Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Alasan penculikan


__ADS_3

"Tuan, hari ini ada rapat penting dengan klien dari Jepang."


Zidane yang sedang fokus pada berkas di depannya pun menoleh ke arah sekretarisnya.


"Bukankah rapatnya dua hari lagi? Kok mendadak sih!"


"Pihak mereka meminta di majukan, tuan. Tuan Oshikama ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan ini, karena dia sudah tiba di dalam negeri tadi malam."


Zidane mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa Joan tidak bilang kepada saya? Dia yang mengatur pertemuan saya dengan siapapun, termasuk klien! Apa dia tak tahu tentang masalah ini?" Menyelidik.


"Sebenarnya, tuan Joan sendiri tahu tuan. Mungkin dia lupa karena fokus terhadap tuan muda!" Jawaban yang masuk akal.


Zidane mengangguk. "Oke, jam berapa kita bertemu dengan pihak mereka?"


"Seharusnya kita sekarang kesana, tuan. Karena, pihak dari tuan Oshikama baru saja menghubungi saya dan memberitahukan bahwa mereka sudah menunggu di tempat yang sudah di janjikan!" Jelas Gita.


"Dadakan seperti ini? Ada yang aneh!" Batin Zidane. "Baiklah, Gita. Kita pergi sekarang!" Itulah yang terucap. "Beritahu Joan untuk menemani Zyan kemana pun ia pergi, dan ... pastikan dia makan tepat waktu! Saya tidak mau dia terlalu lelah sampai sakit!" Ucapnya.


Gita mengangguk, "Baik tuan!"


Di raih jasnya yang tergantung di kursi kebesarannya, kemudian kakinya melangkah ke luar ruangan.


Mobil Zidane perlahan bergerak meninggalkan area DEG. Dengan hanya di temani supir dan sekretarisnya, Zidane pergi untuk bertemu klien dari jepang itu.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka bertemu beberapa orang yang memakai jas warna hitam.


Orang-orang tersebut berjajar seperti menjaga Zidane supaya tak pergi. Wajah mereka tampak asing bagi Zidane, karena dia mengenal semua penjaga yang mengawal tuan Oshikama.


"Dimana tuan Oshi? Kenapa dia tak terlihat?" Tanya Zidane santai.


"Tuan sedang berada di ruangan khusus. Silahkan anda ikut kami untuk menemui tuan!" Tangan mereka terulur mempersilahkan.


Zidane mengangguk dan berjalan mengikuti arahan mereka. Namun, Gita di tahan supaya tak mengikuti mereka.


"Maaf tuan, sekretaris mu tidak bisa masuk ke dalam ruangan!" Tangan mereka mencegah Gita untuk mengikuti.


"Tapi, saya harus menemani tuan saya untuk ...!"


"Tidak apa-apa Gita. Tunggulah disini!"


Gita menuruti perintah bosnya. Ia setia menunggu di loby hotel tempat pertemuan bos dengan kliennya yang katanya dari jepang.


Cukup lama Gita menunggu sampai ia bosan sendiri. Makanan dan minuman yang di pesan sudah habis tak tersisa.


Akhirnya setelah menunggu lama, pria berbadan besar dengan memakai pakaian serba hitam itu keluar untuk menemui Gita.


"Nona, silahkan anda kembali terlebih dulu. Tuan anda ada urusan penting dengan tuan kami dan itu tidak akan cukup dalam waktu sehari!" Tutur orang tersebut.


"Apa? Tidak ... tidak! Saya tidak akan pergi tanpa bos saya. Biarkan saya bertemu dengan bos saya dulu!" Pinta Gita kepada pria tersebut.


Karena Gita terus berusaha untuk pergi ke tempat dimana Zidane masuk tadi, akhirnya mereka pun mengancamnya.


Tangan Gita di tarik dan di kunci di belakang tubuhnya, kemudian dia berbisik tepat di telinga Gita. "Menurutlah pada kami. Jika tidak, maka keluargamu itu bisa merasakan akibat dari ketidak patuhan mu!"


Gita tak bisa berkutik lagi. Dia terdiam dengan pikiran tak karuan. Di satu sisi, bos yang sudah diikutinya selama bertahun-tahun. Disisi lain, keluarga kecil yang baru ia bangun. Apa yang harus ia lakukan saat ini.


"Jangan memberitahu siapapun jika hari ini kalian bertemu dengan kami!" Lanjutnya mengancam kemudian pergi meninggalkan Gita dengan kekalutan.


Sepeninggalan orang tersebut, Gita diam-diam mengikutinya di belakang. Sampailah di lantai paling atas hotel ini.


Ternyata, di atas ada sebuah helikopter yang sedang mendarat.


Mata Gita menelisik mencari keberadaan tuannya itu, namun tak ada.


