Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Paket berbahaya


__ADS_3

Tiiinnn ... tiiin


Klakson motor terdengar dari luar gerbang rumah besar dengan sangat nyaring.


Mang Sidik tergopoh berlari keluar rumah untuk melihat siapakah yang membunyikan klakson begitu keras, sehingga mengganggu penghuni rumah.


"Hei mas, ada perlu apa? Kenapa membunyikan klakson begitu keras? Berisik tahu, gangguin orang saja!"


Di tegurnya orang itu oleh mamang yang ternyata seorang pria muda.


"Saya sudah menekan bel, tapi gak ada yang keluar. Ya sudah, saya pencet klakson motor saya!" Alibinya.


Mang Sidik menautkan alis sambil berpikir sejenak. "Perasaan gak denger suara bel berbunyi, hanya suara klakson saja yang bising." gumam mamang. "Kamu bohong ya, karena saya gak denger suara bel berbunyi!" Pria itu terlihat gugup.


"Oh, begitukah? Berarti belnya rusak, pak!" Terus beralibi.


"Masa sih?" Tangan mang Sidik terulur untuk mencoba menekan bel, namun di hentikan oleh orang itu.


"Oo ... oo ... oh iya, apa nyonya pemilik rumah ada? Saya ingin mengantarkan barang pesanannya!"


Di tariknya kembali tangan yang terulur itu, kemudian menoleh ke arah si pria muda.


"Nyonya ada, tapi beliau sedang sibuk. Biar barangnya saya yang terima saja. Sini!" Menengadahkan kedua tangan meminta barang tersebut kepada pria itu.


Tentu saja itu membuat si pria muda tak senang. "Tidak bisa, pak. Saya harus memberikan barang ini kepada nyonya atau ... tuan. Ya ... tuan rumah!"


Ada yang mencurigakan dari gelagat si kurir pengantar barang. Memangnya, apa sih barang yang di pesan nyonya sampai harus di terima langsung dan tidak boleh di terima oleh orang lain?


"Apa perlu di fhoto dulu sebagai barang bukti?" Tanya mang Sidik.


"Ah, iya pak. Iiii ... itu salah satu syaratnya!" Tergagap karena takut ketahuan sampai membuat mamang curiga.


Nih orang pasti punya niatan buruk.


"Saya hanya mengantarkan saja, pak. Tolong saya untuk memanggil nyonya, supaya pekerjaan saya selesai!" Lanjut si abang kurir.


"Baiklah, tunggu di luar dan jangan mencoba masuk! Awas ya kalau kamu masuk. Saya bakal lapor polisi lho!" Ancam mang Sidik kepada si kurir.


Pria itu mengangguk dan mundur kembali keluar gerbang membuat mamang yakin jika dia tidak punya niat jahat.


"Untung gak ada satpam di rumah ini. Hanya tukang kebunnya saja!" Batin si kurir.


Mang Sidik melangkah kembali ke dalam rumah untuk memanggil si pemilik rumah. Tak lupa gerutuan juga keluar dari mulutnya.


"Pak Andi pulang kampungnya lama banget sih. Jadinya kan saya harus bekerja ekstra. Jadi tukang kebun sekaligus satpam. Huuuuhhh, capek nya!"


Semenjak pak Andi pulang kampung untuk mengurus pemakaman istrinya yang meninggal karena kecelakaan, mang Sidik harus menggantikan pekerjaannya yaitu menjaga keamanan rumah ini.


Dia sampai berobat ke ahli THT untuk mengobati penyakit telinganya yang kadang-kadang sering bikin orang naik darah. Dipasangkan-nya oleh dokter, sebuah alat pendengaran yang di tempel di di daun telinganya mamang.


Karena penyakit telinganya itu, dia tak jarang sering bikin si tampan putra mahkota pusing karena salah paham.


Di ketuknya pintu kamar sang nyonya oleh mang Sidik.


Tok tok tok


"Permisi, nyonya. Di luar ada tamu yang ingin bertemu!"


Sherly yang sedang sibuk mendesign baju untuk di jahit di butiknya pun berdiri menghampiri pintu.


Baju rancangan Sherly sangat laku di butiknya ataupun butik kakak iparnya.


Kebanyakan langganannya adalah para anak muda, dan ibu-ibu atau bapak-bapak masa kini yang suka bergaya trendi.


Sehingga, Sherly sendiri yang harus mengerjakan pola pakaian pesanan pelanggan.


