
Iren sangat senang dengan kenyataan bahwa sahabatnya itu ternyata masih hidup.Ia sampai melupakan sakit di bagian perutnya sewaktu mau berangkat ke Jakarta.
Sebetulnya, Iren tak ingin kembali ke ibu kota tercinta.Namun, kabar meninggalnya sahabat masa kecilnya itu mampu menariknya lagi tuk kembali ke sisi And the gengs.
Tapi, saat ini ia sendiri bingung.Harus bagaimana bertahan hidup di ibu kota?sedangkan dia kan sudah resign dari pekerjaannya menjadi sekretarisnya kak Al.
Raut wajahnya terlihat kusut lebih dari mak lampir yang di temuinya dalam mimpi, ceritanya! Hihihiii..
Sherly yang melihat kesedihan dan kebungkaman sahabatnya pun bertanya dengan penasaran.
"Elu kenapa sih, Ren?gue perhatiin, gak seperti biasanya deh!"Ia menepuk pundak temannya.
Iren menoleh kepada si penepuk."Cih, emang gue seperti apa biasanya?"Iren berdecih sambil terkekeh.
"Hemh, biasanya kan lu bawel melebihi Reihan!"Cibirnya.
Ia pun memalingkan wajahnya."Tau ah, gue lagi males"
"Umm, Sher, gue balik dulu ya?"Ucapnya sambil berdiri dari kasur Sherly.
"Mau kemana lu?elu gak mau nemenin gue disini, gitu?gue kan kangen."Tanya Sherly.
"Gue juga kangen.Tapi, ada sedikit urusan dulu.entar gue balik lagi deh!"Iren berkata sambil menyambar tas slempangnya.
"Janji"Lanjutnya mengerti tatapan Sherly.
"Awas lu kalo bohong!"Sherly memperingatkannya dan Iren cuma membentuk huruf O dengan jari telunjuk dan jempolnya.
Ia pun melangkah pergi dari kamar Sherly dan berpamitan kepada tuan dan nyonya Hadi kemudian pergi dari kediaman Grisheld.
Tling..
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Sherly pun menyambar ponselnya yang tergeletak di nakas dan ia pun membaca pesan yang masuk.
"Nanti sore tunggu aku di rumah.Awas, kalau pergi sebelum aku datang!"
Sebuah pesan dari si king ice telah terbaca.
"Haish, tuh orang selalu seperti itu"Gerutu Sherly kesal.
"Gak ada kata romantis, gitu.dasar king ice!" Ia pun menulis pesan untuk di kirimkan ke si king ice.
"Iya, tuan muda.Gue gak akan kemana-mana.Tapi kalau elu telat datang, awas aja, Gue bakal kabur!"
Sherly terkekeh saat menulisnya dan pesan itu di kirimkannya.
Saat sedang asyik berbalas yang pasti bukan pantun karena Sherly gak bisa pantun sama dengan otor.Dia sedang berbalas pesan singkat di ponselnya.
Tok..tok..tok..
Pintu kamar Sherly di ketuk seseorang dari luar.
Gadis itu melirik sedikit ke arah pintu dari balik ponselnya dan mengatakan kata. "Masuk"
Tiga orang pemuda tampan hadir di sana dengan membawa buket bunga dan cinta untuknya.
"Haaaaiii.."Sherly tersenyum senang sambil berdiri dan melompat ke arah mereka dan langsung di tangkap oleh ketiganya.
"Whoaa.."Ditangkapnya tubuh si gadis berisik.
"Gila lu, udah segene ini masih aja kayak bocah!"Geri terkekeh saat menangkap si bos.
"Woi, nih bunga bisa rusak tahu!"Indra menjauhkannya dari Sherly.
"Tahu ih, untung gue suka!"Kata Dika.
"Kenapa, gue kan masih anak-anak.belum punya anak, iya kan?"Pembelaan dirinya.
"Hahahaaaa...iya lah anak-anak.Nih, gue bawain bunga spesial buat lu.Ambil buruan!" Indra menyerahkan buket bunga.
"Acara apa nih, kok gue dapet bunga?"Ia melirik tiga buket bunga yang di bawa ketiga sahabatnya.
"Kenapa emang, lu gak suka?"Tanya Geri.
