Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Romantisnya


__ADS_3

Sherly yang kesal menunggu kedatangan Zidane di teras rumahnya terus saja mondar-mandir gak karuan.Ia terlihat kesal namun lebih ke perasaan khawatir.


Pasalnya, Zidane mengatakan akan datang jam tujuh malam karena ia sudah berangkat dari jam empat sore.Namun sampai sekarang tak terlihat batang hidungnya.


"Ish, kemana sih dia?katanya nyuruh gue nunggu, tapi dia sendiri yang terlambat"Dia terus melihat jam tangan yang melingkar setia di pergelangan tangannya.


Daddy dan mommy yang melihat putrinya bolak balik kaya setrikaan di teras rumah pun menghampirinya."Dia belum dateng, sayang?"


Sherly meliriknya sekilas sambil cemberut. "Belum, tahu tuh. Katanya mau dateng tapi ga dateng-dateng.ish, menyebalkan!"


"Sabar dong, sayang.mungkin saja jalanan macet!"Mommy menenangkan putrinya dengan mengelus pundaknya.


Daddy pun merangkul putrinya dan mengecup pucuk kepalanya."Kalau cinta, harus sabar menunggu."


"Dia saja menunggu kamu bangun dari tidur sampai tiga bulan, masa kamu gak bisa nunggu dia cuma tiga jam saja!"


Sherly pun mendongakkan kepalanya."Apa dia selalu datang ke rumah sakit saat aku di sana, dad?"


Daddy pun tersenyum dengan pertanyaan putrinya."Bukan cuma datang menengok, dia juga menunggui kamu setiap malam.Apalagi pas kemaren, tangannya gak mau lepas dari tanganmu, sayang."Jelas daddy.


"Jadi, hargai dia karena dia sangat menyayangi dan mencintaimu"Lanjutnya.


Sherly pun mengangguk."Oke dad, aku hanya akan selalu setia kepadanya seorang."


Keduanya saling pandang kemudian memeluk putrinya dari kanan dan kirinya.


"Jadilah kekasih yang baik untuknya karena dia sudah tak memiliki orang tua.Maka dari itu, kamu yang harus menjaganya!"Nasihat keduanya.


"Kamu itu harus selalu sabar dalam menghadapi sikap dan sifatnya.Jangan dikit-dikit ngambek, kan putri mommy udah gede bukan bocah di bawah lima tahun!" Mommy terkekeh menasehati anaknya itu.


"Tahu ih, dikit-dikit ngambek.Contoh dong kak Aldrian, dia itu sikapnya tegas dan penyabar.Sama kaya daddy."Ucapnya bangga.


"Jangan kaya mommy, cengeng"Lanjutnya.


Istri dan anaknya pun menoleh ke arahnya.


"Huuhh, giliran yang baik punya daddy kalau yang jelek dari mommy.bagus ya?Malam ini pokoknya daddy tidur di luar, gak boleh masuk ke kamar mommy.hemh"Sang ibu negara pun pergi meninggalkan suami dan anaknya yang sedang saling pandang.


"Eh, jangan dong, mom.daddy bercanda kok!" Daddy langsung mengejar mommy sedangkan putrinya hanya tertawa melihat tingkah mereka.


"Hahahaaa..jangan kasih ampun, mom.Buktikan kalau perempuan selalu benar!"Ia tertawa puas dengan pertengkaran kecil kedua orang tuanya.


Sampai sesuatu membuatnya tersentak.


"Apa yang kamu tertawakan, Machan"Tubuh Sherly meremang saat tangan kekar melingkar di perutnya.


"Gu..gue"Ia ingin berbalik menghadap orang itu namun dia semakin mempererat pelukannya dari belakang.


"I'm sorry for my delay, oke!"Zidane berbisik di telinga Sherly.(Aku minta maaf untuk keterlambatanku, ya)


Sherly merasakan jantungnya berdetak lebih kencang saat nafas Zidane menyapu leher jenjangnya."O..oke, tak masalah."Ia berusaha menetralkan perasaannya dengan cara berdehem."Ekhem..kita ngobrol sambil duduk?"Tawarnya.


Namun Zidane tetap memeluknya."Aku ingin seperti ini untuk beberapa menit saja"Di ciumnya pipi kanan Sherly sedikit lama.


Sial, kenapa dia melakukan ini?gue jadi gak bisa marah dong kalo kaya gini.huaa, jantung gue kenapa lagi malah kaya abis lari marathon aja?huh sebel.


Gadis itu pun tak bisa berkata apa-apa, ia memilih diam dengan jantung yang tak karuan.


Zidane tersenyum kemenangan karena mendengar suara hati Sherly.


Setelah beberapa saat kemudian, Zidane perlahan melonggarkan pelukannya dan menghadapkan tubuh gadis itu ke arahnya.


