
Hari ini jadwal And the genk menjenguk Sherly di rumah sakit.Mereka bergantian untuk menungguinya di sana.
Gadis itu sudah dua bulan belum juga bangun dari tidurnya.Entah kenapa ia seperti sengaja ingin tidur lebih lama dan membuat And the genk atau pun keluarganya bahkan Zidane sedih.
"Bos, kenapa elu gak bangun sih?elu masih marah sama kita karena kita gak bisa ngelindungi elu?"Geri mengelus kepala Sherly.
"Sher, kita sedih tahu liatin elu kaya gini.Elu tahu gak, bengkel gue sekarang makin rame lho. Rencananya, kita bakal ngadain syukuran minggu depan di tempat gue.Elu harus dateng ya.Kalau enggak, gue bakal mogok kerja!"Indra merajuk pada Sherly yang cuma terbaring di ranjang.
Dika maju ke depan dan menggenggam erat tangan Sherly.
"Hai beib, apa kabar?Kayaknya udah lama deh gue gak denger ocehan lu.Lu gak kangen sama gue, hemm?"Mata Dika berkaca.ia mencium kening Sherly dengan sedikit lama.
Indra dan Geri menepuk bahu Dika.Mereka tahu apa yang dirasain sahabatnya saat ini.
Dika mencintai Sherly sejak lama, tapi ia tak pernah mendapat balasan dari perasaannya.
Sherly selalu menganggapnya sebuah candaan karena mereka berteman sejak kecil.Jadi, perasaan Dika pun Sherly anggap sebuah kasih sayang sebagai sahabat saja.
Dika menitikkan air mata.Ia tak kuasa melihat gadis yang di cintainya terbaring di ranjang perawatan.
"Kenapa elu tega sama gue, kenapa?"Dika bersimpuh di bawah ranjang perawatan Sherly.
Indra dan Geri menatap tak tega.Mereka terduduk dan menepuk bahunya kemudian mengangkat tubuh Dika.
"Elu jangan gini, Dik.Kasihan dia."Tutur Geri sambil mengusap air mata di ujung kelopak menggunakan jarinya.
"Iya, Dik.bener kata Geri.Gimana Sherly bisa kembali kalau elu gak semangat gini.Kemana si Entong yang suka bikin suasana menjadi ceria?"Indra sedikit menggoyangkan lengan Dika dengan mata berkaca.
"Elu gak kasihan sama dia, hemh?"Ucap Geri lagi dengan menahan tangisnya.
"Dia butuh dukungan kita, Dik.come on!"Geri menepuk bahunya untuk menyemangati Dika.
"Ayo lah Dik, tetap semangat.jangan kayak gini terus!"Timpal Indra.
"Dia yang gak kasihan sama gue. Dia lebih memilih tidur terus dan tak mau bangun untuk memeluk gue.Gue kangen..hiks"Air mata Dika lolos dari pelupuk matanya.
"Dia yang tega sama gue"Teriakan Dika menggema di ruangan.
"Sssstttt...ini rumah sakit, Dika.bukan taman bermain.Ah elah lu, entar kita di samperin keamanan kalo elu teriak kaya gitu!"Indra menepuk kepala Dika.
"Wanjay, elu kenapa mukul gue?gue lagi sedih tahu.sialan lu, bedul!"Dengan mengelus kepalanya, ia protes kepada si kawan.
"Lagian udah sedih-sedih, eh elu bikin kesel kita aja!"Kata Geri.
"Iya ih, gue udah mau nangis lihatin elu kaya gitu, sekarang malah jadi kesel.Hadeuh" Indra ikut memprotes Dika.
Mereka pun menggelengkan kepalanya.
Setelah berlama-lamaan di rumah sakit untuk menemani Sherly, mereka pun pulang karena jam besuk sudah habis.
"Kita balik ya, bos.jaga diri lu!"Geri mengelus lengan Sherly.
"Gue balik ya, Sher.Besok kita kesini lagi!" Indra mengelus kepalanya.
"Kalau besok gue balik kesini elu gak bangun, gue cium bibir lu!"Ancam Dika sebelum dirinya melangkah keluar.
Mereka pun pergi dari ruang perawatan Sherly dengan perasaan sedihnya.
"Huuhh, berani nya ngancem gue.dasar lu!" Sherly bangun dan duduk di ranjang.
Ia melangkah ke arah jendela dan duduk di sana.
Seseorang masuk ke ruangannya.
"Hai kakak ipar, apa kabar?"Sapa dokter Rian saat masuk keruangan Sherly.
