
Seorang wanita dengan perut yang membuncit sudah cukup besar, berjalan membuka pintu sebuah rumah yang di jadikan basecamp.
Dia menyusuri seluruh isi rumah dengan perlahan dan hati-hati sambil memegangi perutnya yang sudah membesar.
Di pandangi fhoto yang terpajang di sana satu persatu dengan tersenyum.
Dia tersenyum saat melihat kenangan bersama And the genk dan juga saat kebersamaan bersama sang kekasih.
Namun, matanya tertuju pada fhoto mereka saat remaja. Tepatnya semasa SMA.
Ternyata, dulu dirinya dekat dengan lelaki yang sekarang jadi suaminya itu. Walaupun mereka sering bertengkar. Namun, mereka sangat dekat.
"Ternyata, dari dulu kita memang sudah dekat, ya Dik?" Dia tersenyum melihat fhoto Dika bersamanya.
Seketika, air matanya meluncur begitu saja mengingat seorang yang terakhir kali menemaninya.
"Kemana sih lu, Dik. Gue kangen elu, Dika!" Iren menyentuh fhoto yang terpajang dengan wajah yang menunduk dan air mata yang menetes.
"Maafin gue, maaf!" Tangisnya pecah mengingat perlakuannya pada Dika terakhir kali sebelum akhirnya Dika pergi dari rumah dan tak kembali selama lima hari ini.
Perut Iren sudah membesar karena kini usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan.
Seharusnya dalam masa seperti ini, suaminya menemani dia untuk periksa kandungan atau menjaga dirinya dari segala bahaya.
Tapi karena perlakuan dirinya yang kasar, justru membuat suaminya pergi.
"Gue memang gak bisa melupakan Indra. Tapi, gue akan mencoba menerima elu dengan segala kekurangan dan kelebihan lu, Dik. Gue mohon, kembalilah!" Iren menangis dengan lirih.
Dia pun mengingat segala kebaikan Dika dari saat mereka masih kecil sampai dewasa. Bahkan, yang menyelamatkan dirinya dari si bandot tua pemilik kost pun, itu Dika bukan Indra!
"Gue nyesel banget ngelakuin itu sama Dika. Dia sangat baik dan perhatian walaupun gue selalu kasar sama dia." Ucapnya lirih di sela tangisnya.
Saat sedang meratapi nasibnya, tiba-tiba perut Iren terasa sakit sampai dia meringis menahan sakitnya itu.
"Aduh, aaaduuuhh!" Di peganginya perut itu dengan tangan mengepal menahan sakit yang teramat.
Dia pun mengambil ponsel di tasnya. Mencari nomor telpon yang bisa dia hubungi.
Iren yang menahan rasa sakitnya itu tak bisa berdiri dengan tegak. Ia terduduk dengan tangan satu memegang ponsel dan satu tangan lagi memegangi perutnya.
Namun karena rasa sakitnya itu, dia pun tak bisa berbuat apa-apa selain mengerang menahan sakitnya.
"Aahhh ... bunda, aku gak kuat. Ini sakit banget!" Tangannya memegang erat kaki meja sampai urat di tangannya terlihat.
"Mahardika, tolong aku!" Di pejamkan matanya sambil menyebut nama suaminya.
Tiba-tiba, tubuhnya terangkat dan melayang di udara.
Sontak Iren pun terkejut sampai membuka matanya. Ia menatap dengan perasaan tak percaya dengan air mata yang berlinang di pipi.
"Tahan ya, aku akan segera membawamu ke rumah sakit." Tutur Dika lembut dengan menggendong tubuh istrinya ke dalam mobil.
"Ayo, Ger. Cepat!" Ucapnya saat masuk ke dalam mobil.
"Oke!" Geri pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit Kasih ibu.
Iren terus merintih kesakitan sambil menggengam erat ujung dresnya. Terlihat cairan bening membasahi selangkangannya dan keringat membasahi seluruh tubuh.
Dika menarik tangan yang sedang gemetaran. Digenggamnya tangan itu dan ia pun mengelus kepalanya dengan lembut.
Iren menatap haru ke arah wajah suaminya dengan perasaan yang sulit di gambarkan. Walaupun Dika tak menatapnya, tapi Iren tahu jika suaminya itu terlihat sangat khawatir.
"Ger, cepatlah!" Pinta Dika sedikit berteriak dan Geri cuma mengangguk dan fokus menatap jalanan.
Setibanya di rumah sakit, Dika langsung menggendong tubuh Iren dengan kedua tangannya.
Iren pun mengalungkan tangannya di leher Dika yang berjalan dengan cepat.
"Dokter ... dokter!" Panggil Geri yang terlebih dulu berlari kedalam.
"Tolong istri teman saya, dok!" Ucapnya saat bertemu dengan dokter.
