
Ketiganya menoleh ke arah Sherly yang menghentikan tangan Hendri untuk melepas ikatan Dika menggunakan pisau.
"Kenapa elu menghentikan dia buat ngelepasin tali ini, beib?" Dika bertanya heran.
"Karena di-dia ... dia!" Mereka semakin penasaran dengan jawaban Sherly.
"Dia apa?" Serempak mereka bertanya.
"Dia harus ngelepasin ikatan gue duluan." Ucap Sherly lantang.
Hendri mengangkat alisnya sebeleh mendengar perkataan Sherly. Sedangkan pasutri itu hanya tersenyum mendengarnya. "Ya elah beib, gue kira apaan."
"Ya sudah kan Hen, lepasin ikatan Sherly aja dulu. Kita setelah dia saja." Kata Dika mengalah.
Hendri berdiri dan menghampiri Sherly.
Kau memang gadis pintar sayang. Tapi kamu gak tahu, kalau saya lebih pintar dari kamu.
Seringai di wajah hendri membuat Sherly tahu jika ada niat tersembunyi di balik senyuman itu.
Cih, gue tahu elu pasti melakukan hal yang di luar pemikiran gue. Lebih baik gue lebih waspada sama dia.
Sherly memutar bola matanya jengah. Ingin sekali dirinya memukul Hendri tepat di wajahnya yang bertopeng kepalsuan itu.
"Ini akan sedikit menyakiti tanganmu, Sher. Maaf ya!" Ucapnya tak enak.
Sherly tahu jika dia hanya berbasa basi. "Tidak apa-apa. Buka saja talinya." Senyuman di bibirnya terpaksa ia lengkungkan.
"Kamu cantik jika tersenyum seperti itu." Pujian Hendri membuat ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Sherly, jangan percaya sama dia. Dia orang jahat." Teriak Nania dari dalam kurungan ghaib Hendri.
"Percuma Nan, dia gak bakal denger. Kurungan ini tak bisa membuat suara kita terdengar keluar." Kata Alea.
Sherly sebenarnya mendengar teriakan keduanya. Namun, dia memilih berpura-pura tak mendengarkannya.
Hendri melirik sekilas tempat dimana Alea dan Nania di kurung olehnya.
Dia pun mulai menggoreskan pisau cutter di tali yang mengikat tangan Sherly dan dengan sengaja sedikit menggoreskan di tangan Sherly sehingga keluarlah darah segar dari goresan itu.
"Akkhhh." Ringisan Sherly terdengar membuat senyum Hendri merekah tapi keempat sahabat yang berbeda alam itu terkejut.
"Sherly." Teriak keempatnya.
"Gadis bodoh. Apa kau baik-baik saja?" Alea dan Nania terlihat cemas.
"Kenapa kamu percaya sama si bajing*n ini sih?" Gerutu kesal keduanya.
"Sherly, elu gak kenapa-kenapa kan?" Dika dan Iren bertanya.
Sherly menoleh ke arah mereka dan tersenyum. "Gak apa-apa kok. Gue baik-baik saja."
"Kau memang gadis yang tangguh dan pemberani, sayang. Saya semakin jatuh cinta sama kamu." Bisik Hendri tersenyum lebar.
"Gue harap itu keluar dari hati terdalam lu, brengs*k." Sherly ikut berbisik dan menekankan setiap kata-katanya.
Sedangkan Hendri hanya tersenyum sambil membuka ikatan Sherly.
Ingin sekali gue tendang orang ini. Ya tuhan, kirimkan dia segera kepadaku. King ice, datanglah!
Teriakan hati Sherly yang tak di dengar siapapun kecuali suaminya jika dirinya dekat atau dalam jarak yang tertentu. Tapi ini, dimana sekarang mereka berada, dia pun tak tahu.
"Apa sakit? Maafin saya ya, Sher. Saya tak bermaksud menyakitimu." Ucap Hendri tak enak.
"Ti-tidak apa-apa. Sudah, gue saja yang buka talinya sendiri." Tolaknya saat tali itu sudah agak terlepas.
Dengan cepat Sherly melepaskan tali yang mengikat tangannya satu persatu.
Setelah lepas, ia buru-buru berdiri dan menghampiri Dika dan Iren untuk melepaskan tali yang mengikat tangan mereka.
"Cepat Sherly, cepat." Ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Elu kenapa? Santai saja bukanya kali, Sher. Jika penjahatnya datang lagi, kan kak Hendri bisa menanganinya. Iya kan, kak?" Hendri pun tersenyum dan mengangguk atas pertanyaan Iren.
