Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Masalah Baru


__ADS_3


"Sherly, tunggu!" Seorang pria dewasa berlari mengejar Sherly yang akan masuk kedalam butiq kakak iparnya.


Dia pun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Kak Hendri? Aduh gawat, gimana gue bersikap sama dia ya. Apa gue harus langsung marah atau gue bersikap biasa saja?" Dia menjadi bingung harus bagaimana cara bersikap kepada seorang seperti Hendri yang sudah dia ketahui sifat aslinya.


"Hai kak!" Akhirnya pilihan dia jatuh kepada sikap ramah yang biasa dia perlihatkan.


"Sherly biasa saja bersikap sama saya. Berarti, dia belum tahu apapun tentang diri saya sebenarnya. Ternyata bocah nakal itu tak memberitahukan pada istrinya ini. Hahaha!" Batin Hendri tersenyum puas.


"Hai Sher, apa kabar?" Dia pun bersikap ramah kepada Sherly dengan tersenyum.


"Baik kak. Kakak sendiri gimana? Baik juga kan!" Ucapnya dengan tersenyum manis seperti biasanya.


"Saya sangat baik hari ini. Oh iya, boleh gak kita bicara sebentar. Ada yang mau saya omongin sama kamu!" Pintanya kepada Sherly.


Sherly pun tampak berpikir. Apa dia harus menerima permintaan Hendri atau enggak? "Kalau di terima, takutnya Zidane marah. Tapi kalau tidak di terima, Hendri curiga. Gimana dong?" Batinnya sangat bimbang.


Hendri yang melihat Sherly diam menjadi waspada. Ia melirik kiri dan kanan untuk memastikan keberadaan dua hantu wanita yang selalu bersama Zidane.


Untungnya Nania dan Alea tak terlihat disana membuat Hendri yakin kalau Sherly belum mengetahui dirinya yang sebenarnya.


"Kenapa? Kamu sudah gak mau berteman dengan saya lagi?" Tanya Hendri dengan sedih.


"Enggak gitu kak Hen, aku cuma lagi buru-buru soalnya. Ada sesi pemotretan untuk rancanganku. Jadi, aku gak bisa pergi kemana pun!" Tolaknya secara halus.


Iya, itulah yang harus di katakan demi kebaikan supaya tak curiga.


"Oh gitu ya. Hemh, kalau kita mengobrolnya sambil melihat rancanganmu gimana? Apa aku boleh masuk ke butiq kakakmu?" Tanya dia hati-hati.


"Aduh, dia kok gak mau pergi walaupun sudah gue tolak. Apa lagi alasan yang harus gue katakan jika dia sudah meminta masuk. Gak mungkin kan jika gue usir dia." Sherly tersenyum pelik dengan batin yang bimbang.


"Emm, kak." Ucapan Sherly terhenti saat kedatangan seseorang yang merangkulnya.


"Hai sayang. Kakak kira kamu belum dateng karena kakak iparmu dari tadi sudah menunggu di dalam." Kak Al datang dan langsung merangkul bahu adiknya serta mencium kepala adiknya.


Ahhhh kak Al yang ku sayang. Syukurlah karena dia datang tepat waktu.


Sherly tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia pun langsung melangkah masuk. "Maaf ya kak Hen, aku buru-buru. Nanti saja kita ngobrolnya. Daaah!"


"Baiklah, daaah!" Tangannya pun melambai ke arah Sherly.


"Apa ada masalah yang harus dibicarakan bersama adik saya kapten?" Kak Al bertanya kepada Hendri.


Mata Hendri melirik Aldrian kemudian tersenyum. "Sejujurnya iya. Tapi, biar nanti saja dibicarakannya, tuan Grisheld."


"Apa itu sangat penting?" Tanya kak Al serius.


Hendri menggelengkan kepalanya. "Ah tidak, tuan Grisheld. Saya hanya ingin Sherly membantu kepolisian untuk mengungkapkan kasus kematian seseorang. Tapi karena dia sibuk, biarkan saja."


"Itu hal yang serius dong kapten!" Perkataan kak Al hanya ditanggapi senyuman oleh Hendri.


"Kalau sekarang memang dia tidak bisa mengobrol dengan siapa pun karena kami harus mempersiapkan untuk malam ini. Jadi, dia akan sangat sibuk. Bagaimana kalau setelah selesai? Biar saya yang berbicara pada adik saya itu, kapten Hendri." Usul Aldrian.


