Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Buta dan lumpuh


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang membahagiakan buat semua sahabat Geri, apalagi keluarganya.Pasalnya, Geri sudah siuman.


Namun mereka tidak tahu kejutan apa yang di kasih sama otor untuk mereka.


Saking senangnya, mereka pun berjingkrak-jingkrakan di kamar perawatan Geri dan melupakan otor yang sedang menulis di pojokkan kamar.


Indra mendekat ke ranjang Geri."Yeeeaah, akhirnya elu sudah bangun Ger. Gue kesepian tahu dari kemaren di tinggal tidur terus sama elu!"


"Iya Ger, gue juga kesepian.Tanpa lu, dunia terasa hampa,"Ucap Dika dengan gayanya.


"Alach, elu berlebihan Dik. Kaya sama pacar saja!"Iren mencibirnya.


"Ih, gue kan best friend forever nya Geri. Iya kan Ger?"Dika meminta pembelaan dari Geri.


Geri tersenyum menanggapinya."Iya Mahardika, bang Entong yang gantengnya tak kalah dari opa korea"


"Asyik, gue suka gaya lo, Ck!"Dika berdecak sambil menunjukkan jari dari kedua tangannya dengan gaya ciri khasnya.


"Elu bisa anteng gak sih Dik, pecicilan banget.kaya anak mau di sunat lu."Cibir Indra.


"Gak malu apa, ada ma'e sama bapak'e di sini?"Lanjutnya.


"Gak apa-apa nak Indra, nak Dika seneng lihatin temannya sembuh.Iya kan nak Dika?"Bapak'e membelanya.


"Aduh, bapak'e pengertian banget sama aku.Aku boleh peluk?"Ia membuka lebar kedua tangannya.


"Peluk doang nih?cium juga boleh kok!" Ayah Geri sengaja meledeknya.


Semua orang tertawa melihat Dika yang mengurungkan niatnya untuk memeluk ayahnya Geri karena ledekannya.


"Hahahaaaaaa"


Beberapa saat kemudian, masuk lah dokter Rian di temani Zidane ke ruangan Geri.


"Selamat sore semuanya!"Sapa dokter Rian kepada mereka, sedangkan Zidane cuma mengangguk dengan gayanya yang dingin dan datar.


"Sore dokter,"Ucap mereka serempak seperti anak TK yang di sapa gurunya.


"Gimana Geri, sudah siap di buka perban penutup matanya?"Rian mendekat ke arah Geri dan sedikit menepuk bahunya.


Geri mengangguk pasti, ia pasrah kepada yang kuasa.Apapun itu, dia sudah siap menerima resikonya."Siap dokter!"


"Baiklah, kita mulai ya"Perlahan tapi pasti, dokter Rian melepaskan lilitan perban di mata Geri dengan hati-hati.


Setelah perbannya habis, tersisalah kapas di kelopak matanya yang di lepaskan oleh dokter Rian.


"Di buka matanya secara perlahan ya Geri!" Instruksi dari dokter Rian.


Semua menatap Geri dengan antusias dan senangnya.


Secara perlahan mata Geri mulai terbuka dengan sempurna sambil tersenyum, bukan dengan bilang saatnya mengucapkan..... SEMPURNA...


Matanya sudah terbuka dengan sempurna dan mereka pun senang melihatnya.


Tapi, mereka harus di buat panik saat Geri mengatakan sesuatu.


"Dimana kalian?aku tidak melihat kalian, cuma mendengar kebisingingan kalian saja."Tangan Geri terulur kedepan dan meraba menggantung di udara.


Semua tampak heran dengan tingkahnya. "Ada apa dengan cinta..eh Geri?"Pikir mereka.


"Wah, si Geri bercanda saja.jangan bercanda dong, Ger!"Dika maju kedepan.


"Gu..gue serius guys, kalian dimana?ma'e, bapak'e, kalian dimana?"Geri terus meraba.


Semua tampak syok dengan apa yang dilihat mereka.


"Ma'e nang kene le',"Ibunya menarik tangan Geri yang terulur.


(Ibu di sini nak)


"Ono opo karo mripatku, ma'e?aku ora iso ndeleng apa pun, kabehane peteng"Suara Geri mulai bergetar ketakutan dan meraba kedua matanya.

__ADS_1


(Ada apa dengan mataku, bu?Aku gak bisa lihat apapun, semuanya gelap)


"Ojo guyonan le', ma'e kambe bapak'e dadi sedih iki lho!" Ibunya terus menggoyangkan tangan anaknya.


