
"Mam ... mami!" Panggil seorang pemuda tampan kepada ibunya yang tak terlihat di kamarnya.
Ia menuruni tangga rumahnya menuju ke ruang tengah.
"Ish, mama kemana sih?" Matanya melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan ibunya namun tak menemukan dimana pun.
Kakinya melangkah menuju dapur dan ia pun bertanya kepada orang yang di temuinya di dapur.
"Bi Murni, mami kemana?" Tanya si tampan namun yang di panggil asyik bernyanyi dan tak mendengarkan.
"Bi Murni, mami kemana?"
Tanya si tampan lagi kepada asisten rumah tangganya dengan sedikit berteriak karena, sang asisten sedang memutar musik dangdut yang cukup kencang.
"Mami kemana ... eh mami kemana? Aduh, den Zyan ngagetin bibi saja ih." Di tepuknya bahu si tampan karena terkejut dan ia mematikan radionya.
Si tampan pun menoleh ke arah tepukan pembantunya dan langsung menepuk bahunya seperti sedang membersihkan.
"Tangan bi Murni bersihin dulu kalau mau nepuk baju aku. Bau ikan asin kan jadinya." Ia terlihat jijik dengan bekas tepukan tadi.
"Eh iya bau, emang. Eh??" Dia gugup karena melihat tatapan tajam anak majikannya.
"Aduh, maafin bibi den Zyan!" Si tuan muda menyingkir karena tangan si bibi mau menyentuhnya lagi.
"Mami kemana? Kok udah gak ada sih pagi-pagi begini?" Dia terus menatap bi Murni.
Bi Murni menjadi grogi karena tatapan Zyan. "Iii-itu anu, emm!"
"Kemana?" Pertanyaan singkat si tuan muda membuat dia terkejut sampai dia mengulangnya karena bi Murni memang latah.
"Kemana eh kemana? Hayo ... kemana?" Tangannya menunjuk ke arah Zyan berulang seperti dia yang sedang bertanya.
"Bibi!" Zyan kesal karena pembantu rumah tangga itu seperti mempermainkannya.
"Bibi iya bibi ... eh bibi. Aduh, den Zyan." Akhirnya dia menepuk keningnya sendiri karena takut sama tuan mudanya.
"Nyonya lagi pergi joging, den." Jawabnya.
"Joging? Tumben mami pergi joging. Sama siapa?" Tanya Zyan heran dengan memegang dagunya.
Si bibi pun sama ikut bertanya sambil memegang dagu seperti sedang berpikir. "Sama siapa ya? Bibi juga gak tahu!"
Jawaban si bibi tak memuaskan rasa penasarannya.
Dia pun melangkah pergi tanpa berkata apapun dan meninggalkan pembantunya yang termenung di dapur.
"Haish, den Zyan itu mirip sekali dengan ayahnya." Bibi langsung melanjutkan pekerjaannya lagi.
Di ruang tengah, si tuan muda duduk dengan pikiran yang berkeliaran. Dia memikirkan mami-nya yang sedang keluar entah dengan siapa.
Saat dia sedang termenung, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Diangkatnya panggilan itu dengan malas olehnya. "Hemh."
"Hai Zy, keluar yuk!" Ajak seseorang di ujung telpon.
"Malas!" Ucapnya singkat.
"Sebentar saja. Come on!" Rengekan orang itu membuat dia kesal.
"Gue bukan pacar lo. Jadi, jangan ngerengek sama gue!" Sedangkan orang di ujung sana malah terkekeh dengan perkataannya.
"Gue juga ogah kali punya pacar kaya elo. Ck, tuan muda sombong yang dingin." Ucapnya dengan mencibir.
__ADS_1
"Bagus dong. Jadi gue gak perlu di repotin sama elo." Di tutupnya sambungan telpon sebelah pihak olehnya dengan kesal.
"Pagi-pagi sudah bikin gue kesel. Dasar cewek gila." Gerutunya dengan melempar ponselnya asal ke sofa.
Sedangkan orang yang menelponnya pasti menggerutu kesal karena sambungan telpon yang di putus sebelah pihak tanpa pemberitahuan.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi lagi denga kencang membuat dia kesal.
"Berisik!" Teriakannya mengundang seseorang untuk menghampirinya.
"Iya den Zyan, ada apa?" Tukang kebunnya datang menghampiri dan bertanya dengan sedikit membungkuk.
"Aku gak manggil mang Sidik!" Dia menatap dengan serius.
"Oh, baiklah. Mamang bikinin dulu." Zyan bengong dengan perkataan tukang kebunnya. Namun, ia tak perduli dan menaikkan kakinya di sofa lagi.
Tangannya mengambil remot dan menyalakan televisi.
Tak lama kemudian mang Sidik kembali membawa sesuatu di gelas yang langsung di berikan kepada anak majikannya.
"Ini den, teh tariknya." Di sodorkan gelas itu ke arah Zyan yang melongo menatap gelas berisi teh berwarna gelap itu.
"Apaan ini?" Diangkatnya gelas dengan wajahnya menatap mamang.
"Sama-sama" Jawab mang Sidik singkat sambil tersenyum.
"Lho kok sama-sama? Memangnya gue bilang apa barusan?" Wajahnya melengos mencerna jawaban si tukang kebun.
"Cobain atuh den. Bikinan mamang mah di jamin enak!" Di acungkan jempol ke arah si tuan muda.
