
"Hei, kenapa kamu melakukan itu?"Zidane menepuk pipi Sherly karena mata gadis itu terpejam.
"Kakak ipar, kenapa kau lakukan itu?"Rian berlari dan menghampiri mereka.
"Tidak..tidak, ku mohon bangun lah."Zidane menggoyangkan tubuh Sherly.
"Come on kakak ipar, jangan membuat kita takut, please!"Rian ikut menepuk pipi Sherly.
Zidane berteriak, "Hei, bangun.kalau tidak, aku akan...."
Sherly membuka matanya."Emh, apa gue masih hidup, atau udah di syurga?"Ia berdiri tegak dan memperhatikan kedua pemuda itu.
Tangannya terulur ke arah Zidane."Tapi, gue bisa menyentuh wajah lu"
"Kamu gak apa-apa, kakak ipar?"Tanya Rian.
Sherly bingung, ia pun berkata."Gue gak tahu apa yang ter...."
Tanpa berkata, Zidane langsung memeluk Sherly dengan erat.Ia juga mencium kedua pipinya membuat Rian berpaling dan Sherly jangan di tanya, pasti wajahnya sudah kaya kepiting rebus.
Bruuukk
Tubuh preman itu ambruk seketika membuat ketiga nya menoleh ke belakang.
"Eh, kok dia yang jatuh?"Pertanyaan mereka terjawab saat melihat beberapa orang di belakang preman tadi sambil mengacungkan pistol ke arahnya.
"Kak Deni"Teriak Sherly sedangkan kedua pemuda itu saling pandang.
"Hai dek, kamu tidak apa-apa?"Tanya kapten Deni.
"Hemm, aku gak apa-apa kak"Jawab Sherly.
Zidane dan Rian melihat penampilan pria itu, seperti seorang preman."Dia??"
Orang itu menghampiri mereka dan mengulurkan tangannya ke arah Zidane. "Deni Wijaya, polisi intel bagian pusat"Ia Menunjukkan identitasnya.
Zidane mengangguk dan menjabat tangan Deni yang terulur."Zidane Prasetyo, dan ini dokter Steven Riandi"Dia memperkenalkan diri dan temannya.
Mereka tersenyum saling berjabat tangan.
"Wah, tidak menyangka bertemu dengan si raja bisnis dalam kondisi seperti ini, ya?" Perkataan Deni membuat Sherly menoleh.
Raja bisnis?apa yang dimaksud kak Deni itu si king ice?
Sebenarnya Sherly penasaran.tapi ia tak bertanya tentang itu."Kok, kak Deni bisa ada di sini?"Itu kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku sedang bertugas, kebetulan melihat kamu seperti membutuhkan bantuan.Maka dari itu aku kemari"Jelas Deni pada mereka.
"Wah, terima kasih banyak kak.berkat bantuan kakak, akhirnya kami selamat" Sherly mengucapkannya tulus.
"Tidak perlu sungkan dek, itu sudah menjadi tugasku.Tapi kakak juga berterima kasih sama kalian, berkat kalian kakak bisa menangkap para preman ini"Tutur Deni.
"Hemm, para preman ini?"Mereka bingung.
"Iya, mereka yang selama ini meneror warga sekitar dan sangat meresahkan.Kasus pembegalan yang terjadi akhir-akhir ini juga karena ulah mereka."Jelas Deni lagi.
"Oh iya kapt, mobil saya juga di ambil oleh bagian dari mereka, cuma dia seorang wanita"Kata Rian pada Deni.
"Oh iya?berarti mereka anggota baru."Kata Deni.
"Tolong temukan mobil saya ya kapt, itu satu-satunya kendaraan saya."Rian memelas.
"Baiklah dokter, kami akan mencari mobil anda dan mengembalikannya"Tutur Deni.
"Terima kasih, kapten.atas bantuannya!" Ucap mereka tulus.
"Itu sudah menjadi tugas ku.Kalau begitu, silahkan kalian pergi dari sini biar saya yang urus semua ini.Jika di perlukan, saya akan menghubungi kalian untuk minta keterangan."Tutur Deni.
"Baiklah, kami permisi"Mereka pun berpamitan dan pergi menggunakan Sweaty.
Setelah meninggalkan Kapten Deni dan timnya, Zidane melajukan mobilnya di jalan beraspal dengan kencang.