Sherly hanya melirik sekilas pada pria jahat di sampingnya dan ia langsung melanjutkan untuk membebaskan sahabatnya dari ikatan.
Setelah keduanya terlepas, Sherly membantu mereka berdiri terutama Dika yang terluka di punggung dan kepala, juga pelipisnya.
"Masih sakit, Dik?" Iren menoleh kearah suaminya dan ia pun terkejut.
"Ya ampun, yank. Punggung, kepala sama wajah kamu berdarah. Kok aku baru ngeh sih!" Tangan Iren mengusap darah dari pelipis Dika.
"Gak apa-apa, sayang. Yang penting kita harus pergi dari tempat ini sekarang juga." Dika tersenyum dan mencium tangan istrinya yang mengusap wajahnya tadi.
"Betul itu. Ayo kita pergi!" Iren mengiyakan perkataan suaminya.
"Gue ada sedikit urusan dulu." Sherly berjalan menghampiri kurungan yang mengurung kedua teman hantunya.
Ia berusaha membuka kurungan itu. Sedangkan Hendri hanya bersidekap dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.
(Mungkin senyumnya pake formalin. Makanya awet)
Seyakin itu kah kamu bisa membuka kurungan ghaib saya? Walau kamu terus mencoba sampai berjam, atau berhari pun tak kan pernah bisa keluarkan mereka.
"Ini kok gak bisa di buka sih?" Sherly masih mencobanya sekuat tenaga.
"Kurungan ini di kasih mantra sama si jahat itu, gadis bodoh. Kau harus membukanya dengan mantra." Nania coba berinteraksi kepada Sherly.
Mantra ... mantra apa yang harus di sebutin? Gue gak tahu nih.
Sherly diam dan tak mengatakan apapun kepada mereka supaya Hendri yakin jika dia tak mendengar ucapan kedua hantu temannya.
Dika dan Iren terheran dengan apa yang di lakukan Sherly. "Elu lagi ngapain sih Sher sama kurungan ayam itu?"
"A-ada sesuatu milik gue di dalam sini." Jawabnya asal.
"Apaan? Gue bantu angkat deh!" Dika menghampiri dan mencoba mengangkat kurungan itu.
"Kok susah diangkat sih, Sher?" Dia masih berusaha membantu Sherly.
"Gue saja sendiri yang bukanya. Elu minggir deh!" Sherly berusaha setenang mungkin.
Wusshhh
Kurungan itu terangkat dan kedua hantu temannya bisa keluar dari sana.
Awalnya Hendri tersenyum saat Sherly tak bisa melakukannya. Namun, senyumnya hilang seketika saat Sherly mengangkat kurungan itu.
Dia bisa melakukannya. Hemm, saya harus bisa membuat dia tunduk dengan cara apapun.
Tangan Hendri terkepal melihat aksi Sherly yang dengan mudah mematahkan mantra buatannya. Dia memikirkan lagi cara untuk menahan Sherly di tempat ini.
"Mana barang punya lu, Sher? Disini gak ada apa-apa?" Dika melongo karena kurungan itu kosong tak ada apapun.
"Iya, gue kira ada disini ternyata salah. Kita pergi, ayo buruan!" Ajak Sherly langsung.
"Oke!" Mereka pun berjalan tertatih utuk keluar dari tempat ini.
Hendri diam tanpa suara mengikuti mereka keluar. Tangannya melambai ke arah makhluk peliharaannya saat makhluk itu akan mencegah kepergian mereka.
Jangan ada yang merusak rencana saya.
Arti dari lambaian tangan Hendri pada makhluk itu.
Bau tanah dan bau amis tercium di mana-mana. Debu yang mengganggu membuat mereka seketika terus bersin karena udara disini juga kotor. Sedikit lagi sampai di pintu keluar, namun dengan cepat Hendri melangkah mendekati Sherly.
"Apa kamu tidak penasaran sama putri kecil temanmu itu?" Sherly sontak memutar kepalanya menoleh pada Hendri.
"Dimana Rani sekarang?" Bisik Sherly.
"Peliharaan saya selalu menjaganya dengan baik. Jadi, kamu jangan khawatir!" Perkataan santai Hendri membuat Sherly tambah kesal.
"Katakan!" Teriakannya mengundang Dika dan Iren menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
"Ada apa sih, beib? Kok elu teriak gitu sama kak Hendri.
