Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Kangen kamu


__ADS_3

"Dokter ... dokter!" Teriak Sherly memanggil.


Aldrian menenangkan hati adiknya dengan memegangi pundaknya, "Dek, sabar dulu kenapa? Kita belum tahu kondisi Zidane dengan jelas. Apa dia hilang ingatan atau ...?"


"Sayang, apa kamu tidak ingat siapa aku ini?" Sherly bertanya untuk memastikannya.


Dengan santainya Zidane menjawab, "Aku sangat mengingatmu. Bahkan dalam mimpiku, kamu selalu hadir Ichel."


"Tapi aku ... Zidane, pandang baik-baik. Siapa aku?" Tanya Sherly lagi sambil memegang tangan kanan Zidane.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Pertanyaan konyol." Pandangannya dialihkan ke arah lain.


Tangan Sherly menggoyangkan tangan Zidane supaya dia me.andangnya kembali. "Zidane, siapa aku?"


"Kamu istriku, Ichel." Jawab Zidane santai.


"Kak, panggilkan dokter!" Permintaan Sherly di turuti langsung oleh Aldrian.


Wajah tegang semua orang membuat Zidane tak tahan, terutama istrinya yang sengaja menurunkan tangan Zidane secara paksa.


"Pufff, hahaha. Sayang, kenapa kamu terlihat marah?" Zidane terkekeh dengan ekspresi wajah istrinya.


Sherly memberengut kesal, "Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu?"


"Kamu yang lucu, sayang. Apa yang membuatmu kesal?" Zidane bertanya balik.


"Kenapa kau menyebutkan nama wanita lain saat baru sadar? Apa dia seseorang yang spesial di hidupmu?"


"Nama wanita lain? Tidak, dia bukan wanita lain! Dan ya, dia memang spesial."


"Apa kamu mencintainya?"


"Tentu."


"Apa di cantik?"


"Sangat cantik. Bahkan kalau dia marah dia terlihat lucu."


Sherly semakin geram mendengar penuturan Zidane memuji wanita lain di hadapannya. Aldrian yang sedari tadi menahan amarahnya, kini maju karena sudah tak tahan. Namun, tuan Hadi menahannya kembali.


"Apa kamu ingin melihat wajahnya?"


Gila kali Zidane, masa Sherly harus melihat wajah wanita lain yang di cintainya.


"Tolong ambilkan ponselku!" Walaupun kesal, Sherly tetap melakukannya dan memberikan kepada suaminya. "Lihat, wajahnya selalu terpampang menjadi wallpaper ponselku." Kata Zidane.


Sherly menekan tombol ponsel yang masih terkunci sampai menyala.



"Bukankah ini aku dan kamu?" Zidane tersenyum dengan pertanyaan istrinya.


"Menurutmu?"


"Lalu, nama Ichel?" Sherly masih penasaran.


"Bukankah itu nama panggilanmu saat kita berada di yogyakarta, sayang?" Sherly mengingat apa yang di katakan suaminya.


Dia malah cengengesan setelah mengingat itu dan tertunduk dengan salah tingkah.


"Maaf!"


"Untuk apa?" Tanya Zidane dingin.


"Aku kira kamu hilang ingatan dan mengingat mantan pacarmu."


"Kamu juga mantan pacarku, yang kini berubah menjadi istri dan ibu dari anakku!"


Sherly tampak tersenyum mendengar perkataan Zidane. Namun tidak bagi ketiga orang yang lainnya. Bagaimana mereka menjelaskan kepada pasangan suami istri ini kalau dokter bilang bayi yang di kandung Sherly tak tertolong.


Seorang dokter dan suster berlari tergopoh memasuki ruang perawatan Zidane karena tadi di panggil oleh Aldrian.


"Maaf, apa ada masalah dengan tuan muda?" Tanya dokter tersebut.


Semua menoleh ke arah dokter dan suster yang baru datang. "Ah, tidak dok! Ini hanya salah paham."


"Kami mengira dia hilang ingatan. Maaf dokter, kami merepotkan anda!" Ucap Sherly.

__ADS_1


"Ohh, tenang saja nona muda. Tuan muda tak mengalami amnesia, dia hanya mengalami ...!"


"Dokter, anda boleh pergi!" Potong Aldrian cepat.


Tatapan tajam Aldrian membuat dokter tersebut tertunduk. Dia lupa dan hampir saja membocorkan rahasia kondisi Zidane di hadapan Sherly.


"Kalau begitu, saya permisi!"


Sherly menahan dokter dengan pertanyaan yang mengganggunya dan terlanjur dia dengar tadi. "Tunggu sebentar, dok! Anda bilang tadi Zidane gak amnesia, tapi dia mengalami ... mengalami apa?"


Dokter terperanjat atas pertanyaan yang diajukan Sherly. "Itu ... anu nona, umm!"


