Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
3G atau 4G


__ADS_3

"Hoaaammh, kok gue bisa ketiduran di sini sih?"Nania mengerjapkan matanya melihat sekeliling ruangan yang sepi.


"Aku masih berada di kantor si ganteng ternyata!"Ia melayang sambil melihat-lihat seisi ruangan itu.


"Haish, dia tidak membangunkan ku rupanya. Hemh, lebih baik aku segera pulang ke rumah si ganteng deh!"Nania pun melayang menyusuri jalan menuju rumah Zidane.


Sesampainya di sana, ia melihat rumah yang sudah sunyi senyap karena ini sudah larut malam.


"Mungkin si ganteng udah tidur kali!"Ia pun masuk dengan cara menembus pintu.


Duk..Aduh..Ia kepentok pintu yang tak bisa ia tembus,


"Kok gak bisa tembus?"Ia pun mencoba melewati jendela namun tetap tak bisa.


Tak kehabisan akal, ia pun melayang dan mencoba masuk melalui jendela kamar Zidane namun tetap tak bisa.


"Haish, kenapa gak bisa masuk?seperti ada kekuatan yang menghalangiku untuk masuk ke dalam rumah si ganteng.tapi apa ya?"Ia Tampak berpikir dengan keras.


"Ganteng, yuhuuuu, buka pintunya dong!"Ia mencoba menggedor kaca jenda di balkon Zidane namun ia malah terpental.


"Aaaaaaaaaa"Tubuhnya terlempar jauhdan jatuh tersungkur ke tanah.


Nania mencoba berdiri dan memperhatikan sekeliling rumah Zidane, dari sini nampak tak ada keanehan apapun.Tapi, saat Nania menyentuh pintu, jendela, tembok, atap, atau apa pun itu yang ada di rumah Zidane supaya dia masuk ke dalam, namun seketika ia akan terpenyal jauh seperti ada yang mendorong dan melemparnya ke bawah.


"Ada apa ini sebenarnya?gak mungkin si ganteng menaruh jimat di sekelilung rumahnya dan tak membiarkanku masuk.


Nania mencoba lagi dan lagi sampai ia lelah.


"Haaaa, gue capek.Lebih baik ke rumah si galak aja deh!"Ia pun melayang menuju rumah Sherly dan langsung menembus ke jendela kamar gadis itu.


Sampai Sherly menemukannya sedang duduk cemberut dan mengejutkan gadis itu.


▪▪▪▪▪


"Owh, gitu ceritanya?"Zidane menyimak cerita Nania yang protes karena tak bisa masuk ke rumahnya.


"Aku juga gak tahu, tapi aku gak memasang pelindung apapun di rumah."Tutur Zidane.


"Tapi itu aneh tahu, kenapa cuma ke rumah lu doang yang gak bisa tembus, sedangkan ke rumah gue dia keluar masuk, biasa saja tuh!" Kata Sherly ikut memikirkannya.


"Iya, betul kata si galak.aneh tahu ih, kaya dilindungi jimat gitu, sampai aku kepental jauh"Tutur Nania.


"Kita perlu selidiki tuh, barang kali aja ada sesuatu yang tak sengaja terpasang di dinding rumah lu sampai si genit gak bisa masuk!"Tutur Sherly.


Zidane pun memikirkannya, ia mengangguk.


"Oke, kita selidiki ini setelah semua selesai."


"Yuk, kita kembali ke butiq, takutnya kakak ipar kamu sudah datang!"Ajak Zidane.


"Baiklah, lets go Tim 3G"Seru Nania.


Zidane dan Sherly saling memandang tak mengerti."Apa itu 3G?"


"Ckk, yaelah.masa gitu saja tak tahu."Cibir Nania.


"3G itu, Ganteng, Galak, dan Genit"Tutur Nania sambil menunjuk personil 3G itu satu persatu termasuk dirinya.


"Jhaa..dia mengaku kalau dirinya genit."Cibir Sherly yang menertawakannya.


