
Tiga puluh lima menit sebelumnya..
Geri yang pulang dengan taksi setelah mengantar mobil pelanggan. Ia melewati jalan yang disana terjadi sebuah kecelakaan, dimana pengendara motor tertabrak oleh truk bermuatan berat di jalan berbelok.diketahui pengendara itu seorang wanita.
Pengendara itu tewas di tempat, sedangkan supir truk terluka parah.
Geri melihat jelas korban kecelakaan itu, ia bergidik ngeri saat melihat wajah dan tubuh si korban berlumuran darah.
Macet pun tak dapat di hindari, taksi yang di tumpangi Geri pun memilih jalan tikus untuk menghindari kemacetan.
Saat taksi itu melaju dengan kencang, tiba-tiba taksi itu berhenti sendiri seperti ada yang mengeremnya.
Cekiiiiiiiitt..
Gesekan ban mobil terdengar nyaring karena rem yang mendadak dan diinjak dengan kuat.padahal menurut pengakuan supir taksi, ia tidak menginjak rem sama sekali.
"Aaaaaa"Geri dan supir taksi itu terkejut dengan kejadian itu.
"Ada apa pak, kenapa tiba-tiba mengerem?"Geri bertanya dengan nada ketakutan.
"Saya tidak tahu mas, tiba-tiba mobilnya berhenti."Tutur supir.
"Bagaimana bisa terjadi?"Geri tak percaya dengan itu.
"Saya juga..."Ucapan supir terhenti oleh teriakan histeris Geri.
"Haaaaaaa"
Geri berteriak karena melihat sebuah tangan tanpa badan menempel di kaca depan mobil.di sana juga terdapat tulisan TOLONG yang di tulis dengan darah.
"I..itu a..apa pak?"Geri menutup matanya dengan menggunakan telapak tangan dan menunjuk ke kaca depan.
"Mas, jangan bikin saya takut"Supir tak berani menengok ke depan.
"Gi..gimana ini?coba nyalakan lagi mobilnya pak"Kata Geri masih dengan ketakutannya.
"Mana disini sepi lagi, ayo dong pak!"
Supir pun mencoba menyalakan mobilnya, namun tak mau menyala.
"Gggg..gak bi..bisa mas"Ia pun sama ketakutan.
Plak..criiiiiittt.. plakkk....criiiiiiittttt
Sebuat tangan berlumuran darah menempel di kaca samping, membuat mereka berdua teriak.
"Aaaaaaa"Keduanya berteriak saat menoleh ke kaca samping.
"I..iiitu tangan siapa mas?"Supir taksi ketakutan setengah mati.
"Aku juga gak tahu pak, ta..tapi tangan doang pak, gak ada tubuhnya!"Geri bergidik ngeri dengan penampakan itu.
"Kau benar mas, kita harus bagaimana sekarang?"Kata supir dengan ketakutan.
"Ja..jangan ganggu kami, kami mohon.kami cuma mau lewat saja!" Ucap keduanya.
Tangan tanpa tubuh itu tetap menempel di kaca mobil dengan darah yang berlumuran.
Plak..plakkk..plak..
Telapak tangan itu terus memukul kaca mobil terus menerus dengan darah yang meluber kesana kemari memenuhi kaca mobil.
"TOLONG AKU" Tulisan dengan darah terlihat lagi di kaca mobil depan dengan lebih banyak.
__ADS_1
"Huaaa...tulisan itu muncul lebih banyak lagi pak!"Geri menutupi wajah menggunakan telapak tangannya.
Ceklek..ceklek
Pintu mobil seperti ada yang berusaha membukanya.membuat supir itu semakin takut.
"Aduh mas, saya takut"Supir itu langsung berdiri di kursi dan pindah duduk di belakang dengan Geri.
"Kenapa bapak pindah kemari?"Geri bertanya setelah merasakan pergerakkan supir itu yang duduk di sampingnya.
"Saya takut mas, pintunya kaya ada yang buka"Tutur supir membuat Geri menoleh ke samping, takut pintu belakang juga di buka.
Ternyata memang benar, pintu belakang pun ada yang berusaha membukanya.
Ceklek..ceklek..
"Haaaa...pintunya mau di buka pak"Kedua nya langsung berpelukkan.
Tangan yang berdarah itu beralih ke belakang dan mencoba membuka pintu belakang.
Darah menempel di sekeliling kaca mobil.
Saat ketakutan itu semakin mencekam mereka berdua, tiba-tiba...
Gubrag
Sesuatu terjatuh di kap depan mobil taksi itu, membuat mereka berteriak histeris.
"Aaaaaaaa"
"Sherly..Sherly..Sherly"Disebutnya berulang nama sahabatnya.entah untuk apa dia melakukannya, tapi itu seperti mantra untuk menghilangkan ketakutannya.
"Iya, ada apa sih?"Tanya si pemilik nama.
