
Sherly pulang dengan meggunakan taksi karena mobilnya tertinggal tau dimana.
sesampainya di rumah, ia menghampri seluruh keluarga danjuga kakaknya untuk meminta mengambilkan Sweaty di jalan saat ia di culik.
"Kak Al, aku di culik!"Rengeknya pada kakak tercintah membuat semua terkejut.
"Apa?Kamu diculik?"Tanya seluruh anggota keluarga.
"Apa?siapa yang berani nyulik adek gue?" Kak Al dengan emosinya menggebrak meja membuat semua terkejut.
"Sekaya apa sih mereka?Apa mereka kagak tahu kalau elu banyak makannya?bisa bangkrut mereka kalau nyulik elu!"Lanjut kak Al sambil berdiri.
"Wasyem lu, gue kira mau ngebelain gue. Malah simpati sama mereka takut bangkrut. Dasar kakak durjana, lu!"Cibir Sherly.
"Eh dodol, kalo elu di culik, kenapa elu disini?Seharusnya tuh penculik nelpon kita minta tebusan.lha elu aja udah disini, gue yakin kalo mereka ngebebasin lu karena elu nyusahin mereka.iya kan?"Tutur kak Al.
"Tahu ah,"Sherly cemberut dan duduk di samping bapak kapolsek dan bermanja.
"Dady, tadi aku di culik!"Rengeknya pada si bapak kapolsek.
"Siapa yang berani nyulik anak kesayangan dady sih?"Dengan lembut ayahnya mengelus rambut panjang pirang itu.
"Mereka bilang di suruh orang, mereka juga iket tangan aku dad, sakit nih!"Di tunjukan tangannya yang lecet dan merah.
"Uluh tayang, sakit ya?"Tanya ayahnya yang diangguki putri manja itu.
"Mom, obatin anaknya dong!"Ayahnya meminta ibunya untuk mengobati.
"Ckk, gitu aja manja!"Ibunya melangkah dan mengambil kotak obat.
"Sekarang cerita sama kita apa yang terjadi sebenarnya?kenapa mereka menculik kamu?" Tanya ayahnya.
"Paling masalah cowok, dad!"Kak Al menebak masalah penculikkan itu.
"Hehh, kok kak Al tahu!"Sherly menatap kakaknya.
"Emang bener gitu?"Bukan kak Al atau Daddy, melainkan kak Aisyah dan di angguki Sherly.
"Ooh, kakak tahu, pasti si tuan muda tampan itu kan yang bikin kamu di benci para gadis lain?"Tebakan kak Aisyah memang tepat.
"Iiih, kok pada nebaknya bener sih?"Sherly keceplosan dengan curhatannya itu.
"Jadi bener kamu ada hubungan dengan si tuan muda tampan itu?waaah, kakak kira kamu jadian sama si kapten Hendri.Soalnya banyak fhoto kamu di instagramnya si kapten."Kak Al langsung bertanya.
"Masa sih kak?Aku malah gak tahu kalau ada fhoto ku di media sosialnya kak Hen!"Sherly menatap tak percaya.
"Nih lihat, fhoto kamu semua lho, dek!"Kak Al menunjukkan instagram Hendri.
"Kapan kak Hendri mengambil fhotoku ya?" Ia pun berpikir keras.
"Udah lupain itu. Gimana kamu bisa berhubungan dengan keponakannya sementara pamannya mengagumi mu?"Tanya kak Al lagi.
"Aku gak ada hubungan apapun sama keduanya, kita cuma temen bisa kok!" Jawabnya.
"Ckk, gue gak percaya.buktinya tadi si tuan muda itu menelpon kemari nanyain kamu. Katanya hape kamu tertinggal di tempat Iren." Kata kak Al.
"Oh iya, pantesan gue nyariin hape kagak ada.Ternyata di tempat si Iren."Dia meraba kantong celananya.
"Gue kira jatoh saat gue di culik"Lanjutnya.
"Untung dia menelpon kesini.Jadinya kita tahu deh kalo kalian janjian di basecamp." Perkataan kak Al mendapat tatapan dari semuanya."Waaaah?"Mereka tak percaya.
"Ckk, janjian di basecamp, di tempat romantis kek, jangan di tempat kumuh kaya gitu!"Cibirnya membuat Sherly tersadar.
"Ya ampun, gue kan janji sama mereka mau ketemuan jam tujuh.Ini udah jam delapan. Oh astaga kak Al, untung kakak ingetin gue" Dia berlari dan menyambar kunci motornya.