"Sepertinya pemotretan kita batalkan dulu, karena aku harus mengurus dokter gila ini" Tutu Zidane.
"Ya, gak apa kok, nanti biar gue telpon kak Aisyah buat batalin semuanya"Kata Sherly.
"Aku akan mengganti kerugianmu untuk ini, setelah mengantarmu ke butiq dan mengambil mobilku."Lanjut Zidane.
"Enggak perlu ke butiq, kita pulang saja kerumah lu, kasihan dia nahan sakit gitu"Ia melirik Rian yang duduk di belakang.
"Biarin gue yang urus masalah di butik."Kata Sherly.
"Oh iya, kamu kok bisa di keroyok preman sih?"Tanya Sherly penasaran.
"Ceritanya panjang kakak ipar, mereka...."
"Pendekin"Ucap Zidane singkat.
Mereka pun menoleh."Apanya?"
"Ceritanya, bukan kah dia bilang ceritanya panjang"Kata Zidane.
Mereka pun paham."Oooohhh, lanjut"
"Ini sangat susah untuk di jela..."Perkataan Rian pun di potong lagi oleh Zidane. "Mudahkan"
__ADS_1
Mereka melirik Zidane yang sedang fokus menyetir, ia terlihat cuek saja.
Haish, dasar pria dingin yang tidak mau rumit atau mendengar keluhan orang.huch.
"Jadi, tadi itu ada seorang wanita menghampiri mobilku untuk minta tolong.Aku kira dia sedang kesusahan, ya sudah aku turun dan bertanya padanya ada apa?Eeh, tiba-tiba kepalaku di pukul dari belakang. Terus aku di seret dan di gebukin deh!"Jelas Rian.
Mereka mengangguk mengerti.
"Lho kok jalannya beda?"Sherly melirik Zidane yang tetap fokus.
"Ini jalan ke rumah pribadi"Bukan Zidane yang menjawabnya melainkan Rian.
Sherly pun menoleh ke belakang."Hemm, dia punya rumah berapa?"Tanya Sherly penasaran.
Rian mengangkat lima jarinya, ia gak mau nyebutin jumlahnya karena Zidane selalu marah kalau nyebutin kekayaannya.
Sherly terkejut."Lima?dia punya lima rumah?"Teriakan Sherly membuat Zidane menoleh ke arah Rian.
"Haish kakak ipar, kenapa kau sebutin.aku cuma ngangkat jariku saja."Rian takut dengan tatapan Zidane.
"Waah, dia kaya dong!"Ucapnya polos.
"Dia itu horang kaya, tajir melintir.rumahnya ada dimana-mana kak.Itu baru di indo, belum yang di amsterdam sama di london!" Tutur Rian yang keceplosan membuat Sherly menganga.
Zidan mengerem mendadak membuat Sherly, Rian dan Nania, berteriak."Haaaaa"
"Turun"Ucapnya dingin menyadarkan Rian atas kesalahan.
"Oh ya ampun, tuh kan.aku keceplosa lagi. Kakak ipar sih mancing mulu!"Dia menepuk jidatnya sendiri.
"Gak usah nyalahin orang lain, sana turun!" Kata Zidane.
"Tolong lah tuan muda, keadaanku seperti ini"Rian merengek sambil melirik Sherly.
"Haish, lu ini gimana sih?dia kan sakit.dasar gak punya perasaan lu!"Sherly membela Rian.
"Tapi dia..!"
"Udah sih, gitu aja marah.yuk, buruan kita obatin dia!"Perintah Sherly langsung di turuti Zidane.
Yes, dia gak bisa berkutik.Kalah kan sama kakak ipar.gue harus baikin gadis ini.Hehehee.
Zidane mendengar suara hati Rian yang menertawakannya.dia pun mengepalkan tangan.Awas kamu, lihat saja nanti.
Sweaty terus melaju menuju jalanan menanjak sedikit berbatu dan hawa sejuk menyeruak di sekitaran.
Setelah menempuh perjalan selama empat jam, mobil merah itu berhenti di depan sebuah rumah model dulu dengan hiasan modern.
"Waaah, rumahnya bagus sekali!"Nania melihat sekeliling rumah itu.
Rian pun ikut tersenyum."Kakak ipar begitu senang dibawa kemari!"