"Ide bagus, biarkan dia yang menggiring adiknya untuk ke tempat saya. Ha ha ha!" Batin Hendri tertawa puas dengan penuturan Aldrian.


"Tapi tuan Grisheld, bagaimana kalau dia ...?"


"Dia pasti mau bantuin, percaya deh!" Kak Al meyakinkan.


"Semoga perkataanmu benar, tuan Grisheld." Batin Hendri melompat kegirangan.


"Baiklah tuan Grisheld, saya akan mempercayaimu." Keduanya pun berjabat tangan kemudian berpisah di depan pintu butiq.


Aldrian masuk kedalam butiq, sedangkan Hendri pergi dari sana walaupun kak Al sudah menawarkan untuk mampir dan masuk kedalam. Tapi, Hendri menolaknya dengan alasan dirinya sangat sibuk.


Motor gede itu melaju dengan sangat kencang di jalanan beraspal menuju sebuah mension dikawasan elit.


Kedatangan Hendri di sambut seseorang disana dengan pakaian yang minim dan seksi.


"Hai sayang, kenapa baru datang?" Di kecupnya bibir Hendri sekilas olehnya.


"Nanti malam kita jalankan rencana kita." Singkat Hendri kepada gadis muda itu.


"Apa dia juga akan datang?" Bertanya dengan mendongakkan wajahnya.

__ADS_1


"Tentu, mau tidak mau dia akan datang. Jika istrinya datang pasti dia bakal datang untuk melindunginya." Jelas Hendri.


Di cengkramnya kerah baju Hendri olehnya. "Hehh, jangan sebut wanita sialan itu sebagai istrinya. Dia sudah merebut Zidane dariku!"


"Prita, ingat. Targetmu hanya Zidane, bukan Sherly. Jadi, serahkan dia kepadaku!" Tangan yang mencengkram itu langsung di tepis oleh Hendri.


Prita pun tersenyum miring. "Seberapa besar kau mencintai wanita sialan itu?"


"Stop! Jangan pernah menyebut Sherly sebagai wanita sialan." Prita tergelak mendengar ucapan Hendri.


"Ha ha ha. Jadi kau sekarang sudah sangat mencintainya ya, kapten Hendri Prakoso."


"Diam, kau tidak tahu apa-apa nona Prita Subagja." Tatapan mata Hendri mengimintidasinya.


Prita pun melengos ke arah lain. "Jangan kau berikan tatapan itu, kapten. Aku seperti tersangka pembunuhan. Padahal, dia yang sudah membunuh ayahku."


"Itu tidak di sengaja, Prita. Saya pun ada di sana waktu itu dan jadi korban dari Agung Subagja." Jelas Hendri.


"Cih, korban! Aku tahu itu semua ulahmu, sayang. Kau ingin mengetahui kemampuan dari wanita itu sehingga kau mengorbankan diri dan juga kau mengorbankan ayahku supaya mengetahui rahasia yang dia punya. Kau jahat, Hendri." Bentak Prita.


"Saya jahat? Ha ha ha, kau tidak tahu betapa jahatnya ayahmu itu Prita. Dia mengorbankan semua orang untuk di jadikan tumbal supaya dia semakin kaya. Dan kau tahu, kekayaan mu itu adalah hasil dari kejahatan ayahmu." Tatapan Hendri menjadi serius.


"Tapi aku juga tahu, kau juga telah mengorbankan kedua orang tua Zidane juga anakmu sendiri." Prita balik menatapnya.


"Mereka keluargaku, sedangkan ayahmu mengorbankan orang lain." Ucap Hendri dengan santai.


"Cih, itu sama saja kejahatan. Bedanya, kejahatanmu tak pernah terlihat oleh semua orang." Cibir Prita.


Hendri meliriknya sekilas kemudian mengulurkan tangannya keleher Prita lalu mencengkramnya dengan kuat.


"Apa kau ingin menjadi tumbal sekarang?" Seketika Prita menjadi gemetaran dengan ancaman Hendri.


"Wwuuuuussshhh." Sosok bayangan hitam seketika hadir di ruangan itu.


"A-apa yang ingin kau lakukan?" Rasa takut Prita tak bisa di sembunyikan karena kehadiran sosok hitam yang besar di sana.