"Kak, ambilin sweaty di jalan"Lanjutnya sebelum melangkah pergi.
"Hei, kamu mau kemana?"Orang tuanya pun menjadi khawatir dengan putrinya yang pergi terburu-buru.
"Hei, sweaty di tinggal di jalan mana?"Tanya kak Al pada adiknya yang sudah keluar.
"Aku gak tahu, pokoknya jalan yang sepi ke arah kantor kakak.Ambilin ya?"Teriaknya sambil memakai helm dan melajukannya.
"Ckk, dasar tuh anak nakal."Mereka menggelengkan kepala tak percaya dengan tingkah putri bungsu keluarga Grisheld ini.
Sherly melajukan motor sportnya dengan kecepatan penuh.Motornya pun berhenti di halaman basecamp.
"Pada kemana, kok sepi?"Ia pun membuka helmnya dan menaruhnya di atas motor.
"Ini mobil si king ice,"Di perhatikannya mobil itu, dan ia pun masuk.
"Yang lain belum dateng apa ya?"Ia terus melangkah masuk.
Saat di dalam, ia berhenti melihat ada dua kaleng minuman dingin di meja yang sudah di buka dan di minum.
__ADS_1
"Siapa yang minum ini?gak mungkin kan si king ice minum minuman dingin?"Ia memgedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Brukk
Sesuatu terjatuh dengan keras terdengar dari kamar mandi.
"Apaan itu?"Ia berlari ke arah kamar mandi.
Saat Sherly membuka pintu kamar mandi, terlihat Zidane tergeletak di lantai dengan keringat dingin membasahi tubuh yang gemetaran.
"King ice, elu kenapa?"Sherly menghampiri dan memangku kepala pemuda itu.
"Panas banget sih?"Ia merasakan suhu tubuh Zidane yang meninggi saat menyentuh keningnya.
"Jangan...jangan..ku mohon!"Tetesan air bening keluar dari ujung matanya.
"Dia nangis.Ada apa sih sebenarnya?"Ia terus mengusap kepala Zidane.
Mata Zidane tertutup, namun mengeluarkan air mata.Ia pun terlihat pucat dan ketakutan.
Sherly menjadi tak tega melihat kondisi Zidane yang seperti itu.Dengan susah payah ia mengangkat tubuh jangkungnya dan memapah dia ke kamar yang ada di basecamp tempat mereka menginap di sana.
Ada dua kamar di rumah yang di jadikan basecamp itu.Dulunya itu memang rumah bekas keluarga Sherly saat ayahnya masih belum sesukses sekarang.
Rumah sederhana dengan nuansa asri di halaman tumbuh berbagai macam tumbuhan.
Membuat rumah itu tampak nyaman dan betah untuk di tinggali.Sekarang menjadi basecamp mereka sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak sampai sekarang.
Di papahnya Zidane ke salah satu kamar itu dan ia menurunkannya perlahan.
"Bajunya basah banget sih, dia juga demam sekarang."Ia memperhatikan baju Zidane yang basah karena keringat dingin.
"Jangan..ku mohon hentikan!"Zidane mengigau lagi dengan tubuh yang masih bergetar.
Sherly menyentuh pipi Zidane dan sedikit menepuknya."Hei, king ice.Elu kenapa?" Tanya gadis itu sambil menepuk pipinya.
"Oh ya ampun, gue lupa kalau tubuhnya gak bisa menerima hawa dingin yang masuk ke dalam tubuh!"Ia pun menjadi panik.
"Apa dia tadi minum minuman dingin itu?"Ia terus mengelap wajah yang basah dengan keringat dingin dan terlihat pucat.
Apa gue lepasin aja bajunya?tapi gimana kalau gue disangka mau ngapa-ngapain dia?Oh ya ampun, gue bingung ini!
Ia terus mondar mandir di dalam kamar sambil memperhatikan wajah Zidane yang sudah pucat.
Ah, bodo amat lah.Dari pada dia nanti kenapa-napa.Gue juga yang repot dong.dia sakit di tempat gue, entar gue jadi tersangka. Huaaaa..gue gak mau di tuntut gara-gara di tuduh mencelakai tuan muda.
"Asyeeem, kenapa ini terjadi sama gue?"Dia memejamkan mata saat tubuh atletis Zidane terekspos depan matanya.
"Lanjut kagak ya?"Dia pun terlihat ragu sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
Baju Zidane sudah di lepaskan dan ia pun menyelimuti tubuh Zidane menggunakan selimut.
