Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Dalang di balik kematian


__ADS_3

Seorang wanita cantik memakai pakaian seksi sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan. Kaki jenjangnya melangkah menuju ke sebuah tempat makan di tempat tersebut.


Kaca mata hitam yang di kenakan sangat serasi dengan dress mini-nya. Kemudian, tangannya melambai ke arah depan memanggil seorang wanita lain yang di yakini adalah sahabatnya.


"Sudah lama nunggu?" Tanya Avril seraya menarik kursi.


"Tidak. Aku baru saja datang. Kamu mau pesan apa?" Prita balik bertanya sambil memberikan buku menu.


"Aku gak mau pesan apa-apa. Rencananya aku mau berkunjung ke kantornya Zidane untuk menanyakan kepulangan dia kepada sekretarisnya." Jelas Avril.


Dahi Prita mengerut. "Memang kau mengenal sekretaris Zidane? Mm-maksudku tuan muda Zidane."


"Tentu. Aku pacar pertamanya dan berada di sampingnya cukup lama. Pasti dong aku mengenal bawahan Zidane dengan baik." Ucap Avril congkah.


Cih, sombongnya.


"Mau aku temani?"


Avril segera menggelengkan kepala. "Tidak usah. Mereka hanya mengenalku dan hanya akan menerimaku saja. Orang luar akan di usir begitu datang!" Jelas Avril dengansombong.


Dasar wanita belagu. Akan ku pastikan kau tak kan di kenal siapapun. Cih,


"Baiklah. Aku tak kan ikut masuk kedalam Aku hanya akan memastikan keselamatanmu saja! Aku akan menunggumu di loby, bagaimana?"


"Hemh, baiklah!"


Keduanya pergi menuju perusahaan Zidane untuk menuntaskan tujuan Avril.


Sesampainya di sana, Avril masuk dengan bertingkah seolah dia pemilik perusahaan. Namun, langkahnya terhenti karena sang asisten Zidane yang bernama Joan menghalanginya.


Dia tetap memaksa untuk menanyakan perihal kepergian Zidane dan kapan mereka akan kembali. Namun Joan tetap tak mau membuka mulutnya. Dia tetap bungkam tak memberikan penjelasan apapun kepada Avril walaupun dia mengenalinya.


Justru Joansemakin menutup rapat mulutnya karena dia sudah mengenali sifat-sifat wanita ular itu.


Karena wanita itu, Zidane kehilangan perusahaan yang ada di Thailand. Semua tingkah buruk Avril sudah tercatat di memori ingatan Joan. Kini sang asisten tak kan terpengaruh lagi oleh aksi apapun yang akan di lakukan Avril.


"Joan, please. Kasih tahu aku kemana perginya Zidane dan kapan ia akan kembali? Aku mohon!" Rengek Avril.


Joan hanya diam tak menanggapi pertanyaan wanita itu.


Melihat asisten dingin itu bungkam, kini Avril memaksanya dengan cara mengancam. "Apa kau tak takut jika Zidane tahu bahwa dirimu memperlakukanku dengan tak baik?"


Lagi-lagi Joan tak menanggapi ancaman Avril dan mengabaikan wanita itu.


Prita tersenyum dari kejauhan. Dia senang karena Avril ternyata tak berhasil masuk ataupun mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Rasakan itu wanita ular. Ternyata asisten Zidane tak mudah untuk di tangani. Hahaha!"


Meskipun kedatangannya di tolak, dan dia tak mendapat informasi apapun dari asisten Zidane, Avril tetap bertingkah sombong dan memamerkannya pada Prita karena dia tak mau di buat malu.

__ADS_1


Dia sengaja berteriak kepada Joan dengan menyebutkan nama pria itu dari kejauhan.


"Joan. Aku tunggu kabar selanjutnya darimu!"


Avri pun pergi dengan menggandeng tangan Prita dan bersikap seolah dia sudah mengetahui kabar dari Zidane.


Aku membenci wanita ini. Akan ku singkirkan satu persatu penghalang cintaku dengan Zidane. Walaupun kau sahabatku, tapi kau sudah berbuat salah karena mencintai pria yang sama denganku. Setelah Avril tiada, Sherly target selanjutnya.


Tekad Prita sudah bulat. Dia harus menyingkirkan sahabatnya karena merasa mempunyai saingan untuk menggapai cintanya kepada si tuan muda.


▪▪▪▪


Malam itu, telpon berdering nyaring mengganggu si penghuni kamar. Sebuah kepala menyebul dari balik selimut dan mengulurkan tangannya untuk meraih gagang telpon.


Di angkatnya gagang telpon itu, kemudian dia pun bersuara untuk menjawab panggilan yang entah dari siapa.


"Hallo!" Suaranya serak ciri khas bangun tidur.


"Hallo Avril, ini aku Prita." Kata seseorang di sebrang sana.


"Oh Prita. Ada perlu apa malam-malam menelponku? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Avril.


"Tentu ada dong. Kalau aku menghubungimu jam segini, pasti ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Kata Prita.


Walaupun mata mengantuk, dan ia terus menguap. Avril berusaha mendengarkan apa yang akan di sampaikan sahabatnya.


"Hal penting apa sih, Ta? Hoaammh ... aku masih ngantuk nih! Apa tidak bisa di sampaikan besok pagi saja." Kata Avril dengan menutup mulutnya oleh telapak tangan.


Avril yang terlanjur kesal karena Prita membentaknya, ia pun berkata ketus kepada sahabatnya itu.


"Kalau kamu nelpon cuma ingin membentakku, lebih baik gak usah menghubungiku lagi."