"Kenapa wajahmu merah, apa kamu sakit?" Ia terkekeh saat melihat ekspresi wajah Sherly yang malu-malu.


"Iya, kayaknya gue sakit deh.dari tadi nungguin lu gak dateng-dateng.Malah sekarang gue mau pingsan karena kelelahan" Ucapnya asal untuk menghilangkan rasa canggungnya.


Zidane mengangkat dua tangan dan menaruhnya di kedua telinganya."Maaf"


Ini gak pernah terjadi dalam dunia persilatan.Sejak kapan si tuan muda yang arogan dan dingin itu meminta maaf kepada seseorang walaupun dia yang salah?Hemh, harusnya di abadikan lewat ponsel.Tapi, Sherly memilih melongo menyaksikan keajaiban langka itu.Haish, dasar.


Zidane pun sekali lagi tersenyum."Mau kan memaafkan aku yang bersalah ini?


"Hah..oh..ya!"Ucapnya masih tak sadar.


"Terima kasih!"Zidane mengecup pipi gadis berisiknya kembali.


Sherly pun tersadar suatu pertanyaan."Eh, gue kan mau tanya kapan elu dateng, kok tiba-tiba ada di belakang gue sih?"


"Kamu asyik tertawa sampai suara motorku pun tak kau dengar."Ucapnya.


"Oh iya, tunggu sebentar!"Ia berbalik dan mengambil sesuatu dari atas motornya.


"Untuk gadis terberisik di dunia"Ia menyerahkan buket bunga kepada Sherly.


Sherly pun cemberut karena perkataannya yang mengatainya gadis berisik."Gak ada panggilan yang romantis gitu, masa gadis berisik?"


Tingkahnya membuat Zidane gemash. "Machan"Ucapnya singkat.


"Kenapa macan?emang gue sangar atau galak gitu?"Ia tak terima.


Zidane maju ke arahnya namun ia malah mundur dan terus diikuti Zidane sampai mentok ke tembok.


"Machan..Manis dan chantik!"Ucapan Zidane sukses membuat wajah Sherly merona namun seketika menghilang saat pemuda itu melanjutkan ucapannya.


"Tapi da boong, kamu memang galak dan sangar.semua orang takut padamu bahkan hantu sekalipun!"Ia berbalik dan masuk ke dalam rumah Sherly.


Sherly yang tadinya dengan wajah merona, kini kekesalan terlihat di raut wajahnya.

__ADS_1


Ia berjalan mengejar Zidane dan menariknya saat langkah kaki Zidane hampir masuk ke rumahnya."Tarik kembali ucapan elu yang tadi!"Di tempelkannya bibir mungil itu ke bibir tebal dan seksinya Zidane membuat pemuda itu mematung seketika dengan aksi gadis berisiknya.


Sherly merasa puas karena sudah bisa mengerjai pemuda itu.Namun, bukan king ice namanya jika tak bisa membalas perbuatan si Machan.


Zidane menarik tengkuk Sherly dan menggigit sedikit bibir bawahnya sampai terbuka sehingga ia memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut gadis berisiknya.


Ia ******* habis bibir tipis nan seksi itu di depan pintu rumah Sherly sampai membuat kedua orang tua gadis berisiknya melongo seketika.


Mereka tak sadar jika sedang di perhatikan oleh kedua orang tuanya di ambang pintu karena keasyikan saling membelitkan lidah.


"I love you"Bisik Zidane lirih.


Namun sebelum Sherly menjawab, kedua orang tuanya yang mewakili jawaban Zidane menbuat mereka terperanjat."Love you too"


Zidane dan Sherly tersentak mendengar suara lain selain mereka.Di liriknya kedua orang tua paruh baya yang sedang berdiri di ambang pintu dengan senyuman dan mata yang berbinar.


Seketika suasana menjadi canggung.


Zidane pun menetralkannya dengan berdehem dan mencium punggung tangan keduanya"Ekhem, malam om, tante!"


"Malem, nak Zidane."Keduanya tersenyum melihat ekspresi insan muda itu.


"Masuk nak, jangan di luar saja.Nanti ada orang yang ngintip!"Mereka terkekeh dengan ucapannya.


Sherly dan Zidane pun saling pandang dan malu.Haish, kenapa harus kepergok ciuman di depan pintu sih?


"Terima kasih om, tante."Ucapnya sopan.


"Tapi aku kesini ingin mengajaknya pergi seben..."


"Bawa saja, lama pun gak apa-apa!"Mommy menyambar cepat ucapan Zidane sebelum dirinya mengucapkan semua perkataannya.


Zidane pun jadi canggung karenanya."Kalau begitu, kita permisi dulu, om, tante!"


"Iya, hati-hati di jalan.Yang lama ya perginya!"Mommy melambaikan tangan ke arah mereka.