Sampai ia melihat seseorang dengan kepala di tutupi kain hitam dan tangan terikat ke belakang, di seret beberapa orang berpakaian hitam untuk menaiki helikopter.

__ADS_1


Pakaian orang tersebut mirip dengan yang di kenakan Zidane.


Tanpa pikir panjang, Gita berlari ke arahnya sambil berteriak."Tuan Zidane!"


Semua orang menoleh ke arahnya. "Kenapa dia bisa kemari? Tangkap dan lenyapkan dia!" Titah bos penculik.


Grep


Tubuh Gita di dekap pria berbadan besar, dan tangannya langsung diikat ke belakang. Walaupun Gita meronta, tenaganya kalah saing dengan pria besar itu.


"Lepaskan! Saya mohon tuan untuk melepaskan kami!"


"Melepaskan? Hahaha, kau telah kemari untuk menyelamatkan tuan besar mu ini kan! Padahal, kau sendiri membutuhkan perlindungan." Wajah menyeringainya sangat menakutkan. "Bunuh dia!" Perintah langsung kepada anak buahnya.


"Tidak! Biarkan dia pergi. Aku sudah mengikuti keinginanmu, maka biarkan dia pergi!" Pinta Zidane di balik kain penutup kepalanya. "Gita, pergilah. Jangan mengkhawatirkan saya!" Ucapnya kepada sekretarisnya itu.


"Tapi tuan, mereka akan menyakiti anda!"


"Tidak akan. Saya yakin mereka tak kan menyakiti saya. Segeralah kamu pulang dan jangan memberitahu siapapun tentang ini!" Kata Zidane.


Prokk ... prokk ... prokk


Mereka bertepuk tangan tapi tidak sambil bilang jadi apa. Mereka hanya mengagumi kejantanan korban penculikan mereka saja.


"Wah, tuan besar Prasetyo ini ternyata orang yang gentle man. Dia tak ingin melibatkan orang lain dalam masalahnya sendiri. Empat jempol untukmu, tuan Prasetyo." Ledek si bos penculik.


Tanpa berkata lagi, tubuh jangkung Zidane langsung di seret kembali untuk menaiki helikopter.


"Tunggu! Bisakah saya berbicara sebentar dengan tuan saya? Saya janji gak akan lama!" Pinta Gita menghentikan mereka.


"Kau pikir kami ini apa? Kalian tidak bisa mengobrol ataupun sekedar menyapa!" Ucapnya tegas. "Kalau kau ingin menyelamatkan dia, datang kembali dan bawa apa yang kami inginkan!"


"Tidak! Jangan turuti keinginannya, Gita. Saya berterima kasih seumur hidup kepadamu jika kamu membiarkan saya ikut dengan mereka." Ucap Zidane memperingatkan.


"Apa yang anda katakan, tuan?" Sungguh Gita tsk mengerti maksud dari perkataan Zidane.


"Aah, banyak nanya kamu. Sudah, sana pergi! Jika tidak, kamu akan kami lempar dari atas sini!"


Nyali Gita menciut. Siapa yang tak takut jika di lempar dari gedung tingkat puluhan dan jatuh ke bawah? Mungkin jasadnya gak akan berbentuk. Hiiiiyyy.


Sebelum mereka pergi, sebuah kertas dengan selembar potret di berikan ke tangan Gita tanpa sepengetahuan Zidane. Karena mata Zidane tertutup kain hitam, sehingga ia tak tahu apa yang di berikan orang itu kepada sekretarisnya.


Helikopter pun terbang meninggalkan gedung bertingkat tersebut, menyisakan beberapa orang termasuk Gita sang sekretaris.


Dengan perasaan bercampur aduk, Gita pulang kembali ke perusahaan milik Zidane di temani sang supir.


Supir bertanya dimanakah tuannya berada sekarang, namun Gita berusaha bersikap normal karena takut ancaman dari mereka.


Kalau kau mengadu kepada siapapun tentang kejadian ini, bukan cuma bos mu saja, keluargamu akan habis kami bantai.


"Tuan ada urusan dan menyuruh kita kembali lebih dulu!" Itulah jawaban Gita pada supir.


******


Epilog


Zidane memasuki salah satu ruangan yang ditunjukkan beberapa penjaga. Dia tahu jika orang-orang itu bukan orang dari kliennya.


Saat Zidane masuk, terlihat sorang wanita paruh baya mengenakan gaun indah sedang duduk di sofa dengan anggun. Kakinya menyilang memperlihatkan paha mulusnya.


Wajah Zidane berpaling ke arah lain menoleh salah satu penjaga.


"Dimana tuan Oshi sekarang? Apa dia sekarang berubah menjadi seorang wanita?" Ledek Zidane.


