Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Pertolongan Machan King Ice


__ADS_3

Pagi ini Zidane ke kantor Diamond Emperor untuk menghadiri rapat penting dewan direksi. Sedangkan sang istri hanya rebahan di rumah sambil menonton drama korea kesukaannya.


Serial drama Full house menjadi tontonannya pagi ini.


"Gantengnya lee young jae." Mata yang berbinar menatap aktor pria di serial drama korea itu.


Tiba-tiba, dering ponsel mengganggu kesenangannya. Dengan mendengus kesal, ia menggeser warna hijau di layar ponselnya.


"Ada apa?" Ketusnya tanpa melihat si penelpon.


"Gitu ya sekarang kalau ngomong sama daddy? Hemh, mentang-mentang sudah ada yang lain dan lebih ganteng dari daddy dan kak Al, jadi judes deh!" Suara yang pasti membuat dia terhenyak.


"Ah ...oh ...eh, daddy. Aku kira siapa? Hehehe, maaf ya!" Dia cengengesan karena kesalahannya.


"Hemh, memangnya kamu gak lihat yang menghubungi kamu itu siapa?" Kata daddy.


"Enggak dad. Soalnya, aku lagi sibuk!" Alibinya.


"Sibuk apa sih, sayangnya daddy. Sampai gak di lihat siapa yang nelpon?" Tanya daddy lagi.


"Sibuk ...emmm, masak. Iya, masak. Hehehe!" Sherly mencari alasan.


"Masak? Wah, kamu sudah belajar masak ya? Kalau begitu, nanti malam kami akan berkunjung ke rumah kalian!" Perkataan daddy langsung membuat syok putri bungsunya itu.


Aduh, kenapa gue bilang masak. Kan daddy jadi pengen nyicipin masakan gue! Haish, Sherly dodol. Kenapa gak ngasih alasan yang lain saja sih.


Daddy menatap ponselnya yang masih menyala namun tak terdengar suara apapun. "Sayang, kamu masih di situ kan?"


"Ah, iya dad. Aku masih disini!"


"Gimana, boleh kan kami berkunjung kerumah kalian?" Tanya daddy lagi.


"Boleh kok dad, siapa yang melarang kalian kesini. Justru kami senang jika kalian kemari." Kata Sherly ragu.


"Baiklah sayang, kami akan ke rumah kalian nanti sore ya!" Ucap daddy sebelum memutus panggilannya.


"Haaaaa ..., gimana ini?" Ia berteriak setelah sambungan telponnya terputus.


"Gue harus ngomong sama king ice." Dia pun mematikan televisi dan bergegas mengganti pakaiannya.


Setelah rapi, ia menyambar kunci sweaty dan menjalankannya setelah mengunci pintu rumahnya.


"Masak apa ya?" Ia bingung memikirkan apa yang harus di sediakannya untuk keluarganya nanti.


Sampailah dia di depan bangunan pencakar langit yang bertuliskan Diamond Emperor Grup. Perusahaan berlian terbesar milik suaminya.


Semua orang menuduk saat dia turun dari mobilnya. Dan sudah berdiri seorang berbadan besar menunduk di hadapannya dan meminta kunci mobilnya.


"Terima kasih, pak!" Ucap Sherly saat memberikan kunci mobil kepada orang itu.


Dia pun tersenyum menerima kunci mobil dari istri tuannya yang bersikap ramah itu.


Di langkahkan kaki jenjangnya memasuki perusahaan terbesar itu dan semua orang menunduk saat melihatnya.


Sherly sangat canggung dengan situasi ini. Soalnya, dia selalu bersikap biasa saja kepada semua orang. Namun kini, dia bukan lagi Sherly si gadis manja yang dengan senaknya bersikap cuek. Sekarang dia adalah nyonya muda Prasetyo. Jadi, dia harus menjaga imagenya di depan para karyawan suaminya ini.


Tak ada lagi yang bersikap tak sopan kepadanya karena sudah mengetahui pernikahannya dengan si tuan muda pemilik perusahaan besar bos mereka.


Seorang lelaki menyambutnya dengan sopan dan mempersilahkan dirinya menuju lift khusus presdir.