Sherly pun menoleh ke arah Rian."Gue baik, dok."
Ia berdiri dan memeriksa keadaan Sherly.
"Hemh, kenapa kamu betah seperti ini sih?kasihan si tuan muda dingin itu, tahu!"Ucap Rian lagi.
"Memangnya kenapa dia?bukan urusan gue kali"
"Kamu tahu gak, dia menangis setiap kali memandang potretmu di layar ponselnya" Rian duduk di samping ranjang perawatan Sherly dan berbicara dengan gadis yang terbaring itu.
"Dia sangat mencintaimu, kakak ipar!"Kata Rian.
Astaga, gue kan disini.Lah itu siapa yang tiduran, kok mirip gue sih?jangan-jangan, ini macam mimpi yang dulu lagi.
Sherly berdiri kemudian menghampiri Rian.
Hei, gue disini, dokter gila.
Ia .elambaikan tangannya di hadapan Rian. Namun Rian tak melihatnya.
"Kakak ipar, aku balik ya.Nanti aku kesini lagi buat ngecek kondisi kamu.bye!"Rian melambaikan tangan ke arah gadis yang terbaring di ranjang itu.
Ya tuhan, apa ini artinya gue udah mati. Haaaaa...mommy, dady, kak Al..aku kangen.
Sherly menangis dengan menjerit.seketika jeritannya terdengar samar oleh seorang suster yang kebetulan lewat di sana.
"Ya ampun, siang gini ada hantu?hiiiyy..aku takut"Ia berlari dengan terbirit-birit dan menceritakan kejadian yang menimpanya bahwa ia mendengar jeritan tangis dari kamar Sherly.seorang pasien yang sudah koma selama dua bulan.
__ADS_1
Gue di kata hantu lagi, sialan emang tuh suster.
Sherly berjalan keluar dan berkeliling di rumah sakit itu.
"Hai kak, mau kemana?"Sapa seorang anak kecil kepada Sherly.
Sherly pun menoleh ke arah anak kecil itu.Ia bergidik saat melihat kondisi anak kecil itu yang memprihatinkan.
Seluruh tubuhnya hangus terbakar dan kulitnya mengelupas sebagian.
"Whooaa, kamu kenapa dek?"Ia bergidik takut saat anak kecil itu menyapanya dengan memperlihatkan wujud aslinya.
"Aku terbakar di dalam mobil saat orang tuaku meninggalkan aku untuk berbelanja. Mereka lupa jika aku ada di dalam."Kata anak kecil itu.
"Kok bisa?"Ia menatap takut.
"Aku gak tahu pastinya kak. Tapi yang aku ingat, ada sebuah mobil melaju ke arahku dan menabrak mobil papaku sampai berguling dan terbalik di jalan kemudian meledak. Aku yang berada di dalam pun tak bisa keluar untuk menyelamatkan diri dan akhirnya aku pun mati terbakar di dalam."Tutur Anak itu.
Sherly jadi merasa iba dengan mendengar kisah kematiannya.Ia pun mengelus kepala anak itu.
"Nama kamu siapa, dek?"Tanya Sherly.
"Namaku Agam, aku berusia enam tahun, kak."Ia mengulurkan tangannya.
"Hai Agam, nama kakak Sherly.salam kenal ya?"Sherly menyambut uluran tangan Agam.
"Sekarang, apa yang akan kamu lakukan disini?kenapa tidak pulang ke alammu?" Sherly bertanya pada Agam.
"Urusanku belum kelar, kak.aku ingin bertemu kedua orang tuaku dulu."Ia pun menunduk sedih.
"Aku ingin bertanya kepada mereka.kenapa mereka melupakan aku dan meninggalkan aku di dalam mobil sendirian.hiks.."Agam menangis saat mengatakannya.
"Mungkin mereka tak sengaja, Gam."Sherly mencoba menberikan pengertian padanya.
"Tidak, pasti mereka sengaja melakukannya. Mereka selalu seperti itu kepadaku.Saat aku di ajak ke mall, aku pernah di tinggal di sana"Ia berteriak kepada Sherly.
"Waktu aku ikut ke rumah nenek, mereka juga meninggalkan aku di jalan."Lanjutnya.
Kasihan sekali dia.
"Mungkin itu cuma salah paham, kamu jangan mengambil kesimpulan sendiri, ya?" Ucap Sherly lembut.
"Tidak, mereka memang melakukannya dengan sengaja!"Teriak Agam.
"Aku di jadikan tumbal oleh orang tuaku. huaaa.."Ia menangis dengan kencang.