"Gu-gue ... gak apa kok."
Gawat kalau mereka tahu dan membuat si Hendri ini marah. Gue harus bersikap baik untuk menjaga keselamatan mereka.
Keduanya mengangguk dan melanjutkan kembali langkahnya.
Cahaya merah yang melingkar di depan adalah pintu keluar dari alam ghaib ini. Dengan menembus itu, mereka bisa keluar dari tempat yang mengerikan tersebut.
"Itu pintu keluarnya. Ayo cepat, kita keluar!" Seru Sherly menyuruh mereka bergegas.
Wush
Iren keluar dari tempat ini. Dika menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya ke arah Sherly.
"Ayo, beib! Kita keluar." Sherly mengangguk dan mengulurkan tangannya.
Namun perkataan Hendri membuat ia terhenti dan menoleh ke arahnya lagi.
"Lihatlah anak manis itu!" Bisikan Hendri mengganggu Sherly untuk melihat ke arah tunjukkan tangan Hendri.
Sherly terkejut karena Rani dalam gendongan nenek tua yang menyeramkan dan anak balita itu menangis terus. Herannya, Dika dan Iren tak mendengar tangisan putri kecilnya.
"Sherly cepat! Cahayanya hampir memudar." Dika terus mengajak Sherly yang termenung karena bingung.
"Gu-gue ...!" Sherly terjatuh dan pingsan seketika setelah tangan Hendri menyentuh punggungnya.
"Sherly." Dika dengan cepat menghampiri namun di cegah Hendri.
"Cepat kalian pergi dari sini. Biar saya yang menolongnya. Pintunya akan segera menghilang. Pastikan kalian tak kembali ke tempat ini." Jelas Hendri sambil mengangkat tubuh Sherly.
"Ayo kak Hen, aku bantu angkat Sherly! Kita keluar sama-sama." Ajak Dika terus.
"Baiklah. Saya akan menggendongnya ke pintu. Ayo!" Hendri berpura-pura berjalan namun sangat pelan.
Dika berjalan duluan dan tubuhnya di ambang pintu cahaya itu. "Ayo kak Hen!"
Namun tak disangka, terjadi guncangan di dalam sana membuat Hendri terjatuh sambil menggendong tubuh Sherly.
"Kak Hendri." Teriak Dika.
"Pergi cepat. Jangan perdulikan kami. Saya akan melindunginya." Perkataan terakhir dari Hendri yang Dika dengar sebelum pintu cahaya menghilang.
"Sherly ...!" Tangan Dika hanya mengambang di udara sebelum tubuhnya benar-benar keluar dari tempat itu.
Pintar sekali manusia ini. Aku harus memikirkan cara lain.
Alea mendorong arwah Nania sampai menembus pintu ghaib yang Hendri ciptakan. Sedangkan dia menemani Sherly di dalam.
"Beritahu kepada si ganteng semuanya." Teriak Alea yang masih sempat di dengar Nania sebelum ia melayang keluar karena dorongan Alea.
"Oh ya tuhan, mereka terjebak lagi. Baiklah. Aku akan menemui si ganteng untuk menyuruhnya segera menolong mereka.
"Sherly ... gimana ini, yank?" Dika bingung karena ia tak bisa mengajaknya keluar.
"Kita beri tahu Zidane saja kalau dia terjebak disini bersama pamannya." Usul Iren.
Ide bagus itu. Dengan cepat Dika mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celana. Ia menekan nomor ponsel Zidane dengan cepat.
Tanpa berlama Zidane menjawab panggilannya dan ia menceritakan kepada Zidane tentang hal yang menimpa Sherly.
Dia langsung mengirimkan alamat tempat ini kepada Zidane sebelum ponsel Dika tiba-tiba hancur seketika.
Praaakkkk
Ponsel Dika tiba-tiba pecah dan hancur lebur.
"Astagfirullah, apa yang terjadi?" Mereka kebingungan.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, sayang. Cepat!" Mereka langsung bergegas pergi dari tempat menakutkan itu tanpa berlama-lama lagi.
__ADS_1
Maafin kita Sher, kita gak nunggu lu keluar. Kak Hendri pasti nolongin lu. Dia kan pamannya si tuan muda.
Pikiran Dika sama halnya dengan pikiran Iren. Mereka lega karena Sherly bersama Hendri. Namun, mereka tidak tahu seberapa berbahayanya orang itu.