Diperlakukan istimewa seperti seorang putri, itu sudah biasa bagi Sherly jika di perusahaan ayahnya. Tapi sekarang, dia juga di perlakukan khusus di perusahaan suaminya. Rasanya sangat canggung baginya. Namun, memang itu lah yang harus di terima olehnya.


"Kita sudah sampai nyonya muda." Pria berbaju hitam itu mempersilahkan istri tuannya untuk keluar dari lift dan mengekor di belakangnya menuju ruang CEO.


Semua mata tertuju kepadanya saat dia menginjakkan kakinya di lantai atas tempat suaminya bekerja itu. Mereka pun menunduk memberi hormat.


Sherly mengangguk dengan sopan dan ramah kepada mereka sambil tersenyum.


Saat ia berjalan, ia di kejutkan oleh teriakan dari ruangan rapat dewan direksi. Sehingga, semua menoleh ke arah ruangan yang pintunya tertutup rapat itu.


Brakk ...


"Apa saja yang kalian lakukan selama ini? Kenapa menangani itu saja kalian gak becus?" Zidane berteriak setelah menggebrak meja.


Semua orang diam dan tertunduk tak berani menjawab atau mengangkat wajahnya.


"Saya mau dalam satu minggu, masalah ini cepat terselesaikan. Kalau tidak, kalian yang harus bersiap keluar dari perusahaan ini." Dia pun melangkah keluar.


"Rapat di lanjutkan seminggu lagi. Silahkan kalian bubar dan cari solusi untuk masalah ini dengan segera. Kalau tidak, kalian akan menanggung kemarahannya!" Asisten Bima yang berbicara setelah tuannya melangkah keluar dengan begitu saja.


Semuanya langsung saling pandang satu sama lain dengan ucapan asisten Bima. Yang di katakan Zidane tidak pernah main-main. Jika dia menginginkan mereka keluar dari perusahaannya, maka itulah yang akan terjadi.


Raut kekesalan terlihat dari wajah tampannya. Namun saat melihat istri tercinta sedang berdiri menatap ke arahnya, wajah yang kesal itu berubah seketika menjadi tersenyum kembali sampai membuat asistennya terheran.


"Hai sayang, kenapa gak bilang mau kesini hemh?" Di ciumnya pipi sang istri di depan mereka sehingga semua orang menunduk tak berani menatap.


Mereka takut karena sorot mata tajam sang asisten Bima yang mengintimidasi menyuruh mereka harus menunduk.


Sherly canggung karena suaminya mencium pipinya di depan karyawannya. "Umm, kita ngobrol di ruangan kamu saja ya!" Ajak Sherly pada suaminya.


"Sesuai permintaanmu, nyonya." Zidane merangkul bahu istrinya menuju ruang kerjanya.


Dengan cepat asisten Bima berjalan mendahului mereka dan membukakan pintu untuk tuannya.


"Bima, jangan biarkan siapa pun masuk kedalam ruangan saya!" Perintah Zidane yang di angguki oleh asistennya itu.


Setelah masuk ke ruangannya, Zidane langsung menarik pinggang istrinya dan membuatnya terduduk di pangkuannya.


"Katakan sayang, apa yang membuatmu harus repot-repot datang kemari?" Bisik Zidane di telinga istrinya membuat Sherly risih.


"Jangan seperti ini, kita bicara baik-baik saja, oke!" Sherly tak karuan karena bibir suaminya kini menempel di leher jenjangnya.

__ADS_1


"Aku sedang bicara baik-baik, sayang!" Zidane tetap di posisinya.


"Emh." Lenguhan kecil keluar dari mulutnya saat Zidane sedikit menghisap lehernya dan meninggalkan jejak merah di sana.


"Apa kamu sedang menggodaku, sayang?" Bisiknya lirih di telinga istrinya.


"Si ... siapa yang menggodamu? Kamu yang menggangguku terus." Elak Sherly.


Zidane mendongakkan kepalanya kemudian menarik tengkuk istrinya dan menyambar bibir seksi itu.


Semakin dalam ia menyusuri ke dalam rongga mulut si Machan membuat istrinya kewalahan.


"Saat ini aku butuh energi lebih untuk menghadapi semua karyawanku. Jadi, karena kamu sudah disini, kamu harus mengisi ulang batreku!" Di kedipkannya sebelah matanya bermaksud menggoda istrinya.


