Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe Siapa dia???


__ADS_3

Setelah drama yang terjadi antara orang tua dari para junior, kini mereka harus diam mendengarkan ceramah pak haji.


Anggap ajalah begitu.


Daddy Hadi datang bersama om Aldrian, opa dari Zyan. Setelah mendapatkan kabar bahwa cucunya telah melakukan tugas mulia, opa dengan segera mengajak om Al untuk mendatangi rumah kediaman Zidane.


Keduanya menjadi khawatir saat tahu Zyan tidur kelelahan sehabis menolong tante hantu untuk menampakkan diri di hadapan semua orang termasuk anaknya.


"Ingat kalian, jika terjadi apa-apa sama cucu-cucu daddy, kalian yang akan daddy kirim ke pulau terpencil!" Ancam daddy Hadi.


"Kalian tahu, di usia anak-anak seperti ini bukan untuk terlibat ke hal yang seperti itu! Mereka harus belajar terlebih dahulu untuk mempersiapkan mental fisik maupun jasmani. Lagi pula, untuk apa mereka mengurusi hal seperti itu? Mereka harus memikirkan masa depan. Apa kalian mengerti?"


Semua tertunduk mendengar ceramah kiayi haji Hadi Prayoga. Memang benar sih, daddy sudah naik haji dua puluh tahun yang lalu dan beliau sering pergi umrah.


"Iya pak haji." Serempak jawaban mereka keluar.


"Sesungguhnya Allah menyukai hambanya yang senang tolong menolong. Tapi, apa kalian sudah mengajari mereka bagaimana cara yang tepat untuk menolong sesama?"


Mereka tetap diam tak berani mendongakkan kepala.


"Kita harus tahu dulu tujuan dari menolong orang lain tersebut. Apa itu kebaikan atau keburukan(kejahatan). Jika itu kebaikan, maka lakukanlah! Namun jika itu kejahatan, hindarilah!"


"Iya pak haji. Tapi, kami tahu kok jika itu untuk hal yang baik." Jawab mereka.


"Tahu darimana? Apa kalian tahu jika hantu wanita itu memang benar-benar baik?" Semua terdiam lagi. "Jika dia berbohong dan ternyata itu setan yang ingin menjerumuskan kita kedalam kesesatan, bagaimana?"


"Tapi ...!"


"Bersyukurlah kalau hantu itu jujur dan bukti nyata kejujurannya ada di depan mata kita. Tiga anak ini adalah bukti nyata jika hantu itu memang meminta pertolongan kita untuk menyelamatkan anaknya. Namun kalau dia berbohong, kalian yang akan rugi. Anak-anak kalian bagaimana nasibnya nanti?"


"Dadd, mereka kan sudah besar. Jadi, mereka bisa dong jaga diri. Dulu kami juga begitu, iya kan genk?"


"Sherly sayang. Kamu tahu, daddy dari dulu itu waswas sama kamu nak! Daddy ketakutan sendiri saat kamu pergi untuk mengurus kasus seperti itu. Tapi, daddy merasa lega saat Zidane ada di sampingmu. Dia menjagamu dengan sangat baik. Tapi, walaupun seperti itu tetap saja ketakutan daddy terus muncul. Apalagi, saat mommy meninggal karena ...!"


Suasana menjadi hening dan terlihat wajah sedih dari semua orang tua.


"Oma meninggal kenapa, opa?"


Mata semua orang tua melirik pemuda yang baru terbangun dengan memberikan pertanyaan yang sulit di jawab.


Tuan Hadi menjadi terkesiap saat cucu kesayangannya bertanya. "Zy ... Zyan sudah bangun?"


Zyan duduk mendekat ke arah kakeknya dengan rasa penasaran. "Oma meninggal karena apa?" Tanya-nya lagi.


"Di ... dia meninggal karena ...!" Bingung harus menjawab apa.


Namun, para junior menatap serius atas jawaban yang akan keluar dari mulut sang kakek.


"Dia meninggal karena sakit, nak! Dokter tak bisa menyelamatkan nyawa oma karena penyakitnya sudah parah." Zidane menjawab pertanyaan putranya.


"Oohhh!" Serempak para junior. "Tapi, apa hubungannya dengan selalu memecahkan kasus kematian orang?" Junior masih tetap tak mengerti.


Karena obrolan sudah mulai memaksa para orang tua untuk menceritakan kejadian masa lalu, dengan cepat Aldrian dan Zidane mengalihkannya.