Di sebrang sana, Prita menghela napas panjang. Ia berusaha mengatur napasnya sebelum berbicara. Takutnya salah bicara dan ia berusaha berbicara dengan sopan.


"Sekali lagi maafkan aku, Vril. Aku tak bermaksud membentakmu. Aku hanya tak sabar ingin menyampaikan kabar ini padamu!" Tutur Prita.


Avril pun terdiam dan mencoba mendengarkan apa yang ingin di sampaikan sahabatnya.


Ia berdecak kesal dan dingin. "Baiklah. Apa yang membuatmu memaksaku untuk bangun tengah malam begini?"


Prita yang mendengar decakan kesal Avril menjadi sebal. Tapi, dia berusaha sabar supaya rencananya tak gagal.


"Begini, Vril. Aku mendengar kabar dari orang kepercayaan pacarku bahwa Zidane dan Sherly berada di Hongkong saat ini. Mereka sedang berjalan-jalan." Kata Prita berbohong.


Padahal, Prita tak tahu keberadaan Zidane dan Sherly saat ini. Ia hanya membual supaya Avril termakan omongannya saja.


Dia sudah menyusun suatu rencana untuk mengelabui sahabatnya.


Apa alasan Prita melakukan itu, hanya dia dan othor yang tahu. Hihiiii

__ADS_1


Avril sangat senang dengan kabar yang di terimanya dari sahabatnya itu. Ia tak menaruh rasa curiga apapun kepada Prita karena dia sangat percaya kepada sahabatnya tersebut.


"Benarkah? Apa kamu yakin jika dia berada di sana?"Antusias Avril. "Tapi, bukankah Zidane tidak bisa berjalan?" Tanya Avril sedih.


Senyum Prita mengembang, namun tak bisa di lihat oleh Avril. Beruntungnya dia mengambil buku ilmu sihir Hendri. Karena dengan buku ilmu sihir itu, ia mempunyai ilmu menembus tembok atau ilmu menghilang raga. Jadi, dia bisa melihat sesuatu tanpa di lihat orang lain.


"Kau tak tahu jika Zidane sudah sembuh?" Tanya Prita memancing. Dan Avril pun menjawab "Tidak!" Kini, Prita semakin yakin rencananya akan berhasil. "Dia itu menipu semua orang dengan penampilannya yang cacat itu, supaya mengelabui musuhnya termasuk kamu!" Jelasnya.


Mata Avril yang tadinya mengantuk, seketika menjadi terang kembali setelah mendengar ucapan Prita. "Kau yakin?"


"Tentu. Apa kau tak percaya kepada sahabatmu ini?" Tanya Prita sedih.


"Tapi, kenapa dia berbuat itu? bukankah dengan penampilan cacat menyusahkan dia untuk bergerak bebas!" Kata Avril.


"Semua itu permintaan istrinya, kau tahu! Dia yang selalu membuat Zidane terpaksa menuruti semua keinginannya. Dia itu wanita jahat dan menyebalkan. Jadi, kita harus segera menyingkirkannya!" Usul Prita memprovokasi.


Avril terdiam sejenak. Betul kata Prita, sesegera mungkin harus menyingkirkan wanita itu.


"Emm, Ta. Rencana apa yang akan kita lakukan untuk menyingkirkan Sherly? Bukankah dia banyak teman yang mengelilinginya dan dia pun bukan wanita biasa?" Tampak keraguan dari nada bicara Avril.


Namun, Prita berusaha meyakinkannya dengan tetap memberitahu rencana busuknya.


"Kita akan menyewa orang untuk menculiknya, kemudian membunuhnya dan membuang mayatnya ke dasar jurang. Dengan begitu, mereka tak kan menemukan jasadnya dimanapun." Tutur Prita.


"Rencana yang bagus. Ayo kita lakukan setelah dia kembali!" Kata Avril.


"Kau tak tahu ya kalau dia sudah pulang?"


"Tidak. Memangnya dia sudah pulang?" Avril balik bertanya.


"Dia tiba di kota jam delapan malam. Kita akan rencanakan penculikannya besok sore. Besok pagi, kamu temui aku di cafe biasa untuk menemui orang bayaran kita. Gimana, kau setuju?" Tanya Prita memastikan.


"Oke. Aku akan datang sesuai permintaanmu. Setelah ini, Zidane akan menjadi milikku!" Seru Avril kegirangan.


Panggilan terputus dengan hati yang senang dari masing-masing kedua sahabat itu. Tanpa Avril ketahui, Prita jauh lebih senang dari dirinya karena rencana jahatnya akan segera di lakukan.


"Tunggu saja permainan dariku, Avril. Kau akan sangat senang sampai tak bisa berkata-kata. Hahaha!"


Pagi hari sesuai perjanjian. Avril menemui Prita di cafe yang di tentukan sahabatnya untuk menemui seseorang dan menyusun rencana penculikan.


Orang yang di temuinya hanya sendiri dan Avril tak mengenalinya. Namun, orang itu meminta bayaran tinggi yang membuat keduanya tak jadi menyewanya.


Prita membawa Avril ke suatu tempat untuk mencari lagi orang yang mau di bayar dengan harga sedikit murah, katanya.


Dia berpura-pura peduli kepada sahabatnya. Namun, di balik pedulinya dia menyimpan suatu rencana busuk.


Setelah mereka berpisah, lima pria bayaran Prita menculik Avril supaya tak di curigai.


Avril yang tak tahu jika kelima pria penculik itu adalah bayaran Prita. Dia tak mencurigai sahabatnya sedikitpun.

__ADS_1


Di tempat lain, Prita tertawa puas karena rencananya berhasil. Yaitu, menyingkirkan wanita saingan cintanya walaupun itu sahabat sendiri.


__ADS_2