
Tinggalkan jejak di cerita otor biar diriku selalu rajin menulisnya.
Happy reading...
⚘⚘⚘
Hari itu, Sherly tenggelam di sebuah danau yang dalam.Gadis itu terpeleset saat akan menolong seekor kelinci yang di kejar seekor harimau.
Zidane yang melihat gadis berisiknya tercebur ke dalam danau itu pun menjadi bingung. Harus bagaimana untuk menolongnya karena ia tak bisa masuk ke dalam air.
Karena trauma di masa kecilnya yang membuat dirinya selalu takut saat melihat atau menyentuh air yang dingin bagaikan es.
Tangan Sherly menggapai ke atas untuk meminta pertolongan seseorang.Ia pun sempat berteriak meminta pertolongan namun tak ada orang yang bisa membantunya satu orang pun.
Zidane hanya melihat gadis itu dengan kebingungannya sampai tangannya tak terlihat lagi di atas.
Sherly tenggelam ke dalam danau yang dalam tanpa ada yang menolongnya.Entah kenapa gadis itu tak bisa berenang.Bukankah dia pandai berenang dan pernah menjadi juara pertama perenang wanita saat di sekolahnya?
Tapi hari ini, Sherly terlihat tak berdaya dan tak bisa menggerakkan badannya dengan lincah.Ia seperti tertahan oleh sesuatu.
Zidane yang kebingungan berlari meminta bantuan kepada orang.Namun tak ada satu pun orang lain selain dirinya.
"Tolong..tolong..ada gadis tenggelam di danau!"Teriakkan Zidane tak ada yang mendengar sedikit pun.
Dengan berlari kencang, ia menyusuri jalanan setapak untuk mencari bantuan.Tapi tetap saja tak ada satu orang pun yang ia temui.
Rasa khawatir dan was-was menghinggapinya sampai ia pun berbalik arah kemudian berlari lagi untul melihat Sherly yang tenggelam di danau itu.Namun, gadis itu sudah tak terlihat bahkan tangannya pun sudah ikut tenggelam.
Tanpa pikir panjang, Zidane melompat ke dalam danau dan bayangan hitam itu muncul kembali.
Makhluk halus yang sering mengincar dirinya hadir saat itu juga.
Dengan susah payah Zidane berusaha menahan napasnya di dalam air dan mencari keberadaan si gadis berisiknya.Namun sosok hitam itu menariknya ke bawah dan semakin tenggelam.
Zidane yang di tarik kakinya ke bawah oleh makhluk itu pun kehabisan oksigen karena terlalu lama di dalam air.
Ia berusaha melawan rasa takutnya dengan mengalahkan sosok hitam itu dan ia pun menemukan Sherly mengambang di dalam air danau.
Dengan cepat ia berenang ke arah gadis itu dan menariknya ke pinggir danau.
Diangkatnya tubuh mungil itu dan ia pun naik ke atas.
"Hei, bangun..bangun"Ia terus menekan dada si gadis dengan kedua tangannya untuk mengeluarkan air yang sudah memenuhi tubuh si gadis.
Namun tak ada tanda terlihat bahwa Sherly akan bangun.
Di tekannya lagi dada gadis itu sekuat tenaga tapi tetap saja Sherly tak bangun.
"Apa yang harus aku lalukan?"Ia terlihat bingung dengan keadaan gadis berisiknya.
Diliriknya bibir mungil yang sudah memucat itu dan tanpa pikir panjang, Zidane langsung melakukan pertolongannya pada si gadis berisik melalu mulutnya.
"Please, wake up...please..please..please.."
Dilakukannya berulang-ulang sampai ada pergerakkan dari si gadis berisiknya.
"Ukhuk..ukhuk..."Si gadis berisik langsung bangun dan terbatuk.
Zidane gembira saat melihat caranya itu ampuh untuk membangunkan si gadis berisik.
Di peluknya langsung tubuh mungil itu dan ia mencium kedua pipinya sambil memeluk erat.
"Aku gak mau kehilangan kamu."Ucapnya singkat.
Saat Zidane sedang memeluk Sherly, tiba-tiba tubuh gadis itu menghilang dari pelukkannya membuat dirinya terheran.
"Gadis berisik, kemana kamu?"Zidane mencari keberadaan si gadisnya namun terlihat bayangan putih mirip Sherly melambaikan tangan padanya sambil tersenyum.
