Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Di cuekin


__ADS_3

And the gank yang mau mengadakan pesta kecil-kecilan itu malah gak tahu pada kemana.Mereka seperti ngilang gitu saja.


Kal Al yang terkejut akan kedatangan sosok itu pun berteriak histeris.Ia berlari keluar ke arah gerbang basecamp.


Tampak dari kejauhan dua mobil dan satu motor melaju ke arahnya.


"Eh, kak Al sudah di sini?"Tanya pengemudi motor karena mereka yang duluan masuk ke gerbang.


Kak Al yang tadinya ketakutan, berubah menjadi galak.dia langsung mengubah ekspresinya.


"Dasar kalian bocah nakal.Katanya mau ngadain pesta, gue malah di suruh nunggu sendirian di basecamp."Hardik kak Al sambil bertolak pinggang.


"Sorry kak, kita ke rumahnya Geri buat jemput dia.gak gampang lho bujukin ma'e biar ngizinin si Geri ikut."Kata Indra membela diri.


"Iya kak, tadinya ma'e gak ngizinin dia ikut. Untungnya kita udah persiapan bawa dokter Rian.Diizinin deh!"Adik yang katanya kurang asyem itu turun dari mobilnya dengan si Entong dan juga si penerima hadiah pesta.


"Maafin kita ya, kak Al!"Geri tak enak karena membuat kak Al menunggu atas keterlambatan dirinya.


Kal Al pun menatap mereka."Sebenarnya gue ngambek bukan karena kalian terlambat juga, tapi tadi gue ketakutan gara-gara di datengin pocong yang minta tolong"Ingin rasanya kak Al mengatakan itu tapi ia gengsi.


"Hemh, ya sudah.ayo masuk!"Ajak kak Al pada semuanya.


"Ayo dokter Rian, tuan Zidane!"Lanjut kak Al pada kedua tamu undangan.


"Ah tuan Grisheld, anda terlalu sopan. Panggil saja nama.kami lebih muda dari anda."Ucap Zidane sambil tersenyum.


"Kalau gitu, kamu juga jangan panggil tuan dong.panggil Aldrian atau kak Al saja. Biar kita lebih akrab"Tutur kak Al.


"Baiklah, kak Al."Ucap Zidane dan Rian.


"Kalau gitu, kita masuk deh, yuk!"Mereka pun masuk ke dalam untuk menggelar pesta yang katanya kecil-kecilan itu.


Wah, lampunya sudah nyala lagi.mungkin karena banyak orang disini.mudah-mudahan si pocong itu sudah pergi.Batin kak Al yang ragu untuk masuk ke dalam.


Namun, ia sangat terlalu gengsi memperlihatkan ketakutannya.Ia pun tersenyum dan melangkahkan kakinya ke dalam di susul semuanya.


Seluruh ruangan di dekorasi seindah mungkin dan berbagai makanan lezat serta minuman sudah tersedia di meja.


"Kita buka acara ini dengan mengucap basmallah."Kak Al membuka acaranya.


"Bismillahirrohmanirrohim!"Ucap semuanya.


"Kita berkumpul disini untuk mensyukuri kesembuhan dari sahabat kita, yaitu Geriyanto."Lanjut kak Al.


"Sebelumnya, kita berdo'a dulu sesuai kepercayaan masing-masing!"Mereka pun menunduk dan berdo'a.


"Alhamdulillahirobbil a'lamiiin"


Setelah berdo'a, mereka pun melanjutkan acara dengan berbagai macam kegiatan yang cuma mereka saja yang mengerti.


Semua makanan ludes tak tersisa, di lanjutkan dengan gombreng ria.


Gitar yang tadi di pegang kak Al sebelumnya, kini sudah berada di tangan yang tepat.ckk..


🎡🎡🎡


Hei sobat, mulailah menari,


Taburkan rasa cinta untuk hilangkan rasa dahaga.


Hei kawan, mulailah menyanyi,


Dendangkan lagu ini agar cinta tetaplah terjaga.


Rasakan cinta, yang tlah tercipta, antara kita...yeeeaaah.


Satukan jiwa, yang tlah tercipta, antara kita.


Sepenggal lagu kroncong protolnya bondan prakoso fate fade2black pun mengalun.


