
Kriiiinng...kriiiiing..
Suara telpon rumah berdering dengan nyaring di malam hari.
Sebuah kepala menyembul dari balik selimut tebal dengan rambut yang acak-acakan serta mata yang masih terpejam.
Dengan malas, tangannya terulur meraih gagang telpon.
"Hallo!"Suara serak dan lirih terdengar ciri khas bangun tidur.
"Kembalikan dia padaku!" Suara serak dan datar dari sebrang ujung telpon terdengar menakutkan.
"Siapa ini?"Mungkin orang iseng yang mengerjainya di malam buta.
"Kembalikan dia padaku!" Tak ada kata lain selain itu yang terdengar dari ujung sana.
"Apa sih yang harus gue balikin ke elu?"Nada bicaranya dinaikan beberapa tingkat.
"Kembalikan dia padaku!" Diulangnya terus menerus kata itu membuatnya kesal.
"Hei, elu gila ya?gangguin orang tidur di malam begini cuma untuk mengatakan itu!" Dengan kesal, di bantingnya gagang telpon ke tempatnya kemudian mencabut kabel colokannya.
"Dasar, orang stres!"Gerutunya membuat orang yang tidur disampingnya terbangun.
Kepalanya di belai oleh tetangga kasurnya dengan lembut."Ada apa, sayang.kenapa kamu begitu kesal?"
"Itu, orang telpon kok cuma ngomong kembalikan dia padaku!Gangguin orang tidur saja"Kesalnya hati ini di kerjain orang saat tertidur pulas.
"Orang iseng gak tahu waktu, sayang.Cabut saja colokannya biar gak ganggu lagi!"Di sandarkannya kepala di sandaran kasur.
"Heemh, udah aku cabut tuh!"Ditunjuknya kabel yang sudah tercabut.
Ia pun berbaring lagi di samping tetangga kasurnya.
Namun, tak lama kemudian telpon itu berdering kembali mengganggu telinganya.
Aneh, colokannya sudah dicabut.Tapi, bagaimana bisa berdering kembali?
Keduanya saling pandang.
"Kamu dengar, kan?"Ia bertanya kepada suaminya.
Suaminya pun berdiri dan menghampiri telpon yang berbunyi dengan nyaring itu.
Di angkatnya gagang telpon yang langsung berhenti berdering.Ia menempelkannya di telinga untuk mendengarkan suara orang yang menelpon.Namun tak ada suara apapun yang terdengar.
Zidane menggelengkan kepala dengan menghampiri istrinya yang terduduk di kasur.
"Aneh banget, deh!"Di tatapnya wajah tampan sang suami.
"Sudahlah, sayang.tidur lagi saja.Aku mau ke kamar mandi dulu, ya?"Setelah istrinya mengangguk, di langkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Saat Sherly sedang termenung di atas kasur, sekelebat bayangan hitam mintas di luar yang terlihat oleh pancaran cahaya lampu dari luar karena lampu kamar di matikan.Cuma lampu tidur saja.
"King ice!"Panggil Sherly pada suaminya.
Bayangan itu terlihat lagi sekelebat mengelilingi kamarnya.
"Siapa itu?"Sherly berdiri menghampiri jendela yang di lintasi bayangan hitam tadi.
Dibukanya gorden dengan ragu oleh tangannya yang terulur dan gemetaran.
"Glek"Sherly menelan salivanya dengan kasar.Ia ragu namun penasaran.
Tangannya terus terulur untuk menyingkap gorden.
Saat tangannya hampir menyentuh gorden, tiba-tiba sebuah tepukan keras di bahu mengejutkannya sampai ia berbalik dengan cepat.
Pluk...
"Haahhh"Ia terlihat syok sambil berbalik ke belakang."Astaga, king ice!"Dadanya di usap saat melihat si penepuk tadi.
"Kamu lagi ngapain sih, Machan?Di panggil dari tadi gak nyahutin, taunya malah ngintip ke luar."Zidane bertanya pada istrinya.
"Ssstttt, ada orang yang lagi ngawasin kita. Tadi aku lihat ada bayangan hitam sekelebat melintas di luar.Tapi, saat aku mau lihatin malah gak ada!"Tutur Sherly berbicara pelan dengan menempelkan jarinya di bibir.
Zidane langsung menyingkapkan gorden dan memperhatikan keadaan di luar.
"Tidak ada siapapun, sayang"
"Ih kamu, malah di buka lebar-lebar lagi. Yang ada orangnya kabur, tahu!"Sherly memukul pelan lengan suaminya dengan gemas.