Sherly merasa kasihan kepada Agam, di peluknya tubuh anak itu dan ia pun mengelus kepalanya.
"Sabar ya?kakak akan menyelidiki kasusmu ini!"Tutur Sherly dengan lembut.
"Eh, gue bukan hantu kali.gue cuma koma saja.lagi nunggu waktu untuk kembali."Sherly melotot ke arah Agam.
"Whoaaa, kakak terlihat galak.aku takut!"Ia langsung mundur ke belakang.
"Hemh, gue memang galak.jadi jangan coba-coba bicara kasar atau berteriak kepadaku. kalo tidak, aku akan memakanmu, tahu!"Ia melengos meninggalkan Agam yang bengong melihat kepergiannya.
"Kamu gak mau ikut?"Tanya Sherly saat mengetahui anak kecil itu tak mengekor di belakangnya.
Agam pun langsung tersenyum dengan ajakan Sherly.Ia berlari dan memegang tangan gadis itu.
"Kakak beneran ngajak aku?"Ia bertanya saat tangan Sherly sudah di menempel di tangannya.
"Kenapa, kamu gak mau ikut?"Tanya Sherly pada Agam yang menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah sana.Aku ingin pergi lagi ke kamarku.ini waktunya tidur."Jelas Sherly.
"Kakak mau tidur?"Pertanyaannya di angguki Sherly.
"Ya sudah, aku main aja deh.bye kakak!" Agam melambaikan tangannya ke arah Sherly dan ia pun berlari keluar untuk bermain.
Sementara Sherly yang sudah lelah pun masuk kembali ke ruang perawatannya.Ia menatap dirinya yang terbaring.
Di perhatikannya raga itu mulai dari atas sampai bawah.
"Huhh, ternyata gue cantik juga ya?"Ia tersenyum saat memuji dirinya sendiri.
"Pantas saja mereka tergila-gila sama gue. Hahahaaaa..."Ia tertawa lepas.
"Namun ada satu cowok yang selalu dingin sama gue, yaitu si king ice.hemh, gue penasaran sama tuh orang.apa dia menyimpang?"Ia terkekeh mengucapkannya.
Saat ia sedang memperhatikan dirinya sendiri. Sherly harus di buat panik saat mendengar langkah seseorang yang akan masuk ke ruang perawatan itu.
Ia pun masuk kembali ke raganya dan tertidur di sana.
Rupanya yang datang itu si pria dingin yang suka membuatnya penasaran.
"Hai gadis berisik, apa kabar?"Zidane duduk di samping ranjang perawatan Sherly.Ia menaruh bunga di vas bunga di atas nakas.
"Kenapa kamu gak bangun sih?kamu masih marah sama aku?"Ia terlihat begitu sedih.
"Kamu tahu gak, rasanya hidupku sepi tanpa mendengar teriakan atau ocehanmu?"Lanjut Zidane sambil menggenggam tangan Sherly.
Di genggamnya tangan itu dengan erat.
__ADS_1
"Aku ingin mengungkapkan rahasia ku padamu."Ia terlihat serius.
"Sebenarnya, selama ini aku..aku..aku men.. aaa..aku men.."Rasanya lidahnya kelu untuk mengucapkan kata-katanya.
"Aku apa?"Tiba-tiba Sherly bangun dan membuat Zidane terkejut.
"Astagfirullah, hei gadis berisik.kenapa kamu tiba-tiba mengejutkan aku, hehh?"Zidane terkejut dengan berdiri dan bertolak pinggang di hadapan gadis itu.
"Lagian, gue kesel karena lu gak ngomong dengan jelas.gue kan penasaran.Sebenarnya elu mau ngomobg apa?"Tanya Sherly.
Zidane terlihat kikuk saat Sherly mendengarkan kata yang belum dia ucapkan.
"Tidak ada, aku cuma asal bicara saja supaya kamu bangun.kenapa, gak boleh?" Ia berubah jadi ketus lagi karena menyembuyikan perasaan dag dig dug der nya.
Karena kesal mendengar jawaban Zidane yang seperti itu, Sherly pun turun dari ranjang perawatan dan ia pun melangkah mendekat ke arah Zidane.
"Ayo lah, king ice.lu mau ngomong apa tadi?katanya mau ngasih tahu gue tentang rahasia lu!"Bujuk Sherly dengan manja.
Zidane menatap Sherly.
Sepertinya ada yang aneh.
Ia pun melirik ranjang perawatan Sherly yang terdapat raga si gadis berisik itu lengkap dengan alat perawatan yang menempel di bagian tubuhnya.
