
Di sebuah kamar yang besar, seorang gadis sedang memeluk tubuhnya sendiri yang terus bergetar dengan hebat karena ketakutan.
Ia terus mengingat apa yang terjadi kepadanya tadi. Sosok yang di lihatnya tadi masih belum dia percayai.
"Dia bukan manusia ... dia bukan manusia!" Ia terus menggelengkan kepalanya tak percaya akan apa yang di lihatnya barusan.
Saat sedang ketakutan, seseorang mendatanginya.
"Dasar gadis bodoh. Kenapa kau melakukan itu?" Hardik Hendri.
"Kau pikir dirimu itu hebat, hehh?" Lanjutnya lagi.
Namun, si gadis tetap tak menghiraukan ucapan pria di depannya. Dia terus memeluk tubuhnya sambil menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin ... gak mungkin!"
Hendri kesal kepada Prita karena ia terlihat bodoh dengan bersikap seperti itu. "Diam kau, bodoh." Prita tersentak dengan teriakan Hendri.
"Apa kau ini tuli atau bagaimana? Saya kan sudah bilang jangan pernah berniat melukainya, kenapa kau masih mau melakukannya?" Cerca Hendri kepada Prita yang semakin ketakutan.
"A-aku tak tahu kalau dia ... dia ternyata bu-bukan manusia biasa!" Hendri melirik wajah gadis yang mendongakkan kepalanya untuk menatap dirinya.
"Ayahmu saja tidak bisa mengalahkan sosok yang ada di dalam tubuh Sherly. Apalagi kamu yang tak punya kekuatan apapun. Dasar gadis sombong." Prita semakin meringkuk memeluk tubuhnya dan ia meracu tak jelas membuat Hendri kesal.
Melihat Prita yang seperti itu membuat Hendri geram. "Diamlah, kenapa kau terus menerus meracu dan gemetaran? Apa sekarang kau takut padanya?" Prita langsung mendongak mendengar perkataan Hendri.
"Aku tidak takut padanya! Kenapa kau berbicara seperti itu?" Mata Prita membulat.
Hendri tersenyum miring tanda meledek gadis itu. "Jika kau tidak takut padanya, kenapa tadi kau mundur dan gemetaran melihat sosok Sherly yang seperti itu.
Prita terdiam mendengar cibiran Hendri. Memang benar dia sangat berani dan ingin membunuh Sherly dengan tangannya sendiri. Namun, saat dia mengingat sosok dan aura pembunuh dari diri Sherly, nyalinya menciut seketika.
"Dia bukan manusia!" Ucapnya singkat.
Hendri tergelak mendengar ucapan Prita. "Hahaha! Dia memang bukan manusia biasa. Makanya saya menginginkannya. Dan asal kau tahu, Zidane pun sama, dia bukan manusia biasa!"
Ucapan Hendri membuat Prita berdiri seketika. "Apa maksud dari perkataanmu barusan? Apa Zidane juga sama seperti Sherly?"
Hendri menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum ke arah Prita. "Mereka berbeda. Makhluk dalam tubuh Sherly berasal dari alam ghaib dan jika dia diusik, maka dia akan berubah menjadi buas dan tak ada yang bisa mengendalikannya kecuali Zidane. Karena mereka sebenarnya pasangan."
"Pasangan?" Hendri mengangguk dengan pertanyaan Prita.
"Jadi, bagaimana cara kita memisahkannya?" Tanya Prita lagi.
"Satu-satunya cara yaitu membuat Zidane pergi meninggalkannya." Ucap Hendri.
"Bagaimana caranya?" Tanya Prita.
Hendri melirik gadis itu. "Kau pikirkan sendiri caranya. Saya hanya akan fokus pada Sherly. Sedangkan Zidane akan menjadi urusanmu."
"Cih, aku kan tidak tahu cara mengatasi Zidane. Sudah hampir lima tahun aku mengejarnya. Namun, dia tidak mudah tergoda oleh wanita lain selain wanita sialan itu. Bahkan, dia selalu dingin sama siapa saja!" Tutur Prita kesal.
