zidane tersenyum menatap keduanya namun senyumnya ia sembunyikan dengan memalingkan wajahnya.


"Eh, elu tersenyum ya?"Sherly yang melihat senyuman si king ice sepintas.


"Siapa yang tersenyum?mata kamu picek?"Sinis Zidane.


"Ehh, dia bilang mata gue picek katanya?jelas banget gue liatin elu senyum"Cibir Sherly.


"Kakak ipar, kamu jangan salah, dia itu gak pernah tersenyum.soalnya, pada saat pembagian senyuman, dia sudah kehabisan.jadi, ya kaya gitu." Rian berkata tanpa rasa bersalah.


Plakk


"Aduh, sakit woi"Rian kembali mengaduh karena kepalanya di kemplak si tuan muda.


"Ish, kau ini.kepala gue itu di fitrahin sama...."


"Aku yang selalu bayarin fitrah kamu, jangan banyak protes!"Kata Zidane santai.


"Ehh..hehehe..iya ya, tuan muda yang bayarin fitrah.maaf, aku gak marah kok.kalau mau geplak lagi, ayo, silahkan!" Seru Rian dengan sengaja.


"Kamu marah?"Zidane memicingkan matanya.


"Mana mungkin aku marah, aku gak berani marah sama tuan muda."Ucap Rian dengan cepat.


"Kalau begitu, pergi sana.aku ingin bicara dengannya"Usir Zidane pada sahabatnya itu.


"Baiklah, semoga beruntung kakak ipar.aku akan membantumu dengan do'aku.bye.."Ia pun berlari menaiki tangga menuju lantai dua.


"Hei, apa maksudmu bicara seperti itu?kita cuma mau berbicara, bukan mau berperang!"Teriak Zidane sebelum Rian berlari dari tempat yang menurutnya cukup panas.ewhh...


"Dasar, dokter gila"Lanjutnya lagi.


"Kenapa elu suka manggil dia dokter gila?bukannya dia itu sahabat lu ya?"Tanya Sherly.


"Biarin, dia memang gila"Ucap Zidane lagi.

__ADS_1


"Hemh..terserah, oh iya, elu mau ngomong apa?"Tanya Sherly penasaran.


"Jauhi Hendri!"Zidane langsung mengatakannya tanpa basa basi.


"Hahh?"Sherly tak mengerti.


"Jauhi paman si ganteng, gadis galak"Nania muncul entah dari mana membuat Sherly terkejut.


"Aaaa...sialan lu" "Plak"Sherly memukul lengan Nania sehingga ia mengaduh."Aduh"


"Dateng kok gak bilang-bilang, bikin kaget aja sih?"Tangan Sherly siap melayang ke arah Nania.


"Whooaaa..ganteng, selamatkan aku. Dia memang benar-benar galak"Nania langsung melompat ke sofa dekat Zidane.


"Lagian, tiba-tiba aja nongol, bikin gue kaget aja sih?untung gue gak jantungan" Sherly menghampiri Nania.


"Ampun"Nania menyatukan kedua tangannya." Oke, gue gak akan melakukannya lagi kecuali lupa. Hehehe.."Ia malah cengengesan.


Sherly langsung menerjang tubuh Nania dan menindihnya.


"Gan..teeeng..sela..matkan a..kuhh" Nania menggapaikan tangan keatas dengan berkata terbata karena tubuhnya di tindih Sherly sehingga suaranya tertahan.


"Kalian kaya anak kecil saja sih?"Cibir Zidane.


"Bodo amat"Sherly dengan sengaja malah menekan tubuh Nania dengan kuat.


"Haaaaaaaa..mati gue,"Rengek Nania.


"Elu kan emang udah mati, dodol"Ledek Sherly yang sengaja.


Zidane menjadi tak tega, ia pun berdiri."Hei..hei..sudah cukup, jangan bertengkar lagi"Lerai Zidane.


Namun, Sherly tak mendengarkan.


"Aku bilang, berhenti"Zidane langsung mengangkat gadis itu dengan melingkarkan tangannya di perut Sherly dari belakang.


"Whooaaa..apa yang elu lakuin?"Ia meronta saat tubuhnya terangkat.


"Aaahhh...leganya"Nania langsung berdiri dan meregangkan ototnya.


"Dasar, gadis galak.hemhh"Cibirnya.


"Sini lu genit, gue pites tuh mulut"


"Wlekk.."Nania semakin meledeknya.


"Kalian bisa diem gak sih?aku pusing" Teriak Zidane membuat Rian terkejut dan turun.


"Ya ampun, dia maksain kakak ipar buat melakukan itu.mungkin kakak ipar gak mau, makanya dia berteriak"Batin Rian salah paham.


"Maaf, teruskan saja"Ia pun berlari ke atas lagi, meninggalkan dua orang yang terlihat olehnya.


"Hehh?"Mereka bertiga tak mengerti dengan ucapan Rian.


"Apa yang dia katakan?"Tanya Zidane pada keduanya.


