Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
kisah kasih


__ADS_3

"Kumpul di basecamp jam tujuh malam. Kalau gak datang, gue obrak-abrik rumah klean"Isi pesan singkat dari si bos di grup chatt.


"Haish, si bos mau ngebahas apa sih nih?" Tanya Indra pada Geri yang sedang memodifikasi dalaman mobil pelanggan.


"Gue ya gak tahu juga, keleus."Jawab Geri singkat dan tak menoleh padanya.



"Gue tanya si entong aja dah."Indra pun menscrol layar ponsel dan mencari nama si Entong.


"Ntong, lu dimane?"Tanya nya saat sudah di jawab oleh temannya di ujung sana.


"Gue lagi di pasar, nganter si engkong beli burung"Jawab si Entong.


"Burung mulu yang diurusin.tuh aki kagak ngurus yang laen apa ye?"Perkataan Indra membuat si entong terkekeh.


"Elu buka chat gak?"Indra bertanya lagi.


"Kagak, gue terlalu sibuk hanya untuk sekedar buka hape doang!"Jawaban si Entong dengan suara agak keras karena di sana rame.


"Kaya pegawe kantoran aje lu, tong!"Cibir Indra.


"Baca dulu bentaran!"Kata Indra sedikit memaksa.


"Hemh, nemenin si engkong tuh lebih dari pegawe kantor.sibuknya berlipat-lipat, you know."Pembelaan untuk dirinya.


"Bacain aja dah, gue gak sempet buka chatingan"Dika sedikit berteriak.


"Terselah lu dah, yang penting elu bisa dateng ke basecamp jam tujuh malem nanti. Perintah bos di larang ngebantah."Kata Indra.


"Oke!"Cuma itu yang keluar dari bibir si Entong sebelum ia menutup sambungan telponnya.


Sambungan panggilan pun berakhir setelah Dika berkata "Oke" dan Indra menekan warna merah di ponselnya.


"Gimana bro, dia tahu kalau kita di tunggu si bos nanti jam tujuhan?"Tanya Geri yang baru duduk di samping Indra.


"Di bilang oke tanpa mendengar perkataan gue apa kita kesana apa kagak?"Jawab Indra.


"Kebiasaan emang.Dah lah biarin, entar dia juga ngubungin lagi.Yuk buruan beresin kerjaan kita, nih mobil mau diambil sama yang punya!"Geri menarik tangan si Jalu.


"Gue males banget sebenarnya, lagi kangen pengen manja-manjaan sama Iren tapi dianya sibuk mulu.Haish, bikin gue ngedrop saja ih!"Ia mengikuti tarikan tangan Geri.


"Makanya, gue udah bilang jangan pacaran dulu, nanti aja kalau udah nikah baru pacaran sama bini lu.Jadi, elu gak bakal kesiksa sama si rindu.kata si Dilan aja rindu itu berat.Gue mau usul, kenapa kita kagak gotong saja tuh rindu biar gak berat."Geri terus menarik tangan Indra.


"Elu mau gotong si rindu kemana?"Tanya Indra.


"Gue yakin nih ya, kalau elu udah kenal sama yang namanya jatuh cinta, elu bakalan kena siksaan si rindu juga"Tutur Indra.


"Gue mah ogah jatuh cinta, pasti sakit kan yang namanya jatuh itu?"Kata Geri.


"Mending kaya gini aja, jomblo.Hahaha" Lanjutnya sambil tertawa.


"Ckk, nasib jomblo aja lu bangga."Cibir Indra.


"Hei kang, jomblo itu bukan nasib tapi sebuah pilihan. I'am single and happy, gak kayak elu, galon terus kerjanya!"Ledek Geri.


Dengan malas Indra mengerjakan pekerjaan mereka lagi.


"Bodo amat ah,"Katanya sambil mengotak-ngatik body mobil.


"Hahaai, deuh,"Ledek Geri lagi.


Sementara mereka lagi pada sibuk kerja, si Entong sibuk nemenin engkongnya nyari burung, si bos malah lagi sibuk nyari tempat kost baru sahabatnya.


"Elu dimana, dodol.gue udah muter kaya gangsing gini malah gak nemu tempat kost elu sih?"Keluhnya pada sahabatnya.


"Elu dimana sekarang?"Temannya malah balik bertanya.


"Gue nanya, elu malah nanya balik.Kaya si king ice aja lu!"Ia tetap mengeluh.