"Ada apa, mas?"
"Itu dok, istri teman saya kesakitan." Jelas Geri dan saat itu Dika datang dengan menggendong tubuh lemah istrinya.
"Ayo cepat, bawa masuk kemari!" Dokter pun menyuruh Dika langsung masuk ke ruangan persalinan.
Keduanya hanya mengikuti langkah dokter menuju ruang bersalin.
"Silahkan tidurkan disini!" Perintah dokter lagi yang langsung di turuti Dika.
"Suster, sediakan peralatan semuanya. Sepertinya sudah kontraksi." Suster pun langsung menuruti permintaan dokter.
"Dok, dia gak apa-apa kan? Sepertinya dia sangat kesakitan." Pertanyaan Dika dan Geri hanya di tanggapi senyuman oleh dokter.
"Siapa diantara kalian suami dari mbaknya?" Dika mengacungkan tangan dan Geri menunjuk Dika.
"Oh, silahkan kalau mau menemani di dalam!" Perkataan dokter tetap tak di mengerti oleh mereka.
"Apa ada masalah serius kepadanya sampai harus di temani di dalam?" Mereka saling pandang tak mengerti.
"Ahhh!" Erangan Iren membuat keduanya menoleh.
Mereka pun berhamburan mendekati Iren yang sedang menahan sakitnya.
"Lu harus kuat, Ren!" Kedua tangan Iren di genggam kedua pria di sampingnya, sedangkan Iren sendiri tak dapat berkata apa-apa selain menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
Impusan di pasangkan dan kain penutup sudah siap di pasangkan untuk menutupi.
Keduanya pun terheran dengan yang di lakukan dokter dan suster.
"Lho kok, dok? Kenapa pake kaya ginian?"
"Memang seperti ini mas jika mau lahiran!" Penuturan dokter mengejutkan mereka berdua.
"Lahiran?" Serempak keduanya berteriak.
"Aduh mas, kenapa kaget gitu. Masa kalian tidak tahu kalau istrinya mau lahiran?" Suster kesal karena mereka berteriak mengagetkan dirinya yang sedang menyiapkan peralatan.
"Maaf, tapi usia kandungannya masih tujuh bulan, dok!" Ucap Dika.
"Bukannya kalau lahiran itu sembilan bulan ya, dok?" Lanjutnya.
"Memang sembilan bulan. Tapi banyak juga kok yang lahiran pas usia kandungannya tujuh bulan. Ini ..!"
"Dika, jangan nanya terus sama dokternya. Perut gue sakit banget, tahu!" Rengek Iren menghentikan obrolan mereka.
"Oh, maaf ... maaf!" Mereka pun langsung fokus pada proses persalinan.
Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuh Iren membuat Dika terus mengelapnya menggunakan tisu.
Perhatian Dika mampu membuat hati Iren meluluh. Ia pun tersenyum dan Geri hanya menatap keduanya.
Dika dan Geri terus menggenggam erat tangan Iren dan menyemangatinya. "Ayo Ren, lu bisa!"
"Saat saya bilang dorong, ibu dorong ya!" Dokter menginstruksinya dan Iren hanya mengangguk.
"Dorong!" "Heeeeeeuughhh. Hah ... hah."
"Ayo bu, kepalanya sudah terlihat. Dorong lagi dengan kuat." Kata dokter.
"Huh ... huh!" Bukan Iren yang terengah menghembuskan napas kasarnya. Melainkan kedua lelaki di sampingnya. "Ayo Ren, lagi. Elu bisa!" Keduanya memberi semangat.
"Siap ya bu. Dorong." "Heeuuugghh."
"Sekali lagi bu, ayo!" Perintah dokter dan Iren langsung mengejan lagi. "Heeeuuuuggghhhh." Dan dorongan panjang Iren membuat bayinya keluar dengan tangisan yang kencang.
"Oweeeekk ... oweeeekk!" Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu lahir kedunia dengan sempurna tanpa kekurang satu pun.
"Alhamdulillahirobbil'alamiin." Keduanya memanjatkan puji syukur.
"Selamat ya, mas. Anaknya perempuan!" Betapa senangnya hati Dika dan Geri sampai keduanya menitikkan air mata membuat dokter bingung.
Sebenarnya, suaminya yang mana sih? Kenapa dua-duanya nangis?
"Terima kasih, dokter!" Ucap keduanya senang dengan menjabat tangan dokter.
Bayi itu langsung di bawa suster untuk di bersihkan. Sedangkan dokter mengusuri ibu sang bayi.
Terlihat bayi mungil itu di dalam box bayi setelah di bersihkan dan di pakaikan baju serta kain pernel.
Dika langsung menggendong dan adzan di telinga si bayi mungilnya. Ia tersenyum senang melihat bayinya sampai mencium pipinya dengan gemash.