Sosok itu terus tersenyum dengan tangan melambai ke arah Zidane tanpa berkata sedikitpun kemudian menghilang secara perlahan.
Zidane berlari mengejarnya namun tak sempat ia mengejar, Sherly sudah menghilang dari pandangannya.
"Tidak..jangan pergi!"Teriakan Zidane mengganggu teman di sampingnya yang sedang tertidur pulas.
"Woi tuan muda, kenapa sih tidur saja pake teriak-teriak segala?kamu takut di tinggal sendirian, hemh?tidak, aku tidak akan pergi meninggalkanmu, oke!"Rian yang terbangun dari tidurnya karena teriakan Zidane.
Zidane nampak bingung.Ia mengedarkan pandangannya yang ternyata ini ada di kamarnya.
Di usapnya wajah tampan dengan kedua tangannya."Astagfirullahaladzim!"
Ia bangkit dari tidurnya kemudian menoleh ke arah temannya.
"Kenapa kamu disini?"Berbicara ketus kepada Rian.
"Cih, dia sendiri yang memintaku datang, sekarang malah bertanya kenapa aku ada disini?"Rian memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku disini karena kau yang memintaku datang!"Rian berkata dengan keras.
Mata Zidane menyipit mendengar perkataan Rian."Kapan?"Tanya Zidane singkat.
"Aih, dia sendiri yang nelpon.Sudah lupa kah?"Kata Rian.
Zidane terlihat cuek.Ia berdiri di dekat jendela sambil memandang kearah luar rumah dan memikirkan mimpi barusan.
Flashback.
Sherly duduk dengan gelisah di dekat Nania. Ia menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Haaaaahhh"Helaan napas panjangnya terasa berat sekali sehingga Nania dan Zidane melirik ke arahnya.
"Kamu kenapa?"Pertanyaan terlontar dari mulut si king ice.
Sherly melirik Zidane dengan malas."Sampai kapan sih gue gentayangan seperti ini?gue kan kangen semuanya"
"Sabar dong, aku kan sedang nyari solusi dari masalahmu ini."Zidane berusaha menenangkan si gadis berisiknya.
"Haaa, gue udah bosen kaya gini mulu!" Teriaknya dan ia pun cemberut dengan memandang keduanya.
"Hei, kamu baru sebentar saja sudah bosan gentayangan, apa lagi aku yang bertahun-tahun jadi hantu.Rasanya kaya apa coba?" Nania menepuk bahu Sherly.
"Gue gak mau ngerasain"Ucapnya singkat.
"Ish, kau ini!"
"Gimana dong king ice?cari jalan keluarnya. Ayo lah!"Sherly merengek pada Zidane.
Zidane tampak berpikir."Emmm, nanti aku coba cari tahu deh!"
"Hemh, ya sudah.gue balik dulu deh!"Sherly melangkah pergi dari rumah Zidane.
Zidane dan Nania menatap kepergiannya dengan rasa haru.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan, Ganteng?" Tanya Nania padanya.
"Aku gak tahu.Mungkin aku akan mendapatkan jawaban setelah menunaikan shalat istikharah."Di langkahkan kakinya ke kamar mandi dan ia pun mengambil air wudhu untuk menyucikan diri.
Waktu telah menunjukkan jam sembilan malam.Zidane melaksanakan kewajibannya untuk menunaikan shalat sunat setelah shalat wajibnya.
Tak terasa waktu terus berlalu semakin larut dan ia pun tertidur di atas sejadahnya.
Namun, Zidane harus terbangun karena merasakan menggigil.
Entah kenapa, malam ini terasa sangat dingin. Udara malam ini sangat tak bersahabat.
Zidane yang lupa menutup jendela karena tadi Sherly keluar melewatinya sampai lupa untuk mengunci kembali dan hawa dingin pun masuk menyelinap ke dalam kamar.
Ia merasa kepalanya pusing dan badannya pun mulai demam.
Di angkatnya gagang telpon dan di tekannya nomor itu satu persatu dengan benar sampai suara sambungan telpon di jawab seseorang di ujung sana.
"Hallo"Ucapnya di sebrang telpon.
"Datang sekarang juga kerumah!"Di tutupnya langsung sambungan telpon dengan menaruh kembali gagang ke induknya.