"Weh, mommy malah nyuruh anaknya pergi lama-lama?dia itu anak perawan, kagak boleh keluyuran nyampe malam!"Daddy menoleh ke arah istrinya.


Zidane pun menjadi tak enak hati."Umm, kalau begitu, kita disini sa..."


"Ah, nak Zidane.gak usah dengerin om.dia bercanda doang kok, iya kan dad?"Mata mommy melotot ke arah suaminya sambil menggerakkan bibir seperti sedang komat-kamit.


Nyali daddy menciut menatap horor ancaman istrinya."Oh ya..ya..om bercanda kok, nak Zidane.Silahkan bawa Sherly pulang!"Beliau sampai tak sadar dengan ucapannya.


"Apa?"Kedua anak muda itu terkejut.


"Eh, maksud daddy, silahkan kalian pergi"


"Baiklah, kami permisi dulu!"Mereka pun berpamitan kepada kedua orang tua si gadis berisik.


Dengan menaiki motor sportnya Zidane, Sherly menempel di punggung si king ice.


"Kenapa, kamu tak suka jika naik motor denganku?sedangkan dengan pamanku atau si Dika kamu mau?"Zidane terlihat kesal.


Sherly yang mengerti akan kecemburuan Zidane pun langsung memeluknya dari belakang."Gue suka kok!"


Zidane tersenyum dan sengaja menambah kecepatannya supaya Sherly tetap berpegangan dan memeluknya seperti itu.


Kurang asyem, dia sengaja banget bikin jantung gue deg degan terus.


Sherly memejamkan mata karena Zidane membawa motor dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sampailah mereka di sebuah tempat mirip dengan puncak karena pemandangan bisa terlihat dari atas sana.


"Kamu ingin kita seperti ini terus?" Pertanyaan Zidane membuat Sherly tersentak.


"Eh, kita udah nyampe?"Ia balik bertanya.


Zidane terkekeh."Alesan, kamu ya?"


"Iih, gue beneran gak tahu kalau kita udah nyampe!"Ia pun turun dengan berpegangan di kedua pundak Zidane.


Pemuda itu menstandarkan motor sportnya kemudian melangkah ke sisi bukit.


"Lihatlah, indah bukan?"Ia bersidekap di sana dengan memperhatikan pemandangan ke bawah yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota.



Sherly mengikutinya dan berdiri di samping Zidane."Waaah, beneran indah ya?"Mata Sherly berbinar melihat pemandangan kota saat malam dari atas bukit.


Zidane memperhatikan wajah cantik di sampingnya.Kemudian ia berjongkok di depannya."Semua keindahan itu tak sebanding dengan keindahan yang ada di depan mataku."Ucapannya membuat Sherly menunduk ke arahnya.


"Mau kah kamu menua bersamaku?"Di bukanya cincin berlian dari kotak coklat yang di ambil dari kantong jaketnya.



Sherly menatapnya haru sampai ia tak bisa berkata apa-apa.


"Hei, jawab dong!Aku kan bertanya, bukan mau mengintrogasimu.Kenapa kamu malah menangis?"Zidane panik saat air mata Sherly membasahi pipinya.


Dengan cepat Sherly menghapus jejak air mata itu menggunakan telapak tangannya.


"Gue bahagia tahu, bukan sedih!"Ucapnya dengan tersenyum sebelum melanjutkan perkataannya.


"Iya, gue menerima lu sebagai pendamping hidup gue sampai menjadi kakek dan nenek!"Lanjutnya.


Zidane langsung berdiri dan memeluk Sherly.

__ADS_1


"Semudah itu kau menerimaku?"Ia masih belum percaya dengan jawaban gadis berisiknya.


"Kenapa?apa ini bukan jawaban yang lu inginkan?"Tanya Sherly di sambut gelengan kepala Zidane.


"Jadi, bukan?"Pertanyaan kedua namun Zidane mengangguk.


"Oh ya sudah, gue gak mau mene.."


Zidane langsung memeluknya lagi."Aku bahagia dengan jawaban darimu, gadis berisikku!"


Mereka tersenyum dengan wajah yang berlawanan arah.


"Terima kasih ya, karena kamu menerimaku sebagai pendamping hidupmu!"Tutur Zidane.


"Terima kasih juga karena elu selalu ada di saat gue membutuhkan dukungan dan bantuan!"Ucapannya membuat Zidane tak enak dan salah mengerti.


"Maksud kamu karena aku selalu menolongmu, kamu membalas jasaku dengan menerima cinta dariku?"Ia menatap serius.


