Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Keputusan orang tua


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Renita Atmaja binti bapak Roni Atmaja dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"Pengucapan tanpa jeda oleh Mahardika.


"Bagaimana para saksi, sah?"Tanya penghulu kepada semua yang hadir untuk menyaksikan ijab qabul mereka.


"Saah!"Serempak mereka menjawab.


"Alhamdulillahirobbila'lamiin!"


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri."


Diciumnya punggung tangan Dika oleh Iren dengan deraian air mata.


Dika bukan tak perduli dengan perasaan Iren dan sahabatnya, terutama Indra.Ia harus berbuat apa.Toh memang ini yang seharusnya di lakukan Dika dari dulu.


Iren di tuntun bundanya untuk duduk di pelaminan dan diikuti Dika yang duduk di sampingnya.


Pernikahan yang harusnya di sambut suka cita, mereka lalui semua dengan tangisan.


"Kamu gak boleh menangis terus, Ren!"Bunda mengusap punggung putri semata wayangnya.


"Tapi bunda, aku beneran gak kuat kaya gini!"Air mata Iren terus membanjiri pipinya.


Sedangkan Dika hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun.Dia hanya bisa menatap semuanya dengan perasaan yang sulit diartikan.


Tamu undangan mulai menyalami kedua pengantin baru itu.Melihat Iren yang menangis terus, mereka bisa menyimpulkan sendiri bahwa ini perpisahan pasangan I&I.


Karena, disisi lain mereka melihat Indra dan Geri sedang duduk bersama pasangan baru yang sudah sedikit basi, yaitu si King ice dan si Machan nya.


"Pacaran udah lama, tahunya nikah sama yang lain."


"Kasihan banget ya Indra.Harus di tinggal menikah dan parahnya, selingkuh sama sahabatnya sendiri."


"Kalau tahu mau di tinggalin, gue rebut aja tuh si Indra."


"Si Iren beruntung banget.Lepas dari Indra nikah sama Dika.Sama-sama cogan, bok!"


Cibiran dari para tamu undangan yang kebanyakan memang teman sekolahnya dulu dan teman kerjanya.


Namun, mereka tak tahu tentang kehamilan Renita.Syukurlah.Kalau tidak, mungkin mereka akan menggunjing gadis malang itu.


"Bro, selamat ya!"Geri memeluk Dika dan memberikan selamat kepadanya.


"Selamat menempuh hidup baru, Ren.Yang akur lu sama dia.Jangan berantem mulu kaya dulu."Lanjut Geri terkekeh.


"Thanks, Ger."Ucap Dika singkat.Sedangkan Iren terus menunduk.


"Elu gak mau peluk gue, Ren?"Canda Geri.


Iren mendongakkan kepalanya dan tersenyum. "Apaan sih lu, Ger?"


"Eh, biasanya kan elu gak malu meluk gue. Apa karena sekarang sudah ada yang punya?"Ledeknya lagi.


Iren langsung memeluk Geri."Terima kasih ya, Ger.Elu selalu membuat gue tersenyum."


"Itu sudah menjadi tugas gue untuk membuat kalian bahagia."Geri mencium pucuk kepala Iren."Semoga kalian menjadi pasangan teromantis di dunia.Hehehe...!"Candaan Geri mendapat cubitan di pinggang oleh Iren.


"Selamat untuk kalian, Dika dan Iren.Semoga pernikahan kalian langgeng!"Zidane mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Dika dengan memeluk tubuh Zidane."Thank you, bro!"


Sherly muncul dari belakang Zidane.Ia menatap keduanya dengan tersenyum.


Renita langsung memeluk Sherly dengan erat."Sher, apa gue bisa menjalani ini?"Ia terisak di pelukan Sherly.


"Hei...hei...Jangan ngomong gitu.Gue yakin dia bakal bisa ngebahagiain kalian berdua." Tutur Sherly mengelus lengan Iren.


"Tapi, gue...?"Di liriknya Indra yang berdiri di belakang Sherly dan tak memandang ke arah mereka.Dia tampak mengobrol dengan kedua orang tua Iren sampai terlihat menangis di peluk ayah Iren.


Orang tua Iren sudah menganggap Indra seperti putra mereka.Keduanya berharap lebih, namun apa lah daya dengan takdir yang harus memisahkan pasangan I&I, termasuk otor.Maaf ya...Hihii.


Keempatnya pun menoleh ke arah tatapan mata Iren yang memandang Indra.


Sherly mengelus bahu Iren."Gue minta supaya elu merelakan dia.Elu harus kuat dan jangan menangis di hadapannya."


"Biarkan dia melanjutkan hidupnya.Kasihan dia!"Lanjut Sherly.