Sherly berlari kedapur dan mengambil air panas untuk mengompres Zidane yang sudah memucat.
"Elu harus sembuh, gue kagak mau elu mati di tempat gue.Gue kagak mau jadi tersangka pembunuhan elu, king ice."Di tempelkannya kain yang sudah di celupkan air hangat di kening Zidane.
Sherly terus melakukan itu sampai demamnya turun."Syukur lah!"Ia mengelus dada saat kondisi Zidane mulai stabil.
"Sebenarnya elu kenapa sih, king ice?Di saat semua orang suka minuman dingin, elu malah gak bisa meminumnya.Tubuh lu juga rentan terhadap cuaca dan suhu yang dingin?"Ia terus menyelimuti tubuh Zidane dengan selimut tebal supaya dia merasa hangat.
"Mama, papa, aku takut.kembali lah!"Ia mengigau lagi.
"Weeeh, dia manja juga rupanya.Tapi kasihan ya, elu kehilangan orang tua saat masih kecil.Mungkin itu yang menjadi penyebab elu menjadi dingin sama siapa pun" Sherly terus mengusap kepala pemuda itu.
"Kalau lagi tidur kaya gini, imut juga ya?"Ia tersenyum memperhatikan wajah teduh Zidane saat tidur.
Tubuhnya masih bergetar dan ia terus mengigau membuat Sherly semakin tak tega.
"Hhhsssssss....hhhhhhh"
Walau dua selimut tebal sudah di pasangkan di tubuh pemuda itu, tapi ia tetap seperti kedinginan.Ia pun naik ke ranjang dan tidur di samping Zidane sambil memeluk tubuhnya supaya ia tak kedinginan lagi.
Tanpa di sadari, Sherly pun tidur sambil memeluk Zidane.Saat Zidane tersadar, ia merasakan ada sesuatu di keningnya.Ia pun mengambil benda itu.
"Apa ini?"Diambilnya benda yang menempel di keningnya yang ternyata kain basah bekas kompres yang sudah mengering.
Ia melirik seseorang yang tidur di sampingnya sambil memeluk tubuhnya.
Zidane tersenyum saat melihat gadis berisik itu ada di sampingnya.Ia memiringkan tubuhnya menghadap gadis itu.
"Imut juga ya saat dia tidur."Ia tersenyum.
Tangannya mengusap kepala Sherly dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya dan menyelipkan di telinga gadis yang sedang tertidur pulas itu.
Ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya."Astagfirullah!"Ia terkejut saat mendapati tubuhnya yang bertelanjang dada.
"Apa dia melakukannya demi membuat aku selamat?"Zidane melirik Sherly.
"Sebenarnya kamu itu baik, cuma sedikit berisik dan galak"Ia tersenyum sambil mengelus pipi Sherly.
__ADS_1
"Dasar cewek berisik dan galak.Kalau udah marah persis kaya macan.Eh macan?"Zidane terdiam sejenak.
"Hemh, aku tahu nama panggilan yang cocok untuk gadis sepertimu.Machan, manis dan chantik.si galak!"Zidane terkekeh saat mengatakannya.
"Kalau dia mendengarnya, mungkin dia akan sombong.huuh, untungnya dia tidur."Zidane memeluk Sherly dan tersenyum manis.
Terselip senyum manis di wajah Zidane, ia mencium kening gadis itu dengan lama kemudian menatapnya kembali.
"Aku enggak tahu tentang semua kebenaran yang di katakan almarhum orang tuaku dulu. Tapi, aku percaya bahwa takdir tidak akan pernah ingkar."Ia pun tidur dengan memeluk Sherly dan menyelimuti tubuhnya dengan satu selimut yang sama.
Mereka pun tertidur pulas sampai pagi menjelang dengan saling berpelukkan.
"Hooooaaaaammmh"Ia menguap dan tak menutupnya.
"Jam berapa ini ya?tumben gak denger toa surga!"Ia berkata sambil mengucek mata.
"Ini sudah pukul enam lewat lima belas menit" Suara seseorang mengejutkannya.
Sherly terkejut dengan suara seorang pria di sampingnya."Astaga, eee..elu lagi ngapain di sini?"Ia bertanya karena lupa dengan kejadian semalam.
"Ckk, kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan sama aku?"Di bukanya selimut yang menutupi tubuhnya.
"Nih lihat.semua ini ulah kamu tahu!"Zidane pura-pura marah dan tak berdaya.
"Ta...tanda apaan itu?"Sherly terkejut dengan banyaknya tanda merah di leher dan lengan Zidane.