"Ya, sebentar mang!"


Sherly keluar dari dalam kamarnya, membuka pintu dan menatap mamang dengan pertanyaan.


"Siapa yang mencari saya, mang?"


"Seorang kurir, katanya mau mengantarkan barang pesanan anda. Tapi, dia ingin nyonya menerima secara langsung barangnya." Jelas mang Sidik.


"Barang pesanan? Oh, mungkin papi Zyan memesan sesuatu!" Gumam Sherly. "Ya sudah mang, ayo!"


Mereka turun untuk menemui si kurir. Namun apa yang terjadi, pria itu tak ada di luar gerbang.


"Kemana orangnya, mang?" Teriak Sherly.


"Tadi dia disini, nyonya!" Mang Sidik celingukan mencari kemana perginya si abang kurir.


Sebuah box kecil terbungkus plastik hitam, dibiarkan tergeletak di dekat pos penjaga.


"Ini apa mang, kok disini!" Membolak-balikan dus kecil tersebut.


"Lah, kok di tinggal disini barangnya? Bukannya harus di fhoto dulu sama tanda tangan untuk mendapatkan barangnya." Mang Sidik tak percaya.


Sedangkan si nyonya hanya menatap datar kotak tersebut. "Mencurigakan ini!" Kata Sherly seraya menyerahkan kepada tukang kebunnya. "Buka ini, mang!"


Si mamang langsung menerimanya, kemudian membuka kotak tersebut dengan perlahan tapi pasti.


Sherly memperhatikan si mamang yang sedang membuka bungkusan tersebut. Sebuah botol kecil terdapat dalam dus itu. "Botol apa itu? Sepertinya ... Eh, jangan di buka!"


Terlambat


Swuussshhh


Asap mengepul keluar dari dalam botol yang di buka penutupnya oleh mang Sidik tanpa menunggu perintah Sherly.


"Ukhuk ... ukhuk!" Keduanya terbatuk setelah mencium asap tersebut.


Karena tebalnya asap, mereka tak bisa menghilangkannya hanya dengan mengibas-ngibaskan tangan saja.


Benar! itu botol berisikan asap beracun yang bisa melumpuhkan syaraf, namun tidak berbahaya dan mematikan. Hanya bisa membuat orang pingsan selama dua belas jam saja.


Sherly bersusah payah untuk menjauh dari kepulan asap tersebut sambil menutup hidungnya. Namun naas, ia tak dapat terhindar lagi karena sebagian asap sudah terhisap olehnya.


Mang Sidik sudah tergeletak lemah di tanah karena asap sudah memenuhi indra penciumannya, melumpuhkan seluruh syaraf.


"Ma ... mang." Suara Sherly lirih memanggil.


Brukk


Ia tumbang juga di tanah dengan tak berdaya. Walaupun seperti itu, ia masih sadar dan sempat melihat beberapa orang yang datang menghampiri.


Lima orang pria berbaju hitam datang bukan untuk menolong. Mereka justru menggotong tubuh Sherly dan memasukkan kedalam sebuah mobil minibus.


Terdengar sayup mereka berbicara. Sherly yang belum hilang kesadarannya, masih mendengar apa yang di bicarakan mereka sebelum akhirnya pingsan.


"Kita harus pergi dari sini secepatnya sebelum ada yang datang!" Ucap salah satu dari kelima pria tersebut.


"Lalu, kita apakan bapak tua ini!" Menunjuk mang Sidik yang tergeletak di tanah.


"Bawa saja sekalian, takutnya dia memberikan petunjuk kepada yang lain."


"Jangan lupa surat yang disuruh bos simpan, jatuhkan di ... ah, di pos penjaga saja. Supaya orang yang dimaksud bos itu bisa menemukan dan membacanya."


Mereka bersiap pergi dengan mobil minibus nya itu, namun seseorang berteriak mengejutkan mereka.


Bi Murni yang baru pulang dari pasar, tak sengaja melihat orang-orang itu menggotong tubuh mang Sidik kedalam mobil.


"Hei, kalian siapa? Kenapa kalian membawa mang Sidik?" Teriak bi Murni.


Mereka pun menoleh. "Tuh kan, ada yang lihat!"


"Cepat, bawa dia sekalian!"


Dua orang turun lagi dan menarik tangan bi Murni.