"Hahaha! Jadi, kau mengakui bahwa Sherly lebih hebat darimu!" Tawa Hendri terdengar mengejek.
"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi, jujur aku memang tak bisa menaklukan hati Zidane dan bahkan wanita lain juga sama." Ucap Prita.
"Dia tak mudah tergoda walau banyak wanita yang menyukainya." Lanjut Prita.
"Karisma dan ketampanan Zidane memang lebih mirip kepada saya. Namun, sifat dan sikapnya mirip mas Hery." Prita hanya melengkungkan bibir ke bawah dengan penuturan Hendri.
"Kenapa? Kamu gak percaya?" Tanya Hendri melihat ekspresi wajah Prita.
"Ya, aku percaya." Ucapnya tak perduli.
Ganteng Zidane kemana-mana kalee. Dia itu narsis amat.
πππ
Di tempat lain.
__ADS_1
Di ruangan yang bernuansa putih semua. Seorang gadis sedang terbaring lemah tak berdaya karena kehabisan tenaga. Dia mengerjapkan matanya perlahan menangkap cahaya yang masuk melalui jendela.
"Emh." Dia ingin berdiri namun tertahan oleh sebuah tangan seseorang.
"Kamu mau minum, sayang?" Zidane bertanya dengan lembut.
"Ah iya, aku mau minum." Sherly pun duduk di bantu Zidane.
Setelah minum, dia pun bertanya pada suaminya. "Kenapa aku disini?"
"Apa kamu tidak ingat kejadian semalam?" Zidane balik bertanya.
Sherly tampak berpikir. "Memang, apa yang terjadi semalam?"
Apa dia tidak ingat tentang kejadian semalam? Kalau begitu, ya sudahlah. Biarkan dia melupakan kejadian itu.
Zidane pun mengecup kening istrinya. "Ya sudah, lebih baik kamu istirahat."
"Kita makan dulu ya, sayang. Aku suapin." Lanjut suaminya.
Sherly hanya tersenyum ke arah suaminya. Ia pun membuka mulutnya menerima suapan dari tangan suaminya. Tiba-tiba ...
"Uweeeekkk ... uweeekk! Ukhuk ...ukhuk!" Satu suapan yang masuk kedalam mulutnya harus ia muntahkan kembali.
Perutnya berasa di aduk-aduk sehingga ia tak kuat untuk tidak memuntahkan isi perutnya itu.
Ia pun berlari ke kamar mandi dan memuntahkan kembali isi perutnya namun yang keluar hanya cairan kekuningan.
Zidane mengikuti istrinya yang berlari ke kamar mandi. "Sayang, kamu kenapa?" Wajah cemas terlihat raut wajah tampannya.
"Aku gak tahu. Perut aku gak enak banget, pap!" Suara Sherly tersengal mengatakannya.
"Aku panggil dokter ya." Zidane yang akan melangkah pergi harus kembali masuk karena tarikan tangan istrinya.
"Jangan pergi! Aku gak mau di tinggal." Dia terlihat manja sama suaminya.
"Oh, oke!" Ucap Zidane singkat.
Saat Zidane sedang bergelut dengan pikirannya, seseorang masuk ke dalam ruangan itu.
"Dek, gimana keadaan kamu?" Tanya kak Al dengan cemas.
"Aku baik-baik saja kak."Ucap Sherly dengan tersenyum.
Kak Al mendekat ke arah mereka yang baru keluar dari kamar mandi.
"Syukurlah kalau kamu sudah baik. Tapi, kalian habis ngapain dari kamar mandi barengan?" Tanya kak Al lagi.
"Dia tadi mun ...!"
"Habis pipis." Sherly memotong ucapan Zidane.
Zidane melirik isytrinya yang bersikap cuek.
"Pipis saja di anterin. Dasar lu!" Cibir Aldrian kepada adiknya.