Wanita itu berdiri dan kemudian menghampiri Zidane. Tangannya terulur ke depan, menyentuh wajah tampan Zidane dengan lembut.

__ADS_1


"Singkirkan tangan kotormu itu dari wajahku!"


Seketika, aura di ruangan itu menjadi sangat dingin dengan ucapan Zidane. Ac di ruangan itu kalah dinginnya dengan ekspresi Zidane saat ini.


Wanita itu malah tergelak mendengar ucapan dingin Zidane. "Hahaha ... Zidane Prasetyo ... kamu selalu membuatku takut sekaligus kagum. Aku selalu suka kamu yang seperti ini!"


"Apa maumu?" Langsung berkata pada intinya.


Wanita itu tersenyum kecil. "Sabar dong, sayang. Aku ingin bermain sebentar denganmu!"


"Tak perlu waktu lebih untuk bicara denganmu." Kaki Zidane berbalik melangkah keluar dari ruangan tersebut meninggalkan mereka.


Namun, dia berhenti mendengar sesuatu yang dikatakan wanita itu.


"Berikan putramu, maka aku akan membebaskan istrimu!" Zidane berbalik menoleh ke belakang.


Senyum licik di wajah wanita itu membuat Zidane tahu jika dia sedang menggertak. "Membebaskannya atau kau belum mendapatkannya sama sekali?"


Pudar sudah senyum di wajah wanita licik itu. Ia pun merubah mimik wajahnya kembali.


"Baiklah, Zidane. Aku memang tak bisa menyentuh istrimu. Tapi ... bagaimana dengan mereka?"


Sebuah vidio di putar di layar ponsel seorang penjaga, memperlihatkan lima anak muda yang terikat di sebuah gudang tua.


"Serahkan putramu padaku, maka aku akan membebaskan mereka!" Zidane hanya melirik sekilas. "Aku tahu Zidane, kau bisa mengalahkan para penjagaku berapapun itu jumlahnya. Maka dari itu, aku harus memaksamu untuk melakukan apa yang aku mau." Jelasnya.


"Apa kau yakin bisa memaksaku bertindak?"


"Tentu. Karena kau tak akan membiarkan mereka mati, bukan!" Ancamnya.


Zidane berdecih sebal. "Cih, kalau aku tetap tak mau!"


Seringai wajah licik terlihat menyindir. Dengan menekan satu tombol saja, terlihat kelima anak muda yang berada dalam vidio itu berteriak histeris.


"Kyaaaaaa!"


Zidane terkejut mendengar teriakan mereka dari layar ponsel yang menyala. Dia tak percaya jika wanita ini bukan cuma licik, tapi juga sangat gila.


"Berhenti, Prita! Oke, aku akan ikut denganmu. Tapi bebaskan mereka dan jangan ganggu putraku!"


Prita tersenyum lebar mendengar pernyataan Zidane. "Aku sebenarnya menginginkan putramu, selain untuk membangkitkan Hendri, juga untuk ku hadiahkan kepada putri tercintaku. Karena, putriku menyukai putramu!"


"Cinta tak bisa dipaksakan, Prita. Jika seseorang mencintai, kejarlah cinta itu secara alami bukan dengan cara licik." Ujar Zidane.


"Cih, cinta itu bisa tumbuh jika dia di tekan dengan paksaan. Aku yakin putramu akan mau bersanding dengan putriku!" Tutur Prita.


"Mereka tak kan hidup bahagia jika menjalani kehidupan yang terpaksa. Putrimu tak kan bisa bahagia karena tak mendapatkan cinta yang tulus, walaupun mereka berumah tangga nantinya." Jelas Zidane.


Prita terdiam sejenak. "Baiklah, aku ingin kau membangkitkan Hendri!" Zidane mengangguk dengan terpaksa.


"Bebaskan mereka, baru aku akan ikut denganmu secara sukarela!"


"Baik, tapi kamu janji gak boleh melawan!" Prita takut dengan kemampuan beladiri Zidane.


"Seorang Zidane tak pernah berbohong."


Prita langsung menyuruh anak buahnya melepaskan kelima anak muda yang ia sekap itu.


Walaupun Zidane ingin, tapi dia tak mau membahayakan siapapun khususnya Zyan.


"Biarlah aku ikutin apapun yang diinginkan Prita saat ini jika ini bisa menyelamatkan mereka"


"Sayang, maafkan suamimu ini karena ketidak berdayaanku. Kamu akan mengerti maksud dari tujuanku saat ini!"


Setidaknya, dia bisa menyelamatkan kelima anak muda yang di sekap oleh Prita. Kelima anak muda itu yaitu, Andra, Rena, Ashanti, Stevano dan Stevani. Putra kembar dokter Rian.

__ADS_1


__ADS_2