(Jangan bercanda nak, ibu sama ayah jadi sedih ini lho!)


"Aku ora guyon, tenanan ora iso ndeleng sekabehane!piye iki?"Air mata jatuh di pipinya, ia begitu menyedihkan.


(Aku gak bercanda, beneran gak bisa lihat semuanya!gimana ini?)


Semuanya menutup mulut, antara sedih gak percaya, atau sedih gak ngerti bahasanya.


Tapi otor yakin, kalau dengan melihat keadaannya saja yang seperti itu, pasti semua orang tahu kalau si Geri tak bisa mendengar...eh melihat maksudnya.


"Ger,"Sherly berdiri di samping ranjangnya dan menyentuh pundak Geri.


"Bos, ada apa dengan mata gue?kenapa gue jadi begini?"Ia menggenggam erat tangan Sherly.


Tanpa berkata, Sherly langsung memeluk tubuh Geri dari samping.


"Kenapa elu gak ngomong apa-apa, malah meluk gue lagi?"Geri meronta dipelukkan Sherly.


"Nanti si Dika marah sama gue, cepet lepasin."Ia terus meronta namun Sherly gak melepaskannya.


"Gue butuh penjelasan, bukan sebuah pelukkan!"Geri mulai tak terkontrol, suaranya bergetar dan ia pun menangis.


"Hiks, apa gue jadi buta?"Akhirnya pertanyaan yang sulit di jawab pun keluar dari bibir Geri.


Semuanya menangis dalam diam, begitu pun orang tuanya dan tentunya sang bos.


"Ini sementara Ger, gak akan lama"Sherly berusaha menahan emosinya, ia tidak mau Geri semakin sedih.


Sedangkan kedua orang tua sudah menangis.


"Dokter, gimana dengan keadaan anak ma'e dok?kenapa jadi seperti ini?"Ibunya menangis di hadapan dokter Rian.


"Ibu dan bapak yang sabar ya,"Dokter Rian mengelus bahu ma'e.


"Hiks..huhuuu"Keduanya menangis membuat Geri semakin tak karuan.


Iren pun paham akan maksud Sherly, ia menarik Indra untuk mengikutinya membawa kedua orang tua Geri ke tempat yang tenang.


"Ma'e, bapak'e, ikut Iren dsama Indra ya?" Iren dan Indra menuntun keduanya ke luar kamar Geri.


"Tapi neng Iren, ma'e kepingin sama cah lanang ma'e!hiks..hiks"Ma'e terus menangis dan tak mau keluar, membuat keduanya bingung.


"Sebaiknya ibu dan bapak istirahat, biar saya tangani anak kalian, ya?"Dengan lembutnya Rian berkata pada keduanya.


"Ora opo-opo ma'e, Geri wes ono sing jagake'. Mending saiki melu neng Iren karo nak Indra disek'.kita manut wae opo sing di omong doktere yo?"Untuk si bapak pengertian dan menasehati istrinya.


(Gak apa-apa bu, Geri sudah ada yang jagain.Mending sekarang ikut neng Iren sama nak Indra dulu, kita nurut saja apa kata dokternya ya)


Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan Geri dan di bawa ke tempat yang lebih tenang.


Dikamar Geri cuma tersisa si bos dan wakil koplaknya.keduanya menangis dalam diam.


Sedangkan dokter Rian dan si king ice, cuma menatap haru saja ke arah mereka.


"Gue gak mau buta Sher, gue gak mau"Geri turun dari ranjang.Namun ia harus terjatuh.


Deblugh


"Aakkkhh..sakit sekali!"Geri terjatuh ke lantai dengan keras.


"Geri!"Semuanya menghampiri.


"Kenapa dengan kaki gue?kenapa?"Ia memukul kakinya yang berdarah lagi karena lukanya terbentur ke lantai.


"Geri tenang, nanti juga sembuh kok!" Sherly menghentikan tangan yang terus memukuli kakinya.


Tangannya berhenti memukul, namun ia bertanya pada mereka."Apa gue juga lumpuh?"

__ADS_1


Deg, perasaan sedih, bingung, dan bukan Xl atau Mentari, melainkan rasa simpati yang menghinggapi.Mereka tak tahu harus berkata apa.


Selain kata sabar yang mereka ucapkan untuk menenangkan Geri.


Dika langsung merangkul Geri dan ia mengangkat tubuh Geri di bantu Zidane dan Rian.