Wajahnya terlihat bingung. Apa harus jujur atau berbohong? Tapi, dia memilih selamat walaupun harus berkata jujur atau berbohong.


"Dokter dan suster sangat sibuk, dek. Biarkan dia pergi!"


Sherly dan Zidane melirik Aldrian yang sepertinya berusaha menyembunyikan sesuatu dari mereka.


"Dokter, bagaimana kondisiku saat ini?" Akhirnya Zidane membuka suaranya.


"Tu-tuan muda, i-itu ...!"


"Katakan!" Aura Zidane menjadi dingin seketika.


Dokter memang takut saat melihat tatapan Aldrian yang tajam. Tapi, dia lebih takut melihat wajah marah Zidane.


"Maafkan saya sebelumnya, tuan muda. Sebetulnya, saya tidak bermaksud menyembunyikan ini dari anda. Tapi, saya ...!"


"Katakan!"


"Ko-kondisi anda memang sekarang sudah tidak mengkhawatirkan lagi. Tapi ...!" Sejenak dokter menggantung ucapannya, "tapi, anda mengalami patah tulang lengan dan kaki akibat memaksakan bergerak setelah tertimpa reruntuhan bangunan tua." Jelas dokter.


Zidane membenamkan kepalanya ke bantal sambil memejamkan matanya. Dia sangat terpukul dengan penuturan dokter, begitu juga dengan istrinya.


"Apa aku tidak bisa berjalan lagi?" Zidane bertanya tanpa membuka matanya.


"Tidak, tuan muda. Tentu anda bisa berjalan lagi. Tapi, anda harus bersabar untuk menjalani terapi selama beberapa bulan. Saya yakin, anda bisa sembuh kembali tuan muda!" Kata dokter menyemangati.


Sherly hanya diam dengan tertunduk. Dia tak bisa berkata apa-apa, dan hanya bisa menguatkan dirinya.


Zidane memang sangat terpukul dengan kondisinya saat ini. Ia sempat berpikir akan menghindar dari istrinya. Tapi, mendengar suara hati istrinya itu, nalurinya sebagai suami menyalahkan pikirannya yang sempit.


Di genggamnya tangan Sherly dengan erat dan di cium dengan lembut.


"Kenapa kamu diam, sayang? Apa kamu akan meninggalkanku setelah tahu kalau aku akan lumpuh?"


Sejujurnya, Zidane tak ingin Sherly merasa bersalah atas apa yang menimpa dirinya. Maka dari itu, dia lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan kepada istrinya.


Sherly mendongakkan kepala sambil menggeleng, "tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkanmu walau dalam keadaan apapun."


Zidane tersenyum sambil merentangkan tangan kanannya. "Peluk aku. Biarkan aku merasakan semangatmu di dalam diriku!"


Sherly perlahan berdiri dan membungkukkan badan untuk memeluk suaminya.


"Aku sayang kamu, Zidane. Selamanya!"


Air matanya tak bisa di bendung lagi. Ia terisak di pelukkan suaminya yang sedang menahan tangis karena kesedihan ini.


"Apa kamu tidak keberatan dengan keadaanku yang seperti ini? Aku akan jadi bebanmu, lho! Kamu harus mengantarkanku kemanapun, termasuk ... kekamar mandi." Ucap Zidane terkekeh dengan membisikkan kalimat terakhirnya.


Sherly memukul kecil dada Zidane mendengar kalimat terakhir yang terkesan menggodanya.


"Aww, sayang. Kenapa kau memukulku?" Rengek Zidane.


"Apa kau memukulnya, sayang? Zidane masih sakit." Kata sang ayah yang mendengar menantunya merengek.


"Ti-tidak, dad. Aku hanya mencoba saja. Apa dia masih merasakan sakit jika dadanya kupukul sedikit saja! Hehehe ... maaf!" Lidahnya menjulur ke arah suaminya dengan sengaja.


Kau mempermainkanku, machan? Awas saja nanti jika aku sembuh, kau akan habis.


Aku gak takut! Coba saja.


Mereka saling berbicara lewat kode pandangan mata.


Mereka yang berada disana menjadi merasa di abaikan oleh pasangan suami istri ini.


"Baiklah, kami akan membiarkanmu istirahat! Biar Sherly yang menjagamu disini. Ayo, kakek, daddy, dokter!" Ajak Aldrian kepada mereka.

__ADS_1


Mereka pun keluar dari ruangan Zidane supaya tak mengganggu pasangan yang sedang saling merindukan.


Ku kira Zidane akan mengamuk setelah mendengar kondisinya yang seperti itu. Tapi ternyata aku salah, dia lebih tegar dari yang ku bayangkan. Dan Sherly, dia pun tak menangis dengan histeris. Mungkin, dia malah merasa bersalah atas kondisi suaminya. Semoga mereka benar-benar tegar di luar dan dalam.


Aldrian menutup pintu setelah memandang keduanya.