"Gimana..gimana, ada yang mau nyumbang suara emas juga gak nih?"Tanya kak Al setelah Dika menuntaskan lagunya.


Zidane berdiri dan menghampiri Dika."Boleh ku pinjam gitarnya?"


Mereka menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.Antara gak percaya atau gak perduli.


Dika pun menyerahkan gitarnya ke arah Zidane."Ambilah"


Zidane menerimanya dengan tersennyum. "Tapi jangan di ledekin ya?"Ucap Zidane dan langsung memberikan gitarnya kepada Rian."Sahabat sejati."Ucapnya singkat.


Ih si babang tampan, otor kira mau nyanyi.


Rian bingung karena gitar itu di serahkan kepadanya."Kirain tuan muda mau nyanyi, malah diserahin ke gue lagi.ckk, dasar."Ingin Rian memaki si tuan muda.


Ia tersenyum kikuk saat menerima gitar yang di berikan kepadanya."Ba..baiklah"


Sahabat sejatiku, hilangkan dari ingatanmu, di hari kita saling berbagi.


Dengan kotak sejuta mimpi, aku datang menghampirimu, ku perlihatkan semua hartaku.


Kita slalu berpendapat, kita ini yang terhebat, kesombongan di masa muda yang indah.


Aku raja kau pun raja, aku hitam kau pun hitam.


Arti teman lebih dari sekedar materi.

__ADS_1


Sepenggal lagu Sahabat dari SO7


Mereka semua terlarut dengan nyanyian dari Rian, namun semuanya terhenti saat lampu tiba-tiba mati."Klik"


"Mati lagi?Apa dia kesini lagi?"Tanpa sadar kak Al berbicara.


"Emang tadi lampu mati kak?"Tanya mereka yang di jawab iya oleh kak Al.


"Terus, yang kesini lagi siapa?"Tanya mereka lagi sambil menyalakan lampu emergency.


Kak Al bingung mau menjawab apa, ia tampak gugup untuk menjawab pertanyaan adik-adiknya."Anu..itu..emmmhh?"


Tok..tok..tok..


Suara pintu di ketuk dari luar dengan sangat kencang.


"Siapa yang dateng kesini?apa kita ngundang yang lain lagi?"Tanya Iren.


"Enggak kok, semuanya sudah disini!"Tutur Sherly menatap semuanya.


"Lah itu siapa dong?"Indra berdiri dan melangkah ke arah pintu.


Kak Al yang melihat Indra berjalan ke arah pintu pun langsung mencegahnya, dia takut itu pocong yang tadi."Jangan di buka"Teriak kak Al yang mendapat tatapan dari mereka.


"Kenapa?"Tanya mereka serempak.


"Karena...karena.."Kak Al bingung harus menjawab apa.


Melihat kakaknya kebingungan, Sherly pun menggeser tubuhnya untuk duduk lebih dekat dengan Zidane.


"Ada yang gak beres, suruh si genit buat lihatin siapa yang dateng!"Bisik Sherly pada Zidane saat sudah duduk tepat di sampingnya.


"Hish, kenapa menyuruh ku?aku kan tamu disini.Tuh lihat, dia lagi makan di pojokkan" Zidane ikut berbisik.


"Kalau aku yang berdiri dan menghampiri meja makan, turun lah harkat, derajat, dan martabatku sebagai tuan muda"Lanjutnya masih berbisik.


"Ckk, dasar tuan muda."Cibirnya.


"Ndra, biar gue saja yang buka!"Bukannya memanggil Nania, ia malah berdiri dan akan membuka pintu itu.


Kak Al yang melihat adiknya akan membuka pintu pun ikut berdiri, ia takut kalau Sherly syok dengan penampakan yang ada di depannya.


Ketukkan pintu terus terdengar makin nyaring membuat Sherly kesal.


"Hish, sabar napa sih!"Gerutunya sambil membuka pintu.


Saat pintu di buka."Haaaaiii"Orang itu melambaikan tangan dengan tersenyum ceria.


"Eeh maaf, siapa ya?"Sherly bertanya karena tak mengenali orang tersebut.


"Kenalin, aku Yuli pacarnya Danu!"Wanita itu mengulurkan tangannya yang disambut uluran tangan Sherly.


Sherly nampak bingung."Danu, siapa ya?"