"Gue di deket perempatan nih!"Lanjutnya.


"Perempatan lampu merah?masih jauh dodol.Maju lagi dikit, entar belok kiri jalan lagi dikit, lalu belok kanan terus lurus aja dikit lagi, turun lalu jalan lurus dikit lagi, nyampe deh!"Panjang lebar kali tinggi penjelasan Iren.


"Gang"Lanjutnya.


"Ckk, kenapa dari tadi elu ngomongnya dikit-dikit mulu nyatanya segitu banyaknya.Haish, elu itu bener-bener kaya ngejelasin rumus." Dia mengeluh lagi.


"Udah ah, gue tunggu aja di jalan depan Alfam*rt deket belokkan kedua. Ogah gue harus pusing mikirin rumus jalanan ke tempat kost elu."Kata Sherly.

__ADS_1


"Gue tanggung lagi di kamar mandi"Jawab Iren dengan cepat.


"Lagi ngapain lu di kamar mandi?awas ya telponan ama gue sambil nyetor angsuran!" Kata Sherly kesal.


"Enak aja, gue ini lagi Men..cu..ci..four..five.." Iren terkekeh sambil membilas cuciannya.


"Itu One..two..three..four..five, dasar lu udah ketularan gesrek kaya si Indra!"Cibirnya.


"Gesrek itu yang buat nempatin belanjaan ya?"Iren berkata sambil berteriak karena sedang mencuci dan panggilan itu ia loudspeaker.


"Itu kresek, kalo gesrek itu hidung lu!"Jawab Sherly yang sama berteriaknya karena dia sedang menyetir.


"Itu pesek, dodol. Gue kira gesrek itu ta* ayam?"Iren terus mengajak bercanda.


"Itu tembelek, katanya"Jawab Sherly.


"Kok katanya?berarti elu gak tahu pasti dong!"Kata Iren.


"Gue cuma denger emaknya Geri suka nyuruh dia buat bersihin tembelek, pas gue lihat apaan itu, eh ternyata si Geri bawa air seember buat nyiram ta* ayam.huuuh, nyesel gue lihatnya"Sherly cemberut yang pasti tak bisa di lihat Iren.


"Eh, kenapa kita ngomongin itu sih?buruan lu kesini, kalau kagak mau gue pecat!"Ancam Sherly yang tersadar dengan obrolan itu.


"Hahahaaa, gara-gara elu sih."Iren malah tertawa.


"Gue jalan sekarang dah"Ia pun membereskan ember dan peralatan lain untuk mencuci.


"Udah kelar nyucinya?cepet amat"Tanya Sherly yang tak percaya.


"Udah dong, nih beres ngejemur juga."Kata Iren sambil berganti pakaian.


"Ya udah, gue tunggu disini.oke!"Perkataan Sherly sebelum ia menutup panggilannya.


Iren pun bergegas keluar kamar kost dan sedikit berlari menuju ke tempat dimana Sherly menjanjikan bertemu.


"Hah..hah..hahh..capek gue"Ia menghampiri temannya itu.


"Makanya, elu nyari tempat kost yang terjangkau kendaraan sih, Ren.biar kita bisa nganter lu."Usul Sherly.


"Gue capek tahu pindah kost mulu, mending disini.deket ke kantor!"Kata Iren cuek.


"Deket dari mana nya?jauh gini elu bilang deket"Kata Sherly.


"Gue kan lewat belakang sana, jadi langsung keluar dari jalan utama, tinggal jalan kaki dikit doang udah nyampe kantor deh!"Iren tersenyum.


"Woy, KDRT nih."Iren mengusap lengannya.


"Lagian elu bikin gue esmosi aja.jadinya gue laper, kan."Kata Sherly sambil berjalan menuju kedai makan.


"Yuk, buruan makan gue laper!"Ajaknya.


"Yeeeah, makan.tahu aja kalau gue lagi laper habis nyuci."Mata Iren berbinar saat memasuki kedai itu.


Di pesannya dua porsi makanan dan dua gelas jus untuk mereka dan dengan cepat mereka habiskan.



"Gue kenyang banget nih."Kata Iren.


"Gue juga Ren.yuk, kita balik ke basecamp!" Ajak Sherly.


"Kagak bisa, gue harus beresin kerjaan malem ini.si bos minta dikirim besok pagi supaya hari senin udah bisa di kejar."Tolak Iren.


