Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Usaha Pengejaran


__ADS_3

Sherly meronta terus dan memohon supaya setan dokter tak menyentuh perutnya dan mengeluarkan janin dari dalam rahimnya.


Ia terus berteriak histeris saat tangan kotor mereka menyentuh perutnya dengan pisau bedah di tangannya.


"Sabar nona manis, kau tidak akan merasakan sakit. Karena, aku bisa membuatmu tertidur pulas dengan obat ini." Sebuah suntikan diacungkan ke arah Sherly dengan jarum yang cukup panjang.


"Tidak ... jangan. Ku mohon King ice, tolong aku. Selamatkan bayi kita!" Teriak Sherly dengan histeris.


Hendri tergelak mendengar teriakan Sherly yang memanggil suaminya.


"Hahahaaaa. Sayang, kau ini sangat pintar sekali. Mungkinkah si bocah sialan itu langsung datang kemari jika kau panggil?" Tawa jahat Hendri menggema di ruangan yang kecil itu.


"Gue gak perduli. Gue yakin suami gue bakal datang untuk menyelamatkan kami." Ucap Sherly dengan pasti.


"Jika benar dia datang, dia pasti akan terlambat. Karena, perjalanan kesini cukup berbahaya dan dia juga harus menghadapi semua makhluk peliharaanku. Dia akan kewalahan menghadapinya."


"Jika kau ingin bebas, jadilah istri saya seutuhnya dan kita bisa hidup bahagia selamanya serta memiliki bayi kita sendiri. Saya akan membiarkan bayimu hidup dan lahir kedunia yang kejam ini. Bagaimana? Apa kau setuju dengan tawaran yang saya tawarkan ini, sayang?" Tanya Hendri sambil menyeringai.


Hendri melangkah meninggalkan Sherly yang terdiam tanpa mengatakan apapun. Dia hanya ingin menggertaknya supaya menuruti semua keinginannya.


Tangannya melambai menghentikan setan dokter dan suster supaya mengikutinya keluar dari ruangan tersebut.


Sherly mengepalkan tangannya mendengar perkataan penjahat di depannya ini. Ingin rasanya dia menendang wajah si jahat dan membuatnya cacat. Tapi, itu sangat sulit karena tangan dan kakinya terikat oleh rantai sialan ini.


Andaikan sang penguasa bisa hadir dan membantunya. Eh, penguasa. Cincin gue.


Sherly melirik tangan yang terikat dan melihat jari yang terdapat cincin bermata biru miliknya yang di berikan raja Bratawijaya untuknya yang bisa memanggil kekuatan ghaib.


Namun apa yang terjadi? Sherly membelalakan mata saat melihat cincin miliknya hilang begitu saja.


"Kemana cincin gue?" Sherly menjadi bingung dan mengingat kemana perginya itu cincin.


Tapi, dia tak mengingat apapun saat kehilangan cincin itu. Seingatnya, cincin itu tak pernah ia lepas dan Zidane pun tak mempermasalahkan tentang cincin itu.


"Kamu mikirin apa sih, galak?" Alea membuyarkan lamunan Sherly.


"Emm, aku lagi mikirin cincin mata biru milikku. Kemana perginya itu cincin ya? Perasaan, aku tak pernah melepas atau menghilangkannya deh!" Sherly masih kebingungan.


"Kamu ingat-ingat lagi terus. Apa mungkin di kantong celana kamu." Ujar Alea.


"Tidak. Aku tak pernah menaruh benda itu di kantong celana. Cincin itu memiliki aura panas jika hatiku sedang marah. Tapi, aku tak merasakan apa-apa. Aku yakin cincin itu tak ada bersamaku sekarang ini. Jika ada, aku bisa berubah menjadi sosok mengerikan seperti dulu." Jelas Sherly.


"Oh, itu sebabnya keluargamu selalu membuatmu bahagia. Supaya sosok mengerikan dari dalam dirimu tidak keluar?" Sherly mengangguk mengiyakan pertanyaan Alea.


Suara Hendri tiba-tiba mengejutkan mereka. "Apa ini yang kamu cari, sayang?"


Sherly sampai membulatkan matanya menatap cincin bermata biru miliknya kini sudah berada di tangan Hendri.


Alea melirik Sherly yang terkejut dengan cincin mata biru yang di perlihatkan Hendri kepada mereka. Dia yakin jika itu milik Sherly.


"Sejak kapan benda itu ada di tanganmu?" Wajah Sherly memerah menahan amarahnya.


"Sejak kapan ya? Hemmmm, saya juga lupa." Hendri tampak berpikir. Kemudian dia menyeringai menampakkan senyum jahatnya. "Mungkin saat kamu pingsan dan aku mengambilnya." Lanjutnya.