Sherly dan Nania menggeleng.


⚘⚘⚘


Di tempat lain.


Sebuah kecelakaan terjadi di jalan utama tol dalam kota.


Sebuah truk bermuatan minuman, menabrak sebuah pengendara motor yang berjenis kelamin perempuan.


Saat itu, si pengendara motor akan berbelok.namun, mobil truk yang mengalami rem blong, tak sengaja membanting stir ke arah kiri sehingga motor itu tertabrak dan terpental jauh ke depan.


Perempuan itu pun meninggal di tempat dengan kondisi terluka parah.


Saat itu, Geri yang habis mengantarkan mobil pelanggan yang sudah di modifikasinya di bengkel Indra.ia tak sengaja melewati tempat kejadian perkara, dan melihat jasad si pengendara motor.


"Wah, kasihan sekali dia"Geri yang pulang dengan taksi setelah mengantarkan mobil pelanggan.


Kriiiing..


Suara notifikasi telpon masuk.


"Hallo, ada apa bro?"Tanya Geri setelah mengangkat sambungan telponnya.


"Sekarang juga ke basecamp, kita tunggu" Kata si penelpon.


"Oke!"Sambungan pun di putusnya.


"Ke perumahan permata indah ya pak, jalan kembang goyang nomor dua satu"Ucapnya pada supir taksi.


"Baik mas"Ucap sang supir, dan ia melajukan taksinya ke tempat yang di bilang penumpangnya.


Di basecamp


Indra, Dika, dan Iren yang sedang duduk menunggu sahabatnya, termenung di dalam basecamp tanpa ada sepatah kata pun pembicaraan di antara ketiganya.

__ADS_1


"Apa kita akan diam terus seperti ini?"Dika memulai percakapan.


"Hahh, gue bingung Dik.apa yang harus kita lakuin dengan Sherly?dia sekarang jadi sering menemui si Zidane itu dan mengabaikan kita" Helaan napas panjang Indra yang mengeluhkan tentang sahabatnya.


"Jujur, gue juga iri sama dia.dia baru ketemu udah dapet perhatian Sherly."Dika menunduk.


"Ah, gak usah sedih-sedihan deh.dia lagi nunjukin tanda terima kasihnya pada si es itu.kan kalian tahu sendiri, kalau nyawa Sherly tertolong gara-gara dia"Bujuk Iren meneangkan hati keduanya.


"Kita nyanyi-nyanyi yuk,biar gak borrieng nih!"Lanjutnya lagi sambil menyerahkan gitar sama Dika.


Dika menerima gitar itu."Lagu apa ya?emmhh"Sejenak ia berpikir.


"Karena ini malam jum'at keliwon, gue nyanyi lagu itu aja deh!"Sambil memetik gitarnya.


"Ih, kok malem jum'at keliwon sih lagunya?bikin merinding aja"Iren tak setuju.


"Udah biarin aja.kan ada aku.ting" Kata Indra menenangkan pacarnya sambil megedipkan sebelah matanya.


"Terserah deh!"Iren duduk di samping kekasihnya itu.


Gitar pun di petik dan Dika mulai bernyanyi.


*Pada malam jum'at keliwon,


Aku pulang lewat kuburan,


Aku bertemu perempuan,


Duduk rileks di batu nisan.


Aku nyengir dia tertawa,


Gigi ompong banyak taringnya,


Rambut panjang botak atasnya,


Jari tangan keriting semua.


Merinding bulu jaketku,


Tak dapat ku berlalu,


Ketika aku mau pingsan,


Akhirnya dia pingsan duluan,


Mencium badanku bau menyan,


Melihat celana kedodoran,


Keringat basah seluruh badan.


Malam jum'at yang selanjutnya,


Ku bermaksud lewat lainnya,


Malah nyasar ke hutan rimba,


Tempat setan berpesta pora*.


"Hahahaaa..lucu juga ya Dik, hebat lu..prok..prok..prok"Iren tertawa dengan bertepuk tangan.


"Iya lucu, hihihiiii"Suara seorang wanita tertawa tapi entah darimana asalnya, membuat ketiganya saling bertatapan.


"Siapa itu?"Tanya Dika dengan suara lantang.


~Namun tak ada jawaban dari siapa pun~


"Glek"Mereka menelan ludah dengan kasar.


"Sherly, jangan bercanda lu?"Iren memberanikan diri bertanya.


"Sher....Sherly"Panggil Iren lagi.


~Tetap tak ada jawaban~


Mereka pun bergidik takut, dan saling berpelukkan satu sama lain.


Belum berhenti disitu, mereka juga harus di buat takut dan terkejut dengan suara benda jatuh.


Gubrak..


"Haaaaaaa"Ketiganya berteriak.


☆☆☆


Ayo, siapa itu?penasaran khaaaannn...??


Sama, otor juga.


Makanya, pantengin terus ceritaku supaya tahu kelanjutannya ya.

__ADS_1


Terima kasih😘😘😘😘


__ADS_2