"Ayo anak-anak, kita makan dulu! Pasti kalian sudah lapar, bukan? Bi Murni akan menyiapkan makanan yang banyak dan enak." Ajak Aldrian.


"Iya. Kita makan dulu. Kasihan mereka. Sepertinya mereka belum makan apapun!"


Semua mata melirik ketiga anak tante hantu yang terdiam memegangi perut.


"Ya ampun. Kita lupa kalau mereka dari tadi belum makan!"


"Iya. Saking tegangnya jadi lupa!"


Para junior dengan segera berdiri dan mengajak ketiga anak tante hantu untuk mengikuti orang tua mereka ke ruang makan.


"Ayo adik-adik, kita makan dulu!"


Ketiganya pun mengikuti langkah junior ke arah ruang makan menyusul para orang tua.

__ADS_1


Tampak bi Murni memasak banyak hari ini. Buktinya, tersedia banyak makanan enak di meja makan.


Seketika, rasa penasaran dengan pertanyaan pun sudah di lupakan. Mereka terbuai dengan kelezatan masakan bi Murni yang masuk ke dalam mulut mereka dengan suapan demi suapan.


"Masakan bi Murni enak banget ya!"


"Mantap banget pokoknya!"


"Rasanya gak kalah dengan masakan restoran!"


Yang di puji hanya nyengir sambil melirik dua orang yang sedang anteng makan dan duduk di sebelah kanan.


"Itu emang masakan restoran. Tuan Zidane sama tuan Aldrian yang memesannya saat tahu masakan bibi gosong karena tadi bibi tiggal ke warung."


Namun dia tak bisa mengungkapkannya, karena sudah kepalang di puji. Malu dong kalau bilang masakan bibi gosong. Heheheee.


"Lain kali masakin ini lagi ya, bi. Sepertinya, Zyan sangat suka. Tuh, dia makan dengan lahap!" Kata Sherly tersenyum.


"Bbb ... baik nyonya!" Jawab bi Murni gagap.


"Maafin bibi nyak! Itu masakan di pesan tuan, bukan masakan bibi. Huhuhuuuu!"


Semua orang makan dengan lahap tanpa memperdulikan perasaan bersalah si bibi.


▪▪▪▪


"Kurang ajar! Kemana anak-anak itu di bawa pergi?" Teriakan menggelegar dari seorang wanita paruh baya membentak ketiga pria berbadan besar.


"Kami tidak tahu, bos! Tapi, sepertinya mereka mengenal ibu anak-anak itu! Apa mungkin mereka kerabat dari ibunya." Jawab salah satunya.


Dahinya mengernyit mendengar jawaban salah satu pria berbadan besar tersebut. "Kerabat? Mana mungkin? Laila tak punya saudara di sini. Kira-kira, siapa mereka?"


Rasa penasaran merasuki dirinya. Diam dan berpikir mungkin jalan keluar baginya.


"Pergi, aku akan bersemedi!" Titahnya kepada ketiga pria berbadan tersebut.


"Baik!" Mereka pun langsung pergi tanpa di minta dua kali.


Di nyalakannya beberapa lilin dan dupa di depan sebuah altar yang sudah ia hias seperti tempat pemujaan.


Wanita itu duduk setelah dia menundukkan tubuhnya tiga kali sambil membacakan sebuah mantra dengan memejamkan matanya.


Seperti sedang berdo'a, mulutnya komat kamit merapalkan bacaan yang entah apa itu karena otor juga gak tahu apa yang di bacanya.


Tiba-tiba, sesosok makhluk halus berwujud lelaki hadir di hadapannya. Lelaki tampan dengan tubuh yang tinggi, gagah, dan berbadan tegap.


"Ada apa kamu memanggilku?" Suara ciri khas bertanya pada wanita tersebut.


Matanya terbuka setelah mendengar suara sosok yang di panggilnya. Senyum pun melebar menatap sosok lelaki makhluk halus tersebut.


"Sayang, aku rindu kamu!" Ucapnya penuh semangat sambil memeluk sosok itu.


Namun bukannya di sambut, wanita itu harus terhempas oleh kekuatannya.


"Singkirkan tanganmu! Mana persembahan yang kau janjikan untukku?" Suaranya semakin meninggi.


"Ma-maafkan aku, sayang! Ketiga anak itu kabur di selamatkan oleh empat anak muda yang entah siapa." Ucapnya cepat.


"Di selamatkan empat anak muda? Siapa mereka?"