Sepeninggalan semuanya, Zidane termenung menatap istrinya yang tertunduk sambil mengatakan, "Maafkan aku!"


"Untuk apa?"


"Kalau aku bisa melawannya, mungkin kamu tidak perlu mencariku untuk menyelamatkanku, dan kau pun tak akan celaka." Rasa bersalah Sherly tak bisa di sembunyikan.


Zidane mencium tangan istrinya sambil tersenyum. "Kamu adalah tanggung jawabku, sayang. Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu melindungimu!"


"Tapi, jika waktu itu aku menunggumu untuk meminta izin kalau aku akan pergi, mungkin ini semua gak akan pernah terjadi. Aku yang salah, hiks ... hiks!"


"Jangan menyalahkan dirimu, sayang. Itu sudah berlalu dan jadikan semua ini pelajaran untukmu kedepannya. Jangan pernah pergi jika suamimu tidak ada di rumah, atau jika kamu belum mendapatkan izin dari suami!" Nasihat Zidane.


Sherly malah menangis dengan kencang. "Huaaa ... huhuhuuuu ... aku minta maaf! Aku salah."


Zidane hanya tersenyum, kemudian memeluk istrinya yang sedang menangis seperti anak kecil yang melakukan kesalahan kepada orang tuanya.


"Ceup ... ceup ... sudah ... sudah, jangan nangis lagi ah. Jelek tahu. Lagipula, suamimu ini akan sembuh dan bisa berjalan lagi kok! Jadi, jangan nangis lagi oke!"


Sherly mengeratkan pelukkannya kepada suaminya. "Kenapa kamu sangat baik? Kamu gak pernah menyalahkanku, atau memarahiku seperti dulu saat kita bertemu!"


"Dulu kamu kan belum menjadi siapa-siapa aku. Jadi, wajarlah jika aku marah kepadamu. Tapi, dari dulu kan aku gak pernah marah yang berlebihan kepadamu walaupun kamu itu menyebalkan." Kata Zidane mengingat pertemuan pertama mereka.


Sherly mengerucutkan bibirnya membuat Zidane gemash. "Kenapa bibir kamu seperti itu? Apa ingin aku gigit, hehh?"


"Hei, kamu lagi sakit. Jadi jangan macam-macam ya!"


Zidane menarik tubuh istrinya lebih dekat dan berbisik di telinganya. "Yang sakit tangan kiri dan kakiku saja. Yang lain normal dan sehat serta kuat. Apa kamu ingin mencobanya?"


Wajah Sherly merona mendengar perkataan suaminya yang sengaja menggodanya. "Minggir ah. Kamu jangan coba-coba meng ... hmpp."


Sherly tak bisa berkata apa-apa lagi karena bibirnya sudah di bungkam oleh Zidane. Lama sekali bibir mereka saling bertautan karena saling merindukan. Sampai perlahan saling melepaskan.


"Aku kangen banget sama kamu. Sangat ... sangat merindukanmu!" Cup ... Zidane kembali mencium kening istrinya dengan lembut.


"Aku juga!" Senyum Sherly sangat manis dan ia membalas pelukan suaminya.


Mereka pun berpelukkan saling menumpahkan rasa rindu yang sudah lama tertahankan.




Hendri sudah di makamkan dari kemarin siang. Tapi, hati Aldrian tak tenang sedikitpun. Entah apa yang membuat hati Aldrian tak tenang seperti itu. Padahal, semuanya sudah berlalu.


Saat Aldrian melewati sebuah ruangan di rumah sakit tempat mereka di rawat, tanpa sengaja ekor matanya menangkap bayangan seseorang sedang berdiri di ujung lorong dan memperhatikannya.


"Ada seseorang disana. Sepertinya dia memperhatikanku. Siapa dia?"


Kepala Al memutar sedikit untuk melihat siapa yang ada di sana.Namun, tak ada satupun orang yang berdiri ataupun melintas di lorong sepi itu.


"Mungkin halusinasiku saja. Ah, aku terlalu lelah sampai mbayangkan ada seseorang yang memperhatikanku dari kejauhan."


Kakinya pun melangkah meninggalkan tempat itu dan menyusul ayahnya untuk mengurus biaya perawatan mereka selama di rawat di rumah sakit ini.


Seseorang keluar dari balik tembok setelah Aldrian pergi. Senyumnya menyeringai penuh kebencian.


"Kalian tidak akan merasakan kebahagiaan dan hidup tenang setelah ini. Semua orang akan mendapatkan balasan atas perbuatan yang telah di lakukan. Tunggu saja!"


Dia pun melangkah pergi entah kemana.


☆☆☆


Siapa sih dia? Hemh, penasaran nih.


Apa Hendri hidup lagi? Ataukah ...


Pantengin terus gaess, biar kalian gak ketinggalan.


Terima kasih atas dukungannya.😘😘😘


Lien machan

__ADS_1


__ADS_2