"Kalau dia kabur, ya aku kejar saja!"Dengan santainya Zidane melangkah menuju tempat tidur."Ayo tidur, jangan bergadang mulu.Entar kamu dikira kelelawar, lagi.tak tidur malam"Lanjutnya sambil terkekeh.
"Cih, dasar.paling pinter ngebully orang"Ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur mereka.
"Sayang, kamu mau punya anak berapa?Dua, apa tiga?"Pertanyaan Zidane menarik pandangan Sherly.
"Hemm, bukannya kalau angka itu di mulai dari satu, kenapa malah tanya dua atau tiga?"Aneh memang suaminya itu.
"Aku kan gak mau punya anak satu.Minimal dua atau tiga.Kalau boleh, lima saja ya!" Ucapnya dengan tersenyum.
"Jangankan dua, tiga, empat, lima.Satu saja gak bakal jadi kalau kita belum melakukannya!" Entah Sherly sadar atau enggak.Perkataan polos darinya memancing suami tampannya untuk melakukan sesuatu.
"Jadi, apa kita harus melakukannya sekarang?" Di dekatinya si Machan yang baru membaringkan tubuhnya di ranjang dengan berbisik lirih.
"Eh, a...apa maksudmu?"Ia menjadi grogi saat melirik suaminya tidur menyamping dengan menyangga kepalanya menggunakan sebelah tangan sambil berbisik.
"Kita lakukan sekarang saya, ya?Aku sudah gak sabar, sayang.Ingin membuka kado malam pertamaku!"Di kedipkan sebelah mata dengan genitnya.
Sherly melongo seketika.Tak pernah Zidane sebucin itu sebelumnya."Kamu gak demam, kan?"Tangan Sherly menempel di kening Zidane yang langsung di tepisnya.
"Ish, suami minta hadiah spesial malah di tanya demam atau enggak.Kamu aneh!" Zidane berbalim membelakangi istrinya.
__ADS_1
Sherly yang melihat Zidane marah pun menjadi tak enak.Ia mendekat ke arah suaminya."Hei, jangan marah dong.Aku belum siap saja.Nanti jika aku sudah siap, aku akan melakukannya dengan sendiri!"Di bujuknya suami tampan itu dengan menggoyangkan lengannya perlahan.
Zidane pura-pura marah.Ia tak mau menoleh sedikitpun ke arah istrinya namun bibirnya tersenyum mendengar perkataan istrinya.
Sherly semakin merasa bersalah pada suaminya.Ia sampai tak tahu harus berkata apa.Di tariknya tubuh Zidane sampai terlentang, kemudian menaiki tubuh suaminya yang sedang yerlentang itu.
Bibir Sherly menempel di bibir suaminya dengan sedikit menggigit bibir bawahnya, lidah Sherly masuk kedalam rongga mulut Zidane saat terbuka membuat suaminya merasa kemenangan.
"Apa kau sedang berusaha menggodaku, sayang?"Suara Zidane lirih seperti menahan sesuatu.
"Maafin aku ya?"Ucap Sherly dengan menatap suaminya.
"Aku gak bisa maafin kamu, sayang.Karena kamu telah membangunkan si boboiboy yang sedang tertidur pulas"Perkataan Zidane di sambut kebingungan istrinya.
"Hem, boboiboy?"Sumpah, gue gak ngerti maksud si king ice.
"Adik kandungku yang sekarang sudah besar" Jawabnya santai.
"Adik kamu?memangnya kamu punya adik?" Dia masih tak mengerti atau pura-tak tahu.
Tangan Zidane menarik tubuh istrinya dan ia pun membisikkan kata yang membuat Sherly melompat seketika."Yang tertindih olehmu!"
Ditunjuknya si boboiboy yang sudah berdiri tegak dan mungkin sudah dengan kuasa tiga atau lima.
"Astaga!"Sherly melompat ke bawah saat melihat jari Zidane yang menunjuk ke area sensitifnya."Oh my god!"Ia menutup wajahnya yang merona.
"Kenapa kamu malu, sayang.si boboiboy kan sudah jadi milikmu."Zidane terkekeh melihat wajah merah istrinya yang terpapar lampu remang.
"King ice!"Kebiasan emang, Sherly selalu berteriak jika di ledek oleh suaminya dan di sambut tawa terbahaknya sang suami.
"Hahahaaaa"
π»π»π»π»
Kedatangan Zidane dan Sherly pulang ke rumah kediaman Grisheld yaitu untuk meminta izin kepada keluarganya.