"Danu, pemilik rumah ini!"Tutur wanita itu yang melihat banyak orang di dalam.


"Sayang, aku datang!"Teriaknya sambil nyelonong ke dalam.


Sherly menghentikan wanita itu."Oh maaf mbak, kayaknya mbak salah alamat deh.Ini bukan rumah yang mbak cari, tapi ini tempat kami."Cegah Sherly.


"Kamu bohong, pasti Danu di dalam kan?kamu pasti menyembunyikannya"Ia memaksa terus masuk dan mendorong tubuh Sherly.


"Stop mbak, ini bukan rumahnya Danu.Ini tempat kami.kami sudah tinggal dirumah ini selama dua puluh tahun, dan tidak mengenal yang namanya Danu!"Sherly berubah mengaktifkan mode garangnya.


Wanita itu menjadi takut melihat ekspresi dari gadis di depanya, ia pun akhirnya membuka handphonenya dan melihat pesan dari sang pacar.


"Maaf mbak, rumah ini bernomor tiga delapan kan?"Tanya dia ragu dan takut.


"Nomor tiga delapan di komplek belakang, dari ujung sana belok kiri.Rumah ini bernomor dua delapan."Sherly menarik tangan wanita itu dan menunjukkan nomor rumahnya.


Ia tampak kikuk dengan tingkahnya sendiri.Ia pun meminta maaf pada Sherly dan pergi dari sana setelah berpamitan.


Untung itu orang, bukan pocong itu.Batin kak Al yang merasa lega karena melihat yang mengetuk pintu itu ternyata manusia.


"Huhh, kesel deh.Udah di bilangin masih gak percaya!"Gerutu Sherly yang duduk kembali setelah menutup pintu.


Belum Sherly duduk sempurna, ketukan pintu terdengar lagi membuat ia menoleh kembali ke pintu.


"Haish, seneng banget deh bikin gue kesal!"Ia pun melangkahkan kakinya lagi.


"Gue saja yang buka, beib!"Dika berdiri namun di cegah Sherly.


Kal Aldrian pun ikut berdiri dan memperhatikan tamu yang datang.


"Biarin gue saja, tanggung udah jalan"Dia pun membuka pintu yang terus di ketuk.


Saat pintu terbuka lebar, Sherly harus di buat terkejut karena tamu yang datang itu.


Di depan pintu sudah berdiri sosok lelaki berbalut kain putih yang terikat di bagian kepala, tangan dan kaki.Wajahnya pucat pasi dan lingkaran mata yang hitam serta menakutkan.


"Haaaaaa" "Blugh" Pintu di tutup Sherly dengan kencang sambil berteriak.


"Dukh, aduh"Sosok itu kepentok pintu karena ia mencoba masuk namun Sherly menutup pintu secara langsung.


"Mbaknya, sakit ini"Ia merengek kaya anak kecil saat kepalanya terbentur pintu.

__ADS_1


Sedangkan Sherly, ia berlari dan melompat ke tengah atas meja di tengah mereka.


"Prang.."Semua yang ada diatas meja berjaluhan karena Sherly yang melompat kesana.


"Woi, elu gila apa?kenapa lompat ke meja, bukan ke pelukkan gue?"Dika berdiri dan menarik tubuh Sherly supaya turun.


Diliriknya mulai dari atas sampe bawah."Elu gak kenapa-kenapa kan?"Dika tampak khawatir karena baju Sherly basah dan kotor terkena makanan dan minuman di meja.


"Kenapa sih, lu?"Indra bertanya.


"Gu..gue..itu..anu!"Sherly nampak bingung.


Semua berdiri karena terkejut melihat tingkah Sherly.


Zidane yang melihat itu pun langsung menggerakkan jarinya ke arah Nania.


Nania langsung menghampiri pintu karena mengerti akan perintah Zidane.


Sherly melihat Nania melayang ke arah pintu pun langsung berteriak."Jangan di lihat, disana ada pocong"


Semua menatap ke arah Sherly yang berteriak dengan tangan yang mengambang di udara.


"Pocong?jangan bercanda lu?"Dika terkekeh saat Sherly mengatakannya.


"Itu pasti pocong yang tadi"Penuturan kak Al mendapat tatapan serius dari semuanya.


