
"Aduh!" Sherly meringis menahan sakit yang teramat sangat sampai ia terduduk karena tak kuat menahannya.
Zidane yang mendengar rengekkan kesakitan dari mulut istrinya, segera berlari menghampiri sang istri.
"Kenapa sayang?"
Namun bukannya menjawab, Sherly justru menangis. "Huhuhuuuu, perutku sakit sampai ngompol di celana." Penuturan Sherly membuat Zidane kebingungan.
Dokter Karmila segera berlari menghampiri mendengar Sherly berkata jika dirinya ngompol di celana.
"Ya tuhan. Tuan muda, ayo kita bawa nona muda ke ruang persalinan! Dia hendak melahirkan." Ujar dokter Mila.
Mendengar kata melahirkan, raut wajah Zidane menjadi cemas seketika. Inilah kebahagiaan yang di nanti-nanti, sekaligus menegangkan.
"Ayo!" Ucap Zidane singkat seraya menggendong istrinya.
Dengan hati-hati, tubuh Sherly di gendong dan di baringkan kemudian di ranjang perawatan yang sudah di siapkan.
Dokter Mila memanggil perawat dan juga menyiapkan peralatan lengkap untuk proses persalinan sang nona muda.
Impusan di pasang di pergelangan tangan Sherly oleh dokter Mila. Dia pun memeriksa apakah sudah waktunya atau belum.
"Pembukaan tiga." Suster mengangguk mengerti.
"Dokter, sakit sekali ini!"Sherly merengek sambil memegangi perutnya.
Keringat bercucuran membasahi seluruh wajah dan tubuhnya.
Zidane semakin khawatir melihat kondisi istrinya yang sedang kepayahan. Dia terus menggenggam tangan Sherly dan tak pernah sedikitpun melepasnya.
"Dokter, lakukan apapun supaya dia tak kesakitan lagi!"
Rian melirik sahabatnya.
Apa yang harus di lakukan? Baru pembukaan tiga dia udah ribut, apalagi pas mau keluar bayinya? Bisa-bisa seluruh dunia gempar karena amukan Zidane yang melihat istrinya kesakitan. Huuuhhh.
Sedangkan dokter Mila hanya tersenyum mendengar titah yang mulia raja es. "Tuan muda, ini biasa terjadi jika seorang ibu mau melahirkan. Mungkin, nona muda bisa sambil bergerak dulu. Seperti jalan-jalan kecil, supaya prosesnya lebih cepat!"
"Betul tuh, kata Mila. Kamu bisa mengajak kakak ipar berjalan dulu supaya cepat kontraksinya." Timpal Rian.
Mata Zidane membelalak mendengar penuturan Mila dan Rian.
"Sedang sakit saja di suruh jalan-jalan. Apalagi kalau sehat!" Ketus Zidane.
Mila dan Rian saling pandang dan berbicara lewat tatapan mata mereka.
...Dia ngerti apa enggak sih ya! Aku takut kalau dia salah paham dan ngamuk....
Keduanya mengedikkan bahu secara bersamaan.
"Emm, anu Zidane ...!"
Sebelum Rian menuntaskan ucapannya, Sherly mengaduh kesakitan lagi membuat mereka sangat khawatir.
"Aduh, kenapa kalian terus mengobrol? Perutku sedang sakit, kalian terus saja ribut!" Teriak Sherly.
Ketiganya buru-buru menghampiri. "Maaf!" Cuma itu yang keluar dari mulut mereka.
Cukup waktu bagi Sherly menyesuaikan nafas untuk proses pengeluaran janin dari rahimnya. Dengan bercucuran keringat, dirinya terus berusaha sekuat tenaga.
"Atur nafasnya ya nona. Kita mulai mengejan!" Instruksi dokter Mila.
Sherly pun mengikuti arahan Mila dengan di temani Zidane dan Rian.
"Heuuuuugghhh!" Zidane dan Rian malah ikutan ngeden.
__ADS_1
Mila melirik kedua pria tampan di kiri dan kanan si nona muda dengan menautkan alis.