"Suka, tapi gue lebih suka lagi kalau elu bawain gue bunga deposito.heheeee"Terkekeh dengan ucapannya karena ia cuma bercanda.
"Dasar lu, cewek matre!"Di ketuknya kening si gadis dengan jari Indra sampai ia merenges.
"Kalau elu mau bunga itu, minta sama si tuan muda.Gue mah kagak punya"Dika sedih mengatakannya namun ia tetap tersenyum sambil mengambil kembali bunganya.
Namun secepat kilat Sherly merebutnya kembali."Hemh, gue suka kok.apalagi, bunga dari elu, pasti harum kan?"
"Ckk, kita bikinnya barengan.Bagaimana bisa wanginya beda.dasar lu!"Indra dan Geri tak terima.
"Iya..iya gue tahu.terima kasih and the gengs, eemmuuuaaahhh!"Di kecupnya satu persatu pipi mereka.
Ketiganya pun tersenyum dengan pipi merona.
"Pipi gue udah gak suci lagi, guys!"Geri terkekeh mengatakannya.
__ADS_1
"Masa sih, bukannya gue yang merawanin pipi lu waktu itu?"Indra mendekat ke arah Geri.
"Najong dah lu, ah"Pipinya di pegang dengan kedua tangan."Pipi gue di perawanin Sherly, asli"
"Gue kasih bonus satu lagi mau gak?"Sherly mendekat ke arah Geri dengan tertawa kecil.
Geri pun menjadi sumringah dan mendekatkan pipinya lagi namun di halangi Dika.Akhirnya, pipi Dika yang dapet kecupan.
"Yeeeaaahhh, double kiss.Hahahaaa"Ia tertawa kemenangan.
"Asyem lu, ah.aturan gue yang dapet"Geri mendorong tubuh Dika.
"Gitu ya kalo jomblo, rebutan sun pipi dari sahabatnya!"Kata Indra meledek mereka.
"Eh, elu juga kali!"Geri lupa kalau Indra memintanya untuk menyembunyikan masalah itu pada mereka.
"Jomblo..sejak kapan dia jomblo?Apa kabarnya dengan si Iren?"Sherly dan Dika berbarengan.
Indra dan Geri pun saling pandang."Iya kan sekarang dia sendiri, kagak ada si Iren disini. Anggap aja dia jomblo.iya kan?"Geri berusaha menutupinya.
Dika dan Sherly pun menggidikkan bahu tak perduli."Terserah lu, dah ah!"
Indra dan Geri pun merasa lega karena keduanya percaya
"Oh iya bos, malam ini kita kumpul di basecamp, yuk!" Ajak Geri mengalihkan pembicaraan.
"Gue kagak bisa pergi, si king ice mau kesini" Ucapan Sherly membuat Dika sedikit terenyuh.
Biasanya dia selalu gampang kalau di ajak kumpul bareng mereka.Tapi kini, Dika harus puas dengan penolakkan Sherly.
"Owh, dia mau kesini."
"Hooh, emm..sorry ya, bukannya gue gak mau. Tapi.."Sherly tak enak hati.
Indra merangkul pundak Sherly."Gak apa, santei aja.Kita ngerti kok.Emang seharusnya kalian ada waktu berdua."
"Lagian, gue juga ngerasa kasian sama dia. waktu elu koma sampai dinyatakan mati, dia yang terlihat sedih dan kehilangan.Jadi, bersenang-senanglah, oke!"Rangkulan Indra sedikit di goyangkan sambil tersenyum.
Geri dan Dika pun tersenyum walau hatinya sedikit nyeri.
"Kita makan-makan aja sekarang disini, gimana?"Tawaran Sherly menyenangkan mereka bertiga.
"Nah gitu dong, itu yang kita mau.Heheee!" Mereka bertos ria dengan kepalan tangan.
"Ya sudah, yuk kebawah!"Mereka pun melangkah kan kakinya menuruni tangga menuju ruang makan keluarga Sherly.
Disana sudah ada si mommy sedang menyiapkan makanan.
"Eh, kalian mau kemana?jangan bilang mau pamitan sama tante ya.soalnya tante udah nyiapin banyak makanan buat kalian bertiga" Mommy menghampiri mereka.
"Enggak kok tante.Kita..."