Betapa marahnya Sherly saat ini. Andai saja cincin itu di tangannya, ia akan dengan mudah membuka rantai yang mengikat tangan dan kakinya itu.


Namun, saat ini ia tak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a supaya Zidane segera menyelamatkan mereka dari tempat yang pengap ini.


"Tuanku, sepertinya keponakanmu itu kemari lagi. Dia sekarang menuju kesini." Laporan dari siluman peliharaan Hendri.


"Ternyata dia sangat keras kepala juga. Hemh, bagaimana jika kita kasih dia kejutan yang mungkin akan membuatnya bahagia. Hahaha."


Hendri sudah mempunyai rencana jahat. Ia langsung memerintahkan semua siluman peliharaannya untuk membereskan tempat ini.


"Apa yang kau lakukan, penjahat?" Pertanyaan Alea tak di hiraukan oleh Hendri. Ia terus memejamkan mata dan membacakan mantra pengikat roh. Sampai Alea tak bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


Rantai yang mengikat tangan dan kaki Sherly dilepas satu persatu sebelum di buat pingsan dengan cara yang sama. Yaitu, di tekan di bagian punggungnya yang bertanda bintang oleh tangan Hendri yang memakai cincin mata biru milik Sherly.


Alea menggantikan Sherly dirantai di ranjang tadi dan ia segera membawa Sherly dengan cara menggendongnya.


Sampai Zidane menemukan tempat ini dan Alea yang terikat rantai ghaib Hendri.


Alea menceritakan semua yang di dengar dan dialaminya langsung kepada Zidane.


"Dia memberikan tawaran kepada istrimu. Supaya membiarkan bayimu hidup, Hendri ingin Sherly menikah dengannya dan hidup bersama selamanya." Jelas Alea.


"Apa? Gila ... dia sagat gila."


Dadanya terasa sesak saat mendengar penjelasan Alea tentang yang diinginkan Hendri dari Sherly. Segitu besarnya obsesi tentang sang penguasa sampai dia terus mendesak Sherly supaya menjadi miliknya dan mempunyai keturunan yang bisa membuatnya kuat dan di takuti para makhluk ghaib.


"Ya tuhan, harus kemana lagi aku mencari istriku." Wajah Zidane terlihat frustasi.


Rasanya ingin sekali dia mengobrak-abrik tempat ini. Eh, benar juga. Bagaimana kalau kita obrak-abrik saja tempat ini?


Pikiran Zidane sudah menemukan jalan buntu. Dia sudah tak memikirkan lagi apa yang akan terjadi kepada dirinya asalkan Sherly ketemu.


"Kita hancurkan tempat ini, Alea." Ucap Zidane singkat dan datar.


Alea hanya menatapnya dengan perasaan campur aduk. Tapi, dia mengerti bahwa Zidane pasti sedih dan ingin segera menemukan istrinya.


Dengan mengangguk mengiyakan perkataan Zidane, Alea mulai bersiap. "Baik."


"Kearah mana dia membawa istriku?" Tanya Zidane.


"Emmmm, sana!" Tunjuk Alea setelah ia berpikir sejenak.


"Baik. Bersiaplah, Alea. Kita akan bertarung habis-habisan. Kau tak takut kan?" Kata Zidane sambil mengeluarkan senjatanya.


"Aku sudah mati. Apa lagi yang aku takutkan?" Jawab Alea tersenyum.


"Jangan lupakan aku!" Nania muncul tiba-tiba.


"Aku sedikit tersesat tadi. Maaf ya!" Ia malah cengengesan.


"Sudah, kita jangan ribut lagi. Ayo, cepat kita susul mereka!" Kedua hantu wanita itu langsung mengikuti langkah Zidane.


Zidane memejamkan matanya untuk melihat keadaan sekitar. Saat ia sudah menemukan sesuatu, ia segera berlari menuju arah tersebut. Tanda bulan di keningnya menyala terang saat ia membuka mata setelah terpejam dan membacakan sesuatu.


"Disana, cepat!" Ia berlari sangat kencang menembus kegelapan malam.


Alea dan Nania melayang mengikutinya dari belakang. Keduanya tetap fokus menatap kedepan.


Tiba-tiba


Wuuussshhhh ... cleebb ... brukkk


Salah satu siluman jatuh tersungkur dan seketika lenyap karena tertusuk senjata Zidane. Bambu kuning haur wulung peninggalan ayahnya selalu di bawa Zidane untuk melindunginya dari makhluk ghaib.


Siluman yang lain melihat temannya menjadi debu, mereka pun mengepung Zidane yang hanya seorang diri. Karena, Nania dan Alea berkelahi dengan hantu lainnya.