"Haish, dia selalu begitu"Anggaplah itu batin si penerima telpon karena pasti dia bakal menggerutu kesal seperti itu jika sambungan telpon di tutup sebelah pihak tanpa memberi tahu apapun yang jelas padanya.
Dengan mengendarai mobilnya, Rian meluncur menuju rumah kediaman Zidane yang sudah terlihat sepi.
Dia berlari langsung ke arah kamar si tuan muda yang berada di lantai atas.
Dengan napas yang terengah-engah dan menahan rasa kantuknya, Rian berusaha berjalan terus menyusuri rumah besar itu menuju kamar si tuan muda.
Tanpa bertanya lagi, Rian langsung memeriksa kondisi Zidane yang sudah mulai berkeringat dingin.
"Kenapa jadi begini?"Di tempelkannya stetoskop di dada Zidane.
Ia pun menaruh termometer yang di apit oleh ketiak Zidane.
Zidane malas menjawab pertanyaan Rian.Ia menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal setelah meminum obat yang di berikan Rian.
Huuh, selalu seperti itu. Batin Rian menatap Zidane.
Ia pun tertidur setelah tak lama kemudian Zidane tertidur pulas.
Saat tertidur, Zidane merasa gelisah dan berkeringat dingin.
Zidane berteriak sampai membangunkan Rian yang tidur di sampingnya dengan terlelap sampai ia terkejut dan terperanjat.
Rasa penasaran Rian tak bisa terjawab karena Zidane tak mau menjawab apapun.Ia memilih bungkam dan berjalan ke arah jendela dan terlihat melamun di sana.
Apa yang harus aku lakukan?apa ini pertanda aku harus membangunkannya dengan cara seperti itu?
Zidane nampak terus berpikir.
Aku takut kehilangan gadis berisik itu.Aku sangat takut terjadi sesuatu padanya.
Raut wajah Zidane terlihat serius dan lelah.
Besok aku harus menemuinya.Aku akan mengikat dia dengan sebuah hubungan.
Tapi, untuk itu aku harus menghubungi kakek dulu.
Zidane melangkahkan kakinya dan berbaring lagi di atas kasurnya.
Bayangan kehilangan Sherly pun menghantuinya sampai ia tak bisa memejamkan mata.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi sedangkan Zidane baru saja terlelap dengan dengkuran halus.
Kriiiing
Alarm berbunyi menandakan hari sudah pukul lima pagi.Zidane langsung bangun dan menunaikan kewajibannya.
Di tendangnya Rian yang masih molor di kasur untuk mengajaknya berjamaah.Namun Rian tak mau bangun juga.
Tak kehabisan akal, Zidane yang sudah menunaikan kewajibannya itu, ia langsung menumpahkan air di gelas ke wajah Rian membuatnya terbangun dengan basah kuyup.
__ADS_1
"Banjir...banjir"Teriak Rian sambil terbangun dan celingukkan.
"Eh, ada apa ini?"Menatap kesal pada Zidane yang memegang sebuah gelas di tangannya.
Zidane mengedikkan bahunya dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya dan Rian yang menatap kesal padanya.
"Subuh dulu baru tidur lagi."Ucap Zidane sebelum benar-benar pergi.
"Haish, bisa gak sih ngebanguninnya dengan cara biasa saja.Jangan kaya gini, woi!"Teriak Rian yang tak di perdulikan Zidane.
Ia pun berdiri dan menunaikan kewajibannya setelah itu turun mengikuti Zidane.
"Eh, mau kemana?"Tanya Rian saat melihat Zidane sudah berpakaian rapi.
"Mau ke rumah sakit!"Ucapnya tanpa menoleh.
"Mau menengok kakak ipar ya?"Rian berkata dengan tersenyum.
"Bukan urusanmu"Dingin sekali nada bicaranya.
Haish, selalu seperti itu
Rian menjadi terdiam dengan perkataan Zidane.Ia pun melanjutkan sarapannya.
Zidane melangkahkan kakinya keluar setelah mengambil kunci mobil.
Sedangkan Rian hanya menatapnya tanpa berkata sedikitpun.
Di dalam mobil, Zidane terus berpikir tentang arti dari mimpinya semalam.
"Apa yang kamu pikirin sih, ganteng?"Tanya Nania yang duduk di sampingnya.
"Semalam aku bermimpi"Zidane pun menceritakan mimpinya kepada Nania yang mengangguk mengerti.