"Hahahaa! Kau takut?" Tawa jahat Hendri terdengar menyeramkan.


"Le-paskan aku, sayang. Kumohon!" Ia mengiba dengan wajah yang memelas.


"Wajah lugumu tak bisa mempengaruhi, Prita. Jadi, jangan perlihatkan itu kepada saya." Dia tak bisa di bujuk.


Ia pun melepaskan cengkraman di leher Prita dan mengelus wajahnya dengan lembut. "Bagus sayang, seharusnya itu yang kamu lakukan."


Diciumnya bibir gadis itu dengan rakus kemudian ia melepaskannya. "Turuti semua keinginan saya dan kamu akan mendapatkan apapun yang kau."


"Baiklah!" Ucap Prita pasrah.


"Dapatkan Zidane untuk dirimu maka aku bisa mendapatkan Sherly. Jangan biarkan mereka bersatu karena aku sudah mengerti cara mengendalikan tanda bintang itu." Kemudian dia melangkah meninggalkan Prita yang mematung di sana.


Prita menyentuh lehernya setelah Hendri pergi dari rumahnya bersama dengan sosok hitam besar itu.


"Kurang ajar dia. Bisanya hanya mengancam karena dia punya kekuatan itu. Aku harus bisa mendapatkan cincin di tangannya supaya bisa mengendalikan jin peliharaannya." Di jatuhkan bokongnya tepat di sofa ruang tamu.


Prita menerawang ke dalam lamunan. Dia mengingat pertama kali bertemu dengan Zidane lima tahun yang lalu saat berada Belanda.


Disana dia kuliah di tempat yang sama bersama Zidane. Prita yang polos selalu di ganggu sama mahasiswa yang nakal dan Zidane sering menolongnya.


Seiring waktu berjalan, tanpa di sadari Prita yang mengagumi kepribadian Zidane menjadi tertarik dan mencintainya. Namun, Zidane selalu bersikap cuek kepadanya.


Prita sering mengungkapkan perasaannya kepada Zidane walau selalu di tolaknya. Tapi itu tak membuat semangat Prita meluntur. Dia terus berusaha membuat Zidane jatuh cinta dengan cara apapun.


Tiga tahun kemudian saat kelulusan, Zidane sudah tak terlihat di daerah tempat tinggalnya lagi. Entah kemana perginya Zidane membuat dia sangat kebingungan.


Saat Prita sedang kebingungan mencari keberadaan Zidane, kabar mengejutkan dari dalam negri. Ayahnya mati terbunuh oleh seseorang. Prita langsung pulang ke tanah air untuk memastikan kabar itu.


Betapa terkejutnya dirinya mendapat ayahnya yang mati dengan mengenaskan dan harus membayar denda karena penyelewengan kekuasaan yang dilakukan oleh ayahnya.


Prita tak mau tahu dengan kejahatan ayahnya. Namun, ia terus mencari siapa orang yang telah membuat ayahnya mati secara tragis.


Dan ia pun menemukan kebenaran tentang tim yang memecahkan kasus kematian seseorang yang melibatkan ayahnya. Tersebutlah nama Sherly Grisheld Prayoga, seorang gadis pemimpin And the genk.


Prita terus menyelidiki tentang Sherly dari setiap orang namun mereka tak mengetahui tentang gadis itu. Karena Sherly tak suka membuat dirinya terkenal.


Saat dia sudah tahu tentang Sherly, dia pun mengetahui bahwa Sherly dekat dengan Zidane. Lelaki yang membuatnya tergila-gila sampai tak bisa melupakannya.


Prita semakin membenci Sherly dan ingin menyingkirkannya. Dia pun bertemu dengan Hendri dan menjalin kesepakatan bersama pria itu. Tapi tak disangka, ternyata Hendri orang yang bahkan lebih jahat.

__ADS_1


Hendri menginginkan Sherly dan mengancam dirinya agar tidak menyakiti gadis itu. Padahal, dia ingin membalas dendam kepada Sherly atas kematian ayahnya. Agung subagja.


"Sherly ... dasar wanita sialan kau!" Teriakannya menggema di ruang tamu rumahnya tanpa tak ada satupun yang mendengar.


▪▪▪▪


Sementara di tempat lain.


Zidane terlihat sibuk di ruang kerjanya karena masalah yang di lakukan anak cabang perusahaannya membuat ia harus bekerja ekstra.