Merasa dalam bahaya, sontak bi Murni berteriak. "Eeehh, kalian mau apa?"


"Diam!"


"Diam ... eh diam ... eh diam!" Bi Murni berusaha berontak.


"Jangan berisik, nurut saja!" Bentak mereka lagi.


"Jangan berisik, nurut saja ... nurut saja!"


"Sssttttt!" Jari tangan pria itu menempel di bibir bermaksud menyuruh bibi diam.

__ADS_1


"Sssstttttt ... sssttttt!" Si bibi yang latah mengikuti perkataan mereka. "Enggak, bibi gak mau nurut! Lepasin saya." Rengek si bibi terus berontak.


"Kalau enggak diam, kau akan mati!" Ancamnya.


"Mati ... eh mati ... eh mati. Enggak, bibi gak mau mati." Tangan bibi tetap di pegang erat. "Lontong ... lontong ... eh, tolllooooong ... tollll ... hmmppphh!"


Mulut bibi dibekap mereka sehingga, bibi tak bisa mengeluarkan suaranya lagi.


Bibi pun ikut masuk kedalam mobil minibus tersebut dengan di pegangi kedua penjahat.


Saat didalam mobil, mata bibi terbelalak melihat siapa yang tergeletak lemah di dalam mobil.


"Nyonya ... mang Sidik! Ya tuhan, siapa orang-orang ini? Kenapa mereka menculik nyonya dan si mamang?" Mata bibi melirik seluruh isi mobil. "Gak ada barang yang dicuri, berarti ini asli penculikan!"


Ddrrrttttt


Sebuah ponsel milik salah satunya berdering.


"Hallo bos. Kami sudah mendapatkan wanita ini. Terus, kita harus membawanya kemana?"


"....."


"Baiklah, kami akan membawanya kesana. Tapi, bayaran kami full kan!" Teman-temannya tersenyum mengacungkan jempol yang pasti bukan jempol kaki mereka karena kaki mereka memakai sepatu.


Selesai sudah panggilan itu terputus dengan menyisakan senyum kemenangan di bibir mereka.


"Yuhuuu, banyak duit kita!" Kepalan tangan kemenangan teracung dan akhirnya saling meninju satu sama lain dengan teman mereka. "Yeeaaahh!"




"Papi pergi karena membebaskan mereka!" Sebuah fhoto di perlihatkan kepada asisten pribadi ayahnya itu.



"Anak-anak!" Joan terkejut melihat kelima anak muda yang terikat.



"Apa yang harus kita lakukan, om?" Tanya Zyan.



Joan tampak berpikir. "Siapa dalang di balik semua ini? Kenapa dia menginginkanmu, tapi bersedia menukar dengan ayahmu?"



"Aku juga gak tahu, om! Mungkin, mereka bisa memberikan kita petunjuk. Ayo, kita segera temukan mereka!" Ucap Zyan bersemangat.



Sebelum Zyan bersiap pergi, tiga orang pria paruh baya masuk kedalam ruangannya.



"Zidane ... Zidane!" Mereka berteriak memanggil.



Zyan dan Joan menatap ketiga pria paruh baya itu.



"Papi gak ada disini, om!" Jawab Zyan.



"Apa? Gak ada. Lalu kemana papi kamu, Zyan?" Tanya mereka lagi.



"Papi ...!" Melirik Joan sebelum menjawab. "Papi ... pergi untuk ...!"



"Menjamin anak-anak pulang!" Semua mata menatap ke arah Joan.




Di ceritakan-nya semua kejadian yang menimpa Zidane dan Gita tadi pagi. tentang putra-putri mereka yang di culik dan di sekap oleh orang misterius yang belum di ketahui Joan.



Wajah geram ketiganya terlihat. Mereka sampai mengepalkan tangan mendengar cerita dari Gita, sekretaris Zidane itu.



"Kemana kita harus mencari mereka?"



"Oh anak-anak yang malang! Bagaimana bisa mereka diculik tanpa melawan?"



"Gue yakin jika mereka di bius supaya gak bisa melawan!"



"Kalau dalang di balik penculikan ini terungkap, bakal gue pites kepalanya!" Dika memperagakan sedang mematahkan benda.



"Jangan lupa otongnya kita potong, Dik!" Kata Indra.



"Gue mau bikin mereka jadi makanan buaya!" Timpal Geri.



Mereka heboh sendiri dengan pikiran dan keinginan masing-masing. Tapi ...