"Geri, ada apa sih?"Tanya Sherly kesal karena Geri cuma diam.
"Hahh?"Diliriknya benda pipih di tangannya itu, sebuah panggilan keluar yang di lakukan olehnya kepada Sherly yang langsung tersambung dan ia pun mengerti.
Ternyata, Geri membuka handphone nya dan menekan nama Sherly untuk di panggilnya.karena ketakutannya, ia pun tidak sadar dengan apa yang di lakukannya.
"Kalau diem mulu, gue tutup ya?" Sherly pun tak sabar dengan sahabatnya.
"Sherly, tolongin gue!"Suara Geri terdengar ketakutan.
Sherly yang mendengar suara bergetar dari sahabatnya pun menjadi khawatir.ia sontak berdiri dan berteriak.
"Elu dimana?"Sherly berdiri dan melangkahkan kakinya keluar.
"Gu..gue gak tahu.kita tadi melewati jalan lingkar dalam, terus di belokan ujung sana ada kecelakaan membuat jalanan macet, lalu kami melewati jalur tikus di jalan dekat belokan itu..lalu...lalu..."
"Tingguin gue disitu!"Sherly berlari ke luar.
"Cepat dateng Sherly, gue takut!"Geri merengek layaknya anak kecil.
"Oke, jangan khawatir.gue bakalan secepatnya kesitu, elu gak boleh panik dan harus tetep nyalain handphone lu, oke!"Ia terus melangkahkan kakinya keluar rumah Zidane.
"Hei, kamu mau kemana?"Zidane berteriak mengejarnya.
"Gue harus pergi"Ucapnya singkat tanpa menoleh.
"Tapi disini tak ada kendaraan yang lewat, biar aku yang mengantarmu" Zidane menarik tangan Sherly.
"Baiklah, cepat!"Kata Sherly yang sudah tak sabar.
__ADS_1
"Aku ikut ya?"Rian tiba-tiba sudah berdiri di belakang Zidane.
"Sejak kapan dia disini, bukan kah dia di atas?"Nania yang sedari tadi mengikuti mereka.
Keduanya pun melirik sepintas lalu berjalan menuju mobil Zidane.
"Hei, jangan tinggalin aku!"Teriak Rian berlari mengikuti mereka.
"Cepat lah!"Zidane masuk dan duduk di bangku kemudi, sedangkan Sherly duduk di sampingnya.
"Apa aku harus di belakang sama dokter gila ini?"Tanya Nania yang tak kelihatan Rian.ia mengira jika perkataan Zidane itu benar bahwa Rian memang gila.hihiiii...
"Diam lah!"Ucap keduanya membuat Rian mengerutkan dahinya.
"Aku kan dari tadi diam!"Ucap Rian tak terima.ia mengira jika kedua orang itu berbicara padanya.
"Iya..iyaa"Ucap mereka malas.
Mobil Zidane pun melaju dengan kencang di jalan raya.Sherly menyalakan GPS untuk mencari keberadaan Geri.ia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Apalagi, nada bicara Geri yang ketakutan membuat ia lebih mengkhawatirkan lagi.
Di tempat Geri berada
Tangan yang menempel itu seakan tak mau lepas dari kaca mobil. Tulisan-tulisan dengan darah bermunculan di semua kaca jendela mobil membuat keduanya semakin ketakutan.
Pintu mobil yang berusaha di buka paksa membuat mereka semakin ketakutan.
"TOLONG AKU"Tulisan darah itu terpampang besar di kaca depan.
Mereka berdua menutup wajahnya yang ketakutan menggunakan telapak tangan mereka.
"Aku gak mau lihat..aku gak mau lihat!"
"Tolong jangan ganggu kami!"
"Kita cuma lewat saja, gak ganggu kok!"
Plakkk..plakkk...plakkk
Tepukan di kaca mobil terus di lakukan makhluk tangan tanpa tubuh itu.
Ia seakan ingin mereka berdua membukanya dan menolongnya.
"Jangan..jangan..kami mohon!"Keduanya pun semakin ketakutan.
Tiba-tiba..
Ceklek..
Pintu mobil terbuka dengan sendirinya, membuat keduanya terhenyak dengan pikiran masing-masing.
"A..apa pintunya sudah terbuka?"Batin Geri yang bergidik semakin takut.
"Makhluk itu berhasil membukanya!"Batin supir taksi itu.
"Habis lah kita berdua, pak!"Ucap Geri pada supir taksi.
"Mati lah kita disini, padahal aku belum memberikan hadiah untuk ulang tahun putriku yang ke tujuh tahun"Supir itu sedih.
Sebuah tangan terulur memegangi bahu mereka.membuat mereka terhenyak dan semakin ketakutan.
"Haaaaaaaaa"Teriakan keduanya menggema dalam mobil taksi itu.
__ADS_1