
Suara ketukan pintu yang nyaring dan berulang terdengar mengganggu si penghuni rumah.
Dilangkahkan kakinya menuju pintu dan kemudian membukanya.
"Siapa ya?" Tanya si pemilik rumah menatap tamu yang sedang berdiri di hadapannya.
Hendri yang tersenyum senang karena berhasil menemukan orang yang di carinya. Namun, senyumnya menghilang begitu saja setelah melihat orang yang membukakan pintu.
"Cari siapa ya?" Tanya si pemilik rumah dengan menilik Hendri dari atas ke bawah.
"Kamu siapa?" Tanya Hendri balik.
Si pemilik rumah mengernyitkan dahinya. Ia terus menatap wajah Hendri yang tadi tersenyum, kini wajahnya menatap serius.
"Sa-saya pemilik ru ...!"
"Mana yang punya rumah ini?" Pertanyaan Hendri menghentikan ucapan si pemilik rumah.
"Panggilkan segera pemilik rumah ini." Lanjutnya lagi.
"Ini rumah saya, tuan. Dan saya pemilik rumah ini." Jelasnya dengan ketakutan.
"Apa kamu yakin ini rumahmu?" Aura menakutkan dari Hendri membuat si pemilik rumah semakin takut.
"Be-benar tuan, ini rumah saya." Si pemilik semakin ketakutan melihat tatapan tajam Hendri.
Ya tuhan, siapa orang ini? Kenapa aura yang keluar darinya begitu menakutkan seperti ada sesuatu yang gelap dari dalam dirinya.
Hendri terus melayangkan tatapan tajam ke arah si pemilik rumah.
Apa anak buah saya salah mengkonfirmasi keberadaan Sherly dan Zidane?
"Apa kau mengenal orang ini?" Di perlihatkannya fhoto dari ponselnya.
Orang itu memperhatikan gambar dua orang yang ada di ponsel Hendri.
Bukankah ini mas tyo dan istrinya? Tapi, ada urusan apa orang ini mencari mereka?
"Kau mengenalnya?" Pertanyaan Hendri membuyarkan lamunannya.
"Ti-tidak, tuan. Sa-saya tidak mengenalnya." Ucapnya berbohong.
"Kau yakin?" Tatapan mata Hendri menusuk bagaikan pisau belati.
"Ya-yakin, tuan. Saya belum pernah melihat orang di fhoto itu." Ia berbicara dengan gugup.
"Baiklah, saya akan pergi dari sini. Namun jika kamu ketahuan berbohong, saya tidak akan segan untuk menghabisi keluargamu!" Ancaman Hendri membuat si pemilik rumah semakin ketakutan.
"Tidak tuan, saya tidak berbohong." Ucapnya lirih.
Tanpa berkata lagi, Hendri melangkahkan kakinya dari rumah besar itu. Dengan perasaan kecewa, dia memasuki mobilnya dan mulai menjalankan kendaraannya di jalanan komplek perumahan elit di sana.
Di ambilnya earphone dan ia mulai menyambungkan panggilan kepada anak buahnya.
"Dimana mereka, bodoh?" Teriaknya dengan emosi.
"Di alamat yang tadi kami sebutkan, bos." Jawab sang anak buah.
"Tidak ada. Rumah besar itu milik orang lain." Kata Hendri.
"Rumah besar? Mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana bos. Di dekat komplek perumnas." Jelas anak buahnya lagi.
__ADS_1
"Jadi, maksud kalian mereka tidak tinggal di rumah besar melainkan di sebuah rumah kontrakan?" Hendri tak percaya bahwa Zidane akan melakukan itu untuk mengecohnya.
"Benar bos. Mereka memang ada di daerah itu tapi bukan tinggal di rumah besar, melainkan di rumah sederhana." Jelas anak buahnya lagi.
"Shit. Bilang dong dari tadi." Ucapnya kesal.
Dia pun memutar stirnya dan berbelok menuju alamat yang di maksud yang ternyata hanya beda blok saja.
"Lah si bos. Kami pikir dia mendengarkan ucapan kami saat memberi tahu alamatnya. Ternyata saking senangnya dia sampai tak mendengarkan dengan jelas. Apa ini jadi salah kita?"
Si anak buah saling pandang di tempatnya yang pasti tak terlihat Hendri.
Sementara Hendri terus menyusuri setiap jalanan komplek perumahan di sekitarnya. Satu persatu ia perhatikan lebih teliti lagi.
"Kalau sampai alamat ini salah lagi, habis kalian." Gerutu Hendri kesal dengan melajukan mobilnya.
⚘⚘⚘⚘
Tok tok tok
Ketukan di pintu terdengar nyaring mengganggu telinga si penghuni rumah.
Sherly dan Zidane yang sedang beristirahat sebentar setelah berolahraga menjadi menoleh ke arah pintu ruang tamu.
"Siapa sih yang pagi-pagi bertamu?" Gerutu Sherly kesal dengan berdiri.
Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang tamu melewati ruang tengah, namun di cegah suaminya.
"Biar aku saja yang buka pintu." Sherly duduk kembali karena suaminya mencegah.
"Ya, sebentar!" Teriak Zidane karena suara ketukan terdengar sangat kencang dan berulang.
"Tak sabaran banget sih nih orang." Gerutu kesal terdengar.
"Apa dia itu tidak pernah bertamu ke rumah orang kali ya. Tidak sabaran banget ngetuk pintunya. Kalau pintunya rusak, dia harus menggantinya."
"Siapa ya?"
Zidane sangat terkejut dengan kehadiran tamu yang kini ada di hadapannya.
