
Bakk...bukkk
Indra memukul wajah Dika dengan bertubi-tubi membuat ia tersungkur ke tanah.
Geri langsung menahan tubuh Indra yang akan terus memukuli Dika."Stop, Ndra!"
Darah menetes di sudut bibir yang sobek dengan wajah yang sedikit lebam.Dika berusaha berdiri.
Kaki Indra melayang dan mengenai perut Dika dengan tepat sehingga ia terjatuh kembali.
"Sialan lu, Dik.Teman macam apa lu?"Hardik Indra yang kesal kepada sahabatnya itu.
Dengan sedikit tertatih, Dika berpegangan ke meja."Ma ... maafin gue, Ndra.Gue gak bermaksud melakukan itu!"Ia terus meminta maaf.
"Gak bermaksud melakukan itu?Jadi, maksud lu ini kecelakaan?"Dengan kesalnya Indra menendang lagi tubuh Dika.
"Indra!Apa-apaan lu?"Sherly menghadang tendangan Indra ke arah Dika.
"Biarin, beib.Ini semua emang salah gue."Dika tertunduk dengan segala kesakitannya.
"Sebenarnya ada apa sih?Kenapa kalian jadi seperti ini?"Ditatapnya kedua sahabat kecilnya Sherly dengan tajam.
Mereka terdiam tanpa ada yang mau menjawab.Sampai kedatangan Iren kesana.
"Dika gak salah, guys.Gue yang salah.Hiks...!" Mereka menoleh ke arah Iren yang terisak.
"Maksud lu apa, Ren?"Mereka bertanya dengan heran.
"Yank, apa yang sebenarnya terjadi malam itu?Ceritakan semuanya.jangan takut!"Ujar Indra dengan mengelus kepala Iren.
"Maafin aku...maaf!"Ia terus menangis dengan menutup wajahnya.
Sherly mendekat dan menuntun Iren untuk duduk."Lu jangan takut, Ren.Katakanlah!"
Iren menatap wajah Sherly yang tersenyum ke arahnya."Elu yakin mau mendengarkan semuanya?"Pertanyaan Iren membuat Sherly penasaran.
"Apa pun yang ingin kamu katakan, katakan lah semuanya.Jangan di pendam dalam hati supaya tidak saling salah paham!"Tutur Zidane lembut.
"Ini semua menyangkut kalian juga,"Dika menoleh ke arah pasangan baru itu.
"Kita?"Sherly dan Zidane saling pandang.
Dika berdiri di dekat jendela.Ia menerawang ke dalam lamunannya.Dengan perlahan, ia menceritakan semua yang dialaminya malam itu.
Di mulai pesan dan panggilan yang di terima Dika di ponsel Zidane yang mengatakan kalau Sherly di tahan mereka dan mereka meminta Zidane untuk datang kesana. Ketika Dika harus mendatangi club malam dan di beri obat oleh mereka yang ingin menjebak Zidane.Sampai ia menelpon nomor Sherly namun yang datang malah Iren dan mereka pun tanpa sengaja melakukan itu di kamar club malam.
"Hiks...hiks...huhuuuu!"Iren terus menangis mengingat semua yang harus terjadi kepada mereka.
"Maafin gue, guys."Dika memejamkan mata.
Mereka yang menyimak cerita Dika menjadi tertunduk.Terutama Sherly dan Zidane.
Tanpa sengaja, mereka lah yang membuat kecelakaan ini terjadi.
"Elu gak salah, Dik.Disini gue lah yang bersalah.Waktu di culik, gue gak langsung melawan mereka.Karena gue ingin mengetahui motif penculikan mereka dan dugaan gue benar.Kalau mereka mengincar Zidane.Karena kecerobohan gue itu, mereka memanfaatkan kelengahan gue."Ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi.
"Tidak, sayang.Aku yang salah.Aku terlalu memperlihatkan perhatianku padamu sampai membuatmu terlibat dengan masalahku." Ucap Zidane tak enak.
"Gue juga bersalah.Seharusnya, gue gak datang waktu itu dan seharusnya, gue telpon Indra atau Geri untuk menolong Dika."Kata Iren yang masih terisak.
Indra dan Geri menatap keempat orang yang sedang menunduk.
