Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Akhirnya


__ADS_3

"Jadi, hantu wanita yang mengikuti kita dari villa sampai ke sini itu hantunya Avril?"


Zidane membenarkan pertanyaan istrinya.


"Lalu, kenapa kamu tak memusnahkannya?" Kini Rian yang bertanya karena penasaran.


"Sebelum mati dia sudah mendapat perlakuan buruk dari penjahat. Aku tak ingin dia tersakiti lagi setelah menjadi hantu. Biarlah dia pergi dengan suka rela!" Tutur Zidane.


Sherly dan Rian saling pandang. Begitu juga Nania yang menatap heran kepada Zidane.


"Apa kamu masih ada perasaan kepadanya?" Sherly dan Rian bertanya berbarengan.


Nania dan Zidane menoleh ke arah keduanya. "Menurutmu?" Zidane balik bertanya.


Namun Sherly dan Rian mengedikkan kedua bahunya. "Entah!"


Zidane tersenyum sebelum menjawab pertanyaan istri dan sahabatnya. Dia sempat mengecup kening sang istri dengan mesra.


"Aku memang masih mempunyai perasaan kepadanya!" Tutur Zidane membuat Sherly terkejut. "Tapi perasaan prikemanusiaan, bukan perasaan terhadap pria kepada wanita." Lanjutnya.


Nania menepuk bahu Sherly sebelum berbicara. "Suami kamu itu orang baik. Tak mungkin dia akan menaruh perasaan kepada wanita lain setelah dia mempunyai istri. Kamu tak perlu ragu terhadap suamimu!"


Tangan Nania di hempaskan oleh Sherly dengan keras. "Minggir kamu. Kamu selalu membelanya supaya kamu tak di usir, bukan!"


Rian tampak heran dengan perkataan Sherly. Dia sedikit tersinggung. "Aku tak pernah membelanya, kakak ipar. Kalau di benar aku benarkan, kalau dia salah ya aku salahkan. Bukannya takut di usir kok, sungguh!"


Ketiganya saling pandang kemudian tertawa terbahak mendengar penjelasan Rian.


"Hahaha ... Rian, aku bukan ngomong sama kamu. Tapi sama dia!" Tunjuk Sherly ke bangku kosong di sampingnya.


Seketika hawa dingin menyelimuti ruangan dan Rian merinding kemudian.


"Hiii, kakak ipar. Kamu masih berhubungan dengan hal ghaib? Ya tuhan, gak kebayang aku jika anak kalian mempunyai kemampuan seperti kalian. Dia akan di takuti teman-temannya karena di kira gila saat dia mengobrol sama setan."


Perkataan Rian membuat ayah dan ibu baru itu diam seketika. Keduanya saling pandang dan membenarkan perkataan Rian.


Zidane termenung mengingat masa kecilnya yang seperti di katakan Rian. Dia sering di ledek teman-temannya dan di katai anak gila karena sering ngobrol bersama hantu.


Sedangkan Sherly, dia pun sama mengingat dirinya yang sering melihat penampakan menyeramkan di depan mata. Mungkin anaknya juga akan seperti itu dan ketakutan saat melihat penampakan menyeramkan.


Rian yang melihat pasutri itu diam, menjadi tak enak hati. Dia sadar akan ucapannya yang salah.


"Mm-maafkan aku. Aku tak bermaksud ...!"


"Kau benar, Rian. Aku tak memikirkannya sampai sejauh itu. Apa aku harus menutup mata batinnya nanti saat putraku dapat melihat makhluk ghaib?" Ujar Zidane sedih.

__ADS_1


"Zidane ... maafkan aku!" Ucap Rian tak enak.


Suasana menjadi hening seketika sampai terdengar suara tangisan dari dalam kamar.


Oeeee ... ooeeee


Dengan cepat Sherly beranjak dari duduknya dan berlari ke kamar. Takutnya baby Zyan di ganggu makhluk halus.


Tapi, ketakutannya tak terbukti. Baby Zyan terbangun dari tidur karena mengompol.


"Syukurlah!" Di elus dadanya dengan lega, dan segera ia menggantikan celana yang kemudian di bawa keluar.


"Kenapa, sayang?" Tanya Zidane yang kemudian mengambil alih untuk menggendong baby Zyan.


"Pipis doang!"


"Ooohhhh!" Seru mereka.


"Sayang. Kapan kita akan datang melamar Mila? Rasanya aku sudah tak sabar." Ledek Sherly sambil melirik Rian.


Yang merasa di ledek akhirnya terbatuk karenanya. "Ukhuk ... ukhuk. Kakak ipar, jangan seperti itu lah sama aku! Jangan memaksakan kehendakmu kepadaku." Rengeknya.


Zidane melotot karena ucapan sahabatnya.