"Kenapa kalian ikutan?" Pertanyaan Mila hanya di tanggapi cengengesan oleh keduanya. "Hehehe."
Proses lahiran pun berjalan lancar dengan bantuan kedua pria tampan yang ikut menarik dan membuang nafas sambil ngeden.
"Oeeeee ... ooooeeee!"
Yang di tunggu dengan hati was-was pun akhirnya keluar juga.
Seorang bayi laki-laki yang sehat telah hadir di tengah kebahagiaan mereka.
"Sayang!" Zidane mencium kening sang istri dengan perasaan bahagia.
"Selamat, nona muda. Bayinya laki-laki!" Ujar dokter Mila tersenyum.
"Selamat, kakak ipar. Ternyata benar kata Zidane, kalau bayi kalian laki-laki." Ucap Rian sambil melirik sahabatnya.
Tetesan air mata kebahagiaan terlihat jatuh di pipi Sherly. Dengan cepat Zidane menghapusnya menggunakan telapak tangannya.
"Jangan menangis, sayang! Dia sudah lahir dan ... lihatlah! Dia sangat sehat dan kuat, bukan!"
Sherly hanya tersenyum dengan manik yang masih basah.
Sang ayah segera mengumandangkan adzan di telinga sang bayi tampannya. Sambil menyelipkan do'a-do'a terbaiknya, Zidane berharap apapun yang di minta mereka akan terkabul. Amiin.
Dokter Mila menyarankan agar si ibu segera melakulan IMD (inisiasi menyusui dini) bagi si bayi. Supaya bayi tumbuh sehat dan kuat. Air susu ibu yang baru pertama keluar dan berwarna kekuningan di sebut dengan Kolestrum. Dan itu bagus untu pertumbuhan sang bayi.
Walau pertamanya Sherly agak kesusahan. Namun atas bimbingan dokter Mila, ia pun bisa melakukannya dengan baik dan benar.
β’
β’
Jauh di pulau sana, pasangan suami istri yang sedang berbahagia atas kelahiran putra pertama mereka. Sedangkan di pusat kota, keluarga mereka sangat khawatir karena sudah berbulan-bulan lamanya tak ada kabar dari anak dan menantunya.
Para saudara dan sahabatnya pun sangat mengkhawatirkan keadaan mereka. Walaupun mereka tahu jika keduanya berpamitan untuk berobat, tapi mereka tak tahu dimana keberadaan keduanya.
"Sudah enam bulan lamanya, tapi gak ada kabar dari Sherly dan Zidane. Apa mereka baik-baik saja?"
Aldrian berbalik menghadap sang ayah karena mendengar pertanyaan beliau.
"Sudahlah, dad. Jika Zidane sudah sembuh, pasti Sherly mengajaknya pulang!" Ujar Aldrian.
"Tapi ... !"
"Ayolah, dad. Biarkan mereka menyelesaikan urusannya. Sebaiknya daddy jangan banyak berpikir yang macam-macam!" Potong Aldrian. "Mereka bukan mau meninggalkan kita. Tapi, mereka mau berobat supaya sembuh untuk bisa berkumpul lagi dengan kita." Lanjut Aldrian lagi.
Tuan Hadi pun pasrah dan tak mau bertanya lagi.
"Daddy terlalu merindukan putri kecilku." Di pandanginya gambar berbingkai.
"Dia tetap putri kecil daddy." Ucap tuan Hadi tersenyum sambil mengusap kaca figura di tangannya. "Semenjak mommy meninggal, daddy semakin kesepian di rumah ini." Lanjutnya kemudian.
Raut wajah sedih terlihat di balik keriputnya kulit wajah pria yang kini sudah menginjak usia lima puluhan.
Aldrian hanya diam menatap ayahnya yang sedang merasa kesepian dan juga sedih.
πΊπΊπΊ
Beberapa bulan gak bertemu, mungkin rasa rindu sudah sebesar gunung jika di kumpulkan. Mereka saling merindukan, namun tak bisa untuk bertemu.
Karena untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, Zidane terpaksa tak membiarkan istrinya bertemu dengan keluarga ataupun teman-temannya.