Ia tampak berfikir.Rasanya memang sulit untuk Indra menerima semua ini.Tapi, bagaimana pun juga ini bukan salah mereka.
__ADS_1
Takdir yang mempermainkan hubungan mereka sampai menjadi seperti ini.
"Hufft...Gue udah mutusin.Besok kita akan menikah!"Indra berdiri dan mengelus kepala Iren dengan lembut.
Mereka langsung mendongakkan kepala dan menatap Indra dengan tatapan yang sulit diartikan."Apa?Semudah itu kah, Ndra?"
"Kenapa?gue sayang sama Iren.Walaupun dia nanti akan melahirkan anak dari Dika, gue akan menerimanya dengan lapang dada. Lagi pula, anak itu tidak bersalah.Yang bersalah adalah orang tuanya.Jadi, gue akan bertanggung jawab atas anak yang Iren kandung!"Tutur Indra.
Dika menggelengkan kepala."Tidak Ndra, anak itu darah daging gue.Bagaimana pun, gue yang harus bertanggung jawab terhadap anak yang ada di rahim Iren."
"Elu mau nikahin Iren, heh?"Indra kesal sekali terhadap sahabatnya.
"Apa yang akan dikatakan orang tua gue dan orang tua Iren jika kalian menikah?"Kata Indra.
"Mereka mengetahui hubungan gue dengan Iren.Apa yang akan dipikirkan jika Iren menikah sama elu, tong?"Lanjut Indra.
"Indra bener, Dik.Keluarga mereka tahunya Indra berhubungan dengan Iren.Apa yang akan dipikirkan nanti saat pernikahan, mempelai prianya ganti!"Geri terkekeh.
"Bisa-bisa semua orang menggunjing Iren yang hamil di luar nikah, di tambah lagi bukan Indra orangnya.Apa kata dunia?"
Benar juga kata Geri.Nanti, Iren akan di tuding menghianati Indra, dong!
"Tapi, Ndra.Aku merasa diriku tak pantas untukmu lagi."Iren sangat sedih.
"Yank, aku menerimamu apa adanya.Jadi, jangan pernah berkata seperti itu ya?"Kata Indra dengan lembut.
"Elu serius, Ndra?"Sherly menatap Indra.
Indra mengangguk pasti."Gue serius!"
Zidane bertanya."Apa kamu sudah tidak marah lagi sama kami?"
"Ini sudah takdir, tuan muda.Aku tidak berhak marah kepada kalian."Tutur Indra.
"Mafin gue, Ndra.Maaf!"Di satukan kedua tangan Dika memohon maaf kepada sahabatnya.
"Sudah lah, Dik.Gak usah meminta maaf terus.Lupain semuanya, oke!"Indra menepuk bahu Dika."Anggap saja ini keberuntungan gue.Beli satu dapet dua.Semacam doorprize, kan!"Indra terkekeh sambil memeluk Dika.
"Hahaha...elu bener, Ndra.Hoki banget, lu!" Geri tertawa mencairkan suasana.
"Eh, ngomong-ngomong, hebat juga ya si ali oncom.Masa sekali tancep, langsung jadi?" Kata Indra.
Dika pun menoleh."Ali oncom, siapa?"
"Adek lu, kan.Bukannya elu sendiri yang kasih nama buat adek kandung lu?"Lanjut Indra.
"Eh, kapan?perasaan gak pernah deh!"Dia lupa apa gak mau karena malu.
"Gue masih inget.Elu ngasih nama adek gue si doyok, dan punya Indra si otoy, dan elu ya si ali oncom.Iya kan, Ndra?"Geri dan Indra bertos ria.
"Haish, senjata makan tuan.Gue lagi hilap itu."Kata Dika.
"Hahaha!"Indra dan Geri menertawakan sahabatnya.
Mereka pun tersenyum dengan perkataan Indra ditambah candaan Geri.Mereka mengatasi semua masalah dengan sabar dan kepala dingin.
"Gue beruntung punya kalian!"Dika memeluk kedua sahabatnya.
"Tumben lu meluk kita.Biasanya kan...?"Di liriknya Sherly yang sedang duduk di samping suaminya.
Tatapan Zidane langsung tertuju pada mereka."Sudah gak boleh lagi.Awas kalian!" Ancam Zidane dengan ketus.
