
Sudah beberapa hari Sherly dan Zidane berada di Belanda.
Selain untuk mengecek perusahaannya yang ada di sana, mereka juga berkeliling Amsterdam untuk melakukan perjalanan bulan madu mereka.
Grand Hotel Amrath, yang berada di pusat kota Amsterdam menjadi tempat dimana mereka menginap selama di negara kincir angin tersebut.
Lokasinya yang stategis membuat mereka senang berada disana. Tempat itu juga dekat dengan Stasiun Kereta Amsterdam, lapangan Dam Square, dan Rumah Anne Frank.
Dam Square adalah alun-alun kota di amsterdam dan termasuk salah satu lokasi paling terkenal di negara ini.
Saat ini, mereka berenam sedang berjalan-jalan di Taman hiburan Advanture Park Hellendoorn. Taman hiburan yang terkenal di kota ini.
Semua wahana permainan di taman hiburan ini, tak ada satupun yang terlewatkan. Tentu si tuan muda yang membayar semua tagihannya demi menyenangkan istri tercintanya.
Lho kok berenam? Memangnya, pengantin basi itu pergi bersama siapa?
Sherly sudah menjanjikan untuk Indra akan membawa berlibur karena tampil bernyanyi di pernikahan Dika dan Iren. So, dia sekarang mendapatkan hadiahnya.
Sedangkan Rian, ya kalian tahu sendiri. Dia selalu mengikuti kemana pun Zidane pergi. Menempel seperti perangko.
Dan dua lagi, gadis cantik pendandamping Indra dan Rian.
"Woi, buruan lu. Kita pegel tahu nungguin kalian terus!" Sherly berteriak kepada dua pasangan yang sedang di mabuk cinta itu.
"Sabar napa, kita kan masih betah disini!" Ujar Indra sambil menggandeng tangan Andin. Adik sepupu Zidane.
"Kapan lagi kita main ke tempat ginian. Iya gak, say." Lanjutnya sambil merangkul bahu sang kekasih.
"Iya kakak ipar. Sabar dikit napa!" Timpal Andin.
"Tahu ih, kalian buru-buru mau kemana sih? Kita kan disini niatnya senang-senang, bukan mau diem di hotel terus." Kata Rian yang menggandeng pacarnya yang bernama Alisya.
"Masa liburan kita cuma ngabisin waktu di hotel terus. Gak asyik ah kalian." Kata Andin kepada kakak sepupunya.
"Balik ke hotel atau kalian tinggal disini selamanya!" Ancaman Zidane membuat nyali kedua pasangan kekasih itu menciut.
Zidane melangkah dengan menggandeng tangan istrinya tanpa menoleh ke belakang lagi. Keduanya berjalan dengan acuh dan meninggalkan mereka yang masih tetap diam di tempatnya.
Mereka saling menatap dan dengan malas mengikuti pengantin baru yang udah basi itu.
"Ish, dia gak asyik. Masa kita cuma mengikuti kemana pun yang mereka mau sih!" Bisik Andin kepada ketiganya.
"Tahu ih, kakak kamu itu!" Indra ikut berbisik.
"Dia cuma pengen berduaan sama istrinya, kenapa kita harus ngikutin mereka?" Kata Rian yang ikut berbisik.
"Benar juga. Kita gak usah ikut pulang saja." Alisya membenarkan perkataan pacarnya.
"Ya sudah, siapa yang mau bilang sama kakak?" Ketiganya berhenti membuat Andin menoleh ke belakang.
"Siapa yang mau bilang?" Tanya Andin lagi namun mereka tetap di posisinya.
"Kami mana berani melawan perintah si raja es. Kau saja. Kau kan adiknya!" Kata Rian mewakili Indra dan Alisya.
"Iya, kamu kan adiknya say!" Kata Indra membenarkan perkataan Rian.
"Haish, kalian ini beraninya cuma di belakang saja. Ckk, dasar!" Ia pun sedikit berlari mengejar Zidane dan Sherly.
Sedangkan pasangan pengantin basi itu sudah berjalan ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya.
"Kakak!" Teriakan Andin menghentikan tangan Zidane yang akan membukakan pintu untuk istrinya.
Ia pun menolek ke arah adik sepupunya itu. "Hemh."
"Umm kak. Aku mau ngomong nih!" Andin sedikit ragu mengatakannya.
"Ada apa?" Pertanyaan Zidane tidak langsung di jawab olehnya. Ia malah melirik ke arah ketiga orang di belakangnya.