"Ngisi batre? Memangnya kamu ponsel yang harus di carghing." Ia terkekeh mengatakannya.


"Bukan cuma ponsel yang harus di cargh, aku pun memerlukannya." Di gendong tubuh istrinya menuju kamar pribadinya.


"Hei, kamu mau bawa aku kemana?" Protes Sherly dalam gendongan suaminya.


"Moodbosterku sudah disini, aku gak bisa mengabaikannya!" Ditutupnya pintu kamar itu menggunakan kakinya.


Kemudian tubuh istrinya perlahan di turunkan di ranjang itu. Dengan cepat, Zidane menindih tubuh istrinya supaya dia tidak bisa bergerak dan kabur.


"Hei, kita sudah melakukannya semalaman penuh. Bahkan, sebelum kamu berangkat ke kantor. Kita melakukannya di kamar mandi. Kenapa kamu selalu tidak puas, sih?" Rengek Sherly saat suaminya sudah menarik roknya ke atas.


"Aku tidak akan pernah puas dengan tubuhmu, sayang." Suara Zidane serak dan lirih.


"Tapi, aku kesini hanya ingin mengatakan kalau ... emmhhh!" Ia menggigit bibir bawahnya saat boboyboi menyerangnya dengan kekuatannya.


Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanya desahan.


"Katakan sayang, apa yang membuatmu datang kemari?" Tanya Zidane dengan mendekap tubuh polos istrinya.


"Aku kesini mau bilang, kalau nanti sore daddy dan mommy akan kerumah kita, sayang." Mengatakan apa yang tadi tak sempat tersampaikan.


"Oh ya, bagus dong jika mereka mau berkunjung!" Kata Zidane dengan senang.


"Bagus sih bagus. Masalahnya, mereka ingin merasakan masakanku. Kan kamu tahu sendiri, kalau aku gak bisa masak selain masak air doang!" Zidane tertawa mendengar kejujuran istrinya.


"Makanya, kalau diam di rumah itu ya belajar masak. Masa harus aku terus yang masakin buat kamu?" Kata Zidane.


"Heemmm, gimana dong?" Rengekan Sherly membuat Zidane gemas.


Di cubit pipi istrinya sampai si empunya cemberut kesal.


"Jam berapa mereka akan datang, hemh?" Tanya Zidane.


"Gak tahu. Daddy gak ngomong jam berapanya. Mungkin sekitar jam empat atau jam lima." Jawab Sherly.


"Baiklah, sepulang dari kantor kita akan belanja, oke!" Di kecupnya kening sang istri sebelum beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


"Ogah, mandi aja duluan. Kalau aku ikut kamu mandi, mesti berakhir dengan kekalahan!" Zidane tertawa mendengar penolakan istrinya.


Zidane berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Sherly masih terbaring di ranjang dengan selimut yang menggulung tubuhnya.


Gubrakk


Sesuatu mengejutkannya sampai ia berteriak."Aaaa!"


Zidane langsung keluar mendengar teriakan istrinya itu. "Ada apa sayang?"


"Iii ...itu!" Tunjuk Sherly kepada seorang anak yang baru datang dengan terjatuh di meja.


Zidane melirik ke arah yang di tunjuk Sherly. "Agam!"


"Kakak!" Dia berdiri dan berlari memeluk tubuh Zidane sambil terisak.


"Ada apa ini? Kenapa kamu menangis?" Tanya Zidane lembut.


"Aku ...!" Di pegangnya wajah Agam agar tidak menoleh ke arah istrinya.


"Sayang, mandilah dengan cepat. Kita akan berbicara dengan Agam!" Di tuntun adik sepupunya keluar dari kamar pribadinya.


Sherly langsung berlari kekamar mandi dan memakai pakaiannya di dalam sana.


"Apa yang terjadi sampai kamu datang kemari dengan tergesa-gesa?" Tanya Zidane kepada adik sepupunya itu.


"Itu kak, kedua tante hantu teman kakak. Mereka ... mereka!"


"Maksudmu, Nania dan Alea?" Agam mengangguk.


"Katakanlah dengan jelas, Gam. Apa yang terjadi dengan mereka?" Tanya Zidane lagi.


"Mereka di cekik oleh jin peliharaan papa. Tolonglah mereka, kak!" Ucap Agam dengan nada gemetar.