Zidane turun dan berjalan ke arah mereka. Ia tersenyum melihat Sherly yang terlihat bahagia.
"King ice, disini indah sekali.gue kayaknya betah deh!"Dia berlarian kesana kemari.
"Kalau kamu betah, kamu boleh kok tinggal disini!"Rian yang berbica dengan sengaja.
Zidane melirik Rian yang tersenyum meledeknya."Cih, dasar anak nakal!"Ia melangkahkan kakinya menuju taman belakang dan diikuti oleh mereka.
Di taman belakang, terlihat dua orang tua yang sedang duduk di kursi rotan sambil menikmati secangkir teh dan makanan cemilan.
"Eh, siapa mereka?"Tanya Sherly namun tak di jawabnya.
"Mereka itu kepala pelayan di rumah utama Zidane saat orang tuanya masih ada, mereka juga pengasuhnya.Dia di besarkan oleh kedua orang tua itu"Bisik Rian yang menjawab pertanyaan Sherly.
Ia terus melangkah menghampiri mereka.
"Selamat sore kakek, nenek, apa kabar?" Suara Zidane mengejutkan mereka.
Kedua orang tua itu menoleh ke arah sumber suara."Tuan muda, ya ampun.kami tidak tahu anda akan kemari!"Mereka langsung berdiri dan menghampiri Zidane.
"Apa kabar, tuan muda?"Mereka menunduk.
"Kabar ku baik, kek, nek.jangan panggil tuan muda dong, aku kan sudah bilang, panggil aku seperti biasa saja."Tutur Zidane dengan sopan kepada mereka sambil tersenyum.
"Kalian jangan pernah menunduk di hadapanku, karena aku lebih muda dari kalian."Lanjutnya.
Mereka pun membalas senyuman Zidane. "Baiklah nak Tyo,"Mereka pun terkekeh.
"Eh, siapa kedua gadis cantik ini?"Mereka melirik Sherly dan Nania.
"Hahh, kedua gadis cantik?"Mereka saling pandang.
"Maaf kek, nek, aku perjaka tulen lho.masa di bilang gadis cantik" Rian tak terima dengan pertanyaan mereka.
"Nenek tahu, nak Rian.bukan kamu yang nenek sama kakek maksud, tapi mereka!" Tunjuknya ke arah Sherly dan Nania.
"Tapi, gadis cantik disini cuma kakak ipar saja perasaan.gak ada yang lain lagi kok!" Rian pun heran.
Mereka tersenyum mengerti."Ooh, jadi si neng ini sudah beda alam sama kita!"Perkataan mereka membuat Rian semakin bingung.
"I..iya nek, dia sudah jadi....hantu"Ucap Sherly pelan yang masih di dengar Rian.
"Hantu, mana?dimana?"Ia muter melirik kesana sini.
__ADS_1
"Ckk, dasar dokter gila.Ayo masuk, jangan mikirin masalah hantu.Segera obatin luka kamu!"Kata Zidane sambil melangkah masuk.
Kedua orang tua itu pun tersenyum."Mari kita masuk, neng!"Ajak keduanya.
Sherly dan Nania pun tersenyum."Terima kasih!"Ucap keduanya dan ikut melangkah masuk meninggalkan Rian yang masih kebingungan.
"Silahkan duduk, nak!"Ucap mereka sopan.
Mereka pun duduk sambil tersenyum setelah berterima kasih.
Zidane yang melangkah masuk duluan kembali menghampiri mereka dengan kotak obat dan semangkuk air hangat di tangan.
"Sini, biar aku obatin."Kata Zidane kepada Rian yang langsung duduk di sofa itu.
Dengan telaten, Zidane membersihkan dan mengobati luka di wajah Rian membuat Sherly terharu.
Ternyata dia perhatian juga walaupun ucapannya sering ketus atau nada bicaranya yang dingin, tapi kepribadiannya hangat. Membuat orang nyaman.
Sherly tersenyum memperhatikan Zidane.
"Kenapa, apa ada sesuatu di wajahku sampai kamu terus menatapku?"Tanya Zidane yang sedang mengobati Rian tanpa berpaling.
"Hahh, eemmh..enggak kok.geer!"Sherly langsung berpaling ke arah lain.
"Kalau suka, bilang suka dong, kakak ipar. Jangan diem aja!"Ledek Rian.