Keduanya sudah memutuskan menggelar pernikahan dengan adat seorang muslim.
Semua undangan sudah di sebar ke seluruh kerabat atau rekan kerja dari kedua keluarga.
Mereka sangat senang menyambut kebahagiaan yang tak ternilai ini.
"Saya nikah kan dan kawinkan engkau, ananda Muhammad Zidane Prasetyo bin almarhum tuan Hery Prasetyo dengan putri saya yang bernama, Sherly Grisheld Prayoga binti Hadi Prayoga dengan mas kawin berlian seberat lima puluh gram dan seperangkat alat shalat di bayar tunai"Di jabatnya tangan Zidane oleh daddy dan berbicara dengan lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sherly Grisheld Prayoga binti tuan Hadi Prayoga dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"Lantang suara Zidane tanpa jeda sedikit pun.
"Gimana para saksi, sah?"Tanya pak penghulu kepada semua yang hadir.
Mereka hanya mengangguk sambil mengacungkan jempol ke atas.
"Sah?"Penghulu bertanya lagi dengan berteriak.
Mereka tersadar dengan teriakan pak penghulu. "Saahh!"Serempak mereka berucap.
"Yuhuuu!"Bukan Zidane yang kegirangan, melainkan Rian berdiri dengan melompat sambil mengepalkan tangan ke atas.
Semua orang meliriknya dengan tatapan heran membuat dirinya mati kutu.
Krik..krik..
Rian cengengesan saat semua mata tertuju padanya."Heheheee"
Semuanya pun mengabaikan Rian yang menggaruk kepalanya seperti si ******.hihii..
"Alhamdulillahirobbil'alamiin!"Ucap mereka serempak.
Di ciumnya punggung tangan Zidane oleh Sherly dan di balas dengan ciuman di keningnya.
"Sekarang, kalian sudah sah di mata agama dan negara"Ucap pak penghulu.
"Terima kasih, pak!"
Penghulu pun berpamitan setelah menunaikan tugasnya.
Pengantin baru itu duduk di pelaminan dan di sambut antrian panjang para tamu yang berdesakkan untuk bersalaman dengan kedua mempelai.
Sherly merasa sangat pegal di buatnya.Tapi apalah daya, ia harus menunggu sampai acara selesai.
Geri datang menghampiri kedua mempelai yang sedang merasakan kaki yang pegal.
Tangannya terulur ke arah Zidane."Selamat ya, bro.Akhirnya kamu bisa mendapatkan cinta si bos galak tim Sengklek"Geri terkekeh degan melirik Sherly.
"Sialan, lu."Ucap Sherly kesal dengan menepuk dada Geri yang langsung mengaduh.
"Aduh.tuh lihat, dia itu galak.Hati-hati saja kamu nanti pas malam pertamanya. Hahaa" Ia malah tertawa terbahak.
"Dia gak bakalan kalah, Ger.tenang saja!" Rian yang muncul dari belakang sambil menepuk bahu Geri.
"Hahaha, kau benar dokter.Mana mungkin si tuan muda kalah sama cewek barbar kaya bos gue ini!"Keduanya malah meledek.
"Tahu ah, rese lu!"Sherly cemberut karena ledekan kedua sahabat dari mereka.
"Oh iya, Ger.mana Dika, Indra, dan Iren.Kok mereka gak dateng sih?gue kan sudah bilang kalau hari ini mau ngadain pesta pernikahan." Sherly menatap Geri.
Geri menggelengkan kepala."Gue gak tahu mereka kemana?Enyak bilang, Dika gak pulang dari kemarin.Terus, si Indra juga gak ada di rumah atau di bengkel.Gue udah telpon bunda, tapi Iren sudah gak pulang ke padang.Kemungkinan dia masih di jakarta." Tutur Geri.
Mereka pun berpikir keras tentang hilangnya ketiga sahabat mereka.Kira-kira, ketiganya kemana?
Dari kejauhan tampak dua orang menghampiri ke arah mereka.
"Selamat ya!"Di ulurkan tangannya ke arah kedua mempelai.
"Terima kasih kak, atas kedatangannya!" Ucap Sherly tulus sambil melirik gadis di sebelahnya.
__ADS_1
"Hai Zidane, selamat ya!"Gadis itu mengulurkan tangan namun tak di balas oleh Zidane.
Sherly melirik suaminya yang hanya diam.Ia pun membalas uluran tangan gadis itu dengan tersenyum."Ah, terima kasih!"Di jabatnya tangan si gadis yang menatapnya tak suka.