"Sorry deh tuan muda.Kita gak lagi-lagi!" Ucap ketiganya sambil terkekeh.
__ADS_1
"Dasar posesif!"
"Hahahaa...!"Mereka pun tertawa bersama.
ππππ
Pagi itu, Indra melajukan kendaraannya menuju kontrakan Iren yang berada di pemukiman padat penduduk itu.
Ia ingin mencari tahu tentang rahasia Iren. Sebenarnya, siapa sih yang menghamili Iren.
Pertanyaan itu terus berputar di pikiran Indra sampai ia tak bisa tidur karena memikirkannya.
Dengan bermodalkan kunci dari pemilim kontrakan, ia masuk ke dalam kamar kontrakan Iren
Di obrak-abriknya kamar Iren oleh Indra yang ingin mencari kebenaran.Saat Indra membongkar tas milik Iren, tanpa sengaja ia menemukan buku Diary milik gadis itu.
Indra pun membuka dan membaca buku itu.
Halaman pertama, ia menemukan fhoto kebersamaan mereka sewaktu masih kecil sampai mereka dewasa.Semua tulisan hanya tentang And the genk saja.Tak ada yang mencurigakan.
Lembar demi lembar ia buka dan baca.Indra tersenyum melihat bagian halaman yang bertuliskan tentang kisah percintaan mereka.
Namun, setelah membuka halaman berikutnya, Indra membelalakan mata.Di sana tertulis bagaimana kecelekaan Iren terjadi.Catatan tentang nasib sial dan malam terburuk yang harus dialami Iren.
Terselip nama sahabat kecilnya itu di bagian halaman berikutnya."Mahardika, apa elu akan nerima anak ini?"
Hati Indra menjadi hancur.Bagaimana tidak?ternyata, sahabatnya lah yang melakukan itu.Tanpa membuka bagian halaman selanjutnya, Indra melempar buku itu dan ia pergi dengan amarahnya menuju rumah Dika.
Mobil terparkir dengan sempurna di halaman rumah Dika.Setelah mencium pungung tangan kedua orang tua Dika, Indra melangkah masuk ke kamar si Entong itu.
Dika di kejutkan dengan kedatangan Indra yang nyelonong masuk ke kamarnya tanpa permisi dengan tangan terkepal dan wajah yang merah.
"Bangun, lu.Gue ada urusan sama lu."Di tepuknya bagian tubuh Dika oleh Indra dengan kesal membuat si empunya terperanjat.
"Haish, elu Ndra.pagi-pagi udeh kesini aje. Ada apaan lu?"Ia mengucek kedua matanya.
"Ikut gue sekarang juga ke basecamp!"Tanpa berkata lagi, Indra melangkah meninggalkan Dika yang masih mencerna perkataannya.
"Woi, ada apa sih?gue masih ngantuk ini." Indra berhenti dan menoleh ke arah Dika.
"Ikut gue sekarang atau elu akan gue habisi di depan orang tua lu?"Ancaman Indra membuat Dika heran.Sebenarnya, ada apa sih dia?
Dika melangkah ke kamar mandi setelah melihat Indra yang pergi dengan amarahnya.
Ia pun naik di mobil Indra setelah selesai bersiap.
Indra melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh membuat Dika protes.
"Woi, Ndra.Gak bisa lebih kenceng lagi bawanya?"Maksud dia bercanda.Tapi Indra serasa tertantang.Ditambahkannya kecepatan mobilnya dengan membelah jalanan ibu kota.
Hampir saja mereka menabrak kendaraan lain di depannya dan di tilang polisi.
Setelah sampai di basecamp, Indra turun dan diikuti Dika.
Tak lama kemudian, Geri dan Pasangan pengantin baru datang setelah Mereka masuk ke dalam. Terjadilah baku hantam Indra yang meluapkan kekesalannya pada sahabatnya itu.
Dika tak melawan.Ia memang merasa bersalah atas kemarahan Indra padanya. Wajar jika Indra marah, karena Dika telah merenggut kesucian gadis yang dicintainya.
Walaupun itu tanpa di sengaja, tapi Dika tetap merasa bersalah kepada mereka.
Iren datang karena di telpon Geri.Dengan susah payah ia meminta izin keluar dari rumah sakit supaya bisa datang kesini dan menghentikana amarah Indra.
Bersambung....
__ADS_1