"Di cekik? Apa maksudmu?" Tanya Sherly yang sudah keluar dengan pakaian rapi.


"Dia ingin menolongku, kak. Tapi, papa mengeluarkan jin peliharaannya dan kemudian menyuruh jin itu untuk melenyapkan kedua hantu teman kalian!" Jelas Agam dengan ketakutan.


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Sherly menjadi khawatir.


Zidane pun diam dan memikirkan jalan keluar untuk menolong mereka tanpa di sadari Hendri.


Dia melirik istrinya yang sedang mengelus kepala Agam. Tatapan Zidane tertuju pada cincin bermata biru milik Sherly peninggalan raja penguasa alam ghaib. Ia pun menarik tangan itu dengan pelan.


"Satukan tanganmu dan tanganku, lalu panggil nama Nania dan Alea olehmu sambil memejamkan mata!" Perintah Zidane kepada istrinya yang tak di mengerti olehnya.


"Kita coba dulu!" Kata Zidane yang mengerti maksud tatapan istrinya.


Sherly pun mengulurkan kedua tangannya ke arah tangan Zidane. Setelah berpegangan, kemudian mereka memejamkan matanya dan memanggil nama kedua hantu wanita teman mereka itu.

__ADS_1


"Nania ... Alea ...!" Panggil Sherly dalam hati.


Seketika cincin bermata biru Sherly mengeluarkan cahaya putih.


"Hahhh!" Kedua hantu wanita itu sudah berada di depan mereka dengan memegang leher masing-masing.


"Huaaaa, terima kasih Machan!" Keduanya langsung melompat kedalam pelukan Sherly dan mendekap tubuhnya dengan erat.


"Woi, gue gak bisa nafas, dodol!" Rengek Sherly dari dalam dekapan kedua hantu itu.


"Eh, maaf!" Mereka pun melepaskan pelukannya.


"Terima kasih karena kamu sudah menolong kami. Kami terselamatkan dengan panggilan darimu!" Tutur Alea.


"Iya, galak. Coba kalau kamu gak manggil nama kita, kita pasti akan menghilang selamanya." Ujar Nania.


"Sudah, sudah. Berterima kasih lah pada Agam. Kalau bukan dia yang datang kesini, mungkin kita gak bakal tahu dengan apa yang terjadi pada kalian." Kata Sherly.


"Oh Agam, terima kasih sayang!" Keduanya memeluk tubuh Agam yang meronta karena pelukan erat keduanya.


"Bukan cuma aku saja. Kak Zidane yang memberi ide untuk menolong kalian dengan cara kak Sherly memanggil nama kalian." Perkataan Agam memancing lirikan keduanya sampai pandangan mereka beralih pada Zidane.


"Wait, jangan berani meluk dia. Kalau masih berani meluk dia, gue sleding lu berdua!" Di halanginya dengan cepat tubuh suaminya dari pandangan kedua hantu wanita teman mereka itu.


"Dasar Machan. Tetap saja galak walau pun sudah menikah. Huuuhhh!" Cibir keduanya.


"Bodo amat. Gue harus mempertahankan apa yang di miliki gue dong! Apalagi, dia itu suami gue." Perkataan Sherly membuat Zidane tersenyum.


"Aku makin sayang dehsama Machan kecilku ini!" Di ciumnya pipi Sherly depan mereka.


Mereka pun membelalakkan mata melihat kemesraan di hadapannya.


"Woi, kita ngiri tahu lihatin yang beginian!"


Sedangkan yang di protes malah tertawa terbahak-bahak. "Hahaha!"


▪▪▪▪▪


"Jangan lakukan itu, ku mohon papa!" Agam memohon dengan memeluk kaki Hendri saat sebuah cambuk sengaja di arahkan ke tubuh Herna.


"Dia istrimu, kenapa papa tega melakukannya?" Tangisan Agam memelas.


"Minggir kau anak sialan. Kalian tidak berguna lagi untuk hidupku." Dengan kasar, Hendri menendang tubuh Agam sampai tersungkur ke lantai.


Sementara Herna tidak mengerti dengan apa yang di lakukan suaminya. Ia hanya mihat kaki Hendri yang menendang sesuatu dan mendengar kata-kata kasar dari suaminya yang entah di tujukan kepada siapa.