Dengan memasang wajah tak berdaya, Zidane berkata."Ini semua gigitan kamu, Machan.Kamu yang telah melakukan itu semalem."Ia menunduk.sedih.
"Macan?hei, siapa yang elu panggil macan?"Sherly melotot dan ia pun langsung duduk menatap Zidane.
"Ekhem, jangan memancingku saat di pagi hari.Machan."Wajah Zidane memerah dan ia pun berpaling.
"Ngapain gue mancing elu?mending mancing ikan.hemh.."Sherly cemberut.Ia belum sadar dengan apa yang di katakan Zidane.
Zidane langsung bangkit dan mendorong Sherly sehingga ia pun terkurung di bawah kungkungan Zidane.
"Aku sudah bilang, jangan pernah memancing emosi seorang pria saat bangun tidur, apalagi dengan sikap yang seperti itu." Zidane berbisik lirih.
"Aa..apa maksud lu, gue gak ngerti?"Sherly gugup karena wajah Zidane yang begitu dekat.
"Tanda merah di seluruh tubuhku ini adalah ulahmu.Jadi, apa kita akan melakukannya lagi sekarang?"Ia tersenyum nakal.
"Apaan sih lu, gue gak ngerti?"Sherly semakin bingung.
"Ini tanda cinta yang kamu berikan semalam karena merasakan sesuatu yang begitu nikmat, dan kamu yang memulai permainan itu"Bisik Zidane sambil menopang tubuhnya di atas tubuh Sherly dengan kedua tangannya.
"Tanda cinta?oh ya ampun, jangan katakan kalau kita sudah....??"Sherly menatap Zidane yang mengangguk pasrah.
"Gak mungkin!"Ia menggelengkan kepalanya.
"Gu..gue yang melakukan itu duluan?"Lagi-lagi Zidane mengangguk.
"Aku mau tanya, baju kamu di kemana kan?" Pertanyaan Zidane sontak membuat Sherly menunduk.ia terkejut karena jaket yang semalam ia kenakan sudah terlepas dan menyisakan tank top warna hitam di tubuhnya.
"Huaaaaaaa"Sherly menangis sekencangnya.
Zidane menarik wajahnya dengan mata terpejam.Suara Sherly sangat kencang sampai ia harus sedikit menjauhkan kepalanya.
Zidane tersenyum puas bisa mengerjai gadis beriskit itu.
"Hahaaa"
Epilog
Saat mereka tidur dengan satu selimut, Sherly merasaha kepanasan dan ia pun melepaskan jaket dan kaos oblongnya tanpa terbangun.
Sontak perbuatan Sherly itu membuat Zidane terkejut dan tak karuan.ia berusaha menyelimuti tubuh gadis itu namun selalu di tepis olehnya.
Zidane di buat terkejut lagi dengan tingkah Sherly yang satu ini.Gadis itu berbalik dan menghapan Zidane dengan tidur di lengan pemuda itu sebagai bantalan.ia pun memeluk tubuh Zidane dengan erat.
Kulit mereka pun saling bersentuhan karena Sherly menyusup ke dalam dada bidang Zidane yang terekspos itu.membuat pemuda itu semakin tak karuan.Di tambah tangan Sherly yang meraba kesana sini membuat ia semakin terganggu dengan kaki ya di hentak-hentakkan.
"Cobaan apa ini?"Ia tak percaya dengan tingkah gadis itu walaupun dia tak sadar karena sedang tertidur pulas.Membuat Zidane merasakan sensasi sentuhan yang luar biasa.
Saat Zidane mulai memejamkan matanya lagi, tiba-tiba Sherly menggigit dadanya membuat Zidane berteriak.
"Aaaaaahhh, apa yang kamu lakukan?"Ia berusaha mendorong tubuh Sherly namun tetap tak mau melepaskan.
Bukan cuma dada dan leher yang kena gigitan.Punggung bahkan lengan Zidane pun merasakan cakaran kuku panjang Sherly karena dia bermimpi bertarung.
Alhasil, tubuh mulus da putih Zidane pun terdapat banyak jejak merah.
"Dasar, Machan.Aku memang sudah benar memberimu nama panggilan si Machan. karena ternyata kamu memang galak."Ia pun menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari jangkauan Sherly.
Ide jahil pun muncul di pikiran Zidane, "Awas kamu, Machan.aku tidak akan melepaskanmu"
Dan itu lah yang terjadi diantara mereka saat tidur malam tadi.
Masih lanjut yaaaaa....
__ADS_1