"Ayo, katakan!" Mata Indra dan Rian mengisyaratkan dia untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Mau ngomong apa sih, Ndin?" Sherly tak jadi naik mobil. Dia memilih berdiri di samping adik sepupu suaminya itu.
"Emm, aku mau ngomong sama kakak ipar saja deh!" Di tariknya tangan Sherly sedikit menjauh dari Zidane.
Namun, dengan cepat Zidane menghentikan tarikantangan Andin dari tangan istrinya.
"Katakan!" Ucapnya singkat dengan datar dan dingin.
"Mampus gue. Kalau kakak sudah begini, gue bisa apa!" Wajah Andin memelas melirik ke arah kakak iparnya.
"King ice, dia mau ngomong sama aku bukan sama kamu!" Perkataan Sherly seperti udara segar bagi Andin. Dia sedikit merasa lega.
"Tapi, sayang!" Zidane tak bisa berkata lagi setelah melihat tatapan tajam Sherly.
"Gila. Dia mampu membungkam si tuan muda dingin." Batin mereka terkagum menatap Sherly.
"Kamu mau ngomongin apaan sih? Cepatlah! Karena kita harus pergi ke suatu tempat." Ucapan Sherly membuat mereka menatapnya sekali lagi.
"Pergi kemana?" Mereka kompak bertanya.
"Ish, kalian lupa ya kalau kita mau ke Kanal Amsterdam?" Perkataan Sherly membuat mereka kegirangan.
"Serius?" Mereka kompak lagi dengan mata yang berbinar.
"Ckk, kan aku sudah bilang sayang, tidak usah pergi lagi. Mending di kamar hotel saja. Mereka juga sepertinya ...!" Ucapan Zidane langsung di potong mereka.
"Kita mau, kok!"
"Cih, enak di kamar kali. Dari pada kita harus cape berkeliling terus." Zidane kesal karena ternyata mereka setuju pergi.
"Itu sih maunya kamu, tuan muda. Kita kesini kan mau liburan, bukan mau tiduran!" Zidane menatap sinis karena perkataan Rian.
"Ah, hehehe!" Dia pun jadi cengengesan melihat tatapan mematikan dari Zidane.
"Ya sudah, yuk pergi!" Ajakan Sherly menghentikan Zidane yang akan membuka suaranya.
"Syukurlah!" Di elusnya dada mereka pertanda merasa lega.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit dari taman hiburan, mereka pun akhirnya sampai ke tempat indah di sini.
Memang jika datang ke negara kincir angin ini, rasanya tak lengkap jika tidak datang ke tempat wisata yang satu ini.
"Gimana, indah bukan pemandangan di sekitaran?" Mereka mengangguk dengan perkataan Sherly.
"Wah kakak ipar. Kau hebat dalam memilih tempat wisata di sini. Lihat, dari tadi kita senang mengikuti kalian tanpa protes!" Rian berkata dengan tersenyum.
"Cih, kalian senang karena liburan kalian gratis tanpa biaya sepeser pun." Cibir Zidane dengan ketus.
"Itu juga termasuk!" Tanpa sadar Rian berkata membuat Andin memukul lengannya.
"Kenapa kau berkata seperti itu, dokter gila!" Bisik Andin.
Zidane pun menoleh ke arah mereka dengan tatapan tajam. Sedangkan mereka saling tatap kemudian cengengesan.
"Aku senang dan kalian juga harus senang. Masalah biaya, serahkan kepada tuan muda ini. Percuma dia kaya tapi gak bisa menyenangkan kita!" Sherly berkata tanpa merasa bersalah. Sedangkan mereka hanya bisa menahan tawa saat wajah Zidane melengos.
Zidane langsung merangkul istrinya dan berbisik di telinganya. "Jalan-jalan ini tidak gratis, sayang."
Bisikan Zidane membuat Sherly menoleh ke arahnya dengan pertanyaan. "Kamu ingin perhitungan?"
"Kau ingin mereka bahagia, dan aku juga harus bahagia." Ucap Zidane.
"Tentu harus, dong!" Ucap Sherly.
"Kalau begitu, bayar aku dengan tubuhmu nanti malam plus bunga di bayar di muka." Bisik Zidane tepat di telinga istrinya.
"Apa?" Teriakan Sherly membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Sedangkan Zidane terlihat cuek sambil melirik pemandangan sekitar.
Ya tuhan,
"Ada apa, kakak ipar?" Andin mendekat ke arah Sherly.
"Demi kalian, gue harus bayar dia plus bunganya di muka!" Wajahnya memelas sambil cemberut.
"Bayar? Jadi, dia meminta bayaran sama kakak ipar?" Tanya Andin dengan melirik Zidane.