"Om kemana, tan?"Tanya mereka setelah mengucapkan terima kasih.
"Pergi ke kantor.Tadi pagi katanya ada meeting sama klien Aldrian dari Swiss"Jawab mommy yang di sambut Oh oleh mereka.
"Ayo makan yang banyak, tante sengaja buatin ini untuk kalian bertiga"Lanjut mommy.
Ketiganya saling tatap dan tersenyum.
"Tanpa di suruh aja kita mau makan.Apalagi disuruh kaya gini, semangat gue.Hehehe" Bisik Geri di telinga Indra dan mereka pun cengengesan.
Sherly menendang kaki keduanya.Ia berbicara lewat gerakkan mata dan bibir.
"Kalau elu mau makan, sebaiknya diem. Soalnya mommy gak suka orang yang makan sambil berisik"Itulah arti dari pergerakan mata dan bibir Sherly yang langsung di pahami keduanya.
Dengan mengangguk, mereka mengerti dan langsung diam.
Dika tertawa kecil yang di tutupi oleh kepalan tangannya."Mau aja di kerjain"
Mereka pun makan dengan diam sampai mommy pun terheran."Tumben sepi, biasanya kan kaya di pasar?"
Keempatnya mendongakkan kepala."Maksud mommy?"Sherly bertanya.
"Iya, kalian kan tukang rusuh.tumben aja pada anteng."Mommy terheran.
"Ini kan lagi makan, tan.Aku takut keselek sendok!"Ucap Geri dengan santai.
"Pfft, gak sekalian lu keselek piringnya?"Cibir Indra dan Dika.
"Asyem lu, dipikir gue kuda lumping yang makan beling"Kata Geri.
"Hahahaaa"Mereka pun tertawa.
"Nah, gitu dong!mommy kan jadi seneng kalau kalian berisik kaya gini.Berasa banget makan barengnya.Dari pada diem, kaya makan sendirian"Si mommy berkata penuh penghayatan.
Mereka pun tersenyum dan melanjutkan makan sambil bercanda ria.
Sementara di rumah kediaman Prasetyo. Zidane terlihat sibuk dengan rancangan bunganya.Ia berusaha menyusun bunganya dengan sebagus mungkin.
"Bunga ini cantik, tapi tetap tak bisa mengalahkan kecantikanmu!"Zidane terkekeh mengatakannya.Ia sendiri tak percaya jika dirinya akan mengatakan itu nanti pada si Machan.
"Aciieeeee, ada yang lagi jatuh cinta nih!" Rian datang dari belakang dengan ledekannya.
__ADS_1
"Heemmh, gunung es sudah mencair, kah?"Ia melangkah mendekat dan duduk di hadapan si king ice.
"Ngapain kamu kesini?"Nada bicara yang seperti biasa, datar dan dingin.
Rian pun memalingkan wajahnya kemudian menoleh lagi ke arahnya."Berubah lah demi kakak ipar, jangan kaku dan dingin begitu!"
"Kenapa?"Tanya Zidane singkat namun tanpa berpaling dari bunga nya.
"Haish, dasar si dingin.pantes aja kakak ipar manggilnya king ice, rupanya dia dingin sama siapa saja!"Batin Rian menatap Zidane yang di dengar olehnya.
"Gak baik menggerutu dalam hati!"Ucapnya cuek sambil menyusun rancangan bunganya.
Rian pun tersentak dengan perkataan Zidane."Hemh, apa kamu mendengar suara hatiku?"Ia sangat penasaran dengan itu.
"Aku gak perduli dengan suara hati kamu!" Jawaban yang tak diinginkan Rian karena ia tak mengerti.
"Aku tadi memang menggerutu dalam hati. Tapi, kenapa kamu tahu?"Ia bertanya dengan serius.
"Hemh"Lagi-lagi jawaban yang tak diinginkan Rian.
"Cih, ya sudah.aku juga gak perduli."Di langkahkan kakinya setelah ia berdiri dan pergi menuju ke pantry.
"Rian!"Panggil Zidane singkat.
Si pemilik nama pun menoleh ke arah si pemanggil.Ia berharap kalau Zidane memberitahukan rahasianya.
"Ambilkan minum!"Perasaan Rian menjadi dongkol dengan perkataan Zidane.