"Apa-apaan ini!" Di lemparkannya semua berkas itu ke arah sekretarisnya yang hanya menunduk takut.


"Ulangi laporannya. Saya tidak mau melihat ada sesuatu yang kurang dari isi berkas itu. Salin semuanya dan bagikan kepada mereka yang ada di ruang rapat. Sekarang!" Perintahnya yang tak boleh di bantah.


Sekretarisnya pun undur diri dengan menunduk kemudian melangkah keluar dari ruangan presdir.


Zidane terlihat kesal melihat semua laporan yang ada di tangannya sampai keningnya mengkerut.


Wajahnya terlihat sangat kusut dan pakaian pun terlihat acak-acakan dengan dasi yang sudah tidak di tempatnya.


"Kenapa mereka tak bisa melakukan hal yang mudah sama sekali. Apa mereka tak menggunakan otak saat bekerja." Ucapannya hanya di tanggapi senyuman oleh asisten pribadinya.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Zidane tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di depannya.


Joan terkesiap dengan pertanyaan si bosnya dan dia tampak gugup.


"A-aku, ekhem. Gak apa-apa!" Jawabnya.


Zidane pun terlihat cuek.


Haish, dia bikin terkejut saja. Mau jawab pun jadi gugup.


Tak lama kemudian, sekretarisnya sudah kembali dengan berkas baru di tangannya dan sudah di fhotocopy untuk siap di bagikan.


"Permisi pak, saya sudah memperbarui berkasnya." Di berikannya berkas itu kepada Zidane.


Namun, sebelum berkas itu sampai pada tangan Zidane. Tiba-tiba ponsel Zidane berdering menandakan panggilan masuk.


Ia tersenyum melihat si penelpon.


"Hallo sayang!" Ucapnya lembut.


"Hallo sayang, apa kamu bisa bantu aku?" Ucap Sherly di ujung telpon.


"Apa yang bisa suami tampanmu ini lakukan, hemh?" Nada bicara Zidane sedikit menggoda berbeda dengan cara bicaranya kepada orang lain.


"Aku ada masalah di butiq. Jadi, apa kamu bisa bantuin aku, sayang?" Pinta istrinya lagi.


"Apa imbalannya jika aku membantu kamu, sayang?" Perkataan Zidane di tanggapi kekesalan istrinya.


"Kenapa kamu selalu meminta imbalan? Kalau kaya gitu, aku minta bantuan kepada Indra atau Rian saja."


Mendengar perkataan istrinya yang akan meminta bantuan kepada orang lain walau itu temannya atau pun saudaranya sendiri, membuat Zidane tak rela.


"Jangan. Aku akan kesitu sekarang!" Sambungan telpon langsung di putus olehnya.


Ia pun berdiri kemudian bergegas pergi. Membuat kedua orang lain yang berada di ruangannya pun terlesiap.


"Bos, kamu mau kemana? Bukankah kita harus rapat sekarang!" Cegah Joan saat melihat bosnya akan pergi.


"Kamu urus semuanya. Jangan sampai ada kesalahan." Ucap Zidane kemudian melangkah keluar setelah merapikan pakaiannya.


"Tapi ...! Haish, dia sekarang selalu kalah sama istrinya. Dasar Zidane!" Gerutu Joan kemudian melirik wanita yang masih berdiri.


"Ayo, kita keruang rapat sekarang!" Ajaknya kepada sekretaris bosnya itu.


Selalu saja aku yang jadi sasaran untuk mengurusi pekerjaan yang tertunda.


Joan adalah sahabat Zidane dan juga Rian. Dia menjadi asisten pribadi Zidane untuk mengurus segala masalah perusahaan. Tadinya dia di perusahaan yang ada di Prancis. Namun, Zidane meminta dia untuk kemari dan mengurus masalah yang ada disini.


Sedangkan Zidane beberapa minggu lagi berencana untuk pergi ke china mengurus perusahaan yang ada di sana. Karena ada masalah di anak cabang perusahaannya itu.


Bersambung...


Mampir juga ke karyaku yang lain ya kakak semua. Antara Ada Dan Tiada.


Yang suka horor, yuk mampir! Yang gak suka, mampir juga untuk menguji nyali kalian😁😁

__ADS_1


Gak kalah seru lho!



__ADS_2