"Sebentar lagi kau dan ibumu akan bersatu di alam baka. Saya akan menyatukan kalian supaya kalian bahagia di sana, baik bukan? Hahaha!" Hendri tertawa lepas.


"Dasar kau manusia lucknut. Kau tega menumbalkan anak dan istrimu hanya untuk kesenangan dunia semata. Ingat, suatu saat kau akan mati dan kau akan merasakan hukuman di alam akhirat!" Nania dan Alea yang kesal melihat tingkah Hendri.


"Hei, hantu wanita bodoh. Kalian tidak usah mengutuk segala. Tapi, baiklah. Anggap saja itu permintaan terakhir dari kalian." Tangan Hendri mengepal keatas, kemudian keluarlah gumpalan hitam tebal yang kemudian berubah menjadi sosok hitam yang besar dengan mata merah menyala.


"Kedua hantu wanita itu milikmu." Perkataan Hendri kepada sosok hitam itu sontak membuat keduanya terpundur.


Walau Nania dan Alea adalah hantu, mereka tetap akan kalah dengan kekuatan jin peliharaan Hendri itu.


"Nan, gimana ini? Kita harus menolong Agam dan ibunya, tapi kita tidak bisa melawan jin itu." Alea yang terus mundur diikuti dengan Nania karena jin itu mendekat.


"Aku juga gak tahu. Apa kita tetap menolong agam atau kita pergi dan meminta bantuan yang lain." Kata Nania yang ikut mundur.


"Bantuan? Bantuan siapa?" Tanya Alea.


"Ya elah, si ganteng sama si galak dong. Gitu aja gak tahu!" Cibir Nania.


"Oh iya, yuk cabut!" Alea menarik tangan Nania untuk pergi dari tempat itu.


Namun, dengan cepat Hendri langsung melemparkan bubuk yang entah apa itu ke arah mereka membuat keduanya tak bisa menghilang.


"Aaaaa" Jerit keduanya saat bubuk itu mengenai mereka dan membuat rasa panas di sekujur tubuhnya.


"Kalian ingin kabur dari sini? Maafkan saya, karena saya tidak bisa mengabulkannya. Hahaha!" Dia terbahak menertawakan kedua hantu wanita itu.


Jin itu langsung mencengkram leher kedua hantu wanita itu dengan kedua tangannya.


Seringai jahat nampak di wajah sosok hitam besar itu.


"Akkkkkkk." Leher keduanya di cengkram dengan kuat oleh makhluk besar itu tanpa tenaga sedikit pun. Namun, keduanya merasa tidak bisa melepaskan diri sama sekali.


Sementara Nania dan Alea berusaha melepaskan diri, Agam sudah menghilang dari tempat itu tanpa di sadari papanya.


Hendri yang terus memperhatikan kedua hantu wanita itu, tanpa sengaja membiarkan Agam pergi begitu saja untuk meminta bantuan.


Perlahan, tenaga kedua hantu wanita itu mulai kehabisan. Sehingga, keduanya berhenti meronta dan Hendri tersenyum puas.


Namun tak lama kemudian, sosok kedua hantu wanita itu perlahan memudar dan menghilang seketika.


Bagaimana kedua hantu wanita itu bisa menghilang dari hadapan Hendri, padahal dia terus memperhatikannya?


"Sialan, kemana kedua setan itu bisa pergi?" Dengus Hendri kesal.


"Sepertinya, sebuah tenaga dalam yang besar menarik mereka ke tempat lain, tuanku!" Tutur jin itu.


Hendri terdiam sekejap. "Kekuatan besar? Apa mungkin bocah sialan dan gadis bintang itu sudah menyatu?"


"Haaaaaa ... Kurang ajar!" Di tendangnya semua perabotan yang ada di tempatnya sambil berteriak.


"Kau harus menangkap kedua setan genit itu untukku. Tangkap mereka dan jangan sampai mereka bertemu dengan bocah sialan itu!" Perintahnya kepada jin peliharaannya.


Sedangkan istrinya yang terduduk lemas dengan tangan dan kaki terikat, menyaksikan tingkah suaminya yang seakan tak masuk akal baginya.


"Kenapa mas Hendri seperti orang gila? Dia marah dan berteriak sendiri seperti sedang marah kepada seseorang."

__ADS_1


__ADS_2