"Gue pengen gendong, Dik!" Tangan Geri menengadah meminta bayi itu untuk di gendongnya. Namun, Dika melarangnya.
"Dia masih kecil, baru keluar dari sarangnya. Jadi, jangan dulu di pegang sama elu, Ger. Takut wajahnya berubah kaya elu!" Dika tak memberikan bayi mungil itu ke tangan Geri.
"Wehhh, kurang asyem. Kenapa wajahnya takut mirip gue? Ikut bikin adonan juga kagak!" Protes Geri.
"Hehehe, kali aja pas nempel di tangan elu, dia jadi berubah!" Dika malah cengengesan.
"Najong. Dikira tuh bocah bunglon kali ah. Bisa berubah-berubah mengikuti tempat yang dia singgahi." Kata Geri tak terima.
Dan perdebatan kecil keduanya lagsung terhenti saat suster mengambil dari tangan Dika.
"Maaf ya. Bayinya harus segera menyusu kepada ibunya."
Keduanya pun menatap suster yang membawa bayi mungil itu.
Dokter langsung menyuruh Iren membuka penutup payudara dan memberikan cairan pertama itu kepada bayinya untuk kekebalan tubuh sang bayi. Cairan kuning itu di sebut kolostrum.
Dika dan Geri yang melihat Iren membuka sedikit pakaiannya, langsung memalingkan wajah ke arah lain tak memandang ke arah mereka lagi.
Setelah selesai, mereka pun menghampiri Iren dan mencium keningnya bergantian.
"Terima kasih ya, guys!" Ucap Iren tulus dengan senyuman.
Dika dan Geri mengangguk dan tersenyum. "Cepet sembuh ya, Ren!"
Saat keduanya akan melangkah, dengan cepat tangan Iren menarik tangan Dika dan mencegahnya pergi.
Dika dan Geri pun langsung menoleh ke arah genggaman tangan Iren.
"Maafin aku, Dik!" Ucapnya terbata.
Kedua pria itu tak percaya dengan perkataan Iren barusan.
"Apa kamu gak mau maafin aku?" Tanya Iren membuat keduanya saling pandang.
"Apa kamu akan menceraikan aku sekarang setelah bayi kita lahir?" Tanya Iren lagi.
"Apa yang elu katakan, Ren? Dika gak mungkin menceraikan elu!" Ujar Geri.
"Dia justru berharap elu menerima dia apa adanya." Lanjut Geri.
Iren langsung melirik Dika yang terdiam di sampingnya dan tak berkata apapun.
"Tapi, sudah lima hari dia gak pulang ke rumah. Gue pikir dia sudah gak mau nemuin gue lagi, Ger!" Tutur Iren dengan sedih.
__ADS_1
"Elu mau tahu kenapa dia menghilang?" Iren mengangguk dengan pertanyaan Geri.
"Yakin lu?" Lagi-lagi Iren mengangguk.
Namun Dika mencegah Geri mengatakan apa alasan dia gak pulang ke rumah. Dika menggeleng ke arah Geri.
"Kenapa Ger? Gue berhak tahu alasannya!" Pinta Iren dan tak bisa menghentikan larangan Dika.
"Sorry bro. Gue harus mengatakan ini. Mumpung istri lu sendiri yang memintanya." Kata Geri dan Dika pun pasrah.
"Jadi, ceritanya gini Ren!"
Flashback.
Dika pergi meninggalkan rumah dalam keadaan sedih. Dia melajukan motornya menuju sebuah bukit dekat daerah lautan.
Sesampainya disana, ia mengirim pesan kepada Geri dan meminta sesuatu pada sahabatnya.
"Ger, gue tahu, elu paling dewasa diantara kita. Jadi, gue minta elu supaya bisa menjaga mereka bertiga. Terutama Iren. Gue gak bisa lagi menjaganya. Maafin gue ya, Ger!" Pesan singkat dari Dika masuk di ponsel Geri saat itu.
Geri merasa heran dengan pesan dari sahabatnya itu.
"Kenapa sih dia ini?" Di gesernya warna hijau untuk memanggil Dika namun tak di jawab olehnya.
"Haish, apa dia ada masalah sama bininya?" Geri langsung membuka GPS nya dan mencari keberadaan Dika.
Betapa terkejutnya dia saat mengetahui lokasi keberadaan Dika.
"Buset, dia patah hati apa ya?" Geri pun langsung bergegas pergi menyusul sahabatnya dengan buru-buru. Takut Dika berbuat nekad.
Dia memang tahu jika rumah tangga sahabatnya itu tak baik-baik saja. Maka dari itu, ia sangat khawatir saat mengetahui lokasi keberadaan Dika sekarang.
Geri berlari saat melihat Dika melangkahkan kakinya menuju jurang di atas lautan.