Iren mengangguk."Gue akan berusaha."


"Elu gak mau meluk gue, Dik?"Tanya Sherly dengan merentangkan tangannya.


Dika menoleh ke arah Zidane yang mengangguk ragu.Dika langsung mendekap tubuh Sherly dengan erat.


"Beib, maafin gue atas segala kesalahan yang gue lakuin ke kalian.Gue merasa bersalah banget."Tak terasa air matanya menetes.


"Sudah, lupain semuanya.Yang penting kan sekarang elu udah mempertanggung jawabkan perbuatan lu itu!"Sherly mengelus punggung Dika.


Tangan Zidane terulur dan menarik tubuh istrinya."Sudah cukup, jangan lama-lama!"Ketus Zidane.


Keempatnya menoleh ke Arah Zidane dan tertawa kecil."Dasar posesif!"Cibir keempatnya.


Saat kelima orang itu sedang bercanda dan tertawa.Indra tampak melangkah menghampiri sahabatnya.


"Hai, guys."Di tepuknya bahu Geri dan Sherly.


"Hai, selamat ya buat kalian berdua!"Uluran tangan Indra menggantung di udara tanpa di sambut kedua pengantin baru itu.


Dika maju tanpa menyambut uluran tangan Indra.Dia langsung memeluk tubuh Indra.


"Sorry, bro!"Cuma kata itu yang keluar dari mulut Dika sambil memeluk Indra dengan erat.

__ADS_1


Indra menepuk punggung Dika pertanda ia merelakan semuanya."Sudah lah, Dik."


Cukup lama Indra dan Dika berpelukkan. Dika sadar jika hati Indra saat ini pasti sangat sakit. Namun, ia terlihat tegar dan tenang menghadapi keadaan seperti ini.


Geri ikut menepuk punggung Dika karena melihat air mata menetes membasahi pipinya.


"Jangan nangis lagi dong, Dik.malu tahu!" Indra dan Geri menepuk punggung Dika.


"Iya nih, dasar lu.Si Indra kan udah maafin elu."Sherly menepuk lengan Dika.


"Gue nangis bukan karena takut Indra gak maafin gue. Tapi ... kaki gue ke injek sama mereka. Sakit tahu!"Indra dan Geri otomatis menunduk ke bawah dan ternyata kedua kaki Dika tanpa sengaja terinjak oleh mereka.


"Ah, hehehe....!"Keduanya cengengesan dan langsung mundur seketika.


"Asyem lu berdua.Kalau kaki gue lecet dan gak bisa di pake jalan, tanggung jawab lu." Perkataan Dika cuma di tanggapi tertawaan mereka.


"Hadeuh, lagi sedih-sedih malah jadi tertawa!"Zidane ikut terkekeh melihat kelima sahabat sejati itu.


Indra menoleh pada gadis yang di cintainya dengan tersenyum.


Seketika, runtuh sudah pertahanan Iren.Ia berjanji kepada Sherly tak akan menangis di depan Indra.Namun apa lah daya, melihat Indra yang tersenyum padanya membuat Iren merasa bersalah kepada pemuda setia yang baik seperti Indra.


"Maafin aku, Ay.Maaf...hiks...hiks...huhuu!" Iren menangis di pelukan Indra.


"Hei, masa penganten nangis?entar make up nya luntur lho!"Indra tertawa kecil meledek Iren.


Iren malah semakin menangis tersedu.


"Hei, jangan nangis lagi dong. Entar dikiranya di apa-apain lagi!"Indra berusaha mendiamkan Iren yang menangis dengan mengusap air matanya.


Mereka terlihat mengobrol sambil bercanda.


"Siapa yang mau menyumbangkan suara emasnya untuk para tamu undangan?" MC berbicara di atas panggung.


"Tuh Dik, elu biasanya yang nyanyi. suara elu kan paling bagus." Kata Geri menyenggol lengan Dika.


Dika tersenyum menanggapinya. Ia melangkah ke atas panggung dan mengambil mix dari tangan MC juga mengambil gitar.


"Untuk yang suka aja!"Ia pun mulai memetik gitarnya.


Lagu Armada. "Awas jatuh cinta"


Awas nanti jatuh cinta,


Cinta kepada diriku,


Jangan-jangan ku jodohmu.


Kamu terlalu membenci,


Membenci diriku ini,


Di lanjut sepenggal lagu. "Wanita paling bahagia"


Kan kusayangi kau sampai akhir dunia,


Dan ku jadikan kamu wanita,


Paling bahagia di seluruh dunia,


Karena kamu lah satu satunya.


Lagu yang melambangkan hati Dika saat ini terdengar mengalun merdu.