__ADS_1
Sherly mengangguk dengan sedih.
"Ya tuhan, perhitungan kali dia. Sama istri sendiri minta ganti rugi. Memang, dia minta bayaran berapa?" Tanya Andin serius.
"Semalaman full!" Jawab Sherly.
"Maksudnya?" Dia beneran gak ngerti.
"Di ranjang!" Jawab Sherly singkat.
"Apa?" Kini Andin yang berteriak membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
Indra dan Rian juga Alisya mendekat. "Apaan sih?" Mereka penasaran.
"Ahhh, otak suciku ternodai!" Rengek Andin, sedangkan Zidane tergelak menertawakan keduanya. "Hahaha!"
Mereka yang tak mengerti cuma menatap heran kepada tiga orang yang duduk berdampingan.
Indra mendekat sambil bertanya. "Ada apa sih, say?" Tanya dia.
Otak Andin masih berkeliaran di luar sana sehingga Indra sedikit menepuknya. "Hei, ada apa sih?" Tanya Indra lagi.
Andin pun tersadar dengan tepukan pacarnya itu. "Dia ... dia!"
"Apa?" Tanya mereka lagi.
"Ssstttt, gak usah diomongin. Ntar mereka ngetawain gue lagi!" Sherly langsung membekap mulut adik iparnya dengan telapak tangan.
"Hmmmppp." Andin menepuk tangan yang membekapnya itu.
"Lepasin dia, dodol. Dia gak bisa napas!" Indra sedikit menarik tangan sahabatnya.
Sherly langsung melepaskan bekapannya sambil cengegesan. "Ah, hehehe. Sorry!"
Flashback
Sebulan yang lalu...
Indra datang ke rumah Zidane karena di telpon oleh Sherly. Tanpa sengaja, di perjalanan menuju rumah Zidane itu, ia melihat seorang gadis yang sedang ke susahan karena mobilnya mogok di jalan.
Indra pun menepikan mobilnya dan menghampiri gadis itu. Namun, si gadis mengira jika Indra adalah penjahat yang sedang berpura-pura untuk membantu.
Dia pun berteriak dan meminta tolong kepada warga sekitar. Karena teriakannya, warga sekitar berdatangan dan langsung menghajar Indra tanpa bertanya apapun.
Indra yang tak siap karena di hajar secara tiba-tiba oleh penduduk pun menjadi tak berdaya dan terkapar di jalan.
Melihat pemuda itu tergeletak, gadis itu pun menjadi tak tega. Ia langsung menyuruh warga berhenti dan menelpon seseorang.
Seorang lelaki tampan turun dari mobilnya dan langsung menghampiri.
Saat dia melihat pemuda yang tergeletak itu, ia pun terkejut sampai menaikan wajahnya.
"lho, Indra." gadis itu langsung menoleh ke arah kakak sepupunya.
"Kakak mengenalnya?" Tanya gadis itu.
"Dia sahabat kakak iparmu!" Ucap Zidane.
"Matilah aku. Dia pasti marah kepadaku, kak!" Rengek Andin kepada kakak sepupunya.
"Lagian, kenapa sih bisa begini?" Zidane bertanya lagi.
"Aku salah paham. Ku kira dia penjahat yang berpura-pura mau menolongku. Aku berteriak dan mengundang warga untuk berdatangan. Dan warga langsung memukulinya." Jelas Andin.
"Haish, kamu tuh ya!" Ucap Zidane singkat.
"Ayo, bawa dia kerumah!" Zidane langsung memapah Indra di bantu Andin.
Mereka pun membawa Indra ke rumah Zidane.
Sherly terkejut mendapati sahabatnya yang datang dalam keadaan pingsan.
Andin pun menceritakan kejadian itu pada kakak iparnya. Mereka pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Indra.
Setelah kejadian itu, Andin selalu merasa bersalah. Dia terus merawat luka-luka Indra sampai sembuh.
Tanpa di sadari, perasaan di hatinya tumbuh menjadi rasa sayang dan cinta kepada pemuda tampan berwajah manis itu.
Dia pun mengutarakan perasaannya kepada Indra.
__ADS_1
Indra memang butuh seseorang untuk memalingkan hatinya dari Iren. Maka, dia pun mencoba menerima cinta Andin.
Dan kini, ia pun mencintai Andin walaupun masih tetap tidak bisa melupakan Iren. Tapi, demi keutuhan rumah tangga Dika dan Iren, ia pun harus bisa melupakan perasaannya pada wanita yang dicintainya dulu.