Sherly mengerti akan kesalah pahaman Zidane."Cinta bukan balas jasa, tapi cinta datang dari hati.Gue suka sama lu sejak lu selalu mengganggu hari-hari gue.Tapi, gue selalu menampiknya dan tak pernah mengakuinya.Tapi kini, gue tahu kalau perasaan yang selama ini gue rasain terhadap lu itu adalah cinta"Penjelasan Sherly membuat Zidane tersenyum.


"I love you so much, Machan!"Bibir Zidane lagi-lagi menempel di bibir tipis Sherly dengan cepat.


Mereka meluapkan rasa cinta lewat pergerakkan bibir keduanya.tak ada kata-kata untuk mengungkapkannya selain bahasa cinta lewat pergerakkan bagian tubuh.


Ciuman pertama keduanya di ambil oleh mereka sendiri saat baru pertama kali bertemu.


Zidane yang baru pertama mengecup bibir seorang gadis yaitu si berisik.begitu pula gadis berisik ini pertama kali berciuman dengan si king ice.Maka dari itu, mereka sangat senang dalam hati masing-masing.Karena merasa bangga tersendiri dengan kemenangan mereka.


"Bibir ini yang pertama ku sentuh dan sekarang sudah ku dapatkan untuk ke sekian kalinya"Ucap Zidane saat melepaskan pautannya dan mengusap bibir Sherly dengan jarinya.


Sherly pun tersenyum."Gue juga, bibir ini yang pertama gue rasain dan sekarang yang selalu membuat jantung gue serasa mau copot"Jari tangannya pun mengusap bibir tebal Zidane.


"My first kiss..hahahaa"Mereka tertawa saling berpelukkan.


"Ayo kita ambil gambar untuk di pajang di ponsel!"Ajak Sherly kepadanya.


Zidane pun mengangguk sambil memberikan ponselnya kepada si gadis berisiknya.



"Gambar yang bagus bukan?"Keduanya tersenyum bahagia.


"Aaah, aku sangat bahagia malam ini"Di angkatnya tubuh si gadis berisiknya sambil di bawa berputar.


"Whooaaa...elu gila apa?gue pusing tahu main puter-puteran kaya gini!"Namun dia tertawa bahagia.


Zidane menurunkan gadis itu sambil berkata."Aku gak mau pulang ah!"Ucapnya singkat setelah menurunkan tubuh gadis berisiknya.


"Hemh, kenapa?"Ia menatap serius.


"Takutnya ini sebuah mimpi.jika aku bangun, semua rasa ini lenyap sudah"Tutur Zidane.


Sherly pun menangkup wajah tampan Zidane dengan kedua telapak tangannya.


"Ini nyata, sayang."Di kecupnya kening Zidane.


Zidane yang mendengar kata sayang dari mulut si berisiknya pun menjadi tersenyum bahagia.


"Apa kamu beneran sayang kepadaku?" Ucapnya lirih.


"Tentu, kalau gue gak sayang, udah gue tendang saat lu selalu mengejek gue!"Ia melangkah dan duduk diatas motor.


"Yuk, pulang.Sudah malam!"Pinta si berisik.


Dengan malas Zidane melangkah ke arahnya dan menaiki motornya."Padahal aku masih ingin bersamamu!"


"Besok kita pergi lagi.Tapi, harus dari siang berangkatnya, oke!"Perkataan Sherly membuat hati Zidane senang.


"Baiklah Machan ku, kita pergi jalan-jalan besok.Aku akan menjemputmu setelah pekerjaan di kantor selesai.Oke!"Ia pun memakai helm dan melajukan motornya di jalan beraspal.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, mereka sampai di rumah Sherly.


"Aku jemput lagi besok, ya?"Ia mengelus wajah cantik kekasihnya.


Sherly pun mengangguk dengan tersenyum.


"Janji ya, jangan telat datang lagi!"


"Iya, aku gak akan telat"Zidane mengecup kening Sherly namun suara seseorang mengejutkan keduanya.


"Sherly"Sorang pria hadir di sana dengan wajah yang memerah menahan amarah dan tangan yang terkepal.


".......?"Mereka saling pandang dengan kehadiran orang itu yang tiba-tiba sudah berdiri di teras rumah Sherly.


Bersambung gaesss.....


Kira-kira, dia siapa ya?Hemh, penasaran🤔


Lanjut besok ya gaess.


Author bertanya:Menurut para readers, novel romantis itu seperti apa sih?


Apa harus ada adegan 21+ baru bisa di sukai banyak peminat?


Bagaimana kalau otornya seperti diriku yang tidak terlalu paham yang begituan?


Kalau menurutku, makan bakso pinggir jalan sambil pegangan tangan saja udah romantis. Dunia serasa milik berdua sedangkan yang lain ngungsi😂😂😂😂

__ADS_1


Semoga klean menyukai karyaku walau keromantisannya hanya secuil saja ya gengs.


Terima kasih😘😘😘😘


__ADS_2