Mungkin, Dika sudah menerima Iren dengan sepenuh hati dan ia pun ingin cintanya berbalas. Tidak seperti kepada Sherly yang cintanya bertepuk sebelah kaki. Eh, tangan.


Semua mata menatap ke arah Dika dengan terkagum.Suara Dika memang sangat bagus dan merdu. Sampai mereka terpana dengan penampilan Dika saat ini.


Prok...prok...prok


Semua bertepuk tangan mendengar suara Dika. Begitu juga dengan Iren yang menatapnya.


Melihat Iren yang menatap Dika dengan tanpa berkedip, membuat hati Indra terasa sakit.


Geri mengerti akan perasaan sahabatnya. Ia pun menepuk punggung Indra pelan."Eh bro, Tape ketan neng jero cangkir, wis dadi mantan yo ra sah dipikir." Ledek Geri dengan terkekeh.


Indra menoleh ke arah Geri. "Apaan sih lu, gak usah ngeledekin gue lah."


"Elu berani naik panggung, gak?"Tanya Sherly pada Indra.


"Gue takut salah lagu. Masa acara ngantenan si Dika jadi konser tunggal gue?"Indra yang terlalu malas untuk bernyanyi. karena, dirinya tak sepandai Dika dalam bernyanyi.


"Cih, lagaan elu, Jalu!"Ledek Sherly dan Geri. Sedangkan Zidane cuma menyimak pembicaraan mereka.


"Kalau elu berani nyanyi, gue kasih bonus. Liburan ke Belanda bareng kita besok."Tawar Sherly kepada Indra dan mendapat pelototan Zidane.


Apa-apaan dia.Masa honeymoon bawa temennya?Ckk, dasar si Machan.


Zidane kesal atas penawaran istri berisiknya pada sahabat kecilnya itu.


"Oke lah, jika kalian memaksa." Dilangkahkan kaki Indra menuju panggung.


"Gue boleh nyanyi?"Dika menatap Indra dengan pertanyaannya.


Ia pun tersenyum dan menyerahkan mix yang diserahkan kepada Indra.


"Chek... Chekk...!"Gaya Indra dengan mengetuk-ngetuk mix.

__ADS_1


"Gue gak tahu lagu yang bakal gue bawain ini cocok atau enggak. Yang pasti, ini permintaan dari si bos And the genk." Di tunjuknya Sherly yang sedang makan siomay sampai ia keselek karena semua mata tertuju padanya.


"Ukhuk...ukhuk..., kurang ajar tuh bocah. Pake alesan gue segala."Ia terbatuk setelah menelan bulat-bulat potongan pare yang ada di mangkuk siomay nya.


"Kalau perasaan lagi gak enak, pare aja terasa pahit!"Lanjutnya sambil meminum air mineral yang di berikan suaminya.


"Elu jangan malu-maluin gue dong bos. Rasa pare dari dulu emang pahit, bukan karena perasaan lu yang lagi gak enak." Protes Geri.


"Tapi, gue juga sempet berpikir sih, mungkin tuh petani gagal panen kali. Masa, semua pare rasanya pahit?" Lanjutnya.


"Elu itu Ger, gue kira gak bakal sengklek kaya bos elu. Tahunya, masih sama.Hahaha."Ledek Iren.


Mereka malah tertawa dan tak mendengarkan penyanyi dadakan yang sedang melakukan konser pertamanya.


Sepenggal lagu Patah hati dari Dadali, mengalun merdu dari bibir kang Jalu.


Betapa perih rasa hati ini,


Inikah yang namanya patah hati,


Ku hanya bisa menangis sedih,


Tuk bisa ikhlaskan kau pergi.


Semua penonton terdiam bahkan ikut menitikkan air matanya. Dalamnya perasaan Indra kepada Iren dan sekarang harus hancur begitu saja.


Setelah menyumbangkan suara emasnya, Indra turun dari panggung kemudian melangkah pergi dari acara pernikahan mantan pacar dan sahabatnya itu.


Jika si pengantin pria mengutarakan cintanya, si mantan mengselatankan hatinya. Hihihiiiii....😁😁😁


Maafkan otor, mantan. Otor akan menyiapkan yang terbaik untuk hidupmu nanti.πŸ€—πŸ€—


γ€Šγ€Šγ€Š


Bunda Iren menemukan testpack dan kertas hasil pemeriksaan kehamilan di laci nakas putrinya. Ia sampai terkejut dengan temuannya itu. Kemudian mengadukan ini pada suaminya.


Dengan berbekal barang temuannya, kedua orang tua Iren kembali ke jakarta menyusul putrinya.


Di datanginya rumah kediaman Indra. Karena mereka berpikir jika anak yang di kandung Iren adalah anak dari Indra.