"Gue tahu elu pasti terpukul dengan ini, tapi kita mohon sama elu supaya lebih tenang dan sabar, oke!"Dika menepuk bahu Geri dengan pelan.


"Hiks, tapi Dik, semua ini gue yang ngalamin. Bukan elu!"Geri tertunduk sambil menangis.


"Dalam sekejap, gue jadi orang yang tak berguna."Ia berteriak sambil menangis.


Dika pun langsung memeluknya sambil ikut menangis.


Hiks, otor juga jadi ikutan nangis ini mah.


"Elu yang kuat Ger, gue gak sanggup lihatin elu kaya gini.Gue emang gak ngalamin apa yang terjadi sama elu, tapi kita juga ngerasain apa yang elu rasain, Ger!"Dika terus mendekap tubuh Geri yang lemah.


"Gue buta dan juga lumpuh Dik, hiks..hiks.."


Sambil menangis Sherly menghampiri dokter Rian dan menggenggam erat tangannya membuat Zidane mendelik ke arah Rian.


"Dokter, gue mohon sama lo, tolong bantu sahabat gue biar dia sembuh lagi dok, please!"Ia terus menggenggam erat tangannya dan memohon.


Rian menjadi tak enak, ia tersenyum kecut sambil melirik ke arah Zidane."Aduh kakak ipar, tolong jangan seperti ini, bisa mati gue di cekik dia.matanya sudah berubah menjadi setajam pisau"Batin Rian.


"Kakak ipar, aku akan berusaha menyembuhkan teman kalian kok.tapi semua itu tergantung keajaiban tuhan dan kehendak otor.aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memaksimalkan perawatannya."Rian berusaha melepaskan genggaman tangan Sherly namun si pelaku tetap menggenggamnya.


"Hehh, gadis nakal.dia meluk temannya wajarlah temannya lagi sakit.tapi ini, dia menggenggam erat tangan si dokter gila. Awas kau Rian."


Raut wajah Zidane langsung berubah seketika.pantas jika Sherly menjuluki si king ice karena hawa dingin mulai menyeruak di sana membuat Rian merinding disko.


Zidane menjadi kesal, ia pun berbalik dan melangkah pergi sambil berkata dengan dinginnya.


"Sembuhkan dia dengan cara apapun, kalau tidak?tanggung sendiri akibatnya!"


Nada dingin seperti mengintimidasi Rian supaya harus menyembuhkan Geri.bisa tak bisa harus sembuh, itu lah maksud Zidane.


Rian memaksa Sherly melepaskan genggamannya.kemudian dia berlari mengejar Zidane.


"Aku akan berusaha, kakak ipar harus tenang ya?"Ia berkata sebelum pergi.


"Kenapa orang itu, dia seperti kesal?"Sherly yang tak mengerti dengan sikap Zidane yang pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah siapapun.


"Dia cemburu dodol, gitu saja gak ngerti." Nania yang nongol tiba-tiba di hadapan Sherly.


"Cemburu?sama siapa?"Sherly terlihat bingung.


"Hadeuh, ternyata cuma sifatmu saja yang galak dan kelihatan cerdas.tapi kamu tak se pintar anak abege yang di landa asmara!" Cibir Nania.


"Dia itu cembokur sama kamu yang terus menggenggam erat tangan si dokter gila itu" Jelasnya lagi.


"Masa sih?"Sherly tak percaya, ia menatap Nania yang mengangguk pasti.


"Hemh, tau ah.Gue gak perduli!"Ia mengangkat bahunya dan bersikap cuek. Kemudian ia menghampiri Dika yang sedang memeluk tubuh Geri.


Readers:Gue bingung deh, kenapa si Nania suka nongol tiba-tiba?padahal dari awal bab dia gak di ceritain keberadaannya.


Otor pun menjawab:Wajar saja, dia kan hantu.suka datang tak di jemput dan pulang tak bilang-bilang.


Sherly and the gank:Kenapa si Geri bisa lumpuh dan buta, thor?


Kan otor sudah bilang di episode sebelumnya, kalau dia cuma buta dan lumpuh sementara.Ck, kalian lupa?


And the gank pura-pura tak mendengar, mereka ngupi sambil ngerumpi karena malu sama otor.gak ngajak-ngajak lagi.huuhh...


☆☆☆


Ke sawah membawa tali,


Tali diikat di kain bersih,

__ADS_1


Bagi yang sudah mampir ke mari,


Kuucapkan terima kasih.


__ADS_2