"Ah elah, sibuk mulu.ya sudah, gue bayar dulu."Kata Sherly sambil membayar makanan itu.


"Gue balik ya, Ren.bye!"Sherly berpamitan pada Iren dan pergi setelah membayar makanannya.


Iren pun melambaikan tangan ke arah Sherly yang sedang menyalakan mesin mobil dan mulai melajukannya.


"Mbak..mbak, ini ponselnya tertinggal."Si pemilik kedai berlari mengejar Iren yang sudah melangkahkan kakinya ke gang.


"Hahh, ponsel?"Iren menerima ponsel itu yang ternyata milik Sherly.


"Oh ya ampun, ini milik teman saya, pak. Terima kasih!"Ucap Iren pada pemilik kedai.


Ia pun berlari mengejar mobil Sherly namun tak terkejar karena sudah jauh.


"Haish, gimana ini?"Iren menilik ponsel Sherly.


"Nanti aja deh gue balikinnya kalo udah beres kerjaan gue"Ia pun mengantongi ponsel Sherly.

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat, dan ini sudah waktunya mereka berkumpul di basecamp untuk membuka kasus Sevia yang akan di bahas dengan And the genk.


Terlihat sebuah mobil memasuki halaman basecamp di ikuti sebuah motor di belakang.


Mereka turun bersamaan dan saling menegur sapa.


"Hai, apa kabar?"Mereka saling berjabat tangan.


"Baik, terima kasih!"Jawab mereka bersamaan.


Mereka pun masuk dan duduk di sofa di dalam satu ruangan.


"Pada kemana mereka, kok belum pada dateng?"Tanya salah satunya.


"Mungkin lagi di jalan!"Jawab satu nya lagi.


Mereka terlihat canggung saat berdua seperti itu.


"Dimana toiletnya?"Tanya dia singkat.


"Dari sini lurus nanti belok kiri"Jawabnya.


Dia pun melangkah setelah berterima kasih.


Orang itu di tinggalkan sendiri di ruangan itu dengan lamunannya.Sampai suara dering telpon membuyarkan lamunannya.


"Hallo!"Jawabnya saat mengangkat telpon dengan ragu.


".........."


"Apa?"Ia terkejut dengan kabar dari si penelpon.


Tanpa berpikir panjang, ia melangkahkan kakinya dan mengendarai kendaraannya melesat di jalan beraspal dengan kecepatan penuh.


Sesampainya di sana, ia berlari menuju tempat yang di informasikan.


"Dimana dia?"Ia terus berlari menyusuri lorong itu.


"Tuan, dia disini"Kata seseorang.


"Babaskan dia!"


"Minum dulu ini, baru aku akan membebaskannya"Tersenyum ke arahnya.


"Baiklah"Ia pun meminum minuman pemberiannya dan dia terjatuh seketika.


Bruukk


"Kalian??"


Mereka tersenyum jahil dan memapahnya ke sebuah kamar.


"Menyingkirlah dari hadapanku"Bentaknya namun tak dihiraukan oleh kedua orang itu.


"Selamat bersenang-senang tuan muda" Mereka pun meninggalkan mangsanya.


"Kurang ajar, mereka memberiku obat"Ia menekan nomor seseorang.


"Tolong,....."Ucapnya lirih dan terjatuh seketika.


Seorang gadis berlari menuju sebuah club dan ia memeriksa setiap kamar.


Saat mendengar teriakan, ia bergegas menghampiri dan dengan kekuatannya.Ia memukul mereka.


"Kau kenapa?"


"Tolong, mereka memasukkan obat itu." Ucapnya dengan napas yang berat.


Ia pun menyerang gadis itu."Maaf"


Tanpa berkata lagi, terjadilah semua yang tak mereka inginkan.


"Sherly, i love you"Bisiknya lirih sambil menuntaskan hasratnya.


"Hei, pandang aku, lihat mataku, siapa aku?" Kata si gadis denhan berurai air mata.


"Hah, ya tuhan.i'm so sorry."Ucapnya lirih sambil melepaskan pelukkannya.


"Tidak, jangan lepaskan.kamu telah menolongku, maka aku akan menolongmu." Jawab si gadis sambil menahan tubuh si pria.

__ADS_1


"Maaf...maaf"Cuma itu yang keluar dari mulut si pria.


Dan malam itu pun menjadi akhir dari kisah mereka berdua untuk mengakhiri semua kisah yang terjalin tanpa sengaja.


__ADS_2