Saat bertemu dengan Indra, ayah Iren sangat marah sampai wajah Indra terkena pukulan pria paruh baya itu.


Mereka memang setuju jika Iren putrinya berpacaran dengan Indra. Namun, mereka tak mau jika putrinya harus hamil di luar pernikahan.


Indra tak menjelaskan apapun.Ia hanya hanya diam saat ayah dan bunda Iren marah kepadanya.


Geri yang menyaksikan sahabatnya di pukul oleh orang tua Iren pun menjadi tak tega. Geri langsung menelpon Iren , Dika dan juga Sherly.


Mereka langsung berdatangan ke bengkel Indra. Karena, di sanalah Indra di hakimi oleh ayah Iren.


Iren datang dan langsung bersimpuh di kaki ayahnya. Saat ayahnya hendak memukul Indra lagi.


"Ayah, jangan pukuli Indra lagi. Dia tidak bersalah, Yah!"Ia memohon dengan terus memeluk kaki ayahnya.


"Baiklah, tapi dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Kalian harus menikah hari ini juga."Tutur ayah Iren.


"Itu memang yang akan aku lakukan, Yah. Aku akan bertanggung jawab terhadap mereka."Jelas Indra dengan wajah yang sedikit lebam.


"Tapi, tunggu seminggu lagi. Aku belum mendapatkan uang untuk menggelar pesta pernikahan yang pantas buat kami."Kata Indra lagi.


"Apa?kamu masih memikirkan pesta pernikahan?ayah tidak mau tahu, kalian harus menikah secepatnya. Masalah pesta tidak usah mewah, sederhana saja. Yang penting kalian sah dimata agama dan hukum." Ayah menolak permintaan Indra.


"Tapi Yah, menikah itu hanya sekali. Aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa buat istriku."Jelas Indra.


"Ayah tidak mau tahu.Pokoknya kalian harus menikah sekarang juga."Keukeuh ayah Iren.


"Bisa minta waktu satu hari lagi gak, Yah?Aku akan menyiapkan semuanya biar acaranya lancar dan tidak membuat kalian malu."Dika datang dan berkata pada orang tua Iren.


"Apa maksudmu, Dika?Yang menikah kan Indra dan Iren. Kenapa kamu yang mempersiapkannya?Biarkan dia yang mengurus semuanya. Dia harus bertanggung jawab kepada putri ayah."Ayah menatap Dika.


Dika menggelengkan kepalanya. "Dika yang harus bertanggung jawab kepada Iren, bukan Indra!"


Indra langsung berdiri dan menarik kerah baju Dika."Apa-apaan lu? Elu mau mengingkari semuanya?"


Ayah dan bunda jadi terheran dengan kedua pemuda itu."Apa maksud perkataan Dika?Apa ada yang kami tidak ketahui, Geri, Sherly?"Mereka menoleh kepada dua sahabat putrinya yang lain.


Geri dan Sherly yang di tanya pun menjadi terdiam. Mereka juga bingung harus menjawab apa.Karena ketiga terdakwa malah diam.


Dika melepas cengkraman Indra kemudian ia pun melangkah dan berjongkok di hadapan kedua orang tua Iren.


"Iren bukan hamil anak Indra, tapi itu anak Dika."Perkataan Dika membuat keduanya syok.


"Apa?" Mereka saling tatap.


"Apa maksud dari perkataanmu, Dika. Jangan main-main kamu ya?Iren kan pacar Indra. Kenapa dia bisa hamil anak kamu? "Emosi ayah meluap.


"Itu tidak sengaja, Yah.Ini kecelakaan."Jelas mereka.


"Maksud kalian?"Bunda semakin bigung.


Dika pun menjelaskan kronologi kejadian malam itu dan kedua orang tua Iren mendengarkan dengan seksama.


Sampai Indra menyampaikan niat baik untuk menikahi Iren. Tapi, kedua orang tua Iren tak menyetujuinya. Bukan karena tidak mau Indra menjadi menantu mereka, tapi ingin membuat Dika lebih bertanggung jawab atas perbuatan yang di lakukan nya.


Akhirnya, pertemuan para orang tua di adakan di rumah Dika. Kedua orang tua dari masing-masing anggota And the genk hadir di sana. Mereka harus menyusun rencana dan mengambil keputusan dengan tepat.


Kedua orang tua Iren dan Dika sudah setuju dengan keputusan final. Bahwa Dika dan Iren harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

__ADS_1


Kedua orang tua Indra sangat sedih. Pasalnya, putranya harus menanggung kesedihan ini sendiri dengan melihat sahabatnya menikahi pacarnya.


Namun apa lah daya. Semua ini harus terjadi dan mungkin ini takdir dari tuhan, termasuk otor. Maaf, ya!


__ADS_2