Ia pun mengutarakan rencananya kepada Nania bahwa ia ingin mengikat Sherly dengan hubungan yang lebih serius.
"Apa kamu ingin melamarnya sekarang?" Tanya Nania.
"Iya, aku akan meminangnya dan menjadikan dirinya milikku seutuhnya!"Tutur Zidane dengan serius.
"Lalu, apa kamu akan menikahinya sekarang juga?"Tanya Nania lagi.
"Aku harus melakukannya."Ucapnya serius sambil melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah sakit, terlihat keluarga Sherly yang sedang berada di dalam untuk menjenguknya.
Zidane masuk ke dalam dengan mengucapkan salam dan di sambut senang oleh mereka.
Nyali Zidane di kumpulkan semua untuk mengatakan keinginannya pada keluarga Sherly.
Keluarga Sherly terlihat syok atas permintaan Zidane yang terbilang mendadak itu.Mereka bingung karena Sherly saja belum bangun dari tidurnya.
Maka mereka meminta waktu pada Zidane dengan sebuah pertunangan.
Zidane pun mengangguk dengan perkataan ayah Sherly yang meminta dirinya untuk bersabar dengan mengadakan pertunangan dahulu.
"Sayang, nak Zidane ingin menjadikanmu istrinya.Apa kamu menerimanya?"Tuan Hadi mengelus kepala Sherly yang terbaring tak sadarkan diri.
"Sayang, apa kamu menyetujui rencana kami untuk bertunangan dengan nak Zidane?" Nyonya Fransisca menggenggam erat tangan Sherly.
"Ayo lah sayang, cepet bangun.Kami ingin melihatmu bahagia dan tersenyum kembali!" Lanjut sang mommy.
Namun, Sherly tetap tak bergerak sedikitpun.
Mereka pun menyetujui pertunangan ini dan berharap jika ini adalah jalan untuk membuat putrinya kembali terbangun dari tidurnya.
Undangan di sebar untuk acara pertunangan di hari minggu.Dengan tamu undangan dari keluarga besar kedua belah pihak.
Sang kakek di beritahu langsung oleh cucunya dan ia pun langsung terbang dari negara asalnya dengan pesawat pribadi.
Keluarga kedua belah pihak sudah saling bertemu satu sama lain.Mereka menyetujui niat baik ini dan akan menentukan pernikahan tidak lama setelah acara pertunangan di gelar.
Saudara sepupu Zidane pun datang khusus dari Norwegia untuk menyaksikan pertunangan kakak sepupunya itu.
Mereka sangat bahagia karena Zidane yang terbilang pendiam dan tak suka dekat dengan perempuan, kini mengabarkan dirinya akan bertunangan dengan seorang gadis.
Malam itu dimana Sherly datang ke rumah Zidane bersama Alea dan melihat seorang gadis muda yang terlihat mesra dengan Zidane itu sebenarnya adalah adik sepupunya yang datang dari Norwegia.
Tanpa bertanya kepada Zidane, Sherly marah dan cemburu tak jelas kemudian pergi begitu saja dan menghilang bagaikan di telan bumi.
Acara pertunangan tinggal sehari lagi.Namun Sherly tak di temukan dimana pun membuat Zidane dan Nania juga Alea sangat khawatir.
Mereka tak tahu entah dimana keberadaan gadis berisik itu.
Kenapa Sherly sampai tak mendengar penuturannya tentang lamaran untuk dirinya?
Ternyata, saat keluarganya dan Zidane datang ke rumah sakit utuk menengok dirinya.Bukan menengok nenek disana.
Sherly malah asyik bermain dengan Agam. Anak kecil yang ia temui di rumah sakit.
Setelah pergi dari rumah Zidane begitu saja, Sherly tak di ketahui keberadaannya dimana pun.Mungkin ia sedih dan cemburu melihat kemesraan Zidane bersama gadis lain saat itu.
Dan sampai sekarang ia tak di temukan dimanapun sehingga acara pertunangan terancam batal.
Kemana perginya dia sih?kalau dia berwujud manusia, mungkin bisa di hubungi lewat telpon. Tapi sekarang, dia berwujud roh. Bagaimana cara menghubunginya?Apa ada telpon khusus untuk menghubungi para arwah yang gentayangan?
Kalau ada, pesen satu dong.buat di kasih jelangkung.Soalnya, dia suka datang tak di jemput dan pulang tak bilang-bilang.
__ADS_1