"Aku tak tahu. Jika aku tahu, aku akan langsung mengambil kembali mereka dari tangannya." Jawab wanita itu.


Sosok lelaki itu memelototkan mata. "Apa kau tak bisa melakukan hal kecil seperti itu? Walaupun kau tak mengenali mereka, seharusnya kau segera mengambil kembali makananku!" Aura dingin seketika menyelimuti.


"Tapi aku ...!"


Brakkk ... blugh.


"Kau masih gak paham juga, hehh! Aku butuh makananku sekarang juga. Lekas cari mereka!"

__ADS_1


Makhluk halus berwujud lelaki itu terlihat sangat marah membuat si wanita ketakutan.


"Tapi, dimana aku mencari mereka? Tolong kasih aku petunjuk untuk mencari mereka!"


"Baik. Bawa anak buahmu kemari. Aku akan mencari tahu lewat penglihatannya."


Dengan segera, wanita tersebut berlari keluar untuk memanggil anak buahnya yang di suruh untuk menculik ketiga anak Laila.


"Dodo, kemarilah. Ikut aku sekarang!"


Pria berbadan besar anak buah si wanita langsung mengikuti langkah bosnya masuk kedalam ruang semedi.


"Duduklah di sana sambil memejamkan mata!" Perintahnya langsung di turuti.


Dodo pun duduk di depan altar yang di jadikan untuk pemujaan. Walaupun dia penasaran, tapi dia tak berani bertanya apapun dan segera mengikuti perintah si bos.


Wuuuussshhhh ...


Angin dingin meniup dengan kencang menerpa tubuh si pria yang bernama Dodo.


Merinding bulu kuduk Dodo, namun dia tetap memejamkan mata karena titah si bos.


Sosok makhluk halus berwujud lelaki tampan pun muncul kembali di hadapan anak buahnya.


Ceeeesssss


Dingin sekali seperti tersentuh bongkahan es. Itulah yang di rasakan si anak buah di kepalanya.


Dengan menyentuh kepala si anak buah, munculah kejadian tadi siang yang di alami mereka saat mengejar ketiga anak Laila.


Tampak empat anak muda yang terdiri dari dua pemuda tampan dan dua gadis cantik sedang berusaha menghalangi pekerjaan mereka.


"Siapa mereka? Sepertinya aku mengenali pemuda itu! Wajahnya tak asing bagiku." Kata si wanita terus mengamati.


Di tatapnya lekat-lekat ke empat anak muda itu dengan teliti sebelum dia berkata, "Pemuda itu adalah anaknya Zidane dan Sherly!"


"Apa? Bukankah anak itu mati saat kamu ...!"


"Dia ternyata bisa mengelabui kita. Dasar Zidane!" Teriakannya menggelegar.


Si anak buah yang sedari tadi diam dengan memejamkan mata, karena penasaran matanya pun terbuka dan dia sangat terkejut.


"Kyaaa!"


Karena si anak buah telah melihat wujudnya, si lelaki makhluk halus tersebut menjadi marah.


Di cekiknya leher si anak buah dengan menancapkan kuku-kuku panjang di sana. Daya hidupnya seperti di hisap oleh makhluk halus tersebut sampai habis.


"Beraninya kau membuka mata saat aku melakukan penglihatan ghaib!"


"Aaaaakkkkkk ... aakkkk!" Dia tak bisa berkata apapun karena cengkraman yang kuat.


"Kau harus mati!"


Seketika, tubuh si anak buah pun tergeletak dengan hanya menyisakan tulang tengkorak saja.


"Hahahaha. Itulah balasan untukmu jika kamu berani menatapku langsung dengan mata busukmu, bodoh!"


Bukan hal yang aneh bagi si wanita saat melihat kejadian mengerikan itu di depan matanya. Dia terdiam sambil berpikir.


"Apa yang kau pikirkan? Apa kau mulai takut padaku?"


"Tidak! Aku hanya sedang berpikir. Bagaimana cara Sherly dan Zidane menyelamatkan janin yang sudah mati di rahimnya?"


Mereka terdiam memikirkan hal tersebut.


Berbeda dengan otor. Otor malah lagi mikirin mereka itu siapa? Kenapa mereka kenal sama Sherly dan Zidane? Apa jangan-jangan mereka itu ...????


***Dilanjut nanti lagi ya gengs, otor mo semedi dulu untuk cerita besok.

__ADS_1


Perut udah cenat-cenut, pinggang rasanya panas. Maka dari itu, otor mo istirahat dulu ya gengs***.


__ADS_2