"Ka-kamu ...!" Matanya sampai membulat sempurna menatap seseorang yang kini berdiri memandangnya dengan rasa rindu.
"Dimana Sherly?" Tanya seseorang itu.
"Ada di dalam." Jawabnya singkat.
Tamu itu langsung berjalan masuk melewati Zidane yang mematung di tempatnya berdiri.
"Sherly." Si pemilik nama langsung menoleh ke arah sumber suara.
Wajah cantiknya mendongak untuk melihat si pemanggil namanya. "Kakak!"
Tanpa terasa air matanya meluncur begitu saja tanpa di cegah. Ia langsung berlari dan memeluk seseorang yang di panggilnya kakak.
"Aku kangen." Ucapnya dengan terisak. Air matanya terus membanjiri pipi mulusnya.
"Kakak juga kangen kamu, sayang!" Ia terus mendekap tubuh mungil adiknya itu.
"Kenapa kalian tak memberi kabar kepada kami, sayang. Kami sangat merindukan kalian." Lanjut Aldrian dengan sedih.
"Ka-kami ...!" Sherly tak bisa melanjutkan ucapannya. Dia tak mau membuat keluarganya cemas.
"Tidak apa-apa, sayang. Kami paham dengan apa yang di pikirkan suami kamu." Ucap Aldrian dengan melirik Zidane yang baru mendekat.
"Maafkan kami, kak. Aku tak bermaksud untuk menghilang atau tak memberikan kabar kepada kalian." Ucap Zidane yang di mengerti kakak iparnya.
__ADS_1
"Zidane, aku tahu akan maksud hatimu. Tapi, kali ini aku memohon kepada kalian untuk pulang ke jakarta lagi." Aldrian berkata dengan menyatukan kedua tangannya membuat Zidane tak enak hati.
"Aku tahu jika sekarang Sherly bukan tanggung jawab kami lagi dan kami tak berhak atas dirinya. Tapi, sekarang mommy sedang membutuhkannya. Aku mohon Zidane, kembalilah ke rumah."
"Kakak, jangan seperti ini. Dia tetap adikmu dan nona muda Grisheld. Kalian masih berhak atas dirinya." Ucap Zidane.
"Mommy kenapa kak?" Wajah Sherly berubah semakin sendu.
"Mommy ... mommy." Aldrian tidak tahu harus memulai cerita dari mana.
"Katakan, kak. Apa yang terjadi sama mommy." Akhirnya air mata Sherly jatuh lagi di pipinya.
Zidane melihat tingkah kakak iparnya yang ragu untuk berkata. Ia pun membuka suaranya.
"Ayo kita pulang, sayang!" Sherly dan Aldrian menoleh ke arah Zidane.
"Kita temui mommy." Lanjutnya lagi.
Sherly tak bisa berkata-kata. Dia berhambur dan memeluk suaminya dengan deraian air mata.
"Terima kasih, King ice!" Di dekapnya tubuh suaminya dengan erat sambil terisak.
Zidane mengelus punggung istrinya dengan lembut serta mencium kepalanya.
Maafkan aku karena melarangmu pulang, sayang. Tapi kini, aku sendiri yang akan membawamu pulang kembali kepada keluargamu. Aku harap ini keputusan yang tepat dan terbaik untuk kita.
Pelukannya di lepaskan dan dia mengusap sisa air bening di pipi istrinya.
"Apa kau senang karena kita akan pulang?" Sherly mengangguk dengan pertanyaan suaminya.
"Kita berkemas sekarang juga!"
Sherly berlari ke kamar dan langsung membereskan barang-barangnya.
"Zidane." Panggil kak Al.
Zidane pun menoleh ke arah kakak iparnya. "Iya, kak."
"Terima kasih." Ucapnya singkat.
Sang adik ipar tersenyum ke arah kakak iparnya. "Untuk apa?"
"Untuk selalu menjaga dia dengan baik. Aku tak tahu jika dia bersama orang lain, mungkin hidupku tak kan tenang." Tutur Aldrian.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku, kak. Tapi, aku juga minta maaf karena belum bisa membahagiakannya."
Al menggelengkan kepalanya. "Tidak, Zidane. Aku tetap bersyukur karena dia menikah denganmu. Kamu pria yang baik dan bertanggung jawab."
Obrolan mereka terhenti karena panggilan si berisik.
"King ice ... kakak. Ayolah batuin aku!" Teriakannya membuyarkan keduanya dan mereka saling pandang.
"Ternyata dia tetap seperti dulu, manja!" Ucap keduanya bersamaan yang kemudian tertawa sambil berjalan menghampiri si berisik ke kamar untuk membantunya mengemas barang.
"Kalian lama sekali, sih. Aku kan lelah mengemas semuanya sendiri." Rengekannya membuat kedua pria tampan ini tersenyum.
"Lihatlah, Zidane. Dia begitu manja. Kenapa kau betah dengan gadis berisik dan cengeng seperti dia?" Ledek kak Al.
"Tidak tahu kak. Aku sangat mencintainya sampai selalu suka sifat manjanya itu?" Tutur Zidane.
"Mungkin kau terkena guna-gunanya sampai kau takluk kepadanya." Ledek kak Aldrian lagi.
"Mungkin juga kak. Karena, aku tak bisa marah kepadanya." Ucap Zidane.
"Apa? Kakak bilang kalau aku melakukan guna-guna kepadanya? Tega sekali kakak berkata seperti itu? Aku ini adikmu, kak." Rengekan Sherly hanya di sambut gelak tawa keduanya.
__ADS_1
"Hahaha!"
Bersambung gaess