"Apa kamu keluar dari sana?"Tanya Zidane kepadanya yang mengangguk pasti.
"Apa kamu sudah....."Perkataan Zidane di mengerti oleh Sherly.
"Elu berharap gue mati, hehh?"Teriak Sherly membuat Zidane menutup telinganya.
"Aku cuma tanya, kenapa kamu jadi galak sekali?"Zidane berkata masih dengan menutup telinganya.
"Lagian, elu perkataan lu membuat gue merasa gimana gitu?"Ucap Sherly penuh dramatis.
"Jadi, ini apa?apa kamu akan kembali ke ragamu dan bangun untuk menjalani kehidupanmu lagi, hehh?"Zidane menatap Sherly dengan serius.
"Gue juga gak tahu. Gue minta elu buat nyelidiki ini karena gue kangen sama semua nya.huaaaaa"Ia menangis dengan kencang.
"Hei, ceup..ceup..ceup.Kenapa kamu menangis dengan kencang?aku gak bisa fokus berpikir tahu!"Zidane kesal dengan tangisan si gadis berisiknya.
"Elu harus nolongin gue, harus pokoknya!" Sherly menggoyangkan tangan di hadapan Zidane dan memasang wajah imutnya.
"Ya..ya...ya, please!"Puppy eyes pun di pajang supaya Zidane tak menolak.
Shit, kenapa ia terlihat lucu saat seperti itu.
"Ya ampun, kenapa kau melakukan ini saat kau jadi hantu?"Zidane terlihat kesal.
Pertanyaan Zidane membuat Sherly tak mengerti.Ia memang hantu saat ini, tapi kan nanti juga bakal bangun lagi.
"Maksud lu apa?"Akhirnya keluar juga pertanyaan Sherly.
"Jika kau jadi manusia, setidaknya aku bisa membungkam mulut berisikmu itu dengan tanganku, atau bila perlu bibirku yang beraksi." Bisik Zidane.
Sherly pun membelalakkan matanya.
"Dasar lu, senengnya ngerjain gue"Ia maju dan akan siap memukul Zidane namun tangannya menembus tubuh Zidane.
"Eeeh, kok tembus sih?"Sherly mengulang ayunan tangannya dan memukulkan tangan itu di dada Zidane namun tetap selalu menembusnya.
Ia pun terheran dan menatap tangannya.
"Itu yang ku maksud, kita tak bisa saling bersentuhan"Tutur Zidane.
"Gue gak bisa nyentuh siapa pun?"Sherly menatap ke arah Zidane dengan sendu.
Zidane mengangguk."Kau koma, cuma rohmu yang keluar dan berkeliaran.Ragamu masih bisa kembali hidup jika suatu saat nanti Allah SWT menghendakinya"Jelas Zidane.
"Beda dengan Nania, dia sudah jadi hantu.Raganya sudah tak bernyawa dan terkubur di tanah.Aku bisa menyentuhnya" Lanjut Zidane lagi.
"Benar kata si ganteng, kau akan seperti itu jika kau tetap di luar ragamu.makanya, kembali lah kedalam ragamu dan bangun lah" Nania toba-tiba datang dan berbicara padanya.
"Whoooaa, dasar hantu genit.kenapa elu selalu mengejutkan gue?bikin orang syok aja. Untung gue gak punya penyakit jantung. Coba kalu punya, bisa koid gue"Sherly memukul lengan Nania.
"Eeh, kena lho!"Ia terkejut karena bisa menyentuh Nania.
"Kenapa heran seperti itu?kau dan aku kan sekarang sama.Bedanya, aku hantu beneran dan kau hantu sementara.Iya kan ganteng?" Nania meminta persetujuan Zidane atas perkataannya.
Zidane pun mengangguk perlahan.
Melihat Zidane yang membenarkan perkataan Nania, Sherly pun berteriak dengan kencang.
"Huaaaaaaa...gue gak mau jadi hantu sementara!"Teriakan Sherly mengundang kedua tangan Zidane dan Nania untuk menempel dan menyumbat kedua telinganya.
Terus dukung karya otor biar diriku rajin menulis dan mempersembahkan cerita yang lebih menarik lagi.
Dukungan klean sangat membantu para Author untuk menaikkan semangatnya.
Jalan-jalan ke jogja,
Membeli salak dan juga permen,
Buat para pembaca setia,
__ADS_1
Tolong like dan juga komen.
Hatur tengkiyuh😘😘😘😘***