"Apa yang istriku lakukan sama kamu? Dia hanya bertanya kepadaku kapan akan melamar Mila? Memangnya kamu merasa tersinggung, hehh!" Ketus Zidane. "Lagi pula, dia tidak membicarakanmu. Dia hanya bertanya. Barangkali, bukan kamu yang dia maksud tapi Joan. Iya kan, sayang?" Lanjut Zidane tersenyum ke arah istrinya.


Akibatnya, Rian menjadi gelagapan. Dia menjadi cemas dengan hati yang was-was.


"Kakak ipar tak mendukungku sepenuhnya. Dia akan senang jika aku atau Joan yang melamar Mila. Apakah aku tak istimewa di hatinya? Huhuhuuu!" Batin Rian sontak membuat Zidane tertawa.


"Hahaha!"


Mereka langsung menoleh ke arah Zidane yang tertawa terbahak.


"Hei, kenapa kamu tertawa begitu keras? Lihat, Zyan sampai terkejut!" Protes Sherly.


Zidane langsung menundukkan wajahnya ke bawah melihat wajah putranya yang diam melongo menatapnya.


"Uluh, sayang. Apa papi mengagetkanmu?" Bertanya kepada baby Zyan. "Maaf ya, ini semua gara-gara uncle Rian yang membuat papi tak bisa menahan tawa." Lirikkan mata Zidane kini tertuju menyalahkan Rian.


Rian yang merasa di salahkan atas kesalah Zidane pun tak terima. Dia berdiri sambil bertolak pinggang.


"Hei bos! Apa hubungannya denganku? Anakmu jadi melongo gara-gara tawamu, bukan karena diriku. Huuh, kebiasaan kamu selalu membuat aku jadi kambing hitam!" Gerutu kesal Rian.


Tentu sang tuan muda tak memperdulikan gerutuan kesal sahabatnya. Dia terlihat cuek dan mengajak baby Zyan bermain.

__ADS_1


Rian yang di cuekin langsung pergi begitu saja. Kini dia memilih keluar karena merasa di permainkan oleh Zidane.


Melihat Rian pergi begitu saja, Zidane terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Sherly terheran dengan tingkah suaminya itu. Dia selalu melakukan apapun sesuai keinginannya, termasuk mengerjai Rian. Tapi, sebenarnya Zidane selalu memperhatikan segala tentang Rian.


Dia selalu mencemaskan sahabat kecilnya. Walaupun di luar sepertinya tingkah Zidane lebih kejam, namun jauh di dalam lubuk hatinya Rian adalah salah kesayangannya.


▪▪▪▪


"Saya terima nikah dan kawinnya Karmila Putri binti bapak Suganda dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan berlian seberat tiga kilo gram di bayar tunai."


Dengan lantang Rian mengucapkan ijab qobul untuk mempersunting Mila.


"Bagaimana para saksi? sah?"


"Saahh!"


Serempak semua orang menjawab pertanyaan penghulu.


"Yeeeaaahhh!" Zidane melompat ke atas dengan mengepalkan tinjunya kegirangan.


Semua orang menatap heran ke arah Zidane yang begitu senang dengan pernikahan sahabatnya. Sedangkan si pengantin pria, seluruh tubuhnya gemetaran dan di banjiri keringat dingin karena merasa gugup.


Mata Zidane melirik ke kanan dan kiri menoleh ke semua orang yang menatapnya.


Dengan cepat, tangan Sherly menarik suaminya untuk duduk kembali dan melanjutkan acara sakral itu.


"Ish kamu itu, malu tahu!" Bisik Sherly.


Sementara Zidane bersikap cuek seperti tak terjadi apa-apa. Yang merasa malu yaitu Rian, dia sampai menutupi wajahnya menggunakan telapak tangan sambil cengengesan melirik Mila yang kini sudah sah menjadi istrinya.


"Hehehe!"


Akhirnya, setelah perdebatan dan drama yang di lakukan Zidane yang memaksa Rian untuk bertindak. Rian langsung memberanikan diri melamar Mila.


Namun, keluarga Mila tak menerima acara pertunangan. Mereka meminta Rian untuk menikahi Mila langsung sebagai bukti kesungguhannya.


Mau tak mau, Rian harus siap menyunting Mila dalam kondisi apapun. Beruntung dia memiliki keluarga Prasetyo sebagai penyokongnya.


Kakek Hutama langsung pulang begitu mendengar kabar membahagiakan dari cucunya yang mengatakan bahwa Rian akan menikah dalam waktu dua hari kedepan.


Betapa senangnya sang kakek dengan kabar menggembirakan tersebut. Rasanya tanggung jawab kakek sudah terselesaikan setelah menikahkan Steven Riandi.


Walaupun Rian bukan cucu kandungnya, kakek tetap menganggap Rian sebagai cucu kandungnya.

__ADS_1


Beliau tak membeda-bedakan Zidane, Andin, ataupun Rian.


__ADS_2