"Gue kira mau ngomong sesuatu, tahu nya malah nyuruh gue ngambil minum.Ckk, dasar tuan muda!"Ia pun melanjutkan langkahnya dan mengambil air teh hangat untuknya.
"Ini, tuan muda!"Ia pun berbalik dan pergi ke pantry lagi dengan kesal.
Zidane tersenyum dengan tingkah Rian.
"Huaahh, selesai juga!"Zidane berdiri dan melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
Rian hanya menatap punggung yang berlalu menjauh dari pandangannya.
"Huuh, dasar Zidane.Dari dulu tetep saja kaya gitu."
Zidane tak perduli dengan cibiran Rian.Ia bergegas kekamar untuk membersihkan dirinya.
Untuk beberapa menit saja Zidane sudah turun lagi dengan berpakaian rapi.
Memakai jaket hitam dan celana panjang senada lengkap dengan sarung tangan.
Di langkahkan kakinya menuju garasi setelah menyambar kunci motor dah helmnya.
"Hei tuan muda, kau mau pergi memakai motor?"Rian yang mengikutinya dan berdiri di depan pilar rumah.
"Kenapa?"Selalu ucapan singkat.
"Ckk, nanya panjang di jawab singkat."Rian berdecak dengan jawaban Zidane.
"Owh, aku tahu.kamu mau ngajakin kakak ipar pergi jalan-jalan pake motor biar bisa pergi berdua saja sambil di peluk dari belakang, iya kan?"Ia berpikiran sendiri.
Zidane malah mengedikkan kedua bahunya sambil menyalakan mesin motor kemudian melajukan dengan perlahan.
"Jaga rumah!"Perintahnya pada Rian yang melongo seketika.
Rian menoleh ke arah Zidane yang sudah melaju dengan motor sportnya.
"Haish, kalau bukan sahabat gue, udah gue tendang, lu!"Ia pun berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Sementara Zidane yang melajukan motornya di jalan beraspal dengan kecepatan tinggi.Ia tak mau datang terlambat ke rumah gadis berisiknya walau semenit saja.
Hatinya sangat senang saat membaca pesan dari Sherly kalau dia tak banyak bertanya malah mengiyakan permintaan Zidane dengan cepat.
Zidane tersenyum sepanjang jalan.Namun senyumnya hilang saat kemacetan terjadi di jalan itu.
Kendaraan berjejer mengantri dan tak bisa bergerak sedikitpun sampai Zidane kesal di buatnya.
"Ada apa sih, kenapa macet sekali?" Gerutunya dengan kesal.
Menunggu dan terus menunggu di sana tanpa pergerakkan sedikit pun.Membuat Zidane sangat geram.
"Aku bisa terlambat datang ke rumah si Machan."Ia pun turun dari motornya dan melangkah maju ke depan.
"Ada apa ini pak, kenapa macet parah sih?" Zidane bertanya kepada supir truk di depannya.
"Itu mas, ada kecelakaan di depan. Seorang pejalan kaki terseret mobil truk pengangkut bahan bangunan sampai beberapa meter dan harus di evakuasi dengan cepat.Tapi, mereka kesusahan."Tutur pak supir itu.
"Yaa Allah, kasihan sekali."Ucapnya simpati.
"Ada jalan lain gak pak untuk keluar dari sini?soalnya aku sedang buru-buru"Zidane berharap mendapat jawaban yang tepat.
Namun ia harus menelan pil pahit saat supir truk bilang jalan lain terhalangi oleh mobil truk yang di depan itu.
Ia terlihat bingung dengan keadaan ini.
Dengan pasrah, Zidane menunggu sampai tim penyelamat mengevakuasi korban kecelakaan itu.
"Mudah-mudahan macetnya tak sampai malem supaya aku bisa secepatnya ke rumah si Machan."Dengan perasaan kesal, ia setia menunggu jalanan yang penuh kendaraan.
__ADS_1
Tapi, keinginan Zidane tak terpenuhi karena kemacetan ini baru berangsur lancar kembali sampai jam tujuh malam dan ia pun akhirnya terlambat datang ke rumah si gadis berisiknya.
Di rumah Grisheld.Sherly yang sedang menunggu kedatangan Zidane pun menjadi kesal.Dia menunggu sampai jam sembilan namun Zidane tak kunjung datang.