"Gak apa-apa lah, biar pas Tim kita ini jadi 3G.lagi pula, kamu selalu manggil aku si genit kan?ya sudah, kita manfaatin saja nama panggilan kita masing-masing"Jelas Nania yang di acungi jempol oleh Zidane.


"Cih, dia setuju lagi"Sherly mencibir Zidane.


"Eh, ada satu lagi personil kita kagak kesebut ya?"Nania mengetuk-ngetuk dagunya.


"Siapa?"Tanya keduanya kompakkan. Cieelaahhh..


Nania berpikir keras, dan ia pun sudah mengetahuinya."Aha, si dokter gila.kita melupakannya."


"Rian maksud lu?"Tanya Sherly.


"Siapa lagi kalau bukan dia"Kata Nania.


Nania pun terdiam beberapa detik."Eemmh, bukan 3G lagi dong ya, tapi 4G."


"Apa lagi itu?"Tanya Zidane.


"4G, Ganteng, Galak, Genit, dan juga Gila." Jelas Nania.


"Perasaan yang paling enak cuma nama panggilan dia doang, si ganteng.pada hal jelek nya gak ketulungan."Sherly terus mencibir Zidane.


Zidane tak perduli dengan cibiran Sherly, dia melangkah setelah membayar bill tagihan makanan mereka.


"Hei, bukannya gue yang harus bayar?"Teriak Sherly pada Zidane yang sudah berlalu.


Zidane menoleh ke belakang, sambil melambaikan tangan supaya Sherly cepat mengikutinya.

__ADS_1


"Hari ini aku yang bayar sebagai perayaan pembentukkan Tim 3G kita, besok baru kamu yang bayar semuanya, oke!"Kata Zidane saat Sherly sudah berjalan di sampingnya.


"Cih, dia senang lagi dengan Tim kaya gitu," Cibir Sherly.


"Hei, 3G atau 4G?"Tanya Sherly lagi.


"Eh iya, 4G."Ralat Zidane.


"Ya tuhan, bersama and the genks tim gue udah cakep di kasih nama MA(My Adventure) berubah jadi tim Sengklek, dan bersama kalian gue ikut jadi bagian tim 4G.hadeuh... kagak enak bener kalau mereka tahu nama panggilannya."Keluhan Sherly membuat Zidane tersenyum.


Zidane berjalan di hapit oleh dua wanita cantik, sayangnya yang satu bisa terlihat dan satunya tidak bisa.


Mereka masuk ke dalam mobil Sherly dan kali ini Zidane yang duduk di kursi kemudi.


"Kok elu yang nyetir sih?"Protes Sherly saat Zidane masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Kenapa?aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku di tanganmu!"Tutur Zidane cuek.


"Cih, tadi aja gue yang bawa.lagi pula si swaety gak bakal nurut sama orang lain!" Gadis itu meremehkan sambil duduk di samping kemudi sedangkan Nania duduk di belakang.


Zidane tak menghiraukan cibiran gadis itu, ia menyalakan mesin sweaty dan melajukannya di jalan beraspal.


"Wah, hebat lu ya?biasanya si sweaty gak mau jalan lho jika bukan gue yang bawa.And the gengs aja suka ngerengek saat bawa si sweaty yang tiba-tiba mogok di jalan!"Puji Sherly.


Zidane terlihat biasa aja dengan pujian gadis di sampingnya, padahal di dalam hati nya sangat senang dia mengakui pendekatannya sama sweaty, si mobil kesayangan Sherly.


"Dia kan calon pemiliknya juga, jadi wajar lah jika si sweaty nurut."Kata Nania.


Sherly dan Zidane melirik ke belakang."Cih"


Mereka pun menatap kembali ke depan.


"Eh, bukan kah itu anggota 4G, si dokter gila?"Nania memperhatikan seseorang yang sedang di pukuli.


"Mana?"Sherly melirik kiri dan kanan.