"Tuan muda kita tampan kok, lihat lah.Dia sangat sempurna"Kata Nenek dan kakek itu.
"Kami akan mendukungmu, nak"Lanjut mereka membuat Sherly malu.
"Ciieeeh, dia malu.tuh lihat, wajahnya merah"Ledek Rian.
"Gue..eh, aaa..aku biasa aja kok!"Sherly salah tingkah.
"Ahihiii, mala-malu meong rupanya"Ledek Rian.
"Ssttt, aww, kenapa di tekan?sakit tahu" Protesnya karena lukanya di tekan sengaja oleh Rian.
"Waaah, di belain niyeeeh"Nania ikutan nimbrung walau cuma Rian yang tak melihat atau mendengarnya.
"Iiih, kalian malah meledek sih!"Sherly cemberut sambil melipat tangannya.
"Lucu, ngambeknya kaya anak kecil minta permen."Kata kakek.
"Uluh..uluh tayang, nenek beliin es krim ya?" Nenek ikut meledek.
"Dia tidak suka ngemut permen atau es krim, katanya kurang manis."Zidane terkekeh.
"Apaan yang dia suka?"Tanya mereka kompak.
"Dia sukanya ngemut......"Perkataan Zidane sengaja tak di lanjutkan, ia mengatakannya lewat gerakan menggigit bibir bawahnya sendiri.
Mereka pun paham, "Oooowwhhhh"
"King ice"Teriakan Sherly di sambut tutup telinga berjamaah oleh mereka sambil tertawa."Hahahaaaa"
▪▪▪▪
"Kurang ajar, dimana dia menyimpannya?" Orang itu membanting semua benda di meja.
"Ampun tuanku, aku sudah menunggui rumahnya selama dua hari, tapi tak menemukan apapun yang tuanku minta!" Kata orang itu sambil menunduk.
"Cari sampai dapat, aku ingin tahu rahasia di balik buku itu.Apa benar itu ada hubungannya dengan gadis bertanda bintang yang katanya jodoh Zidane nanti?"Ia mengepalkan tangannya.
"Tapi tuan, mungkin saja dia belum mendapatkan gadis bertanda bintang itu. Soalnya, aku tidak melihat bintang menarik garisnya di langit.belum terlihat bintang yang terang itu."Kata lawan bicaranya.
"Sepertinya, dia juga masih mencari gadis bertanda bintang di bahunya itu."Lanjutnya.
"Haaa, aku sudah yakin pada gadis bermata biru itu.Namun aku tak melihat apapun di dirinya yang menonjolkan aura mematikan. Itu membuatku ragu"Ia terlihat frustasi.
"Apa aku harus menyelidiki gadis bermata biry itu?"Tanya bawahannya.
"Tidak perlu, biar aku saja yang mengurus gadis itu.Kamu ikuti terus pergerakkan pemuda sialan itu, aku yakin orang tuanya memberikan sesuatu yang berharga baginya" Kata orang itu lagi.
"Dia selalu diikuti hantu wanita yang selalu berkeliaran di sampingnya, tuan.Itu sangat mempersulit diriku"Tuturnya.
"Haish, kau kan jin, kenapa takut sama hantu kecil seperti dia.Aku gak mau tahu, mulai besok aku ingin mendengar kabar baik darimu!"Bentaknya pada bawahannya itu.
"Kalau kau tidak bisa mengurusnya, aku akan memasukkan mu kedalam botol dan mengurungmu lagi di bawah kaki gunung yang sangat jauh."Ancamnya.
"Baik tuan, aku akan melaksanakan perintah tuanku!"Jin itu pun menghilang dari tempat itu dan pandangannya.
"Zidane, akan ku pastikan kau memberikannya secara sukarela."Ia mengepalkan tangan dan menggertakkan giginya.
"Haaaaaa...pekerjaanku menjadi terhambat gara-gara kalian!"Ia berteriak sambil membanting gelas ke lantai.
Bersambung....
***Siapa orang itu, hayo.ada yang tau gak?
Ikuti terus cerita otor biar gak penasaran.
Dukung terus karya otor, biar diriku rajin up dan gak bikin klean pada penasaran ya.
Yuk, biasakan like dan komen setelah membacanya, kalau boleh vote juga yang banyak, rate 🌟 5 dan favoritkan.
__ADS_1
Hatur tengkiyuuhh😘😘😘😘😘***