Siapa sih dia?kenapa si king ice terlihat tak suka?
Sherly terheran dengan tingkah suaminya.
Karena melihat mereka yang terlihat canggung dan hawa dingin mulai menyelimuti, Sherly pun mengambil inisiatif.
"Emh, kak.Silahkan nikmati hidangannya!"Di persilahkannya tamu undangan itu untuk memakan hidangan yang sudah di sediakan catering.
"Terima kasih.Tapi, kami sebaiknya pergi saja. Masih banyak urusan!"Hendri dan gadis itu pun melangkah menjauh dari mereka tanpa menoleh lagi.
Akan ku pastikan kau mengembalikan dia padaku.
"Siapa dia?"Nania dan Alea yang muncul secara tiba-tiba mengejutkan kedua mempelai.
"Sialan lu berdua.bikin kaget saja!"Sherly mendelik ke arah kedua hantu wanita itu.
"Sorry deh!"Ucap keduanya.
"Kamu ngomong sama siapa, kakak ipar?" Tanya Rian terheran.
Bukan mereka yang jawab, tapi Geri."Biasa dokter, paling ngomong sama teman hantunya!"
Sedangkan Sherly dan Zidane terkekeh melihat ekspresi Rian dengan penuturan Geri.
"Hiiiy, kamu sukanya main sama hantu, ya?" Ia bergidik sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Dasar, temenan sama hantu kok seneng!" Rian melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Hahahaa..."
"Oh iya, bos.gue gak bisa nungguin acara ampe kelar ya.Soalnya ma'e mau pulang kampung sekarang."Geri berpamitan kepada keduanya.
"Kok gitu sih, Ger.kemarin saat di gereja, kalian gak datang.Sekarang, acara di rumah pun kalian gak ada"Sedih rasanya di hari bahagia ini malah tak ada satu pun sahabatnya yang menemani.
"Sorry banget deh.Gue beneran harus nganterin ma'e ke terminal"Ucap Geri tak enak.
Dan yang di bicarakan pun datang menghampiri."Neng, maafin ma'e, ya.kita gak bisa nungguin sampe acara beres.Soalnya ma'e mau pulang kampung.Besok ada acara hajatan pernikahan saudara di kampung. Jadi, kami harus hadir di sana!"
"Ya sudah kalau gitu.Ma'e hati-hati di jalannya, ya!"Sherly memeluk ibunya Geri.
"Iya, sekali lagi selamat ya.Do'akan anak ma'e biar dapet jodoh juga dan cepet nikah kayak kalian berdua!"Diliriknya Geri yang berdecak tak suka.
"Ckk, apaan sih, ma'e!"Geri kesal dengan perkataan ibunya.
"Ibu kamu benar, Ger.kan kamu juga harus mencari pasangan untuk mendampingi hidupmu!"Kata Zidane.
"Setuju!"Sherly dan ma'e mengacungkan tangan.
"Haish, dasar kalian.kompakan"Gerutu Geri dengan kesal.
"Ya sudah, gue pulang dulu ya.Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua!"Geri pun melangkah dengan beriringan bersama ibunya.
Mereka termenung menatap kepergian Geri dan ibunya.
"Woi, kenapa pada diem sih?"Kak Al menghampiri kedua mempelai.
"Ayo dong, nyanyi!"Ajakan kak Al langsung di turuti Zidane."Oke lah!"
Zidane naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu dari yovi and nuno.Janji suci.
Dengarkan lah wanita pujaanku.
Malam ini akan ku sampaikan.
Hasrat suci kepadamu dewiku.
Dengarkanlah kesungguhan ini.
Aku ingin, mempersuntingmu.
Tuk yang pertama, dan terakhir.
Jangan kau tolak dan buatku hancur.
Ku tak akan mengulang tuk meminta.
Satu keyakinan hatiku ini.
Aku lah yang terbaik untukmu
Dengarkan lah wanita impianku.
Malam ini akan ku sampaikan.
Janji suci satu untuk selamanya.
Dengarkan lah kesungguhan ini.
Suara merdu Zidane mengalun di malam pernikahan mereka dan membuat baper semua penonton termasuk otor.
**Huaaaa...otor di tinggal nikah sama si babang tampan.hiks..π’π’
Kuat gak sih aku menghadapi cobaan ini?
Walaupun mereka sudah bersatu, tapi tak menutupi segala kemungkinan yang terjadi ya, gengs.Masih banyak halangan dan rintangan yang menghadang kebahagiaan mereka.
Happy always and happy new years all.
Papay..ππ**
__ADS_1