Saat Dika melompat dan tercebur ke laut, Geri langsung melompat menyelamatkan Dika dan menariknya ke daratan.
Bukk... bukkk
Pukulan di daratkan di wajah Dika dengan bertubi-tubi oleh Geri.
"Elu mau mati apa, hehh?" Di cengkramnya dengan erat kaos Dika bagian atas.
"Elu gak mikirin gimana istri dan anak lu nanti jika lu gak ada?" Tangan Geri langsung di tepis oleh Dika dengan kasar.
"Justru itu, Ger. Gue gak mau Iren frustasi dan menderita hidup bersama gue. Dia menderita, Ger. Menderita!" Ucapnya berulang.
"Gue sudah berusaha menerima semua ujian kehidupan gue. Tapi, dia gak bisa. Malah sekarang dia semakin menderita karena gue." Dika tertunduk dengan air matanya.
"Dari pada elu bunuh diri, elu usaha dong gimana caranya bisa merebut hati Iren." Kata Geri.
Dika menggelengkan kepalanya. "Gak bisa, Ger. Dia tetap mencintai Indra. Cintanya hanya untuk si Jalu."
"Elu juga bisa membuat dia jatuh cinta sama elu, Tong!" Geri meyakinkan.
"Perhatian dan kasih sayang elu kan gak beda jauh sama si Jalu. Kita dulu saling menyayangi satu sama lain, pasti elu bisa menaklukan hati Iren. Gue yakin itu!" Lanjut Geri.
Dika tertunduk lesu. "Itu dulu, sekarang sudah lain lagi. Rasa sayang sebagai sahabat dan rasa sayang sebagai kekasih itu beda."
"Elu harus semangat Dika. Gue yakin elu pasti bisa!" Ucap Geri.
"Yuk balik, ngapain disini!" Dika hanya melangkah dengan sedikit terseret oleh tarikan tangan Geri.
Mereka pulang ke rumah Geri karena keadaan Dika yang murung terus.
Saat malam itu Iren menelpon Geri, sebenarnya Dika mendengar obrolan mereka. Tapi, dia ingin mengetahui seberapa khawatirnya Iren pada dirinya. Namun, Iren memilih tak mengatakan apa-apa membuat Dika kecewa.
Siang ini, Dika dan Geri berniat ke basecamp hanya untuk sekedar nongkrong di markas mereka.
Namun tidak di sangka, mereka menemukan pintu basecamp yang tak terkunci membuat mereka curiga.
"Siapa yang masuk kesini? Sherly dan Indra kan lagi pergi di ajak liburan sama si tuan muda. Apa kak Al yang kesini?" Keduanya tak menyangka jika yang masuk ke basecamp itu adalah si bumil muda.
Langkah kaki mereka terhenti saat mendengar tangisan seseorang dari dalam ruangan.
Keduanya pun diam untuk mendengarkan apa yang di ucapkan orang yang di dalam.
Beberapa menit kemudian, erangan kesakitan terdengar membuat keduanya panik dan berlari masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi.
Betapa terkejutnya mereka mendapati Iren terduduk di lantai menahan kesakitan dengan air mata yang membasahi pipi.
"Ger, siapkan mobilnya. Gue yang angkat Iren. Kita bawa dia ke rumah sakit." Dika pun langsung menghampiri Iren yang terpejam dengan menyebutkan namanya.
Ia tersenyum untuk pertama kalinya selama pernikahan, Iren menyebutkan nama lengkapnya dan meminta tolong padanya.
Iren meneteskan air mata mendengar cerita dari Geri. Ia tak menyangka jika Dika akan seperti itu dengan perlakuannya selama ini.
"Apa kamu mau maafin aku?" Di genggamnya dengan erat tangan Dika oleh istrinya.
"Apa yang perlu dimaafin, Ren. Gue juga banyak salah kali. Gue gak bisa membahagiakan elu selama hidup sama gue." Ucapnya lembut.
Iren menggeleng. "Enggak, aku bahagia kok hidup sama kamu. Hanya aku tidak menyadari akan kasih sayang kamu sama aku."
Dika menatapnya kemudian mengecup kening Iren dengan mesra. "Apa kita bisa memulai semuanya dari awal?" Iren mengangguk dengan pertanyaan Dika.
"Terima kasih ya, Ren!" Keduanya pun tersenyum sambil berpelukan.
"Ekhem, gue di cuekin nih!" Deheman Geri menyadarkan mereka kemudian menoleh ke arah sahabatnya yang masih jomblo itu.
"Sorry Ger. Gue lupa kalau masih ada elu!" Keduanya terkekeh.
"Haish, nasib jomblo. Ngenes banget hidup gue!" Rengekan Geri hanya di sambut tawa oleh keduanya.
__ADS_1