"Kakak sudah baikan?" Tanya Zidane pada kakak iparnya.
"Kamu gak lihat kalau kakak segar gini. Itu tandanya kakak sangat baik." Kata kak Al sambil terkekeh.
"Kata dokter kita boleh pulang hari ini. Yuk, kita pulang!" Ajak kak Al.
"Yeeeaaahhh, kita pulang!" Sherly berjingkrak-jingkrakan seperti anak kecil.
Kedua lelaki tampan itu hanya menyaksikan tingkah Sherly yang lucu seperti bocah.
Mereka pun pulang ke rumah karena dokter sudah mengijinkannya.
__ADS_1
"Eh, gimana dengan kak Hendri? Apa dia baik-baik saja?" Sherly yang tersadar dengan keadaan Hendri saat sudah berada di rumah.
"Dia baik-baik saja. Bahkan sangat baik." Ucap suaminya.
Sherly melirik wajah suaminya. "Maksud kamu, pap?"
"Dia di lindungi roh jahat. Pasti dia sangat baik-baik saja. Kamu gak usah khawatir." Kata Zidane.
"Untuk apa kamu mencemaskannya?" Zidane terlihat kesal.
"Aku kan cuma bertanya, pap. Kenapa kau kesal seperti itu!" Sherly malah terlihat lebih kesal dari suaminya.
Zidane langsung memeluk tubuh istrinya. "Maafin aku, sayang. Ya sudah, kita jangan ngomongin dia lagi ya!"
Sherly tak perduli dengan ucapan suaminya. Dia melangkah pergi meninggalkan suaminya yang masih berada di ruang tengah.
Haish, kenapa sekarang dia ambekan sih? Biasanya kan dia gak pernah marah untuk hal yang sepele.
Wajah kusut Zidane terlihat. Dia melangkah mengikuti istrinya dari belakang. "Sayang, jangan marah dong!"
Sherly melangkah lebih cepat untuk sampai ke kamarnya.
Dia langsung mengunci pintu kamar dan tak membiarkan Zidane masuk sehingga kepala suaminya harus mencium kerasnya pintu.
Dugh
"Aduh, sayang. Kenapa kau tega sekali kepadaku? Keningku sakit karena terbentur pintu!" Rengek Zidane memegangi keningnya yang memerah.
Sedangkan Sherly tak bersuara. Dia memilih diam dan wajahnya terlihat cemas.
"Ada apa denganku?Kenapa hawa tubuhku panas?" Di peganginya seluruh badan mulai dari wajahnya.
"Apa ini? Kenapa ada garis hitam yang keluar dari tubuhku?" Dia pun melangkah dan menghadap cermin.
"Astaga. Apa ini?" Sherly terkejut dengan apa yang ada di tubuhnya.
"Sayang, buka pintunya!" Zidane terus berteriak dan menggedor pintu.
"A-aku ... aku ingin sendiri dulu." Ucapnya berbohong.
"Bagaimana jika si king ice melihat wujudku yang seperti ini?" Dia terlihat frustasi.
"Ya tuhan, gimana ini?"
Sherly langsung terduduk di ujung ranjang besarnya dengan menutup wajah.
Bersambung ...
Entah apa yang terjadi padanya sampai ia menjadi seperti itu.
Sosok Sherly saat ini.
Maaf jika otor upnya lama. Kesibukan di dunia nyata lebih penting ya gengs.
***Otor juga hari ini kedatangan tamu, ceritanyaπ π
Someone spesial gitu.ππππ
Dia jarang pulang soalnya dan harus dapet perhatian lebih dari otor. Hihihiii...
So, maaf banget ya jika tulisan otor juga hari ini singkat banget.
Otor juga punya cerita di apk lain yang harus di up.
Yang belum ke feedback, otor minta maaf yang sebesar-besarnya. Nanti akan aku usahain untuk berkunjung.
__ADS_1
Salam semangat semuanya.
Lup yuh alwaysππππ***