"Di depan, dodol.bukan di kiri dan kanan" Nania menunjuk orang itu.


"Ah iya, dia si dokter gila"Sherly menunjuk kannya pada Zidane.


Terlihat Rian sedang di keroyok tujuh orang preman jalanan.Entah apa masalahnya sampai dia babak belur seperti itu.


Zidane pun menghentikan sweaty tepat di depan orang yang sedang di keroyok itu.


Ia turun dan menghampiri mereka yang sedang memukuli Rian.


"Lepaskan dia!"Aura dingin seketika menyelimuti hawa di sana.


"Hei nak, jangan ikut campur dengan urusan kita.Jika kau tak ingin bernasib seperti dia?" Ujar salah satu orang yang mengeroyok Rian.


"Benar, pergi lah minum susu dan segera tidur di pelukkan ibumu.Hahahaa.."Cibir mereka.


"Hahahaaa"Mereka menertawakannya.


"Lepaskan dia!"Suara dingin dan datar dengan ekspresi yang menunjukkan kemarahan.


"Sepertinya dia juga minta di beri pelajaran, bang!"Kata salah satunya.


"Hei nak, pergi lah dari sini sebelum kami marah."


"Iya, kami akan melepaskan mu, janji"


"Hei nak, kenapa kau diam saja.Cepat pergi lah sebelum kami benar-benar marah."


"Kami akan mengampuni mu, nak.Tapi kau juga harus memberikan sesuatu pada kami seperti uang dan jam tangan mahal mu itu"


Zidane diam tak bergeming, dia menatap satu per satu preman yang berbadan besar.Ia tak mengatakan sepatah kata pun.


Apalagi mengatakan dialog anak kecil yang tak mau di panggil anak kecil oleh orang dewasa...


Jangan panggil aku anak kecil, paman..aku Zidane namaku Zidane...Mungkin itu yang akan keluar dari mulutnya jika Zidane sama sengkleknya dengan and the genks.


Untungnya dia mah kalem.


Tatapan Zidane menusuk mata mereka bagaikan pisau, pertanda ia sangat marah. Sampai suara Sherly mengalihkan semuanya.


"Dokter Rian, lu gak apa-apa?"Sherly yang ikut turun dan menghampiri mereka membuat mereka menatap gadis itu dengan tatapan nakal mereka.


"Sluurrpp..wah, ternyata pemuda tampan itu membawa gadis cantik"Di elapnya sudut bibir yang menetes kak air liur.Iyuuuuuhhh


"Rugi..rugi, jika kita mengabaikannya."


"Dia ingin memberikan kita pilihan, bang!"


"Iya bang, dia minta kita untuk melepaskan pemuda ini dan menukarnya dengan gadis muda yang cantik dan...aduhaii"


"Seksinya"Mata mereka berbinar menatap kecantikkan gadis itu dengan memandangnya dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Baiklah anak muda, kita setuju untuk melepaskan pemuda ini.Ayo, berikan gadis cantik itu pada kami!"Salah satunya mendekat ke arah Sherly membuat ia mundur seketika.


"Haish, kenapa dia turun sih?"Zidane menghalangi pandangan mereka terhadap Sherly dan tak membiarkan mereka melihat gadis itu.


Sherly memakai dres dengan rok span yang pas di tubuhnya, maka dari itu ia tidak mungkin bergerak bebas jika melawannya.Ia pun mundur ke belakang Zidane.


"Ayo manis, jangan takut.kita akan bersikap baik padamu, sayang."Tangannya terulur ke arah Sherly dan akan menyentuhnya.


Grep..


Tangan itu di tahan oleh Zidane sebelum sampai pada Sherly.


Krekk


"Aaaahhh."Lengkingan suaranya terdengar nyaring karena Zidane mematahkan pergelangan tangannya.


"Sakit bos, dia mematahkan tanganku." Rengekan anak buahnya.