Amarah Zidane tak terkendali lagi. Ia hanya ingin segera menemukan istrinya dan membawanya pulang kembali serta melenyapkan Hendri selamanya.


Wuuusshhh ... sriiiing ... cleebbb ... bruk.


Satu persatu para siluman itu terjatuh dan berubah menjadi debu. Sampai akhirnya, Zidane mengalahkan semuanya.


"Hah ... hah ...hah." Nafasnya terengah setelah mengalahkan semua makhluk halus yang menghadangnya.


"Semuanya sudah kalah. Kemana lagi kita sekarang?"


Zidane kembali memejamkan mata sampai keluar sinar terang dari tanda bulan di dahinya.

__ADS_1


"Ambil mobil. Dia pergi dengan mobil, cepat!" Zidane berlari untuk mengambil mobil. Namun Alea menghentikannya.


"Aku saja!" Dia pun menghilang dan seketika mobil Zidane sudah berada disana.


"Hebat!" Puji Nania dan Alea tersenyum bangga.


"Ayo cepat!" Zidane memacu kendaraannya mengikuti jalur yang Hendri lalui.


Menembus hutan belantara sampai jalan berbatu. Sepertinya ini jalur yang tak asing buat Zidane.


"Sepertinya aku pernah melewati jalan ini?" Gumam Zidane dan kedua hantu wanita itu hanya meliriknya.


Mobilnya terus melaju dengan cepat mengikuti arah kemana mobil Hendri pergi. Sampai menjelang dini hari, mobil mereka tak berhenti sama sekali.



Jalur yang jarang dilalui orang membuat mobil mereka bebas tanpa hambatan.


"Itu mobilnya sudah dekat. Aku akan menghentikannya."Alea pun menghilang seketika.


"Alea tunggu!" Namun Zidane sudah tak sempat mencegahnya karena hantu wanita itu keburu hilang. "Haish, gak sabaran banget dia."


"Biarkan saja, ganteng. Kita lihat apa yang akan di perbuatnya kepada si jahat itu. Setelah dia terkena cahaya bulan, kekuatannya meningkat dua kali lipat." Tutur Nania.


"Tapi, Hendri itu bukan orang sembarangan. Dia tidak mudah di kalahkan oleh siapapun kecuali tahu kelemahannya." Jelas Zidane.


"Kita tuggu saja dulu. Apa yang akan di perbuat oleh Alea kepadanya." Zidane pun terdiam mendengar perkataan Nania.


Dia harus tetap waspada untuk hal yang tidak pernah di perkirakannya karena Hendri selalu punya kejutan.


Tak berapa lama mobil Hendri oleng ke kanan dan kiri membuat Zidane menjadi cemas seketika.


"Ya tuhan. Apa yang terjadi?"


Tiba-tiba roh Alea terpental kebelakang sampai menabrak mobil Zidane. Untung dia hantu dan bisa menembus kaca mobil.


Bruk


Nania menangkap roh Alea yang terlihat lemas tak bertenaga.


"Apa yang terjadi?" Keduanya nampak cemas melihat Alea yang lemah tak berdaya.


"Di-dia memi-liki cincin ma-ta biru mi-milik istri-mu. Ber-hati-hatilah. Ka-re-na dia bi-sa melaku-kan apa saja." Alea berusaha berbicara.


"Jadi, cincin itu diambil Hendri?" Pertanyaan Zidane diangguki Alea.


"Zi-dane ... ma-afkan aku. A-ku tak bi-sa me-no-long is-trimuuuhh." Seketika roh Alea melebur dan menghilang untuk selamanya.


"Alea!" Keduanya berteriak memanggilnya namun tak bisa mencegah kepergian Alea yang pergi selamanya.


Rohnya hancur berkeping dan mungkin tak bisa berenkarnasi lagi.


Tangan Zidane terkepal dan ia pun menginjak gas mempercepat lajunya kendaraan mengikuti mobil Hendri.


"Awas kau, bajing*n!"


Mobil mereka semakin kencang saling berkejaran menembus gelapnya malam dan jalanan yang terjal serta berbatu.


Bersambung gaess ...


***Maafkan keterlambatan updatenya ya man teman. Tolong dimaklumi keadaan otor yang sekarang ini. Mungkin juga cuaca seperti ini membuat kondisi tubuhku melemah dan harus nengokin dokter lagi dan lagi.


Sebulan sudah aku seperti ini dan itu sangat menggangguku. Namun apalah daya, kita harus tetap mensyukuri apapun yang di berikan tuhan pada kita.


Semoga kalian mengerti keterlambatan update ku ya gengs.

__ADS_1


Terima kasih semua. Lupyuh always😘😘😍***


__ADS_2