__ADS_1
Demi keselamatan istri dan putra kecilnya yang baru lahir, pria tampan yang kini sudah menjadi seorang ayah itu memilih menyembunyikan semuanya dari keluarga ataupun teman-temannya.
Dengan terpaksa, semua orang tak di beritahu jika Sherly sudah melahirkan seorang bayi tampan.
"Maafin aku, semua. Ini untuk kebaikan istri dan putraku! Aku akan membawa keduanya di saat waktunya nanti. Untuk saat ini, baik istri dan putraku belum siap menghadapi kekejaman para iblis itu."
Zidane merenung menatap langit malam yang bertabur bintang, dengan di temani cahaya rembulan.
Tepukan di bahunya membuat Zidane langsung menoleh.
"Lagi mikirin apa sih, bro? Serius gitu?" Tanya Rian penasaran.
"Mikirin kamu sama Mila. Kapan kalian akan menikah!" Jawab Zidane asal.
Namun, Rian malah tersipu. Dia menjadi salah tingkah di buatnya.
"Ya-yang serius dong kalau jawab pertanyaan orang!"
Wajahnya memerah seketika. Mungkin dalam hatinya, Rian memang berharap itu. Tapi apalah daya, nyalinya belum sebesar Zidane yang dulu dengan beraninya melamar Sherly.
Zidane mengernyitkan dahi melihat tingkah sahabatnya itu. Ide jahil pun muncul di pikiran si tampan.
"Kalau kamu gak berani melamar Mila, akan ku pastikan Joan yang melamar dia terlebih dahulu!"
Raut wajah Rian memanas seketika mendengar perkataan sahabatnya itu.
"Kenapa kamu senang menyiksaku, sih? Aku kan belum bilang sama Mila kalau aku mencintai dia dan akan melamarnya setelah kita kembali ke kota nanti."
Bukannya terkejut dan kesal karena suara tinggi dari Rian, justru Zidane malah tersenyum.
Melihat si bos tersenyum, menyadarkan Rian akan kesalahannya. Dia mengira jika Zidane tersenyum artinya marah.
"Ma-maafin aku, Zidane! Aku ...!"
"Kenapa minta maaf?" Tanya Zidane datar.
Dia marah. Matilah aku!
"Aku gak sengaja untuk mem ...!"
"Orang tersenyum kamu minta maaf. Bodoh sekali sih, kamu!" Kata Zidane mencibirnya.
Senyum kamu kan mengandung racun, tuan muda. Jarang sekali kamu tersenyum menanggapi kekesalanku, kecuali kamu akan marah besar.
"Emmm, anu ...!"
"Kamu dengar kan itu, Mila? Dia sudah berjanji akan melamarmu setelah kita sampai di kota nanti. Jadi jika dia mengingkarinya, kamu bisa memintaku untuk menendang dokter gila ini ke pulau terpencil. Kalau perlu, kita jatohin dia dari pesawat supaya langsung mati."
Sontak Rian menoleh ke belakang mendengar perkataan Zidane.
Dokter Karmila sudah berdiri tepat di belakang Rian sedari tadi sambil tersipu malu. Dia mendengar jelas apa yang di ucapkan Rian tadi.
"Emmh, jadi ...!"
Melihat Mila yang ingin berbicara sesuatu kepada sahabatnya, Zidane pun berdiri dan melangkah pergi meninggalkan dua sejoli yang masih malu-malu meong itu.
"Jadi ... kalian omongin dulu dari hati ke hati. Aku mau masuk dan ngelonin si tampan dan ibunya yang cantik. Daaahh!"
Keduanya tampak canggung karena di tinggal berdua. Seperti anak remaja yang baru pendekatan, dari keduanya hanya diam dan saling pandang saja.
Huuuhhh ... gak ada kemajuan.
βββββ
**Maaf ya gaes karea terlalu lama upnya. Othornya sibuk terus dan gak sempet untuk nulis. Maklum, kalo di rumah banyak orang malah sibuk ngelayani tamu daripada nulis. Mumpung udah pada pulang, othor mulai coret-coret lagi dah.
__ADS_1
Selamat membaca ya gengs**.