"Matilah kalian, gue aja gak berani menyentuh kakak ipar, apa lagi kalian.Dia tidak akan membiarkan tangan kotor kalian menyentuhnya seujung kuku pun.


Rian terus menatap ke arah mereka.


"Kurang ajar kau anak muda, sebaiknya segera menyerah lah sebelum kami bertindak lebih jauh!"Ancamannya tak mempengaruhi Zidane.Ia malah berdiri dengan santai dan cuek.


"Rian, kemarilah!"Zidane meminta Rian untuk menghampirinya.


Rian pun berdiri dan melangkah namun langsung di tahan oleh dua orang.


"Kalau kau menginginkannya, tukar dengan gadis itu, cepat!"Pemimpinnya berteriak.


"Ayo, kalian paksa gadis itu dan berikan pemuda ini!"Perintahnya.


Anak buahnya ragu, mereka takut bernasib seperti teman mereka itu.


"Kenapa diam saja?cepat"Ia berteriak lagi.


Dengar ragu-ragu, ketiga dari anak buahnya menghampiri Sherly yang berada di belakang Zidane.


"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya seujung kuku pun!"Nada bicara yang dingin itu mengintimidasi.


"Hehh, kalau kau tak ingin dia di sentuh maka segera lah pergi dari sini."Mereka meremehkannya.


"Aku inginkan dia, baru akan pergi dari sini." Kata Zidane menunjuk pemuda yang sudah babak belur itu.


"Pergi lah Zidane, bawa kakak ipar dari sini. gue gak mau kalian bernasib seperti gue."Rian berusaha berkata.


"Tinggalin gue disini, jangan sampai mereka menyentuh kakak ipar"Tutur Rian.


"Kakak ipar?jadi dia istrimu, nak?Hahahaa.. itu lebih bagus lagi.ayo, berikan istrimu pada kami dan kami akan melepaskan saudaramu"


"Iya benar, tidak ada yang salah jika menukar istri sendiri dengan saudara mu, nak" Perkataan mereka langsung memancing kemarahan Zidane.


"Lepaskan dia atau kalian akan menanggung akibatnya!"Tangan Zidane terkepal.


"Aku tidak akan menukar siapa pun dan tak akan meninggalkan siapa pun bersama kalian entah itu saudara atau pun orang lain, apa lagi istriku"Lanjutnya dengan tatapan tajam.


"Lepaskan dia sekarang juga sebelum aku marah!"Ia sampai menggertakkan gigi.


"Hahaaa..dia marah.Ayo, berikan dia pelajaran yang berharga."Ujar salah satunya dan mereka pun maju.


Terjadilah baku hantam antara kelima preman itu dengan Zidane karena yang satu tangannya sudah patah dan bosnya memegang Rian.


Cuma beberapa menit saja mereka sudah berjatuhan di tanah akibat kemarahan Zidane.


"Lepaskan dia sekarang juga!"Zidane menghampiri bosnya.


"Mundur, atau aku tembak"Ia mengancam dengan menodongkan sebuah pistol namun Zidane tetap maju.


"King ice, jangan"Sherly buru-buru mendekat dan memegang lengan Zidane dengan menggelengkan kepalanya.


"Hahaha, ikuti kata istrimu, nak."Ia tertawa meledek Zidane namun ia tak bergeming sedikit pun.


"Baiklah jika itu mau mu."Ia mengarahkan pistol itu pada Zidane dan menarik pelatuknya dan melesatkan peluru ke arah Zidane.


"Jangan"Sherly berbalik memeluk Zidane untuk menghalangi peluru itu.


Dorrrr..


"Tidak!"Zidane dan Rian berteriak.


Bersambung..


***Bagaimana keadaan Sherly?


Apa dia akan mati sambil memeluk Zidane?😢😢😢


Masih berlanjut ya gengs..

__ADS_1


Like, komen, dan vote sebanyaknya supaya otor terus bersemangat.


Have a nice day, Friends.bye..😙😙😙***


__ADS_2