"Masa sih pocong?"Dika dan Indra saling menatap.


"Gue gak percaya kalau itu pocong.Buktinya, dia bisa ngetuk pintu!"Kata Indra.


"Bener lu, Ndra.gue setuju sama lu.Pocong kan tangan ame kakinye diiket ntuh, lah dia ngetuk pintu pake ape?"Dika memegang dagunya karena penasaran seperti otor.


"Haish, kalian berdua.Ini bukan saatnya mikirin itu, dodol!"Geri berdiri dan mencibir keduanya.


"Yang terpenting sekarang ini, kenapa tuh pocong kagak takut sama kita yang lagi ngumpul gini.bukannya dia bakal ngedatengin orang yang lagi sendirian?"Lanjut Geri.


"Bener juga.lah tuh pocong, mau ngapain ke sini ya?"Iren pun ikut berbicara karena dia pegel diem mulu.


"Coba lihatin lagi sana, tanyain mau apa kesini?"Tutur Dika.


"Elu saja, gue mah ogah.takut bro"Indra mundur.


"Elu tuh cemen banget sih jadi cowok!"Cibir Dika membuat mereka menatap kearahnya.


"Elu berani?"Tatapan mata Sherly langsung tertuju padanya.


Dika yang di tatap Sherly langsung berbinar. Dengan membusungkan dada ia pun berkata. "Tentu dong, gueee...takuuuuuuutt"Ia mundur ke belakang kak Al.


"Huuuucchh, kirain berani!"Cibir mereka semua.


Saat mereka sedang ribut-ribut untuk siapa yang akan melihat sosok itu.Tiba-tiba...


"Haaaaa...Ii..ituuu"Iren menutup matanya dan memeluk tubuh Indra sambil menunjuk ke arah belakang Zidane dan Rian.


Semua menengok ke arah tangan Iren yang menunjuk.


Sudah berdiri sosok pocong di belakang kedua pria tampan itu, membuat mereka semua ketakutan.


"Haaaaaaaa"Teriak mereka kompakan dan saling berpelukkan.


Cuma kak Al dan Zidane yang terlihat kalem, mereka berdua tak bergeming sedikitpun.


Ckk, kak Al bukannya tadi takut?sekarang malah kalem.mungkin karena disini banyak orang kali.hihiii


Pocong itu meloncat-loncat menghampiri mereka sambil menundukkan kepalanya.


"Tolong bukain ikatannya dong!"


"Haaa...Plakk"Rian menepuk kepala pocong itu karena kepala pocong itu tepat di depan wajahnya.


"Aduh, kenapa kalian pada galak sekali sih?" Si pocong itu menggerutu kesal karena dari kepalanya kena pukulan terus.


"Gimana kalau aku geger otak?"Tanya dia yang mendapat tatapan heran dari semuanya.


"Hahh??"Semuanya menatap pocong itu tak percaya.


Kok dia menggerutu kesal sih?


Karena mendapat tatapan aneh dari semuanya, si pocong itu pun merubah ekspresi wajahnya kembali menjadi menakutkan.


"Ekhem...tolong bukain ikatannya dong!"


"Hehh, gue udah gak takut lagi.Cuekin dia, yuk!"Mereka pun berbalik dan membereskan semua yang berantakan di meja.


"Ckk, nyesel gue tadi sudah terkejut sampai lompat ke meja.Bikin baju gue basah dan kotor saja!"Gerutu Sherly yang terlihat cuek.


"Kenapa tadi gue takut saat sendirian?ternyata pocongnya kaya gini, kalau tahu gitu, gue tampol aja tadi!"Kak Al pun terlihat cuek sambil membenahi bangku yang berjatuhan.


"Haish, kenapa tadi gue bilang kagak berani. Ternyata pocongnya kaya gitu!"Dika sama cueknya dan ia pun ikut membantu membereskan semua yang berantakkan.


Semua orang seperti tak perduli dengan sosok menyeramkan yang datang tiba-tiba itu.


Karena merasa di cuekin, pocong itu pun berteriak.


"Maaaaaakkk, aku di anggurin!"Teriaknya dengan kencang membuat semuanya menutup telinga berjamaah.

__ADS_1


》》》》


Masih lanjut ya gengs...


__ADS_2