"Yang minta ini siapa?" Tanya Zyan gemas dengan jari menunjuk gelas.
"Eh, mamang mah sudah tahu atuh den Zyan pasti suka." Ucapnya bangga namun tidak dengan si tuan muda.
Di tepuk keningnya perlahan. "Astaga, mami dapet orang-orang kaya gini dimana sih? Bikin gue pusing saja!"
Sekali lagi Zyan hanya melongo mendengar si mamang yang bilang terima kasih kepadanya, yang padahal dari tadi sedang menggerutu kesal dan pusing mikirinnya.
"Hehehe ... Hadeeeuuuhh!"
Di tempat lain.
Seorang wanita paruh baya sedang berlari kecil dan kemudian berhenti untuk meregangkan ototnya.
"Bilangnya mau bareng. Tapi, tuh orang kemana? Bikin gue kesel aja sih!" Gerutu kesal terdengar keluar dari bibir manisnya.
"Gue dengar tahu!" Suara seseorang mengejutkan dari belakang.
"Dasar dodol. Bikin gue kaget saja." Di layangkannya tonjokan di dada orang yang ada di belakangnya membuat dia mengaduh.
"Aduh, sakit astuti. Dasar lu, samson wati!" Tangannya mengelus dada yang terkena pukulan wanita di hadapannya.
"Lagian sih, elu ngagetin gue. Sorry deh!" Ucapnya sambil nyengir.
"Oke deh!" Jempolnya mengacung.
"Kemana yang lain?" Mereka pun celingukan kesana kemari.
"Kita disini." Dua orang datang menghampiri dan bergabung bersama mereka.
"Yuk, jalan!" Mereka pun melangkahkan kakinya namun terhenti dengan teriakan seseorang dari belakang.
"Woi, hah ... hah, tungguin gue!" Dia berlari mengejar keempat orang yang sudah melangkah jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Ck, lelet sih lu." Cibir mereka kepada orang yang tertinggal itu.
Langkah kakinya melebar dan ia berlari dengan kencang.
"Sialan lu semua. Mau ninggalin gue, heh? Dasar teman kurang perhatian." Napasnya masih terengah.
"Elu yang lelet nyalahin kita."
"Tahu ih, dasar."
"Makanya, kalau sudah janji, ya harus diinget dong!"
"Hemh, mesra-mesraan mulu sih. Jadinya terlambat bangun kan!"
Yang diomongin cuma nyengir kaya iklan pasta gigi. "Hehehe!"
"Sudah lah, yuk pergi. Nanti terlambat!" Mereka berlima pun melangkah dengan beriringan.
Kelima paruh baya itu berjalan dengan tersenyum.
Sherly, Dika, Indra, Iren dan Geri. Mereka adalah And the genk tim sengklek.
Kini, usia mereka tak muda lagi. Mereka sudah menjadi istri dan suami dari seseorang, juga orang tua dari anak-anak mereka.
"Perjalan baru kami di mulai dari sini!"
"Terus pantengin cerita kami ya."
"Jangan sampai terlewatkan."
"Ingat, walaupun kisah kami terganti oleh anak-anak kami nanti. Namun, kami pun selalu bersama sampai sekarang dan kisah kami selalu berlanjut."
"Yeeeaaaaahhhh!" Kelimanya bersorak dengan melompat ke udara sambil berpegangan tangan.
"Aduh, kaki gue sakit!" Iren memegang kakinya karena keseleo setelah mendarat di tanah.
"Hish, dasar faktor U. Gitu saja udah kesakitan, apalagi melompat dan menendang kaya dulu lagi!" Cibir Sherly kepada sahabatnya.
"Eh bu, apa elu juga masih sekuat dulu?" Cibiran balik Iren kepadanya.
"Tentu dong dia masih kuat. Dia kan super Sherly." Bela Dika membuat Iren cemberut.
"Jadi, kamu lebih membela dia dari pada aku istri kamu?" Nyali Dika pun menciut dengan tatapan Iren.
"Hayo lho Dika. Entar malam gak di kasih jatah, baru tahu rasa!" Indra dan Geri meledek sahabatnya sambil tertawa lepas. "Hahaha!"
"Ish, kurang ajar lu berdua. Jangan memprovokasi bini gue dong!" Dika memiting leher kedua sahabatnya itu.
"Ampun Tong, kita minta maaf!" Keduanya tercekik di lengan kiri dan kanan Dika. Tepatnya di ketiaknya.
"Hahaha!" Sherly dan Iren menertawakan tingkah mereka yang tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang.
Mereka kejar-kejaran seperti anak TK yang sedang bercanda di lapangan sekolahnya.
Tamat
Maaf ya gengs, ceritanya harus jadi seperti ini saja. Soalnya, kondisiku yang tak vit ini mengharuskanku istirahat dan tak ada semangat juga untuk nulis.
Dari kemarin aku sakit-sakitan terus. Ternyata eh ternyataaaaa ... aku hamil. Alhamdulillah.
Mood untuk nulis gak ada karena hormon kehamilan yang suka gonta ganti keinginan ya.
Jadi, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya buat semua readers dan kakak author yang selalu setia mendukungku.
__ADS_1
Maaf belum sempet mampir di karya hebat kalian. Nanti aku usahain untuk memberikan dukunganku sama kalian semua.
Thank you so much gengs, and love you always. Muuuuaaacchhh😘😘😘😘