"Dimana dokter Rian? Apa dia tak mengkhawatirkan putra dan putrinya?" Zyan, Dika, Indra, dan Geri menoleh ke arah Joan.



"Benar! Dimana om Rian?" Zyan melirik ketiga and the genk.



"Dia sedang ada tugas di rumah sakit. Suster bilang dia di ruang operasi sekarang! Mungkin dia gak tahu hal ini." Jelas Dika.



Zyan dan Joan hanya ber"oh" ria.



"Ya sudah, kita harus segera temukan mereka supaya bisa mematahkan segalanya lah!"



Mereka berlima pun turun dan memasuki mobil, bersiap untuk pergi mencari anak-anak mereka dan teman Zyan.



Saat di parkiran, ada lima orang yang turun dari sebuah taksi.



"Papa."



"Ayah."

__ADS_1



"Zyan."



"Om."



Teriakan itu mengundang lirikan mereka berlima.



"Anak-anak!"



Mereka berpelukkan satu sama lain dengan sedikit tangisan.



"Siapa yang menculik kalian?" Tanya para orang tua.



"Kami gak tahu. Yang kami tahu, mereka ingin menukar kami dengan Zyan!" Jelas mereka.



"Zyan? Apa yang diinginkan mereka?"



"Entahlah!"



"Gimana kalian bisa di culik?"



Diceritakannya secara detil kronologi kejadian dimana para bandit mendatangi mereka di kampus dan di tempat kerja masing-masing, dengan membawa obat bius di sapu tangan.



Mereka tak dapat melawan atau memberontak, karena cepatnya gerakan menyerang mereka seperti seorang pengawal terlatih.



"Untung kalian gak kenapa-kenapa!"



"Mereka tidak menyakiti kita, om!"



"Iya, malahan kami diantar pulang kesini oleh mereka!" Semua ayah menatap serius dengan alis yang bertautan.



"Mengantarkan kalian?" Anak-anak mengiyakannya .



"Jadi, yang tadi itu bukan taksi online tapi mobil si penculik?" Sekali lagi mereka mengangguk. "Kenapa gak ngomong?" Mereka terkejut dengan suara keras Dika.



"Yaelah Dika, elu kebiasaan suka bikin gue jantungan!" Geri berkata sembari memukul bahu Dika.



"Wadidaw, pukulan lu sekarang macam emak-emak rempong! Pedes banget sih, Ger!" Dika mengelus bekas pukulan Geri.



"Lagian, lu duluan yang bikin gue terkejot setengah modiaarr!"



"Tapi kan gak mesti mukul juga, asdud!" Dika gak mau kalah.



Keributan kecil itu berhenti setelah Indra menghentikannya. "Lu berdua gak bosen gelut terus? Gak malu?" Dika dan Geri menoleh. "Lihat dong, lu berdua jadi bahan tontonan!" Lanjut Indra.



"Iya ih, macem bocah TK yang rebutan tempat main deh!" Timpal anak-anak keduanya.



Keduanya hanya cengengesan menanggapi perkataan anak-anak mereka. "Hehehe!"



"Kenapa mereka berbuat baik gitu ya!"



"Katanya, om Zidane memberikan jaminan kepada bos besarnya. Makanya kami di bebaskan begitu saja!" Tutur Rena.



"Ya, kami tahu soal jaminan itu. Sebab itulah dia ikut dengan bos mereka."



"Ikut dengan bos mereka?" Kelimanya saling menatap. "Tidak kok! Om Zidane sudah pulang diantar para penjaga tadi."



"Tapi, dia gak datang kesini. Lagipula, Gita melihat Zidane di seret kedalam helikopter!" Jelas Joan.



"Mungkin dia diantar ke rumahnya, om. Itu yang di bicarakan para pengawal saat tadi mengantarkan kami!"



Tanpa berkata, Zyan berlari memasuki mobilnya kemudian menjalankannya.



"Zy, tunggu! Kita ikut lu." Andra, Rena dan Ash berlari mengejar.



Sedangkan si kembar Steve hanya menatap kepergian mereka. "Kami harus pulang supaya mommy tak khawatir!"



"Baiklah!"



"Kalian semua harus berhati-hati ya, anak-anak!"



Mereka melambaikan tangan melepas kepergian anak-anak.



"Udah pada gede ternyata, ya!"



"Ya, mereka bisa diandalkan sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2